Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 87


__ADS_3

"Sayang... Aku pulang" teriak Max seraya melangkahkan kakinya mencari keberadaan istrinya.


Seorang pelayan dengan tergopoh-gopoh menghampiri Max.


"Dimana istriku bi" tanya Max.


"Nyonya Emma ada di kamarnya tuan, dari tadi dia tak mau keluar kamar, makan pun didalam kamar" adunya kepada Max.


Max menghela nafas bingung. Sebenarnya apa yang terjadi pada istrinya, kenapa dia jadi pemalas seperti ini.


"Jangan bilang istriku juga tidak mandi bi" tebak Max.


"Eh" kikuk bibi, karena tebakan majikannya benar, dari pagi sang nyonya memang belu mandi.


Max menghembuskan nafas frustasi. Lalu Max pamit pergi dari hadapan pelayannya itu, dia naik keatas menuju kamar pribadinya bersama sang istri.


CEKLEK.....


Max membuka pelan pintu kamarnya agar tidak menganggu istrinya, Max mengintip istrinya dari sela pintu. Terlihat sang istri sedang tidur dengan banyak bungkus bekas cemilan yang berserakan diatas ranjang.


Max geleng kepala melihat kelakuan istrinya, dia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar dan menutup pintunya secara perlahan.


Max mendekat kearah ranjang, lalu sejenak menatap istrinya yang sedang tidur dengan masih menggunakan piyama yang semalam.


"Dia benar-benar belum mandi" lirih Max menggelengkan kepalanya.


Lalu Max memunguti bungkus bekas cemilan istrinya dari atas ranjang dan membuangnya ke tempat sampah.


Diambilnya tisu basah dari atas meja lalu Max naik keatas ranjang, dia membersihkan mulut istrinya dengan menggunakan tisu basah.


"Kamu ini sebenarnya kenapa sayang? Apa karena kejadian penculikan itu membuat otakmu bergeser? Kalau iya, maka aku akan membawamu ke rumah sakit untu diperiksa" gumam Max sambil membersihkan bibir istrinya dengan telaten, Max juga membersihkan telapak tangan istrinya.


Setelah selesai Max merebahkan tubuhnya di samping sang istri dan memeluk tubuh istrinya.


Emma merasa terus karena merasa ada sesuatu yang menimpa perutnya, Emma membuka matanya lalu menoleh kesamping.


Tiba-tiba perut Emma bergejolak, Wanita itu segera menyingkap selimutnya dan turun dari atas ranjang, dia lari masuk kedalam kamar mandi.


Hueekk......


Hueekkk...


Huekkk...


Emma memuntahkan semua sisi perutnya. Max yang mendengar suara istrinya muntah pun langsung bangkit dan menyusul istrinya kedalam kamar mandi.


"Sayang kamu kenapa" tanya Max khawatir dari pintu kamar mandi, Max hendak melangkah masuk tapi langsung di larang oleh istrinya.


"STOP! Jangan kesini, badanmu bau busuk Max" pekik Emma sambil bersandar di dinding kamar mandi.


Max tak menghiraukan larangan istrinya , dia masuk begitu saja mendekati istrinya.

__ADS_1


"Jangan menyentuhku Max" cegah Emma sambil membekap mulutnya.


"Tapi aku menghawatirkan mu sayang" Max dengan tatapan mengiba.


"Tapi aroma tubuhku membuatku mual Max" ucap Emma sambil membekap mulutnya, lagi-lagi Emma memuntahkan isi perutnya.


Huek....


Huek....


Huek....


Mau tak mau akhirnya Max keluar dari dalam kamar mandi, dia mengendus aroma tubuhnya sendiri.


"Masih wangi" gumam Max, meskipun sehabis pulang kerja dan belum sempat mengganti pakaiannya aroma tubuh Max tetap wangi, apalagi parfum yang ia gunakan harganya sangat mahal. Jadi sangat mustahil kalau tubuhnya bau busuk.


Max keluar dari dalam kamar dan turun kebawah mencari pelayan. Bersamaan itu Paul dan Clarissa masuk kedalam rumahnya.


"Kebetulan kamu ada di sini Risa, cepat kamu naik keatas bantu kakak mu yang sedang muntah-muntah" titah Max.


"Kenapa bukan kak Max saja" tanya Clarissa heran.


"Kakakmu tidak mau aku dekati, cepat buruan, aku takut terjadi sesuatu dengan istriku" desak Max.


Clarissa mengangguk patuh, dia pun naik keatas menuju ke kamar Emma.


"Paul coba kau cium tubuhku, kata Emma tubuh busuk, tapi aku merasa aroma tubuhku masih wangi" pinta Max ingin mematikan kalau indra penciumannya tidak salah.


"Mendekat Lah Paul, kau harus memastikannya dengan benar" paksa Max.


Paul menghela nafas sabar, dia maju mendekati Max dan mengendus bau tubuh Max.


"Wangi tuan" ucap Paul seraya memundurkan langkahnya.


"Tapi kata istriku bau busuk, apa hidung dia yang bermasalah ya paul" tanya Max.


Setelah tadi Max menuduh otak istrinya bergeser sekarang pria itu menuduh hidung istrinya bermasalah. Untuk Emma tidak mendengarnya, kalau wanita itu sampai dengar sudah bisa di pastikan kalau Max akan di amuk oleh istrinya.


"Coba saja tuan bawa nyonya ke rumah sakit, biar dokter memeriksanya" usul Paul.


"Aku takut ngajak nya Paul, dia dari tadi pagu marah-marah terus" ucap Max frustasi.


Tak hanya Lukas, Paul pun ingin sekali menertawakan bosnya ini, bisa-bisanya mantan ketua mafia takut sama istrinya.


Didalam kamar.


"Kak Emma kenapa" tanya Clarissa panik ketika melihat Emma duduk di lantai dengan wajah pucat pasi, seperti tidak ada aliran darah ke tubuhnya.


"Tolong bantu aku berdiri, Rissa" pinta Emma lemas.


"Iya kak" sahut Clarissa.

__ADS_1


Clarissa membatu Emma berdiri dan memapahnya kearah ranjang, di baringkan tubuh Emma dengan perlahan diatas ranjang.


"Rissa panggil dokter ya kak" ucap Clarissa.


"Tidak usah Ris, kakak hanya masuk angin, nanti sebentar lagi juga sembuh" tolak Emma.


"Yasudah, kalau begitu Rissa kebawah dulu mau minta bibi buatkan jahe hangat untuk kakak" ucap Clarissa.


"Eum" Emma memejamkan matanya, kepalanya pusing, tubuhnya juga lemas setelah memuntahkan semua isi perutnya.


*****


Clarissa pergi kedapur menemui pelayan.


"Bi, tolong buatkan jahe hangat untuk kak Emma" pinta Clarissa.


"Baik non, tunggu sebentar bibi buatkan dulu" sahut pelayan.


Max dan Paul menyusul Clarissa kedapur karena penasaran.


"Bagaimana keadaan istriku Rissa" tanya Max.


"Kak Emma masih lemas kak, tadi Rissa sudah menawarkan untuk memanggil dokter tapi kak Emma tidak mau" jawab Rissa.


"Tolong kamu rawat dia ya, nanti kalau tak kunjung sembuh juga aku akan membawanya kerumah sakit" ucap Max tak ada pilihan lagi, saat ini istrinya tak mau di sentuh olehnya, jadi untuk sementara ia akan meminta Clarissa untuk merawat istrinya dulu.


"Baik kak"


"Non Rissa, ini minumannya sudah jadi" ucap pelayan seraya menyerahkan jahe hangat itu kepada Clarissa.


"Terima kasih Bi" ucap Clarissa.


Max menahan Clarissa yang hendak pergi. "Itu apa? Mau kamu kasih kesiapa" tanya Max tidak tahu.


"Untuk kak Emma, katanya jahe hangat bisa meredakan mual kak" jawab Clarissa.


"Kamu yakin" tanya Max tak percaya, jangan sampai karena minuman itu sakit istrinya semakin marah.


"Benar kak, kalau kakak tidak percaya kakak bisa buka google" saran Clarissa. "Rissa keatas dulu kak" pamit Clarissa.


Max mengangguk, dia tak ingin menahan adik iparnya lebih lama lagi. Takut sang istri sedang menunggunya.


"Coba kamu buka google Paul, coba cari tahu manfaat minuman jahe" titah Max.


Paul merotasi bola matanya malas, ujung-ujungnya dia juga yang disuruh mencarinya.


Tapi meskipun begitu Paul tetap melaksanakan perintah tuannya.


Bersambung


Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏

__ADS_1


__ADS_2