
Tanpa mereka berdua sadari Max dan Emma memperhatikan mereka yang sedang mengobrol dari atas balkon, meski mereka tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi Emma dan Max tahu apa yang mereka berdua rasakan.
Emma tahu ketakutan sang adik, dia pernah mengalaminya dulu saat mengetahui identitas asli suaminya. Takut, kala itu yang di rasakan oleh Emma, dia tidak membayangkan dirinya menjadi istri seorang mafia, meskipun suaminya sudah lama pensiun tetap saja hidupnya masih merasa terancam, dia selalu merasa ketakutan setiap detiknya, takut tiba-tiba musuh suaminya membunuhnya.
Tapi semua itu sudah berlalu, sekarang Emma sudah lebih santai menjalani hidup bersama sang suami yang tengah menanti kehadiran buah hatinya.
"Ayo masuk, angin malam tak baik untuk ibu hamil" ajak Max menuntun istrinya masuk kedalam kamarnya.
"Kasihan mereka sayang" ceplos Emma.
"Kau tak perlu memikirkan masalah mereka sayang. Mereka sudah besar, mereka harus bisa menentukan jalan hidupnya sendiri." Max memberi pengertian kepada sang istri agar berhenti memikirkan masalah mereka, Emma sedang hamil, tak baik kalau terlalu banyak pikiran.
"Iya hubby, aku hanya khawatir saja" lirih Emma sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil di bantu Max.
Max ikut naik keatas ranjang lalu merebahkan tubuhnya di samping istrinya, Max memeluk istrinya dari belakang.
Di usapnya perut Emma dengan pelan, Emma terlelap karena merasa nyaman dengan usapan tangan suaminya dibagian perutnya.
"Syukurlah, kalau dia sudah tidur" ucap Max setelah mengecek istrinya.
Tak lama Max pun ikut memejamkan matanya sambil memeluk istrinya.
Di kamar lain terlihat Clarissa sedang melamun sambil menatap langit-langit kamarnya, dia tak tahu harus apa saat ini.
Dia mencintai Paul, tapi dia takut dengan status Paul yang seorang mafia, tapi dia juga tak ingin kalau harus berpisah dengan Paul.
"Hais... Kenapa seribet ini sih. Tak bisakah dia beralih profesi saja, adi tukang nasi goreng mungkin, sepertinya itu lebih baik daripada harus menjadi seorang mafia" monolog Clarissa.
"Lebih baik aku tidur saja, siapa tahu besok aku sudah mendapatkan jawabannya" gumam Clarissa sambil memeluk bantal gulingnya.
Clarissa mencoba memaksakan matanya untuk terpejam. Setelah berjuang selama tiga puluh menit untuk memejamkan mata akhirnya Clarissa bisa tidur juga.
*****
Pagi tiba, sinar mentari masuk kedalam sela sela jendela kamar mengganggu gadis cantik yang sedang bergelung di bawah selimutnya.
Jendela yang tidak tertutup rapat, membuat gadis itu merasa terusik ketika sinar mentari menyorot kearah matanya.
Clarissa membuka matanya secara perlahan, dia menutup matanya lalu membukanya lagi.
"Hoammm... Jam berapa ini"
Clarissa menoleh kesamping lalu melihat jam yang menempel di dinding kamarnya. Matanya melotot ketika melihat jam menunjukkan pukul sembilan pagi.
__ADS_1
"What? Jam sembilan pagi, kenapa tidak ada yang membangunkan ku"
Clarissa buru-buru turun dari atas ranjang, dia berlari masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia harus bergerak cepat karena jam sepuluh nanti dia ada pertemuan dengan kliennya di salah satu hotel di kota ini.
Tak sampai lim belas menit Clarissa sudah selesai mandi, dia masuk kedalam ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
Usai selesai semua barulah Clarissa keluar, dia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Kamu mau kemana" tanya Emma ketika melihat adiknya yang sedang terburu-buru, Emma pikir adiknya tidak akan masuk kerja setelah kejadian tadi malam makanya dia tidak membangunkannya.
"Aku harus kekantor kak" teriak Clarissa tanoa menoleh.
"Tapi kamu belum makan Rissa" ucap Emma sedikit berteriak.
"Nanti Rissa akan makan di kantor kak" teriak Clarissa.
Emma geleng-geleng melihat tingkah adiknya.
"Huff... Sekarang aku harus ngapain ya?" gumam Emma bingung, pasalnya di rumah tidak da orang hanya ada maid, suami dan adiknya sudah berangkat kerja.
"Ah, lebih baik aku kekamar saja, tidur, memangnya apalagi yang bisa aku lakukan selain tidur? Suamiku itu akan marah kalau tahu aku tak bisa diam" gumam Emma.
Emma di temani pelayan pribadinya menaiki tangga. Dengan hati hati Emma menaiki satu persatu anak tangga. Sebenarnya di rumahnya ada lift, tapi Emma lebih suka lewat tangga, perutnya belum terlalu besar sehingga masih bisa naik turun tangga.
"Baiklah nyonya, sebentar lagi saya akan keluar, nanti kalau ada sesuatu yang nyonya inginkan, nyonya bisa hubungi saya langsung" ucap pelayan Emma yang bernama Elly.
"Eum, sekarang kau bisa keluar" ucap Emma dengan mata yang sudah terlihat sayu.
Pelayan mengangguk, lalu keluat dari kamar Emma.
*****
Di kantor, Paul sedang mengamatu meja kerja Clarissa yang masih terlihat kosong, sudah hampir jam sepuluh tapi wanita itu belum menampakkan batang hidungnya.
Paul sedikit gelisah, ia mengira kalau Clarissa tidak akan masuk kantor setelah kejadian tadi malam.
"Dia ini kemana? Apa mungkin dia tidak masuk gara gara masalah tadi malam" tanya Paul dalam benaknya sendiri.
Paul menghela nafas lalu kembali fokus mengerjakan pekerjaannya.
Clarissa dan Paul menempati satu ruang kerja, hal itu memang kemauan Clarissa, dia tak ingin berjauhan dengan Paul, karena, jika Paul menempati ruangan yang berbeda dengannya dia akan merasa kesulitan ketika sedang membutuhkan Paul. Akhirnya dia memutuskan untuk satu ruangan dengan Paul.
Ceklek...
__ADS_1
Paul menoleh melihat kedatangan Clarissa.
"Maaf, aku telat" ucap Clarissa seolah lupa dengan kejadian tadi malam.
"Kita tidak ada waktu lagi, kita harus segera berangkat ke hotel Xx untuk melakukan pertemuan" ucap Paul sambil melihat jam tabgan yang melingkat di lengan kirinya.
"Ayo" sahut Clarissa.
Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari kantor, tamoak keduanya tidak ada yang memulai obrolan, keduanya terlihat canggung.
"Aku akan menggunakan mobilku sendiri" ucap Clarissa ketika sudah di lobby.
"Hmm" hanya itu yang keluar dari mulut Paul, dia tidak ingin mendebat sesuatu yang tidak penting.
Mereka pergi ke Hotel Xx dengan menggunakan mobilnya masing-masing. Paul mengikuti laju mobil Clarissa dari belakang, dia harus tetap memastikan keselamatan gadis itu.
Mobil mereka berhenti di lobby hotel, Paul dan Clarissa menyerahkan mobilnya pada petugas Vale.
Mereka bertanya ke meja respsionis.
"Reservasi tas nama tuan Handoko" ucap Paul.
"Sebentar saya lihat dulu tuan" ucap resepsionis.
Resepsionis membuka data reservasi, dia menemukan nama Handoko di salah satu daftar tersebut.
"Di fuction room yang ada di lantai lima tuan ucap Resepsionis.
"Mari saya antar tuan, nona" tawar salah satu room service.
Paul dan Clarissa mengangguk lalu mengikuti room service yang menggiringnya masuk kedalam lift yang membawanya naik keatas.
Ting
Lift sampai di lantai lima. Mereka bertiga keluar dari dalam lift dan melangkahkan kakinya berjalan menuju kesalah satu ruangan.
"Ini ruangannya tuan, nona" tunjuk sang room service.
"Terima kasih" ucap Clarissa.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏
__ADS_1