
Devan tiba di mansion Max, dokter muda itu langsung naik keatas menuju ke kamar Max setelah di beritahu oleh salah satu pelayan di sana.
CEKLEK....
Pintu kamar Max langsung terbuka membuat atensi semua orang teralihkan. Mereka melihat kearah Devan yang baru saja datang.
"Mana kakak ipar" tanya Devan.
"Kau telat lima menit dua puluh lima detik Dev" geram Max.
Devan hanya merotasi bola matanya malas, dua tidak ada waktu meladeni sikap semena-mena Max, dia mendekat kearah ranjang dan melihat keadaan Emma yang belum sadarkan diri.
"Kamu ini suami macam apa, membangunkan istri yang sedang pingsan saja tidak bisa" omel Devan sambil mengeluarkan minyak angin dari dalam tasnya.
Dia menempelkan minyak angin ke hidung Emma. Tak lama Emma mulai mengerjabkan matanya.
"Alhamdulliah kakak ipar sudah sadar" ucap Devan senang.
"Kamu siapa? Kenapa ada di kamarku" tanya Emma sambil menatap tajam Devan.
Devan merasa kesulitan menelan ludahnya sendiri melihat tatapan tajam Emma.
"Aku kira kakak ipar orangnya baik, ternyata sama saja seperti lakinya" ucap Devan, tentu dia tak berani langsung didepan orangnya, dia hanya berani mengucapkan didalam hatinya.
Max menghampiri Emma, dia menghela nafas lega melihat istrinya telah sadar.
"Dia dokter yang akan memeriksa mu sayang" ucap Max.
"Kenapa harus di periksa" tanya Emma, wanita itu sepertinya lupa kalau dirinya sempat mengalami pingsan.
"Kamu tadi pingsan sayang, makanya aku panggil dia untuk memeriksa mu" sahut Max.
Emma tiba-tiba menutupi hidungnya, perutnya merasa mual mencium aroma tubuh suaminya.
"Kamu kenapa sayang" tanya Max khawatir
"Pergilah, aku tak suka aroma tubuhmu" usir Emma masih menutupi hidungnya.
Max hanya bisa menghela nafas sabar, lagi-lagi istrinya merasa mual tiap kali ada didekatnya. Tapi semalam kenapa istrinya itu baik-baik saja saat dia memeluknya. Max benar-benar merasa di permainkan oleh istrinya.
"Kau keluarlah dulu, jangan sampai kakak ipar pingsan lagi" ucap Devan.
"Baiklah, kau jangan lupa sekalian periksa yang lain, aku merasa indra penciuman dia bermasalah" sahut Max yang langsung di pelototi oleh Emma.
"Bukan hidungku yang bermasalah, tapi tubuhmu saja yang bau busuk" seru Emma tak terima.
__ADS_1
"Iya iya sayang, kalau begitu aku mandi dulu biar tubuhmu tidak bau busuk" ucap Max mengalah.
Devan menahan tawa, dokter itu sangat menikmati drama rumah tangga ini, apalagi wajah tertekan Max membuat pria itu menatapnya puas.
"Awas kau Dev" ancam Max sambil melihat Devan yang sedang menahan tawa.
"Lihatlah kakak ipar, dia malah mengancam ku, padahal dari tadi aku hanya diam tidak melakukan apa-apa" adunya drama.
"Max ... " tekan Emma.
"Itu tidak benar sayang, aku hanya bercanda saja, mana mungkin aku berani mengancamnya" kilah Max sambil melototi Devan yang cekikikan.
"Sudah cepat sana mandi, aku tak ingin muntah lagi gara-gara kau" usir Emma.
Max menghela nafas panjang, dengan langkah berat, Max keluar dari kamarnya, sejak tadi Clarissa hanya diam saja sambil memejamkan matanya duduk di sofa, tak sedikitpun Clarissa terganggu dengan perdebatan mereka.
"Mari aku akan memeriksa mu kakak ipar" ucap Devan.
Devan mulai memeriksa keadaan Emma, dia memeriksa denyut nadi, detak jantung dan yang lainnya.
"Kapan terakhir kakak ipar haid" tanya Devan.
"Emmm..... aku lupa" ucap Emma sambil menggigit bibirnya malu.
Devan tersenyum mendengarnya, berarti dari awal kecurigaannya benar, kalau istri Max sepertinya sedang hamil.
"Tidak kakak ipar, kakak ipar sepertinya hamil, untuk lebih jelasnya lagi kakak ipar bisa memeriksakannya ke spesialis kandungan" saran Devan.
Mata Emma membulat sempurna, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Benarkah? A-ku hamil" gagap Emma dengan mata berkaca-kaca.
"Semoga benar kak, aku berharap dugaan ku benar, melihat dari sikap kakak yang aneh sepertinya kakak benar hamil" jawab Devan.
Emma mengusap perutnya sambil tersenyum.
"Semoga kamu benar ada di perut mommy nak" lirih Emma.
"Amin" sahut Devan.
Dia merasa senang mengetahui sahabatnya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
Devan pamit pulang setelah selesai memeriksa Emma. didepan kamar langkah Devan langsung ditahan oleh Max.
"Bagaimana dengan hasil pemeriksaannya" tanya Max.
__ADS_1
"Cepatlah bawa kakak ipar ke rumah sakit, untuk memastikannya kamu harus memeriksakan kakak ipar ke dokter kandungan" jawab Devan.
"Kenapa harus ke dokter kandungan?....... Jangan-jangan istriku... "
"Ya, semoga saja dugaan kita benar" sahut Devan.
"Aku harus membawanya sekarang juga" ucap Max terlihat antusias, dia sudah sangat lama menantikan momen ini.
"Eits, kamu sepertinya lupa kalau kakak ipar tidak mau didekati oleh mu. Lebih baik sekarang kamu hubungi Paul dan suruh dia menemanimu istrimu ke rumah sakit" ujar Devan sambil memegang ujung kemeja Max.
Max mendengus kesal mendengar ide Devan, bagaimana bisa dia menyuruh asistennya untuk menemani istrinya periksa, nanti yang ada dokter mengira kalau Paul suaminya bukan dirinya.
Sebenarnya punya masalah apa calon bayinya itu dengan dirinya, bisa-bisa calon anaknya itu tak mengijinkan dirinya mendekati istrinya sendiri.
"Sudahlah terim saja, mungkin calon anakmu sedang ini mengerjai mu" ucap Devan seolah tahu isi pemikiran Max.
Pria itu menepuk bahu Max setelah itu pergi meninggalkan Mansion Max.
Max beranjak keruang keluarga, dia memencet nomor Paul dan menghubunginya.
"Halo, ada apa tuan" ucap Paul dari sebrang telpon.
"Cepat datang kemari dan segera bawa istriku ke rumah sakit, kamu harus menemani istriku periksa ke dokter kandungan" pinta Max.
"Kenapa tidak anda saja tuan, anda kan suaminya" sahut Paul.
"Kalau bisa aku sudah membawanya kesana sendiri, sayangnya istriku sedang tidak mau aku dekati, dia selalu mual kalau ada didekat ku" seru Max.
"Baiklah, saya akan kesana sekarang" ucap Paul patuh.
Max mematikan panggilannya sambil menghela nafas pelan. Hal yang paling berat bagi Max adalah ketika melihat istrinya sakit tapi ia tidak bisa apa-apa, bahkan untuk sekedar mendekatinya saja tidak bisa.
Max menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil tersenyum menatap langit-langit, dia sudah tidak sabar ingin mendengar celotehan anak kecil yang memenuhi menasionnya.
"Akhirnya kamu hadir juga diperut mommy sayang, daddy janji akan selalu menjagamu dan juga mommy" lirih Max.
"Kak Max, kak Emma katanya lapar, dia ingin makan masakan kak Max" ucap Clarissa membuyarkan lamunan Max.
"Eh"
"Iya, aku akan segera masak makanan untuknya" sigap Max.
Dia langsung turun kebawah menuju dapurnya, dia mengeluarkan semua bahan dari dalam kulkasnya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏