
Usai makan pagi, Max mengantarkan istrinya ke kantornya setelah itu barulah dia mengantar Reva ke sekolah.
Max menurunkan istrinya di depan gedung perusahaan AA company milik Emma.
"Aku masuk dulu hubby" pamit Emma sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Semangat kerjanya, nanti pulangnya aku jemput" ucap Max sambil mencium bibir istrinya lumayan lama, seolah dia tidak ingin rela berpisah dengan istrinya.
Max melepaskan tautan bibirnya ketika merasakan kalau istrinya sudah mulai kehabisan nafas, dia menempelkan keningnya ke kening istrinya.
"I love you sayang" ucap Max sambil mengusap pipi istrinya yang bergitu lembut.
"I love you more" sahut Emma sambil mengecup singkat bibir suaminya.
Emma akhirnya turun dari mobil Max, Max memastikan istrinya masuk ke kantornya terlebih dahulu, setelah itu barulah dia melajukan mobilnya menuju ke rumah Arsen.
Tiba di depan rumah Arsen, Max langsung masuk kedalam untuk memanggil Reva.
"Reva mana bi" tanya Max kepada pelayan yang ada di rumah Arsen.
"Non Reva sedang sarapan tuan Max" sahut bibi.
Max mengangguk, lalu berjalan menuju keruang makan untuk menemui Reva.
"Kamu sudah datang Max" sapa Arsen ketika melihat Max menghampirinya.
"Tentu saja sudah, jelas-jelas saat ini aku sudah ada di hadapan anda" sahut Max membuat Arsen jengkel.
Arsen menyesal sudah menyapa bodyguardnya itu.
"Kamu sudah sarapan belum Max" tanya Alisya perhatian.
Arsen mengepalkan tangannya, dia cemburu melihat istrinya yang perhatian dengan Max.
"Sudah nyonya" jawab Max.
Alisya menganggukkan kepalanya.
"Ayo om Max, kita berangkat sekarang" ajak Reva ketika sudah menyelesaikan makan paginya.
Dia turun dari kursi sambil membawa tasnya dan menggendongnya.
Dia pamit sama kedua orang tuanya setelah itu barulah Reva berangkat sekolah bersama Max.
Ketika sudah berada di dalam mobilnya, Max menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas, dia melajukan mobilnya menuju ke sekolahan Reva.
Tiba di sekolahan Reva pamit sama Max dan langsung turun dari mobil bodyguardnya itu.
*
*
__ADS_1
"Sedangkan di kantor Emma, Tina masuk kedalam ruangan Emma. Emma menghentikan pekerjaannya dan mengangkat wajahnya melihat siapa yang masuk ke ruangannya.
"Ada apa?" tanya Emma kepada Tina yang masuk keruangannya.
"Ada tamu perwakilan dari perusahaan J'MO, katamya beliau mau ketemu sama anda bu" sahut Tina.
"Hah? Perusahaan J'MO?" tanya Emma kaget.
Ia tak percaya kalau perwakilan perusahaan J'MO datang menemuinya, padahal perusahaan itu terkenal sulit untuk di ajak kerjasama dan juga misterius.
Namun siapa sangka, perusahaan itu justru mengirim perwakilannya untuk datang langsung ke perushaannya.
"Suruh dia masuk cepat, jangan buat mereka terlalu lama menunggu" perintah Emma, dia begitu antusias menyambut kedatangan orang dari J'MO tersebut.
Karena ini pertemuan pertamanya, Emma tidak mau membuat kesan buruk kepada mereka.
Tina langsung bergegas ke arah pintu dan membukakan pintu untuk mereka.
"Silahkan masuk tuan-tuan" ucap Tina sopan mempersilahkan mereka berdua masuk kedalam ruangan Emma.
"Terima kasih" sahut Lucas dengan wajah datarnya.
Lukas dan asistennya masuk kedalam ruangan Emma.
"Selamat datang di perusahaan AA Company tuan..."
"Saya Lucas" ucap Lucas meperkenalkan diri.
Lucas memperhatikan istri tuannya itu dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
"Ck, ternyata tuan Max pinter juga mencari istri" batin Lucas saat memperhatikan Emma sedikit membuat Emma risih.
"Silahkam duduk tuan" kata Emma menyuruh mereka berdua untuk duduk.
Lucas dan asistennya pun duduk di sofa yang ada di ruangan Emma.
"Tujuan saya kesini ingin memberikan kontrak kerjasama antara perusahaan J'MO dengan perusahaan anda, saya sudah mempelajari proposal penawaran anda dan saya menyetujuinya" ucap Lucas to the point, asisten Lucas langsung menyodorkan kontrak kerjasama kepada Emma.
Emma melongo mendengar ucapan Lucas, ia berasa mimpi mendapat kontrak kerjasama dengan perusahaan tersebut, apalagi dengan proses yang begitu mudah menurutnya.
"Anda tidak bercanda kan tuan Lucas" tanya Emma memastikan.
"Saya tidak kenal anda sebelumnya nyonya, bagaimana mungkin saya berani bercanda dengan anda" sahut Lucas.
Menurutnya yang di ucapkan Lucas ada benarnya juga, tidak mungkin sekelas J'MO hanya bercanda.
"Maaf tuan Lucas saya, saya hanya kaget saja pasalnya saya belum melakukan apa-apa namun anda dengan mudahnya langsung menyetujui proposal perusahaan kami" ucap Emma menjelaskan.
"Ya itu karena campur tangan suamimu nyonya, kalau bukan karena suamimu mana mungkin saya langsung menyetujuinya begitu saja" Ingin rasanya dia mengatakan seperti itu sama Emma, namun dia tak berani.
"Peoposal yang anda tawarkan cukup menarik, jadi membuat saya ingin segera bekerjasama dengan anda" kilah Lucas.
__ADS_1
Emma mengangguk, setelah itu dia menarik kontrak kerjasama tersebut dan menandatanganinya.
Setelah semuanya selesai, Lucas pamit undur diri dari perusahaan Emma.
"Senang bekerjasama dengan anda nyonya Emma" ucap Lucas t ersenyum tipis sambil menjabat tangan Emma.
"terima kasih tuan Lucas." ucap Emma sambil melepaskan jabatan tangannya.
"Kalau begitu saya pamit undur diri dulu Nyonya" ucap Lucas.
Emma mengangguk tersenyum, Tina mengantar Lucas dan juga asistennya sampai depan ruangannya.
🌹🌹🌹🌹
Sore hari ponsel Max berdering, dia melihat Paul menghubunginya.
"Ada apa Pau?" tanya Max.
"Mereka bergerak, mereka sedang mengincar istrimu, ternyata mereka orang suruhN Darso dan juga ibu tiri nyonya Emma" ucap Paul.
"Shitttt......Kalau begitu kirim orangmu menuju ke lokasi nyonya berada" umpat Max langsung mematikan panggilannya.
Jarak Max ke perusahaan istrinya lumayan jauh, jadi dia tak mau ambil resiko.
Max menghubungi nomor istrinya, ia berharap istrinya belum keluar dari perusahaanya,
Karena tadi Max bilang sama istrinya tidak jadi jemput.
Tuttt....
Tutttt......
Berkali-kali Max menghubungi nomor istrinya namun tak juga di angkat.
"Plisss....angkat sayang" ucap Max panik. Kali ini dia benar-benar kecolongan.
Max menaruh ponselnya begitu saja, karena istrinya tak juga mengangkat panggilannya. ia menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke perusahaan istrinya.
Sedangkan di sisi Emma, dia turun dari lift menuju ke lobby, ia melihat ponselnya ternyata lowbet.
"Yahhh....mati, aku langsung pulang aja deh, kalia aja Max sudah pulang juga" gumam Emma, dia ingin menghubungi suaminya namun ponselnya mati karena dia lupa isi batre.
Emma berjalan keluar perusahaan, dan berdiri di depan gedung perusahaannya sambil menunggu taksi yang sudah di pesankan oleh Tina.
Citttt.....
Tiba-tiba ada mobil hitam yang turun di depan Emma, dan tiga orang laki-laki bertubuh tegap keluar dari dalam mobil tersebut dan langsung menyergap Emma.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏
__ADS_1
Happy reading guys🙏