
Bugh
Bugh
Bugh
Paul menarik tubuh Leon dari atas tubuh Clarissa dan memukulnya secara membabi buta, Paul kalap saat melihat wanita yang di cintainya hendak di lecehkan oleh pria lain yang ia tahu mantan kekasih Clarissa.
"Brengsek... berani-beraninya kau menyentuhnya hah" maki Paul sambil terus memukuli Leon tanpa ampun.
Bugh
Bugh
Dugh
Tak hanya memukul, Paul juga menendang tubuh Leon, Paul tak memberikan kesempatan kepada Leon untuk membalas.
"Hiks... Hiks.. Paul"
Paul menghentikan pukulannya, dia menoleh mendengar Clarissa memanggil namanya. Paul menghempaskan tubuh Leon dengan kasar, kemudian Paul menghampiri Clarissa yang sedang duduk di atas ranjang sambil memeluk tubuhnya yang sudah kacau akibat ulah Leon, pakaiannya sudah tidak utuh lagi. Banyak luka lebam di tubuhnya dan juga wajahnya.
Paul mencoba menetralkan nafasnya yang masih terlihat naik turun, andai tidak ada Clarissa mungkin dia sudah membunuh Leon saat ini juga.
Paul melepaskan jaketnya lalu memakaikannya di tubuh Clarissa.
"Pergi, pergi jangan sentuh aku" histeris Clarissa.
Paul langsung memeluk tubuh Clarissa mencoba menenangkannya.
"Tenanglah honey, ini aku Paul, kamu sudah aman sekarang" ucap Paul lembut.
Gerakan tubuh Clarissa melemah, dia berhenti meronta.
"Paul, Paul, Paul" racau Clarissa setelah itu langsung tak sadarkan diri.
Paul mengendurkan pelukannya kemudian melihat wajah Clarissa yang sudah tak sadarkan diri.
"Hei Honey, bangunlah" panik Paul sambil menepuk pipi Clarissa.
__ADS_1
Paul terus berusaha membangunkan Clarissa tapi tak berhasil, wanita itu masih tak sadarkan diri.
"****... " umpat Paul karena tak kunjung membuat Clarissa sadar.
Dia mengangkat tubuh Clarissa dan menggendongnya ala bridal Style.
Dugh....
Paul menendang kepala Leon.
"Urusan kita belum selesai" ucap Paul dengan wajah yang di penuhi amarah, Paul terlihat sangat menakutkan.
Paul melangkahi Leon keluar dari kamar Clarissa, dia membawa Clarissa keluar rumah dan memasukkannya kedalam mobil, sebelum melajukan mobilnya Paul menghubungi anak buahnya terlebih dahulu.
Dia tak akan membiarkan Leon bebas begitu saja, dia meminta anak buahnya membawa Leon ke markas.
Paul mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, dia khawatir dengan keadaan Clarissa.
Cittttt......
Suara rem mobil Paul membuat Max dan juga Emma keluar dari dalam Mansion.
"Tolong hubungi Devan sekarang juga tuan" ucap Paul sambil mengangkat Clarissa keluar dari dalam mobil.
Max yang melihat Paul sepanik ini pun langsung menghubungi Devan dokter pribadinya.
"Clarissa kenapa Paul" tanya Emma yang tak kalah panik melihat adiknya tak sadarkan diri.
"Nanti saya jelaskan nyonya" ucap Paul.
Max melihat sang istri sambil mengangguk, dia meminta istrinya sabar dan membawa Clarissa terlebih dahulu ke kamar.
Emma mengangguk mengerti.
"Cepat bawa Clarissa masuk ke kamarnya Paul" titah Emma.
Paul masuk kedalam Mansion dan membawa Clarissa menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Ceklek....
__ADS_1
Max membantu Paul membuka pintu kamar Clarissa.
Setelah pintu terbuka Paul masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuh Clarissa diatas ranjang, Paul menutupi tubuh Clarissa dengan menggunakan selimut.
Paul menatap Clarissa dengan nafas yang masih memburu, melihat keadaan wanitanya membuat Paul marah, jiwa iblisnya seakan keluar, ingin sekali dia mencincang tubuh Leon saat ini juga.
Untung dia datang tepat waktu, andai telat sedikit saja Leon tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada wanita yang di cintainya.
"Apa yang terjadi Paul, kenapa kau diam saja" tanya Emma sambil mengguncang lengan Paul.
Paul menghela nafas dalam. "Clarissa habis di lecehkan oleh mantan kekasihnya nyonya" jawab Paul lirih.
Emma menutupi mulutnya dengan kedua tangannya sambil menatap Paul tak percaya.
"Apa masalahnya? Kenapa dia sampai tega melecehkan Clarissa" tanya Emma shock.
Emma dibuat shock mendengar jawaban Paul, hatinya terasa sesak saat tahu adiknya menjadi korban pelecehan.
"Saya tidak tahu masalahnya nyonya, tapi saya dulu sempat menolong Clarissa dari kejaran orang itu" ucap Paul mengingat waktu dulu saat Leon mengejar mobilnya dan sempat menghalanginya juga.
"Lalu dimana pria itu" tanya Emma dengan sorot mata penuh kebencian.
Max mendekati istrinya dan memeluknya, istrinya sedang hamil jangan sampai istrinya itu lepas kendali.
"Sabarlah sayang, biar Paul nanti yang mengurus orang itu, lebih baik kamu fokus pada kesembuhan Clarissa saja" ucap Max lembut sambil mengusap punggung istrinya naik turun.
"Tapi hatiku sakit melihat Clarissa seperti ini hiks" tangis Emma pecah.
"Aku tahu, tapi semua ini sudah terjadi sayang. Lebih baik kita fokus pada Clarissa" ucap Max.
Emma mengangguk pelan.
Tanpa permisi Devan nyelonong masuk begitu saja kedalam kamar Clarissa.
"Mana kakak ipar? Kau apakan lagi dia sampai membuatnya sakit" cerocos Devan.
"Haisss..... Bukan istriku yang sakit, tapi adiknya" sahut Max. "Cepat periksa dia jangan sampai gajimu aku potong" ancam Max sambip menendang bokong Devan.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏