Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 99


__ADS_3

Devan menghela nafas setelah selesai memeriksa Clarissa.


"Maaf, apa dia baru saja mengalami tindak kekerasan" tanya Devan kepada mereka.


"Dia hampir saja di perkosa oleh seseorang" jawab Paul.


Devan mengangguk mengerti, dia juga sempat menduganya tapi tidak enak mengatakannya.


"Pantas, banyak luka lebam di tubuhnya, kita lihat dia nanti setelah sadar, akankah dia histeris atau tidak" ucap Devan.


"Memangnya kenapa" tanya Paul tidak tahu.


"Kalau dia sampai histeris atau takut akan sesuatu berarti dia mengalami trauma, kalian bisa membawanya ke Psikolog" jawab Devan


"Apakah itu bisa sembuh" tanya Emma.


"Kakak ipar tidak perlu khawatir, biasanya setelah melakukan terapi rutin pasien akan sembuh" jawab Devan.


Emma bernafas lega, Emma benar-benar mengutuk perbuatan mantan kekasih adiknya itu, Emma tak habis pikir dengan adiknya yang mau berpacaran dengan pria sakit jiwa seperti itu.


Tak lama terdengar suara Clarissa yang sedang mengigau.


"Tolong lepaskan hiks...., tolong ini sakit hikss" racau Clarissa sambil menangis dengan mata yang masih terpejam. Terlihat Clarissa gelisah dan tubuhnya basah oleh keringat.


Emma menghampiri adiknya dan duduk di tepi ranjang.


"Clarissa bangun, ini kakak sayang" panggil Emma sambil menepuk pipi adiknya.


"Rissa bangun Rissa" Emma terus berusaha membangunkan adiknya.


Clarissa membuka matanya dan langsung memeluk kakaknya.


"Hikss... Rissa takut kak, dia menyentuh tubuh Rissa, Rissa kotor" racau Clarissa sambil menangis memeluk Emma.


"Tenanglah, kamu sudah aman sekarang, kamu tidak kotor dia belum sempat menyentuhmu" Emma mengusap punggung adiknya sambil menenangkannya.

__ADS_1


Paul mendekati Clarissa dan ingin menyentuh kepalanya tapi langsung di tepis oleh perempuan itu.


"Tolong jangan sentuh aku, lepaskan aku" histeris Clarissa meronta di pelukan Emma.


"Sayang, menyingkir lah, nanti dia menyakiti perutmu" ucap Max khawatir istrinya akan terluka.


Emma menoleh melihat kearah suaminya. " Tenanglah hubby, dia tidak akan menyakiti ku" Ema mencoba meyakinkan suaminya.


Emma mengendurkan pelukannya, dia menangkup wajah Clarissa.


"Rissa sadar sayang, ini kakak, tidak ada yang bisa menyentuhmu sekarang" ucap Emma sambil menatap mata Clarissa dalam.


Clarissa terus meronta, bahkan gerakannya semakin tak beraturan, Max yang tak mau ambil resiko langsung menarik istrinya dan membawanya menjauh dari Clarissa.


"Aku akan memberinya obat penenang" ucap Devan, lalu menyuntikkan obat penenang ke tubuh Clarissa.


"Aku tak tega melihat keadaannya seperti ini, hubby" sedih Emma sambil memeluk suaminya.


"Sabarlah sayang, Devan akan menanganinya" ucap Max, dalam hari Max ingin segera melenyapkan orang yang sudah berani menyakiti Clarissa.


Max marah bukan karena melihat Clarissa di sakiti, tapi dia marah karena sudah membuat istrinya sedih.


"Untuk sekarang jangan ada yang mendekatinya terlebih dahulu terutama laki-laki, dia sepertinya trauma dengan sentuhan laki-laki" ucap Devan memberitahu mereka.


Mereka menghela nafas panjang, ternyata kejadian itu sangat mempengaruhi mental Clarissa.


"Dokter Devan, apa anda memiliki kenalan seorang Psikolog? Kalau iya bisa tidak besok suruh datang kemari menemui adik saya" tanya Emma.


Akan terlalu beresiko jika membawa Clarissa keluar dalam keadaan seperti ini, Emma takut tiba-tiba Clarissa histeris, sementara dirinya sedang hamil besar, akan susah untuk mengatasinya.


"Punya kakak ipar, besok aku akan menyuruhnya kemari" jawab Devan.


"Terima kasih dokter Devan" ucap Emma tersenyum.


Mereka semua memutuskan untuk keluar dari kamar Clarissa, mereka membiarkan Clarissa untuk beristirahat terlebih dahulu.

__ADS_1


"Saya pamit dulu tuan" ucap Paul dengan wajah yang sulit di artikan.


Max beranjak dari sofa dan berdiri menghampiri Paul, mereka berdua berjalan beriringan keluar dari Mansion.


"Lain kali langsung habisi saja" ucap Max sambil menepuk bahu Paul.


"Aku tak mungkin membunuhnya di hadapan Clarissa tuan" sahut Paul.


"Kau bisa menculiknya Paul, jangan biarkan musuh kita tetap hidup atau mereka akan balas dendam pada kita" ucap Max.


Paul mengangguk mengerti, dia masuk mobil meninggalkan mansion Max.


Max melangkahkan kakinya masuk kedalam Mansion menghampiri istrinya yang sedang mengobrol dengan Devan.


"Sana pulang, jangan ganggu istri orang terus" usir Max tak berperasaan.


"Dasar posesif, memangnya siapa yang berani ganggu kakak ipar" cibir Devan.


Emma menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berdua.


Devan berdiri sambil menenteng tas kerjanya, "Jangan lupa transferannya" ucap Devan, lau pergi begitu saja dari Mansion Max.


Setelah melihat kepergian Devan Max merebahkan kepalanya di kedua paha istrinya.


"Gimana dedek bayinya hari ini sayang" tanya Max sambil menciumi perut buncit istrinya.


"Baik, tapi tadi memintaku melihat singa di belakang" ucap Emma tanpa beban.


"APA" Max terlonjak kaget dan langsung menundukkan tubuhnya.


"Kau serius tadi melihat Singa di belakang" tanya Max tak percaya, karena istrinya itu paling takut dengan binatang buas.


Emma mengangguk polos. "Iya, tadi aku juga masuk ke kandangnya juga" ucap Emma enteng.


Max terbelalak, dia seperti mau pingsan mendengar ucapan istrinya, istrinya ini tidak pernah ngidam tapi sekalinya ngidam langsung ekstrim.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏


__ADS_2