Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 83


__ADS_3

"Dudukan dia di kursi itu lalu ikat tubuhnya dengan tali" titah pria misterius itu yang bernama Richard.


Richard merupakan salah satu putra dari pimpinan Araster yang selamat, sebab saat pembantaian itu dirinya sedang bermain di rumah temannya, dan kini dia datang untuk membalas dendam atas kematian seluruh keluarganya yang bunuh oleh Max.


Selama bertahun tahun dirinya bersembunyi dari musuh orang tuanya, dia menyiapkan dirinya dengan berlatih ilmu bela diri dan senjata tajam untuk memperkuat pertahanannya.


Dia merekrut banyak anak buah untuk mengaktifkan kembali kelompok mafia Araster peninggalan orang tuanya.


Emma dalam keadaan yang masih belum sadarkan diri, di dudukan di kursi lalu tubuhnya di ikat, tak lupa mereka menutup mulut Emma dengan lakban hitam.


Richard mendekati Emma dan menyingkirkan rambut yang menutupi setengah wajah Emma.


"Ck, cantik juga" ucap Richard ketika melihat wajah cantik Emma.


Di cengkeramnya rahang Emma dengan keras hingga membuat Emma sadar. Emma mengerjab kan matanya.


Emma kaget melihat pria asing yang ada di hadapannya.


"Siapa kamu" pekik Emma sambil meronta, Emma mengumpat dalam hati ketika tahu tubuhnya di ikat.


"Akhirnya kau bangun juga nona" ucap Richard menyeringai.


Richard memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari Emma.


"Siapkan semua, kita akan memulai permainan ini" ucap Richard membuat Emma wajah Emma pias, "Permainan apa yang ingin mereka lakukan" gumam Emma dalam hati.


Anak buah Richard datang membawa belati dan menyerahkannya kepada Richard.


Mata Emma membelalak melihatnya, tubuhnya bergetar melihat belati yang ada ditangan Richard.


"Takut hmmm" ucap Richard sambil memainkan belati di tangannya dan melangkah maju mendekati Emma.


"Mau apa kamu hah" takut Emma dengan tubuh bergetar.


"Jangan teriak-teriak cantik, suaramu membuat telingaku sakit honey" ucapnya. "Mari kita bermain-main honey" imbuhnya.


"Siapa kamu sebenarnya hah? Kenapa kau menangkap ku?" teriak Emma.


"Kau memang tak mengenalku, tapi kamu... Harus membayar semua apa yang sudah suami mu lakukan terhadap semua keluargaku" sahut Richard.


Richard menjambak rambut Emma hingga kepala gadis itu mendongak keatas. Lalu Richard menempelkan belatinya di pipi Emma, Emma terus meronta ketakutan.


"Lepas... Aku mohon" Emma dengan tatapan mengiba.


Tapi sedikitpun Richard merasa iba melihatnya, dia justru menikmati wajah ketakutan.


Cesss.....


"Akh.... " pekik Emma


Belati Richard merobek mengenai kulitnya, seketika darah segar keluar dari pipi mulus Emma.


"Wajahmu semakin cantik dengan darah ini honey" ucap Richard bak psikopat.

__ADS_1


Cess.....


Lagi-lagi belati merobek pipi Emma yang satunya.


Hahahahahaha.......


Richard tertawa puas melihat wajah Emma berlumuran darah, laki-laki itu sungguh tega menyiksa Emma, dia tak merasa kasihan menyiksa seorang perempuan.


"Kalian sudah ambil gambarnya" tanya Richard kepada anak buahnya.


"Sudah tuan" jawab anak buah Richard.


"Bagus, kalian kirim gambar itu ke Joven sekarang juga" perintah Richard dan diangguki oleh anak buahnya.


Joven panggilan untuk Max di kalangan mafia.


*****


"Bagaimana Paul? Kau sudah menemukan lokasinya belum" tanya Max dari panggilan ponselnya.


"Sudah tuan, mereka membawa nyonya Emma kesebuah bangunan yang ada di hutan sebelah timur, sepertinya mereka membangun markas baru di hutan itu" jawab Paul dari sebrang sana.


"Baik aku akan segera menyusul mu kesana, kamu siapkan juga semua pasukan Nosa Costra untuk menyerang ke markas mereka" titah Max setelah itu mematikan panggilannya.


Terdengar suara bisik-bisik dari bangku belakang.


"Rey, sepertinya ini akan seru, kita akan berburu penjahat" bisik Reva.


"Seru apanya, kita ini lagi mau perang bukan lagi main game" seru Reynand heran dengan otak sahabatnya itu.


Reynand hanya menggelengkan kepalanya lemah, harusnya sahabatnya itu takut karena musuh yang akan jadi lawannya saat ini itu mafia bukan seorang preman biasa, apalagi mereka hanya anak kecil yang terkena satu pukulan aja bisa langsung tumbang, tapi sahabatnya itu malah terlihat sangat antusias.


Drrtttt...


Drrttt...


Ponsel Max bergetar, terlihat ada beberapa pesan masuk dari nomor yang tidak kenal kedalam ponselnya, Karena penasaran Max pun membukanya.


"Sayang" gumam Max dengan rahang mengeras, dia mencengkeram setir mobilnya hingga buku jarinya memutih. Max marah melihat wajah sang istri berlumuran darah.


Dia melempar ponselnya kesamping dan menginjak pedal gas mobilnya dengan kekuatan penuh.


Reflek Reynand dan Reva langsung berpegangan jok mobil


"Apa yang terjadi Rey, kenapa mobilnya cepat sekali" cerewet Reva.


"Diam lah, sepertinya terjadi sesuatu dengan tante Emma, sahut Reynand yang sejak tadi memperhatikan Max, raut wajah Max nampak berubah setelah membuka ponselnya.


Reva yang paham langsung menutup bibirnya rapat-rapat, dia tak mau mengganggu konsentrasi Max saat ini.


Mobil Max berhenti tak jauh dari bangunan dimana Emma di sekap.


"Semuanya sudah siap tuan, kita tinggal nunggu perintah dari anda" lapor Paul lewat earphone.

__ADS_1


"Baik, bagi tiga kelompok, kelompok kanan, kelompok kiri dan kamu ikut aku menyerang lewat depan" ucap Max.


"Siap tuan"


Max menoleh kebelakang.


"Kalian tetap berada didalam mobil, apapun yang terjadi nanti kalian tidak boleh keluar dari mobil ini" peringat Max kepada kedua bocah kecil itu.


"Lalu untuk apa om kasih pistol ini, percuma saja kita pegang pistol kalau tidak boleh ikut turun juga" protes Reva yang nampak tidak setuju pengaturan dari Max.


"Didalam berbahaya Reva, om tidak mungkin mengajak kalian masuk. Pistol itu om berikan kepada kalian jika ada sesuatu yang mendesak kalian bisa langsung menggunakannya" ucap Max memberikan pengertian.


"Baik om, kami akan tunggu disini" sahut Reynand sebelum sahabatnya kembali melontarkan protes.


"Baik boy, kau harus bisa melindungi Reva" ucap Max dan Reynand pun mengangguk.


"Aku bisa berkelahi jika kalian lupa" cebik Reva.


Max tak menghiraukan protesan Reva, akan sangat beresiko kalau dia mengajaknya kedalam, yang ada nanti membuat konsentrasinya terpecah.


"Setelah om keluar kalian langsung mengunci pintunya dari dalam, ok" titah Max.


"Ok om" sahut Reynand.


Sebelum turun Max mengambil beberapa pistolnya dari dalam dashboard, lalu ia menyelipkannya di pinggangnya.


"Serang sekarang juga" perintah Max.


Satu persatu anak buah Max langsung menyusup kedalam gedung, mereka mengepung gedung dari segala sisi.


Tak lama terdengar baku tembak dari kedua kubu.


Dorrr.....


Dorrr..


Dorrr..


Mereka saling menembak satu sama lain, tak ada satupun dari keduanya untuk mengalah.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Perkelahian pun terjadi, mereka saling memukul dan menendang.


Brakk...


Gerbang langsung ambruk akibat di tabrak oleh Paul dengan menggunakan mobil.


Mobil Paul langsung dihujani banyak peluru

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏


__ADS_2