
Waktu bergulir begitu cepat, kini usia kandungan Emma sudah memasuki usia lima bulan. Semakin hari perut Ema semakin membesar, Max sebagai suami menjadi lebih posesif terhadap istrinya.
Max bahkan memperkerjakan pelayan pribadi untuk menjaga Emma, buat jaga-jaga karena Max tak selalu berada di samping istrinya.
Emma sudah tidak lagi bekerja lagi di perusahaannya, sejak dinyatakan hamil Max melarang istrinya untuk bekerja, ia takut kejadian dulu Emma keguguran terulang lagi, makanya dia menjadi extra hati-hati dalam menjaga istri dan juga calon buah hatinya.
Sementara perusahaan Emma di ambil alih oleh Clarissa terlebih dahulu dengan di bantu oleh Paul.
Karena selalu bersama membuat hubungan keduanya semakin dekat, tapi sampai sekarang Paul masih belum menyatakan perasaannya pada Clarissa, entah apa yang Paul takutkan sehingga membuat dirinya tak berani menyatakan perasaannya, yang jelas hanya Paul sendirilah yang tahu alasannya.
"Sebentar lagi meeting akan di mulai, aku harap kamu sudah bisa menguasai materinya" ucap Paul.
Paul mengkhawatirkan Clarissa, karena saat ini wanita itu masih dalam tahap belajar mengelola perusahaan, jangan sampai karena ketidaktahuannya itu akan membuat wanita itu di permalukan di depan forum.
"Aku sudah mempelajarinya tadi" ujar Clarissa yakin.
Paul mengangguk, mereka berdua berjalan bersama menuju ke ruang meeting.
CKLEK...
Pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka semua, merek berdiri menyambut kedatangan Clarissa sebagai pemimpin perusahaan dan juga Paul yang saat ini menjadi asisten Clarissa.
"Selamat siang semuanya" sapa Clarissa kepada seluruh peserta rapat.
"Siang bu" sahut mereka kompak.
"Mari kita mulai meeting nya" titah Clarissa.
Meeting pun di mulai, para peserta rapat mulai mempresentasikan hasil kinerjanya di tiap divisi.
Pendapatan perusahaan mengalami kenaikan meskipun tidak terlalu signifikan, tapi meski begitu tidak langsung membuat Clarissa puas begitu saja, Clarissa termasuk wanita yang memiliki ambisi, dia akan terus berusaha mengembangkan perusahaan kakaknya sebagai balas budi atas apa yang sudah kakaknya lakukan kepadanya.
Meeting berlangsung selama dua jam, kini Clarissa mengakhiri acara meeting nya.
Satu persatu peserta meeting keluar dari ruangan, kini di ruang meeting tinggal mereka berdua.
"Terima kasih sudah mau mengajariku tentang bagaimana cara mengelola perusahaan ini. Awalnya aku takut membuat perusahaan ini bangkrut dan akan mengecewakan kak Emma, tapi berkatmu aku bisa melalui semua. Sekali lagi terima kasih" ucap Clarissa tulus.
Dia merasa terbantu dengan adanya Paul di sisinya. Pria itu selalu meyakinkan dirinya kalau dirinya bisa menjalankan perusahaan milik kakaknya.
"Tak usah berterima kasih, ini sudah menjadi kewajibanku membantumu" ujar Paul sambil mengusap pipi lembut Clarissa, netra keduanya saling bertemu.
__ADS_1
"kapan kau akan menjadikan ku sebagai kekasihmu? Kau sering mencuri ciumanku tapi sampai sekarang kau tak pernah menyatakan perasaanmu kepadaku, apa kau berniat mempermainkan ku hah?"
Tiap kali mereka ngobrol berdua pasti ujung-ujungnya Clarissa akan membahas masalah hubungan mereka berdua.
Tapi Clarissa tak salah, karena wanita butuh kepastian, apalagi Paul yang kerap mencuri ciumannya membuat Clarissa selalu berfikir kalau pria itu hanya mau mempermainkannya saja.
"Sebenarnya apa yang kamu takutkan, kenapa kamu tak mau mengatakannya kepadaku" cerocos Clarissa.
Sementara Paul hanya diam saja sambil terus menatap kedua mata Clarissa.
Sebagai anggota Mafia tentu banyak hal yang ia takutkan. Ia berkaca pada hubungan Max dan istrinya.
Meskipun Max sudah berhenti dari dunia mafia tapi tetap saja, Max tidak bisa sepenuhnya bisa lepas dari dunia itu, akan ada dendam yang muncul dari bagian masa lalunya.
Begitu pula dengan Paul, Paul tak ingin membuat hidup Clarissa dalam bahaya jika bersamanya, karena sampai sekarang Clarissa belum tahu kalai dirinya seorang mafia.
Paul juga takut kalau Clarissa mengetahui dirinya ikut andil dalam kematian mamahnya.
"Kenapa kau dari tadi hanya diam saja" desak Clarissa tapi Paul tetap tak menjawabnya.
"Suatu saat kau akan tahu alasanku" hanya itu yang keluar dari mulut Paul.
"Okay, tapi aku tidak janji" ujar Paul lalu keluar dari ruang meeting meninggalkan Clarissa sendirian.
"Haiss... Dasar beruang kutub yang sangat menyebalkan" kesal Clarissa.
Wanita itu mengemasi berkasnya kemudian menyusul Paul yang sudah keluar lebih dulu.
*****
Disebuah rumah mewah terlihat seorang pria sedang mengikuti istrinya yang terus bergerak kesana kemari.
"Sayang, kamu ini bisa diam tidak sih, perut kamu itu sudah besar aku ngeri kamu jatuh" omel Max yang mengekori istrinya.
"Kenapa kau terus melarang ku, aku ini cuma ingin ambil air minum saja" sebal Emma.
"Kua bisa meminta bantuanku, atau kau bisa meminta tolong pada pelayan pribadimu, percuma saja aku membayarnya kalau tidak kau suruh-suruh" Kekeuh Max.
Emma merotasi bola matanya jengah, selalu saja suaminya berkata seperti itu, dia sampai malas mendengarnya.
Emma tak mengabaikan ucapan Max, wanita itu melanjutkan langkahnya menuju ke dapur untuk mengambil air minum dan juga buah-buahan yang ada di dalam kulkas.
__ADS_1
Tapi baru saja dia melangkahkan kakinya beberapa langkah, tiba-tiba tubuhnya melayang.
"Hubby" pekik Emma kaget.
"Menurut lah sayang, nanti setelah lahiran kamu bisa jalan-jalan kemanapun kamu mau" ucap Max.
Ema menghela nafas dan mengangguk.
"Kamu duduk di sini saja biar aku yang ambilkan" ucap Max menurunkan tubuh istrinya secara perlahan dan mendudukkannya di atas sofa.
"Hmmmm"
"Kamu mau apa lagi biar aku ambilkan sekalian" tanya Max.
"Tolong ambilkan aku buah" pinta Emma.
"Baiklah nyonya, biarkan suamimu ini yang melayani mu" ucap Max dan beranjak dari ruang tengah, dia melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Max mengambil buah-buahnya dari dalam kulkas lalu mengupasnya. Tangan Max terlihat sangat terampil dalam mengupas buah, pria itu seperti sudah biasa melakukannya.
Bagi Max itu hal biasa, pria itu terbiasa hidup sendiri jadi dia sudah biasa mengerjakan hal-hal seperti ini, selain bisa mengupas buah Max juga bisa memasak, dan rasa masakannya tak kalah dari para koki yang ada di hotel bintang lima.
Setelah selesai di kupas Max mencuci buahnya kemudian Max memotongnya dan menaruhnya diatas piring.
Dia memberikan buah itu kepada istrinya dan juga air minum yang sudah ia ambil.
"Ini sayang" ucap Max memberikan piring berisi potongan buah kepada Emma.
"Terima kasih" ucap Emma dan langsung memasukkan potongan buah itu kedalam mulutnya.
Max menemani sang istri yang sedang memakan buah sambil menonton.
"Kapan jadwal periksa mu sayang" tanya Max sambil memainkan rambut panjang istrinya.
"Lusa, kenapa" tanya Emma menoleh.
"Tidak apa-apa, aku akan mengantarmu nanti" jawab Max.
Bersambung
Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏
__ADS_1