
Hampir tiga minggu sudah Emma lalui dengan bekerja keras, dengan di bantu Tina asistennya mereka berdua bisa meyakinkan kembali kliennya untuk tetap bekerja sama dengan perusahaannya.
Hari ini Emma ada rencana untuk meeting bersama dengan Arsen di salah satu restoran milik Alisya.
Perusahaan Emma yang bergerak di bidang jasa pembangunan dan juga desain, ia menawarkan kerjasama dengan perusahaan Arsen yang bergerak di bidang properti.
Kebetulan dalam waktu dekat Arsen ingin memberikan sebuah resort untuk kado pernikahannya dengan sang istri.
Dengan bantuan Max akhirnya Arsen setuju bekerja sama dengan perusahaan Emma, Arsen juga kebetulan tertarik dengan konsep pembangunan Resort yang di tawarkan oleh Emma.
Saat ini mereka sudah berada di restoran Alisya termasuk Reva, Arsen sengaja mengajak putrinya yang memang baru saja pulang sekolah.
"Saya berharap saat pergantian tahun depan nanti resortnya sudah jadi, saya kasih kamu waktu selama kurang lebih satu tahun untuk menyelesaikan pembangunan resort saya, karena saya tak ingin gagal memberi kejutan kepada istri saya" ucap Arsen.
"Saya akan mengusahakannya tuan Arsen" sahut Emma dengan penuh keyakinan, membuat Arsen senang melihat kegigihan Emma.
"Baik, saya akan percayakan segala sesuatunya kepada perusahaan anda nona Emma" ucap Arsen.
"Terima sudah mau mempercayakan pembangunan resort anda dengan perusahaan kami tuan Arsen"
"Karena saya juga sudah percaya sama bodyguard putri saya, makanya saya mau bekerjasama dengan perusahaan anda, dan sepertinya keputusan saya tidaklah buruk, saya senang melihat semangat juang CEO muda seperti anda" ucap Arsen jujur sambil tersenyum menatap Emma, pada kenyataannya Arsen mau bekerja sama dengan Emma karena dorongan dari Max.
Apalagi untuk pembangunan resort untuk hadiah istrinya, tentu Max tidak akan memilih sembarang orang untuk membangunnya, namun Max berhasil meyakinkan Arsen untuk menerima tawaran kerjasama dari perusahaan Emma.
"Papa, ingat jangan muji-muji aunty cantik, apalagi senyum seperti itu, nanti Reva aduin ke mama ya" ucap Reva memperingati papanya.
"Papa bukan memujinya sayang, papa hanya mengutarakan pendapat papa" kilah Arsen.
"Sama saja" ketus Reva.
Ucapan putrinya membuat wibawanya di hadapan Emma seketika hilang. Arsen seperti punya satpam yang selalu mengawasinya.
"Maaf nona Emma, putri saya memang sellau seperti ini jika melihat saya ngobrol dengan lawan jenis" ucap Arsen takut Emma tersinggung dengan ucapan putrinya.
__ADS_1
Sedangkan berusaha menahan diri agar tidak keceplosan, tapi ingin rasanya dia bilang sama putri bosnya itu kalau aunty cantik yang ada di hadapannya itu istrinya.
Tapi Max mengurungkan niatnya, dia masih belum mau membongkar pernikahannya dengan sang istri ke publik, menurutnya bukan waktu yang tepat.
Setelah satu jam lebih akhirnya meeting mereka selesai.
Emma dan Tina pamit undur diri, mereka kembali ke kantornya.
"Kalau begitu saya juga ikut pamit tuan" ucap Max.
"Mau kemana kamu Max" tanya Arsen.
"Pulang, saya ingin tidur" jawab Max asal.
"Enak saja, kamu harus kembali ke kantor" ucap Arsen.
"Lah, kan sudah ada Nino tuan, lalu untuk apa saya ke kantor" tanya Max bingung.
Hari ini Nino mulai masuk ke kantor setelah hampir sebulan menghabiskan waktunya berbulan madu dengan istrinya.
"Ck, begitu juga dia putrimu tuan" ucap Max.
"Saya akan mengantarnya pulang kerumah saja" Lanjutnya, ia lebih baik membawa Reva pulang, dari pada harus menjaganya di kantor sudah kek baby sitter aja nanti.
"Jangan Max, ibunya lagi sibuk mengurus triplet, nanti kalau ketambahan dia yang ada istriku makin repot" cegah Arsen.
"Pada kenyataanya nona Reva lah yang selalu menjaga ketiga adiknya itu tuan" ucap Max menyindir Arsen yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan.
Tiba-tiba Reva menyela ucapan mereka.
"Om Nino nda libur-libur lagi kan?," tanya Reva
"Tidak sayang," sahut Nino.
__ADS_1
"Bagus, Leva sudah bosan di jemput terus sama sopirnya papah, lebih asik di antar jemput sama om Max lebih seru" ucap Reva.
Sopir Arsen sudah lumayan tua tentu tidak seseru seperti dirinya bersama Max, Max selalu meladeni keinginan Reva, berbeda dengan sopir papanha yang terlalu pakem, membuat Reva yang pecicilan tidak betah dengannya.
"Sudah sana bawa Max, terserah kamu mau bawa dia kemana, yang penting kamu jangan bawa dia pulang kerumah dulu, nanti sore saja saat jam pulang kantor baru kamu kembalikan ke rumah" ucap Arsen.
"Hmmm" gumam Max sambil merotasi bola matanya malas.
"Ayo Reva kita pergi dari restoran ini" ajak Max.
"Kita mau kemana om" tanya Reva penasaran.
Max hanya diam saja, dia menggandeng tangan Reva pergi meninggalakan restoran milik Alisya.
Dia tidak membawa Reva pukang ke apartemennya, melainkan membawa Reva ke perusahaan Emma.
****
Ceklek....
"Aunty cantik, kita bertemu lagi" sapa Reva saat pintu ruangan Emma sudah di buka oleh Max.
"Kalian nyusul kesini rupanya" sahut Emma yang melihat kedatangan suaminya dengan Reva.
"Iya, tadi om Max ajak Reva kesini" ucap Reva.
Max menggiring Reva duduk di sofa, setelah itu Max berjalan mendekati meja kerja istrinya.
"Gimana dengan proposal pengajuanku ke perusahaan J'MO Max" tanya Emma.
Pasalnya sudah dua minggu ini dia memberikan surat kerjasama untuk perusahaan J'MO kepada Max namin belum juga mendapat jawabannya hingga sekarang.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏