
Setelah menempuh waktu hampir empat jam lebih akhirnya mereka sampai di sebuah jalanan yang terlihat begitu sepi dan disisi jalannya terdapat jurang yang begitu curam.
"Ayo turun" ajak Max kepada mereka.
"Kita sudah sampai" tanya Emma.
"Iya sayang kita sudah sampai" sahut Max.
"Kenapa tempatnya sepi sekali" ceplos Emma sambil memperhatikan jalanan yang sama sekali tidak ada orang yang lewat.
"Lebih baik kita keluar untuk melihatnya, itu Clarissa juga sudah keluar bersama Paul" ucap Max dan di balas anggukan oleh Emma.
Mereka berdua akhirnya turun dari mobil menyusul Clarissa dan Paul yang sudah berdiri di tepi jurang.
"Dimana tepatnya mobil mamah jatuh kak" tanya Clarissa. pasalnya jurang itu terlalu curam hingga dia tak bisa melihat hingga ke dasar jurang
"Mobil ibumu jatuh kesana" tunjuk Max.
"Aku tak bisa menolongnya karena mobil ibumu jatuh begitu saja dan langsung meledak, medannya yang curam membuat kami kesulitan untuk turun kebawah" lanjut Max mengarang cerita.
Clarissa mengangguk mengerti, untuk melihat ke dasar aja susah, jadi tidak mungkin Max bisa turun kebawah tanpa bantuan apapun.
__ADS_1
Emma mendekati Clarissa dan memeluknya dari samping.
"Apa kamu baik-baik saja, Rissa" tanya Emma ketika melihat sang adik termenung sambil menatap ke dasar jurang.
"Aku tak apa kak, semalam aku sudah menguatkan hatiku untuk melihat kenyataan ini" jawab Clarissa dengan senyum yang dipaksakan, tapi tetap saja meskipun mulut berbicara tidak apa-apa tapi mata berbeda, sangat terlihat jelas ada kesedihan di sana yang tidak bisa Clarissa tutupi dari mereka.
"Menangislah kalau kamu ingin menangis" ucap Emma sambil mengusap bahu Clarissa.
Tak lama Clarissa berbalik dan langsung memeluk Emma, dia menangis di pelukan Emma, bohong kalau dia tidak apa-apa nyatanya hatinya sakit ketika tahu mamahnya meninggal dengan kejadian yang begitu tragis.
Meskipun dulu Clarissa sering mengabaikan mamahnya bukan berarti dia tidak menyayangi mamahnya. Dia sangat menyayangi mamahnya tapi sikap mamahnya lah yang akhirnya membuat dirinya menjauh.
Emma hanya diam membiarkan Clarissa menumpahkan semua kesedihannya, karena saat ini yang dibutuhkan oleh sang adik bukanlah sebuah nasihat melainkan bahu untuk bersandar.
"Sudah kak, terima kasih" jawab Clarissa.
"Kita saudara, tak seharusnya kamu mengucapkan terima kasih" ucap Emma tulus sambil mengusap airmata adiknya.
Lalu Clarissa berjalan sedikit menjauh dari mereka bertiga, wanita itu berdiri sambil memejamkan matanya seolah sedang berdoa.
"Hubby, apa tidak ada cara untuk turun kebawah?" tanya Emma.
__ADS_1
"Susah sayang, jurangnya terlalu curam" jawab Max.
Sebenarnya bukan tidak bisa, tapi Max enggan untuk turun, karena didasar jurang tidak ada apa-apa, tubuh Eva sudah hancur karena bom yang dia ledakan di markas King Dragon.
"Ayo kak, kita pulang" ajak Clarissa setelah selesai berdoa.
"Kamu yakin" tanya Emma memastikan.
"Iya kak" jawab Clarissa yakin, terlalu lama dia berada di tempat ini akan semakin membuat dirinya sedih.
Mereka akhirnya memutuskan pulang sesuai dengan keinginan Clarissa, Mereka berempat masuk kedalam mobil, Emma dan Max duduk di kursi belakang.
Perlahan Paul mulai melajukan mobilnya, dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Tiba-tiba saat ditengah jalan ada motor yang tiba-tiba menyalip, membuat Paul reflek menghentikan mobilnya secara mendadak.
Cit.....
"****.... " umpat Paul sambil menatap motor yang tadi menyalipnya, orang yang mengendarai motor menolah sambil mengacungkan jari tengahnya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏