
"Mana adikmu sayang, perasaan tadi malam dia tidur di atas sofa" tanya Max yang baru saja ingat dengan Clarissa.
Emma tak menjawab, dia mengeryitkan dahinya ia berfikir kalau suaminya itu belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
Mana mungkin Clarissa menjaganya di rumah sakit, bahkan ngobrol saja dia tidak pernah, mungkin suaminya ini berhalusinasi, pikir Emma.
"Maksudmu Clarissa" tanya Emma mengerutkan dahinya.
"Iya, memangnya kamu memiliki adik selain Clarissa"
"Tidak, adikku hanya Clarissa saja, tapi mana mungkin dia menemaniku di sini, sedangkan selama ini kami jarang terlibat obrolan berdua." ucap Emma.
"Tapi dia yang membantuku membawamu kemari sayang" sahut Max memberi tahu istrinya.
"Lalu dia kemana? kenapa tidak ada di sini" tanya Emma.
"Mungkin dia sudah pulang, karena semalam dia nginep di sini" ucap Max di balas anggukan oleh Emma.
Emma tidak mau ambil pusing dengan keberadaan adiknya itu.
"Yasudah, nanti kalau dia kesini aku akan berterima kasih kepadanya" ucap Emma tersenyum.
Setelah cukup lama mengobrol berdua, Max membantu membersihkan tubuh istrinya, dia juga memakaikan baju ganti untuk istrinya.
Sebelum meminum obat, Max menyuapi Emma makan pagi terlebih dahulu, Max begitu telaten merawat istrinya yang sedang sakit.
"Sudah sayang, aku sudah kenyang" ucap Emma membuat Max berhenti memasukkan makanan kedalam mulut istrinya.
Max tak memaksa istrinya menghabiskan semua makananya, yang penting istrinya susah makan meskipun hanya beberapa suap saja, itu tak masalah bagi Max.
Ponsel max berbunyi, ternyata Arsen yang menghubunginya.
"Iya, ada apa tuan? tanya Max setelah mengangkat panggilan dari Arsen.
"Kamu kemana saja? kenapa kmau belum jemput Reva" tanya Arsen dari sebrang telpon.
"Saya hari ini cuti tuan, istri saya masuk kerumah sakit" sahut Max tak sadar bilang kalau dirinya sudah beristri.
"Hah, istri yang mana? memangnya kapan kamu menikah Max" tanya Arsen.
Bukannya menjawab Max malah langsung mematikan panggilannya.
"Haiss.... aku keceplosan, pasti nanti tuan Arsen akan memberikanku banyak pertanyaan" gumam Max.
"Siapa sayang" tanya Emma.
"Barusan tuan Arsen yang menghubungiku" jawab Max sambil melangkahkan kakinya menghampiri istrinya yang ada di brankar.
"Lalu dia bilang apa" tanya Emma ingin tahu.
"Tidak ada, dia hanya bilang kenapa belum jemput Reva, gitu aja" sahut Max.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tidak menjemputnya".
Max menghela nafas panjang, istrinya ini kenapa jadi crewet sekali.
🍁🍁🍁
Sementara di markas Cosa Notra, Darso dan James terus berteriak histeris karena mendapat cambukan dari anak buah Max.
"Akhhh... sakit berengsek" lirih James menahan sakit di punggungnya, enath sudah berapa banyak bekas cambukan yang ada di tubuhnya.
"Itu akibatnya kalau kalian sudah berani membangunkan singa yang sedang tidur" sahut anak buah Max.
Cetarrrrr....
Cetarrrr...
Anak buah Max terus menyiksa Darso dan James secara bergiliran, tanpa rasa iba dia mencambuk tubuh mereka berdua.
teriakan serta jeritan mereka seolah bagai alunan lagu yang indah di telinganya.
Anak buah Max menghentikan cambukannya saat James dan Darso pingsan karena sudah tidak kuat menahan sakit dari tubuhnya.
"Dasar menyusahkan, baru segitu saja sudah pingsan" decak salah satu anak buah Max.
"Lalu kita apakan mereka berdua".
"Tinggalin saja, kita tunggu instruksi dari bos".
Mereka meninggalkan Darso dan James begitu saja, bahkan mereka tak ada niat mengobatinya.
Tentu saja mereka tidak akan mengobati, percuma saja mereka mencambuknya kalau ujungnya mereka obati juga.
🍁🍁🍁
Sore hari setelah pulang kerja Clarissa kembali ke rumah sakit menjenguk Emma, dia ingin memperbaiki hubungannya dengan kakak tirinya itu.
Selama ini ia selalu ngikutin ajaran mamanya agar membenci Emma, makanya selama tinggal bersama Emma dia selalu menghindarinya.
Dan sekarang dia baru sadar, ternyata Emma yang notabennya kakak tiri masih lebih baik dari pada Eva ibunya, bahkan ibunya ingin menjualnya ke pria kaya demi obsesinya.
Ceklek...
Clarissa membuka pintu ruang Emma. ia melihat kakaknya sedang makan buah di suapi oleh suaminya.
Perhatian Max dan Ema teralihkan karena mendengar suara orang membuka pintu.
"Maaf, aku mengganggu kalian" ucap Clarisa tak enak hati.
"Silahkan masuk, Emma cuma sedang makan buah saja" sahut Max.
Clarissa mengangguk, kemudian dia masuk kedalam ruangan Emma sambil membawa kue yang tadi sempat ia beli di toko kue langganannya.
__ADS_1
"Sudah ada adikmu, aku keluar dulu sebentar" ucap Max.
"Kamu mau kemana" tanya Emma.
"Aku ingin menemui Paul sebentar" jawab Max sambil mengelus pipi istrinya.
"Jangan lama-lama" ucap Emma.
Max mengangguk mengiyakan ucapan istrinya, sebelum pergi dia mencium kening istrinya terlebih dahulu.
Max sengaja meninggalkan mereka berdua, dia ingin Emma dan Clarissa bisa dekat selayaknya kakak beradik meskipun beda orang tua, tapi selama ini mereka tinggal satu atap selama bertahun-tahun.
Tentu Max berani melakukan itu karena sebelumnya dia sudah mencari tahu tentang kehidupan Clarissa.
Dan ternyata selama ini Clarissa tidak pernah melakukan hal-hal aneh ke istrinya.
kembali ke Emma dan Clarissa.
"Bagaimana dengan kondisi kak Emma" tanya Clarissa memulai obrolan, sebenarnya dia masih merasa canggung dengan kakaknya, namun dia memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara.
"Aku baik, terima kasih sudah menemaniku" sahut Emma dengan wajah biasa saja tanpa ekpresi.
Clarisssa yang melihatnya hanya bisa mengela nafas sabar, ia memaklumi sikap kakaknya seperti itu, karena dari dulu memang mereka berdua tidak pernah dekat.
"Syukurlah kalai begitu kak"
"Kedatangan Clarissa kesini, Clarissa ingin minta maaf dengan kak Emma, maaf, karena selama ini Clarissa selalu menghindar dari kakak." ucap Clarissa matanya berkaca-kaca, dia menundukkan wajahnya supaya Ema tidak melihatnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba minta maaf? apa karena kamu butuh transferan uang dariku" ucap Emma tersenyum miring.
"Tidak kak, sekarang Clarissa sudah bekerja, meskipun gajinya tidak besar tapi cukup untuk menghidupi Clarissa"
"Clarissa minta maaf karena Clarissa selama ini sudah banyak salah sama kakak, Clarissa hanya ingin hidup tenang tanpa menyimpan rasa bersalah sama kakak, dan Clarissa juga minta maaf atas nama mamah" lanjutnya, dia juga mewakili mamahnya untuk minta maaf sama Emma.
Karena sudah tidak bisa di bendung lagi, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga.
Setelah kerja dan hidup sendiri tanpa bantuan mamahnya, dia baru sadar kalau ternyata hidup sendiri itu tidak mudah.
Dia juga tahu akan kesulitan yang di alami kakaknya selama ini, apalagi mamanya selalu menyakitinya.
"Ini Clarissa bawain kue untuk kakak, Clarissa berharap Kak Emma mau memakannya." ucap Clarissa dengan senyum yang di paksakan.
"Kalau begitu Clarissa pamit pulang dulu kak" Clarissa memutuskan untuk pulang, karena sejak tadi kakaknya tidak meresponnya.
Clarissa berbalik dan berjalan ke arah pintu. Saat sudah memegang handle pintu suara Emma menghentikannya.
"Kenapa kamu pulang, buaknkah aku bekum menjawabnya" ucap Emma dengan tiba-tiba.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏
__ADS_1