
Brakk...
Max membuka kasar pintu ruangan Lukas, Max masuk di susul oleh Paul di belakangnya.
"Ada apa ini" tanya Max pura-pura tidak tahu.
"Mereka melakukan korupsi tuan" jawab Lukas sambil memberikan semua bukti kepada Max.
"Saya tidak korupsi tuan, ini semua pasti jebakan, saya sudah bekerja di sini selama belasan tahun tidak mungkin saya berani menghianati perusahaan ini" Seru karyawan Max yang menjabat sebagai kepala bagian keuangan.
"Iya tuan, semua bukti itu pasti sudah di rekayasa sama orang yang sengaja ingin menjatuhkan kami."
"Kami tidak mungkin menghianati anda, bisa jadi ini hanya akal-akalan tuan Lukas saja yang ingin menyingkirkan kami".
Ucap lima Staff yang ada di ruangan Lukas, mereka sibuk memberikan pembelaan.
"DIAM !!" Bentak Max yang merasa terganggu dengan ocehan mereka.
Kelima orang itu langsung diam, tak ada satupun yang berani membantah Max.
Mereka berfikir dengan mereka memfitnah Lukas, maka Max akan memecat Lukas. dengan begitu mereka bebas karena tidak ada Lukas yang selalu menghalangi langkahnya. Lukas terkenal sebagai pemimpin yang tegas dan teliti.Tapi entah kenapa kali ini dia kecolongan, padahal selama sepuluh tahun dia memimpin perusahaan J'MO tak pernah sekalipun terjadi masalah seperti ini.
"Jelaskan!!" titah Max sambil duduk menyilangkan kakinya.
"Mereka korupsi dana proyek dengan cara memanipulasi takaran penggunaan material yang menyebabkan bangunan roboh dan menimpa beberapa kuli bangunan yang sedang bekerja tuan" jawab Lukas.
"Bohong, yang di ucapkan tuan Lukas bohong tuan, saya tidak mungkin berani menghianati anda".
"Kalian bisa diam tidak hah? dengan kalian terus berteriak seperti ini membuat saya yakin kalau kalian memang salah." tegas Max.
"Kami hanya membela diri tuan, tidak mungkin kami hanya berdiam diri saat melihat orang lain telah memfitnah kami dengan begitu keji"
Max tersenyum tipis, dia lebih percaya Lukas dari pada mereka berlima.
"Paul" panggil Max.
Seolah ngerti dengan kode panggilan itu, Paul langsung maju menghampiri kelimanya.
Bughh
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Paul menghajar kelimanya hingga babak belur, tidak ada ampun bagi seoarang penghianat seperti mereka, selama ini Max sudah mempercayainya tapi mereka malah mengecewakannya.
"Ampun tuan, ampuni kami"
Ucap mereka berlutut sambil meminta ampun kepada Max.
__ADS_1
Namun Max tek menghiraukan rengekan mereka yang terus memohon kepadanya.
"Pecat mereka dan blacklist nama mereka dari perusahaan manapun" perintah Max tegas.
"Tuan kami mohon jangan pecat kami tuan, kami janji tidak akan mengulanginya lagi" ucap mereka.
Max tersenyum smirk mendengar pengakuan mereka, tadi di awal mereka mati-matian menuduh Lukas memfitnahnya, tapi sekarang mereka mengaku dengan sendirinya.
"Seret mereka keluar dari perusahaan ini Pau, aku sudah muak dengan rengekan mereka" perintah Max tegas.
Paul mengangguk, lantas menyeret mereka keluar di bantu oleh scurity yang ada di perusahaan tersebut.
"berapa jumlah korban yang terkena dampak peristiwa itu Luk?" tanya Max.
"Ada sepuluh orang yang terkena dampak reruntuhan bangunan itu tuan, saya sudah membawa semua korban ke rumah sakit,dan bersyukur tidak ada korban yang meninggal dalam peristiwa itu tuan" jawab Lukas.
Max bernafas lega saat mendengar tidak ada korban yang meninggal.
"Beri tunjangan kepada keluarga korban Luk" titah Max.
"Baik tuan" sahut Lukas.
"Bagaimana kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan AA" tanya Max.
"Semua berjalan lancar tuan, saya senang bisa bekerja sama dengan nyonya Emma" jawab Lukas tersenyum.
"Ingat, dia istri gue Luk, jangan sekali-kali kau berani mendekatinya, atau kau akan aku jadikan santapan buaya di hutanku" ancam Max.
Setelah semua selesai, Max dan Paul pergi meninggalkan perusahaanya.
Mereka pergi ke markasnya terlebih dahulu.
"Kita langsung eksekusi mereka saja Pau, aku sudah bosan bermain dengan mereka" ucap Max sambil jalan menuju ke ruangan bawah tanah menemui Darso dan juga James.
"Terserah tuan saja" sahut Paul.
Saat sudah sampai di ruang tahanan Max melepas jaketnya dan langsung mengambil samurai miliknya yang biasa ia gunakan untuk mengeksekusi musuhnya.
Tanpa aba-aba Max langsung memegal kepala Darso.
Slasshhh....
Darah segar langsung muncrat dari leher Darso, kepala Darso menggelinding akibat di tebas oleh Max.
Kini giliran James, tubuhnya sudah gemetar hebat akibat melihat kepala rekannya yang di penggal oleh Max.
"Kenapa takut, bukankah selama ini kau memintaku untuk membunuhmu, lalu kenapa sekarang kami takut mati." ucap Max menyeringai seperti seorang psikopat.
Slashhhh....
Kepala James langsung menggelinding, membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri. Dari dulu Max memang terkenal dengan kekejamannya.
"Buang mayat mereka ke kolam buaya" perintah Max kepada anak buahnya.
__ADS_1
"Baik tuan" sahut anak buah Max.
Max mencuci tangannya yang terkena cipratan darah.
Setelah selesai Paul mengantar tuannya pulang ke rumah.
"Sayang, udah belum lihat-lihatnya" tanya Max saat sudah sampai di rumah barunya.
"Sudah hubby" jawab Emma menghampiri suaminya.
"Kamu suka? atau kamu ingin mendekornya ulang" tanya Max.
"Emmm... nanti saja aku pikirkan" jawab Emma.
Max pun mengangguk, dia tidak tahu rumah impian istrinya, jadi dia takut kalau istrinya tidak suka dengan dekorasi pilihannya.
"Ayo kita ke kamar sayang, aku ingin mandi" ajak Max.
"Ayo hubby"
Mereka berdua pergi kekamarnya. sampai di kamar Max langsung membuka seluruh pakaianya dan masuk kedalam kamar mandi.
Emma memunguti pakaian suaminya yang berserakan di lantai, namun tak sengaja Ema melihat noda merah yang ada di baju suaminya.
"Ini apa? kenapa seperti darah" tanya Emma lirih sambil meraba noda tersebut dan menciumnya.
"Bau amis, berarti bener ini darah, tapi darah apa?" gumam Emma lagi.
Emma mendengar suara pintu kamar mandi yang di buka dari dalam, dia langsung buru-buru memasukkan baju suaminya ke dalam keranjang baju kotor.
"Kamu kenapa sayang" tanya Max heran ketika melihat wajah gugup istrinya.
"Aku hanya kesal saja, kamu selalu membuang pekaian kotormu sesuka hatimu" kilah Emma pura-pura merajuk agar suaminya tidak mencurigainya.
"Maaf sayang, besok aku tidak akan mengulainginya lagi" sahut Max sambil mengecup bibir istrinya yang mengerucut.
"Ayo kebawah, takutnya Clarissa mau pulang" ajak Emma.
"Kamu tidak menyuruh adikmu tinggal di sini" tanya Max.
"Memangnya boleh" tanya Emma memastikan.
"Boleh, asal dia tidak membuat ulah" sahut Max.
Senyum Emma langsung mengembang, dia juga tidak tega membiarkan adiknya hidup di luar sana sendirian tanpa sanak saudara.
Ema bersyukur memiliki suami yang murah hati seperti Max.
(Murah hati katanya guys. dia tidak tahu aja kalau suaminya baru saja memenggal kepala orang) 😂
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏
__ADS_1