Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 37


__ADS_3

"Begitu nak Emma ceritanya, semenjak kejadian itu saya dan keluarga memutuskan untuk pergi dan memilih menetap di sini untuk menghindari nyonya Eva, karena kami tidak mau berurusan lagi dengannya" ucap pengacara Dion.


Emma mengepalkan tangannya, setelah mendengar cerita dari pengacara ayahnya membuat kebencian Emma terhadap Eva semakin bertambah, ia berjanji kepada dirinya sendiri akan menghancurkan Eva.


"Jadi benar kalau berkas yang berada di tangan Mama Eva itu asli om" tanya Emma memastikan.


"Berkas yang ada di tangan nyonya Eva bukan yang asli non, saya menduplikat dokumen tersebut menyerupai yang aslinya, memang sekilas dokumen itu terlihat asli namun sebenarnya tidak" sahut Dion tanpa keraguan.


Emma tersenyum lega mendengar jawaban dari pengacara Dion, ternyata pengacara tak sejahat yang Emma pikirkan.


Sebelumnya Emma sempat berpikir kalau pengacara Dion bekerja sama dengan Eva untuk mengambil semua aset ayahnya, karena semua dokumen ayahnya yang memegang pengacara Dion, jadilah dia berpikir buruk tentangnya.


Namun siapa sangka, ternyata pengacara Dion lebih cerdik dari yang Emma kira.


"Mah, tolong ambilkan dokumen milik non Emma di lemari yang ada di ruang kerja papah" pinta pengacara Dion kepada sang istri.


Istri Dion mengangguk dan berlalu menuju ke ruang kerja suaminya.


"Sekarang nak Emma tinggal dimana" tanya pengacara Dion.


Karena yang ia tahu setelah kematian Aditya ayah Emma semua aset milik Emma di ambil alih oleh Eva.


"Emma tinggal sama dia om" tanya Emma sambil menunjuk ke arah suaminya yang ada di sebelahnya.


Pengacara Dion menatap ke arah Max setelah itu dia kembali menatap Emma.


"Bukankah kata Nyonya Eva kamu sudah menikah, apa dia suami kamu nak?" tanya Dion penuh selidik. bagaimana pun ia ayah Emma dulu sahabat baik dengan Dion.


Jadi Dion harus memastikan satu-satunya putri sahabatnya ini.


"Bukan menikah om, tapi Emma di jual sama mama Eva dan Emma juga mau di jadikan istri ke 6 oleh pria tua itu" sahut Emma dengan sorot mata sendu.


Pengacara Dion menggelengkan kepalanya tak percaya, ternyata Eva bukan hanya tega sama dirinya saja, bahkan saja anak sambungnya pun dia tega menjualnya.


"Astaga ternyata dia sejahat itu, om tak menyangka almarhum ayahmu bisa menikahi wanita seperti itu" ucap oengacara Dion.


Emma hanya membalasnya dengan mengendikan bahunya tak mengerti.

__ADS_1


"Lalu pria yang di sampingmu ini siapa nak" tanya pengacara Dion.


"Perkenalkan tuan Dion, saya Max suami Emma" bukan Emma yang menjawab melainkan Max yang memperkenalkan dirinya kepada Dion.


"Hah? kaliam sudah menikah" pekik Dion kaget.


Istri Dion yang baru datang pun kaget ketika mendengar suaminya berteriak.


"Ada apa pa? kenapa seperti orang kaget begitu" tanya istri Dion sambil mendudukan tubuhnya di samping suaminya.


"Nak Emma sudah menikah Mah" sahut Dion.


"Yasudah tidak apa-apa, malah bagus jadi ada yang menjaga nak Emma" Dion dan Max setuju dengan ucapan istri Dion.


Mungkin dengan adanya Max di samping Emma membuat Eva tak lagi berani mengusik kehidupan Emma pikir Dion.


Dion mengambil berkas yang baru saja di ambil oleh istrinya dan memberikannya kepada Emma.


"Ini berkas kepemilikan semua aset milik mendiang ayahmu yang sudah om rubah menjadi atas nama mu, nak Emma" ucap Dion kepada Emma.


"Ini milik Emma semua om? lalu yang punya Clarissa mana" tanya Emma dia ingat kalau ayahnya pernah bilang kepadanya akan memberikan beberapa aset milik ayahnya kepada Clarissa.


"Punya Clarissa sudah om serahkan kepada nyonya Eva" sahut Dion.


Emma mengangguk mengerti, setelah itu dia menutup dokumen tersebut.


"Apa om Dion betah tinggal di kota ini? kalau memang tidak betah kembalilah ke kota J bersama Emma om" tanya Emma yang merasa kasihan dengan Dion.


"Suami Emma akan memastikan akan memastikan keselamatan Om dan keluarga, ya kan Max" lanjut Emma meminta jawaban dari suaminya.


Istrinya ini suka seenaknya saja, dirinya memang menjadi bodyguard tapi bukan berarti harus menjaga keamanan orang lain juga, dia menjadi bodyguard khusus untuk Reva saja bukan orang lain.


"Hmmm" gumam Max.


Dion tersenyum sambil menatap Emma.


"Om sudah betah di sini nak, kota ini kebetulan juga kota kelahiran om dulu, jadi om dan keluarga akan tetap tinggal di kota ini" ucap Dion, dia tidak ingin merepotkan Emma dan suaminya untuk melindunginya, pasalnya Emma juga masih harus menyelesaikan permasalahanya dengan Eva.

__ADS_1


Jadi Dion tidak mau menambahi beban Emma dan juga suaminya.


"Nanti kalau suatu saat om Dion mau kembali lagi ke kota J, om bisa hubungi Emma nanti Emma akan siapkan tempat tinggal untuk om" ucap Emma tulus.


Emma merasa bersalah dan juga berhutang budi kepada pengacara Dion, karena dirinya dia menjadi sasaran kekejaman Eva.


"Iya nak"sahut Dion sambil tersenyum menatap Emma.


Mereka terus mengobrol hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Max dan Emma pun pamit pulang kepada Dion dan juga istrinya.


"Emma pamit om, lain kali kalau Emma berkunjung ke kota ini Emma akan mampir ke rumah om Dion" ucap Emma pamit kepada Dion.


"Iya hati-hati nak" sahut Dion.


"Sekali lagi Emma terima kasih dan Emma minta maaf sama om Dion dan juga keluarga, karena Emma om Dion dan keluarga jadi susah seperti ini"


"Tak apa, om ikhlas membantu nak Emma, jasa ayahmu juga cukup besar dalam hidup om, jadi sudah waktunya om membalas semua jasa ayahmu".


Akhirnya mereka pamit meninggalkan rumah Dion. Mereka berdua langsung menuju ke hotel.


"Apa rencanamu setelah ini sayang" tanya Max sambil memeluk Emma yang sedang berdiri menghadap jendela kamar.


"Aku belum memikirkannya, tapi yang jelas akau akan membalas kejahatan Eva yang sudah ia lakukan kepadaku dan juga om Dion" sahut Emma dengan sorot mata penuh kebencian.


"Apapun rencanamu nanti, aku pasti akan selalu berada di sampingmu sayang. Kamu sekarang sudah tak sendirian, ada aku yang akan selalu membantumu dan juga melindungimu " ucap Max sambil mencium puncak kepala istrinya.


"Tapi kamu tetap harus hati-hati, karena lawanmu bukan hanya Eva tapi juga Darso" imbuhnya membuat Emma menghela nafas berat.


"Huffttt... berat sekali rasanya, bisa tidak jika kedua manusia itu tiba-tiba menghilang dari muka bumi" keluh Emma sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


"Bisa jika kamu ingin sayang" sahut Max serius, padahal tadi Emma hanya asal ucap saja tapi suaminya malah menanggapinya dengan serius.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏

__ADS_1


__ADS_2