Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 90


__ADS_3

Emma pulang dari Rumah sakit dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya, wanita itu terlihat sangat bahagia, begitu juga dengan Paul dan Clarissa yang mengantar Emma periksa.


"Bagaimana hasilnya sayang" tanya Max saat melihat mereka bertiga pulang.


"Selamat hubby, kau sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Tadi dokter menyatakan kalau aku benar-benar hamil" ucap Emma dengan wajah berbinar.


"Benarkah" ucap Max memastikan.


Emma mengangguk sambil melihat suaminya.


Wajah Max langsung berbinar, dia sangat bahagia mendengarnya. Max ingin maju memeluk istrinya tapi ia urungkan, ia takut istrinya mual lagi.


"Kenapa" tanya Emma.


"Bolehkah aku memelukmu" tanya Max dengan wajah memelas.


"Kemarilah" pinta Emma sambil merentangkan kedua tangannya.


"Sungguh? Aku takut kamu mual lagi karena ku sayang" ragu Max.


"Aku akan baik-baik saja hubby" yakin Emma.


Max pun senang akhirnya dia bisa memeluk sang istri. Ia pun melangkah maju menghampiri sang istri.


"Terima kasih sayang, terima kasih kamu sudah mau mengandung anakku. Aku sangat bahagia sekali sekarang" ungkap Max sambil memeluk erat sang istri.


"I love you sayang" ucap Max dan mencium setiap inci wajah Emma.


"Aku juga mencintaimu hubby" balas Emma kembali memeluk Max.


Mereka berdua terus bermesraan, seolah melupakan dua insan manusia yang sedang memperhatikannya.


"Selalu saja bermesraan di sembarang tempat, tidak sadar apa kalau kita berdua masih berada disini" dumal Clarissa.


"Biarkan saja, mereka sudah biasa seperti itu" sahut Paul nampak biasa saja, karena dia sudah terbiasa melihatnya.


"kalau kau ingin kau bisa melakukannya dengan ku" ucap Paul setelah itu pergi meninggalkan mereka.


Clarissa terbengong mencoba mencerna apa yang di katakan Paul barusan, sungguh ia tak percaya pria itu berani berkata seperti itu.


"Apa dia bilang? Yang benar saja aku melakukannya dengan dia" gumam Clarissa. "Tapi tak ada salahnya aku mencobanya bukan" lanjut Clarissa tersenyum nakal.


Lalu Clarissa berlalu menyusul Paul yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.


Setelah cukup puas berpelukan, Max pun melepaskan pelukannya.


"Kamu tidak mual sayang" tanya Max.

__ADS_1


"Tidak hubby, mungkin dedek bayinya kangen sama daddy nya" jawab Emma.


Max pun menunduk dan menempelkan wajahnya tepat didepan perut Emma.


"Selamat siang anak daddy, sedang apa kamu didalam sana sayang? Daddy harap kamu baik-baik saja, dan mulai sekarang kamu tidak boleh menyulitkan mommy mu atau daddy akan menghukum mu nanti" ucap Max memberikan sedikit ancaman kepada calon anaknya, dia berucap sambil mengusap perut rata istrinya.


Emma menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya, bagaimana bisa dia mengancam calon buah hatinya sendiri.


"Iya daddy, aku janji akan jadi anak baik" sahut Emma dengan suara menyerupai anak kecil.


Max mendongak sambil tersenyum menatap sang istri.


"Ayo ke kamar, kamu harus banyak istirahat" ajak Max.


"Gendong hubby" pinta Emma manja.


"Baiklah, aku akan menggendong mu" sahut Max.


Max pun mengangkat Emma ala bridal Style dan membawanya menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.


"Sepertinya kamu gemukkan sayang, badan mu sedikit berat" ucap Max sambil menaiki tangga.


"Mungkin karena pengaruh hamil, akhir-akhir ini aku juga sering makan, mungkin karena hal itu membuat berat tubuhku bertambah" sahut Emma sambil melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh Max.


"Apa kau tak menyukainya kalau aku gemuk hmm" lanjut Emma bertanya.


"Aku menyukai semua yang ada dirimu sayang, mau gemuk atau kurus aku tetap akan mencintaimu" jawab Max.


"Bukalah pintunya sayang" titah Max kepada Emma.


CKLEK.....


Pintu kamar di buka oleh Emma, Max melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar dan merebahkan Emma di atas ranjang.


Lalu Max ikut naik keatas ranjang dan tidur disebelah sang istri.


"Sayang, apa kamu menginginkan sesuatu" tanya Max, tadi saat Emma pergi ke dokter, Max menyempatkan diri untuk membaca tentang wanita hamil.


Dan yang Max tahu dari internet wanita hamil sering mengalami ngidam, makanya dia berinisiatif bertanya lebih dulu kepada istrinya.


"Aku tidak menginginkan apapun hubby" jawab Emma.


"Tak apa katakan saja sayang, aku aka membelikannya untukmu" ucap Max takut istrinya menyembunyikan sesuatu yang ia inginkan.


"Sungguh hubby, aku tidak menginginkan apapun, mungkin anakmu takut mendengar ancamanmu makanya dia tidak ingin apa-apa" sahut Emma cemberut.


"Baguslah kalau dia mengerti" sahut Max puas.

__ADS_1


Emma langsung menghadiahi Max dengan cubitan.


"Aww.... " Max pura-pura kesakitan, padahal cubitan istrinya tidak berasa sakit sama sekali.


"Kamu ini tega sekali mengancam calon buah hatimu sendiri, kalau dia tertekan bagaimana" omel Emma.


"Tidak akan, dia pasti kuat" ujar Max sepele.


Emma mendengus sebal lalu membuang mukanya kearah lain. Max terkekeh dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Ayo tidur lagi, kau pasti capek setelah habis dari rumah sakit" ucap Max.


"Eum" Emma memang merasa sedikit lelah, dan juga mudah sekali mengantuk.


Mereka berdua tertidur dengan saling memeluk.


*****


Clarissa menghampiri Paul yang sedang duduk di teras dengan secangkir kopi yang baru saja di berikan oleh pelayan.


"Ada apa kau menghampiriku? Apa kau ingin mencoba yang tadi?" tanya Paul.


"Ayo, aku juga ingin memastikan kalau dugaan ku salah, aku yakin kalau kau bukan seorang penyuka sesama jenis" tantang Clarissa tanpa takut.


Paul menoleh dan menatap Clarissa tajam.


"Apa kau bilang? Kau mengira aku seorang g*y?" tanya Paul tak habis pikir, bagaimana bisa wanita itu menilai dirinya seorang g*y.


"Iya, aku tak pernah sekalipun melihatmu berkencan dengan seorang wanita, kau juga terlihat tidak tertarik dengan ku, padahal kita sering sekali bersama tapi tak sedikit pun kau melirik ku" ucap Clarissa.


Paul mengerutkan dahinya tak mengerti dengan ucapan gadis itu, hanya karena tidak pernah melihatnya berkencan lantas dia menyimpulkan dirinya seorang g*y.


Gadis itu juga berkata kenapa tidak meliriknya, apa gadis itu menyukainya? Tanya Paul dalam hati.


"Apa kau sadar apa yang kau katakan nona? secara tidak langsung kau baru saja mengatakan kalau kau tertarik denganku"


"Aku tidak tertarik denganmu, aku hanya penasaran saja" kilah Clarissa mengalihkan wajahnya malu.


Paul terkekeh, lantas pria itu menarik lengan Clarissa hingga tubuh gadis itu menubruk dadanya, dengan gerakan cepat Paul langsung menempelkan bibir nya ke bibir Clarissa.


Bibir Paul terus ******* bibir Clarissa. Hingga merasa puas, barulah Paul melepaskan tautan bibirnya.


"Manis" ucap Paul sambil membersihkan bibirnya yang terkena saliva.


Clarissa diam saja, tubuhnya masih mematung, dia menatap Paul tak percaya, pria itu benar-benar menciumnya, apa itu artinya pria yang ada dihadapannya ini bukanlah seorang g*y?.


"Apa kau percaya sekarang nona?" ejek Paul.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏


__ADS_2