Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 93


__ADS_3

Suara deru mesin mobil berhenti di depan pelataran mansion Max, Max yang iseng mencoba mengintip mobil asistennya dari jendela mansion nya.


Terlihat Paul sedang mencium bibir Clarissa.


"Hais... Pria itu sudah menodai mataku" desis Max kesal dengan asistennya. "katanya tidak menyukainya tapi berani mencium bibirnya, kalau seperti ini aku harus bertindak" Max tersenyum penuh maksud, dia seperti mendapatkan sebuh ide dari otak kecilnya.


Max buru-buru kembali ke ruang keluarga bergabung dengan istrinya sebelum tercyduk oleh mereka berdua.


"Hubby, kamu habis darimana" tanya Emma.


"Aku dari depan sayang, ada apa?" tanya Max.


"Aku hanya bertanya" ucap Emma kembali sibuk memasukkan buahnya kedalam mulut.


Tak lama Clarissa dan Paul datang menghampirinya.


"Malam kak" sapa Clarissa sambil menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa, wanita itu terlihat lelah sepulang dari perusahaan.


"Kalau capek kenapa tidak langsung istirahat ke kamar aja" ujar Emma.


"Sebentar lagi kak, Rissa mau di sini dulu sebentar" sahut Clarissa.


Emma mengangguk membiarkan adiknya, "Bagaimana hasil meeting hari ini Ris" tanya Emma.


Meskipun di rumah Emma selalu mengikuti perkembangan perusahaannya dari asistennya Tina. ia juga selalu menanyakan hasil meeting yang di lakukan adiknya.


"Lancar kak, pendapatan perusahaan juga ada sedikit peningkatan" jawab Clarissa.


"Bagus, kalau begitu kamu harus tetap di perusahaan untuk menggantikan kakak" Emma percaya kalau adiknya itu bisa diandalkan.


"Memangnya sampai kapan Rissa harus gantikan kak Emma" seru Clarissa.


"Sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan" bukan Emma yang menjawab melainkan Max. "Karena setelah melahirkan kakak mu masih harus menyusui juga, jadi tak mungkin kalau dia bekerja" imbuhnya.


Clarissa menghela nafas sabar, tak mungkin juga kakaknya harus membawa bayinya ke kantor.


"Iya kak" sahut Clarissa lesu.


"Oh ya Rissa, kamu sudah punya kekasih belum" tanya Max mulai melancarkan aksinya.


"Kenapa kakak bertanya seperti itu"


"Kamu tinggal jawab saja sudah punya apa belum" desak Max sambil melirik kearah Paul.


"Belum kak" jawab Clarissa sambil melirik Paul yang nampak tak terganggu dengan jawabannya.


"Kalau begitu kakak akan mengenalkan mu dengan seseorang" ceplos Max.


Max mulai memancing Paul, dia ingin tahu perasaan Paul yang sebenarnya terhadap Clarissa.

__ADS_1


"Hah? Sama siapa" kaget Clarissa, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba kakak iparnya ingin mengenalkan dirinya dengan seseorang yang ia tebak seorang pria, tak mungkin kakaknya itu akan mengenalkannya dengan seorang wanita, untuk apa pikirnya.


"Ada, kenalan ku, kalau kamu mau nanti aku suruh orangnya datang kemari" Max terus memancing respon Paul, tapi sayangnya pria itu belum bereaksi apa-apa.


"Kau berniat menjodohkan Clarissa hubby? Sejak kapan kau jadi alih profesi menjadi makcomblang?" timpal Emma.


Max mendengus sebal.


"Apa salahnya, itu lebih baik bukan, Clarissa juga butuh orang untuk menjaga dan juga melindunginya" sahut Max.


"Ada aku yang selama ini menjaganya tuan" sahut Paul yang sudah mulai terpancing.


"Bukan itu maksud ku Paul, kau menjaganya karena aku yang menugaskanmu, tapi Clarissa juga butuh suami untuk mendampinginya" Max terus memanasi Paul, dia ingin pria itu mengakui perasaanya.


"Bagaimana Rissa? Kamu mau atau tidak?" tanya Max.


"Hanya berkenalan tidak ada salahnya kan, kapan kakak akan mengenalkannya" tanya Clarissa.


Bak gayung bersambut Max semakin semangat mengerjai asistennya.


"Emm... Bagaimana kalau weekend nanti" tawar Max.


"Itu lebih baik, karena weekend aku libur" sahut Clarissa.


Max tersenyum puas sambil melirik melihat wajah Paul yang mulai merah padam.


"Tidak bisa, hari minggu kamu ada janji bertemu dengan klien yang datang dari Jepang" seru Paul.


"Ada, aku baru mengingatnya" jawab Paul alasan.


"Gimana kak? Minggu aku ada pertemuan dengan klien" tanya Clarissa merasa tak enak hati dengan kakak iparnya.


"Setelah pertemuan juga tidak apa-apa" Max mencoba mengikuti peemainan Paul, dia bisa menebak kalau ini hanya akal akalan Paul saja, bertahun-tahun menjadi asistennya tentu dia tahu akal bulusnya itu.


"Yasudah kalau tidak apa" lega Clarissa.


"Tidak bisa pertemuannya sampai malam" sela Paul.


"Hah, memangnya mau membahas apa hingga malam" aneh Clarissa.


"Klien dari Jepang siapa Paul? Perasaan aku tidak punya kerjasama dengan perushaan yang berasal dari Jepang" tanya Emma mengeryitkan dahinya.


Max menahan tawa melihat wajah panik Paul, dia semakin yakin kalau Paul sedang mencoba membohongi Clarissa.


"Ini klein baru nyonya, mereka mengajak perushaan kita untuk bekerjasama, mereka rencana akan mendirikan perusahaan tambang di negara ini" jelas Paul terlihat meyakinkan.


Emma hanya menganggukkan kepalanya, Emma berpikir adiknya itu memilki relasi baru untuk mengembangkan perusahaannya.


"Hari senin saja bagaimana kak, setelah Risaa pulang kerja" tanya Clarissa.

__ADS_1


"Asal kamu tidak capek aku rasa tak masalah" sahut Max dan di angguki oleh Clarissa.


"Senin banyak deadline yang mesti kamu selesaikan Rissa" Paul masih mencoba menghalangi pertemuan Clarissa dengan teman bosnya itu.


"Kau ini kenapa Paul, ini masih hari Selasa, jadi masih ada waktu untuk Rissa menyelesaikan deadline itu, iya kan Ris" tanya Ma, meminta dukungan Clarissa.


"Iya kak Max benar Paul, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku sebelum hari senin" ujar Clarissa.


Emma hanya dia sambil memperhatika perdebatan mereka, dia mengeryitkan dahinya melihat sikap aneh yang di tunjukkan Max.


"Kau cemburu Paul" ceplos Emma.


Paul tidak menjawabnya, dia pergi begitu saja meningalkan mereka yang sedang kebingungan.


"Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa dia marah saat kau berniat mengenalkan Clarissa dengan pria lain" tanya Emma sambil menatap kepergian Paul.


"Aku tidak tahu pasti sayang, tapi aku berfikir dia menyukai Clarissa, bukan begitu Clarissa" tanya Max pada adik iparnya.


Emma beralih menatap adiknya.


"Benar Rissa" tanya Emma.


"Rissa tidak tahu kak, tiap kali Rissa tanya padanya dia tidak mau jawab, dia seperti punya ketakutan sendiri" sahut Clarissa.


Emma mengangguk mengerti, yang terjadi pada Paul tak jauh berbeda dengan suaminya, dulu suaminya juga takut dirinya mengetahui identitas yang sebenarnya.


"Kamu sendiri bagaimana Rissa" tanya Emma.


Clarissa menjadi gugup, dia seperti sedang di interogasi oleh kakaknya.


"Emm.... Itu kak" Clarissa menggaruk kepalanya terlihat gugup.


"Kau menyukainya" selidik Emma.


"Iya, tapi kakak jangan marah" malu Clarissa.


Emma tertawa kecil. "untuk apa kakak marah. kalau kau menyukainya kau harus bisa meyakinkan dia, identitas Paul tidak biasa Rissa"


"Maksud kakak" tanya Clarissa tak mengerti.


"Suatu saat kau akan mengetahuinya, dan saat itu pula hubungan kalian akan di pertaruhkan"


Clarissa semakin tidak mengerti dengan uacapan kakaknya.


Clarissa menatap kakak iparnya minta penjelasan padanya.


"Kau bisa mencari tahunya sendiri Rissa, atau kau bisa tanyakan langsung pada Paul" ucap Max seolah tahu tatapan Clarissa.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏


__ADS_2