Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 64


__ADS_3

Setelah tidak mendapatkan informasi apapun dari kedua istri Darso Clarissa dan Paul Memutuskan untuk pulang kerumah Emma.


Di sepanjang perjalanan Clarissa hanya diam saya tidak seperti saat berangkat tadi yang sangat cerewet.


Paul melirik kearah Clarissa, ia melihat wanita itu melamun sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran kursinya. Paul tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan. gadis itu pasti sedang memikirkan ibunya yang belum di ketahui keadaanya sampai sekarang.


"Kalau ngantuk tidurlah" ucap Paul memecahkan keheningan di mobilnya.


"Hmmm" gumma Clarissa.


Lalu Paul tak lagi bertanya kepada Clarissa, ia tahu kalau saat ini hati Clarissa sedang resah.


Setelah cukup lama mereka menempuh perjalanan akhirnya mereka tiba di mansion Max. Mereka turun dan langsung masuk kedalam, kedatangan mereka langsung di sambut oleh Emma dan Juga Max.


"Kalian sudah pulang" tanya Emma saat melihat Clarissa dan Paul masuk kedalam rumahnya.


"Sudah kak" sahut Clarissa seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa karena lelah, tak hanya tubuhnya saja yang lelah tapi pikirannya juga lelah.


Emma bisa menebak, sepertinya adiknya itu tidak juga mendapatkan hasil apapun dari rumah Darso.


"Lalu bagaimana? apa kami sudah mengetahui keberadaan mamahmu" tanya Emma dan mendudukan tubuhnya di sebelah Clarissa.


Clarissa diam sambil menggelengkan kepalanya, pertanda dia belum mengetahui keberadaan sang mamah.


"Sayang, aku keruang kerjaku dulu sama Paul" ucap Max.


"Iya hubby" sahut Emma.


Max dan Paul langsung menuju ke ruang Kerjanya, ia terlalu malas mendengarkan mereka yang terus membicarakan tentang Eva. Apalagi nanti istrinya itu pasti akan terus memintanya untuk mencari keberadaan Eva.


"Memangnya kamu tidak bertemu dengan tua bangka itu" tanya Emma.


"Tidak kak, aku hanya bertemu dengan istrinya, katanya Darso dan bodyguard nya juga hilang dari sebulan yang lalu. Sampai sekarang belum di ketahui keberadaannya, karena nomor mereka tidak bisa di hubungi." sahut Clarissa lesu.


"Kenapa aneh sekali, atau jangan-jangan mereka memang sengaja bersembunyi" ucap Emma sambil memicingkan matanya.


"Clarissa juga berfikir begitu, tapi bersembunyi dari siapa? bukankah selama ini musuh mamah hanya kakak" ucap Clarissa " Atau mungkin mamah punya musuh lain di luaran sana" imbuhnya menerka-nerka.


Emma menghela nafas, lama-lama dia pusing juga membicarakan masalah Eva yang tak kunjung selesai.


"Hufff... kakak pusing, sebentar kakak ambil minum dulu" keluh Emma seraya beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Emma berniat membuat teh hangat agar otaknya sedikit rileks.


Di ruangan kerja Max.


"Bagiamana? apa mereka mencurigai sesuatu" tanya Max, ia duduk berhadapan dengan Paul yang terhalang meja kerja Max.


"Tidak tuan, mereka tidak mencurigai siapapun, mereka malah sempat berfikir kalau Darso sengaja bersembunyi." sahut Paul.


"Bagus, biarkan saja mereka pusing mencari keberadaan Eva dan tua bangka itu" ucap Max tersenyum tipis.


"Paul, apa selama ini masih ada yang mencariku?" lanjut Max bertanya kepada Paul.


Paul mengerutkan dahinya, ia tidak terlalu paham dengan pertanyaan Max.


"Maksud tuan?" tanya Paul.


"Aku ingin mengajak Emma untuk program hamil, aku harus memastikan keamanan istriku dulu sebelum istriku hamil lagi" ucap Max. "Aku takut musuh lama ku masih mencariku untuk balas dendam" jelas Max.


"Sepertinya tidak ada tuan, sudah lama tuan keluar dari Mafia Cosa Nostra. Sudah lebih tiga tahun ini hidup tuan aman-aman saja tidak ada lagi yang menyerang tuan" sahut Max.


"Kau benar Pau, aku berharap selamanya akan seperti ini, tidak ada lagi penyerangan yang akan membahayakan keselamatan istriku dan calon anakku nanti" ucap Max.


Kehidupan Max yang sekarang jauh lebih tenang dan merasa damai tanpa di bayang-bayangi rasa takut. Berbeda dengan dulu dia bisa kehilangan nyawanya setiap saat.


Emma datang hanya membawa satu cagkir teh, lalu ia berikan kepada Clarissa.


"Minumlah" ucap Emma yang masih tetap berdiri.


"Terima kasih kak" ucap Clarissa. "Punya kakak mana? bukankah tadi bilangnya kakak ingin minum" lanjutnya bertanya sama Emma.


"Tidak jadi kakak lelah ingin istirahat, kamu mau pulang atau menginap, kalau menginap kamu bisa tidur di kamar biasa. Tapi kalau mau pulang kamu harus minta antar pulang, karena kakak tidak akan mengijinkan kamu pulang malam sendirian" ucap Emma.


"Boleh Rissa menginap kak, Rissa malas pulang" tanya Clarissa penuh harap.


"Boleh, sekarang kakak mau sitirahat dulu" sahut Emma dan pamit pergi ke kamarnya.


Clarissa merasa aneh melihat perubahan wajah Emma yang tidak seperti sebelumnya.


"Kak Emma kenapa ya, kenapa mukanya seperti itu" gumam Clarissa.


Selang berapa lama Max dan paul kembali menghampiri mereka, ternyata di ruangan itu hanya tinggal Clarissa, istrinya sudah tidak ada.

__ADS_1


"Emma mana" tanya Max kepada Clarissa.


"Kak Emma ada di kamarnya, katanya ingin istirahat" sahut Clarissa.


Max mengangguk, lalu dia menepuk bahu Paul.


"Kau mau puoang atau tetap di sini, aku ingin menyusul istriku" tanya Max.


"Saya pulang saja tuan" sahut Paul.


"Kalau begitu hati-hati" ucap Max. langsung berlalu begitu saja, ia ingin menyusup istrinya yang sudah lebih dulu masuk kedalam kamar.


Ceklek....


Max membuka pintu kamarnya, ia melihat istrinya sudah berada di atas ranjang dengan posisi membelakangi pintu kamar, jadi Max tidak tahu istrinya itu sudah terlelap atau maish terjaga. Max memutuskan pergi kekamar mandi dulu untuk menggosok gigi dan cuci muka.


Keluar dari kamar mandi Max menuju ek walk in closet untuk mengganti pakaiannya, ia hanya memakai celana tidur dan bertelanjang dada.


ia naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya di belakang Emma.


Max memiringkan tubuhnya dan menyentuh bahu istrinya, ia ingin memastikan istrinya sudah tidur apa belum.


"Sayang" panggil Max lembut.


Tiga kali memanggilnya namun tidak ada sahutan dari istrinya itu, Max melongok melihat wajah istrinya, ternyata istrinya sudah memejamkan mata.


Akhirnya Max tidur sambil memeluk Emma dari belakang, Emma membalikkan tubuhnya saat merasakan hembusan nafas suaminya di leher jenjangnya.


Wanita itu ternyata hanya pura-pura tidur, ia menatap wajah suaminya dengan tatapan yang rumit.


Di usapnya wajah suaminya yang sudah terlelap dengan damai. Ia meraba alis, mata, hidung hingga bibir suaminya, Max tidak merasa terusik sedikitpun dengan pergerakan tangan istrinya di wajahnya.


"Kenapa kamu tidak ngomong yang sebenarnya? kenapa kamu harus menutupinya dari ku" gumam Emma kecewa.


Bukan hanya kecewa, namun ia juga merasa takut kepada suaminya, ia takut suatu saat melakukan kesalahan dan suaminya akan melukainya.


Lama kelamaan gerakan Emma membuat Max merasa terusik, ia mengerjabkan matanya dan melihat istrinya yang masih terjaga, padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


Bersambung.


Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏

__ADS_1


Happy reading guys ?🙏


__ADS_2