
"Rapat selesai, kalian semua bisa keluar dari ruangan ini" ucap Emma setelah Eva di seret keluar dari perusahaannya.
"Terima kasih nona Emma, senang melihat anda bisa kembali ke perusahaan ini" ucap salah satu pemegang saham.
Emma diam dan membalasnya dengan anggukan.
Mereka semua keluar dari ruang meeting, begitu juga dengan Emma, Emma menuju ke ruangannya yang selama beberapa bulan ini di pakai oleh Eva.
"Tolong kamu rubah semua konsep yang ada di ruangan saya, saya tidak mau bekas Eva masih menempel di ruangan ini" titah Eva kepada sekretarisnya.
"Baik bu, nanti saya akan memanggil tukang untuk merenovasi ruangan ibu" sahut sekretaris Emma.
"Kalau begitu kamu boleh keluar" Emma mengusir sekretarisnya dari ruangannya.
Sekretaris Emma pun meninggalkan ruangan Emma.
Emma merebahkan tubuhnya di sofa sambil mengurut peliipisnya yang terasa pusing.
"Eva si*lan, gara-gara ulahnya membuatku mesti kerja keras lagi untuk membuat perusahaan ini kembali stabil" gerutu Emma memaki Eva.
Ceklek....
Pintu ruangan Emma terbuka, ternyata suaminya yang datang.
"Kamu sedang apa sayang" tanya Max
"Pusing, gara-gara mak lampir itu" sahut Emma nyolot.
Bukannya marah, Max justru tertawa kecil melihat istrinya sedang marah-marah, Max tahu kalau istrinya mesti kerja keras untuk membenahi kekacauan yang sudah di buat oleh Eva.
"Tidak usah marah-marah, nanti aku akan membantumu" ucap Max seraya mendekati istrinya dan mengelus kepalanya.
"Tapi pasti nanti aku akan sering lembur Max" sahut Emma sambil membalas tatapan suaminya.
"Aku akan menemanimu honey" ucap Max.
"Kau memang yang terbaik suamiku" ucap Emma tersenyum lebar.
"Lalu mana panggilan sayangmu untukku" tagih Max kepada sang istri.
"Emm...bagaimana kalau aku panggil kamu Mas" ucap Emma.
"No sayang, aku bukan orang jawa yang sering memanggil suaminya dengan sebutan mas" protes Max.
"Bagaimana kalau abang?"
"Aku bukan abang penjual cilok yang sering Reva beli sayang"
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan memanggilmu hubby saja bagaimana?"
Max berpikir sejenak sambil mengelus ngelus dagunya.
"Hubby....Sepertinya tidak terlalu buruk" ucap Max sambil tersenyum manis menatap Emma.
"Bukankah kalau ada yang mendengarnya akan terlihat romantis" ucap Emma dengan mengerlingkan matanya membuat Max terkekeh, istri cantiknya ternyata sudah mulai nakal.
"Bangunlah nyonya, kamu harus segera membuat proposal pengajuan kerjasama dengan perusahaan Global Grouo dan juga J'MO" ucap Max sambil membantu istrinya supaya bangun.
"Tidak bisakah besok saja, hubby" rengek Emma yang masih ingin santai.
"Tidak sayang, kau harus melakukannya dengan cepat, supaya perusahaanmu cepat stabil" sahut Max.
Emma bangun dan berjalan menuju ke meja kerjanya degan menghentak hentakan kakinya.
"Bagaimana degan nasib temanmu itu sayang, bukankah temanmu itu resign dari sini gara-gara Eva" tanya Max.
"Ahh...kau mengingatkan ku hubby, aku harus memanggil dia kembali untuk membantuku membereskan kekacauan yang di buat Eva" ucap Emma yang baru ingat dengan Tina sang asistennya.
Emma mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Tina untuk kembali masuk ke perusahaan besok.
"Sudah kau hubungi temanmu itu sayang" tanya Max.
"Sudah, besok dia akan kembali masuk keperusahaan" sahut Emma sambil menyalakan laptopnya.
Sedangkan di sisi lain Eva sedang mencak-mencak, ia tak terima di usir begitu saja oleh scurity.
"Awas saja jika aku kembali memimpin perusahaan ini, aku pastikan kalian orang pertama yang akan aku pecat" ancam Eva kepada kedua scurity yang menyeretnya keluar perusahaan.
"Ck, dasar tidak tahu malu, sudah jelas-jelas perusahaan ini milik nona Emma, masih saja ngaku-ngaku" decak scurity yang ada di perusahaan Emma.
"Awas kamu Emma, aku akan membalasmu dan merebut kembali perusahaan suamiku, bila perlu aku akan membunuhmu" gumam Eva dengan penuh kebencian.
Eva masuk kedalam mobilnya menemui Darso.
"Aku harus menemui Darso saat ini juga, hanya menangkap wanita bodoh seperti Emma saja dia tidak bisa" ucap Eva sambil memukul setir kemudinya.
Mobil Eva tiba di depan rumah Darso, dia bergegas keluar dari dalam mobilnya.
Dengan gaya angkuhnya Eva masuk kedalam rumah Darso yang di penuhi oleh banyak penjaga.
"Dimana tuanmu? Bilang nyonya Eva ingin bertemu dengannya" tanya Eva menyuruh penjaga untuk memanggilkan Darso.
"Maaf, Ada kepentingan apa anda menemui tuan saya" tanya anak buah Darso.
"Tidak usah banyak tanya, bilang saja sama bosmu itu kalau nyonya Eva mencarinya" sahut Eva.
__ADS_1
Anak buah Darso memutar bola matanya jengah, wanita di hadapannya ini terlalu angkuh dan sombong.
Anak buah Darso akhirnya pamit kebelakang untuk memanggil tuannya.
"Ada apa" tanya Darso ketika melihat salah satu penjaga di rumahnya menemuinya.
"Ada nyonya Eva di luar tuan, katanya dia ingin bertemu dengan anda"
"Baik, nanti saya akan kedepan".
Darso berdiri dari tempat duduknya.
"Ada apa wanita rubah itu datang kemari" gumam Darso sambil berjaln menuju ke ruang tengah.
Terlihat Eva sudah duduk di ruang tamu sambil memainkan poselnya.
"Ada apa kamu kemari menemui saya" tanya Darso ketika sudah berada di hadapan Eva. Dia duduk di sofa single yang ada di hadapan Eva yang terhalang oleh meja.
"Kapan kamu akan menangkap Emma, kenapa dari kemarin kamu tak kunjung menangkapnya, bahkan ia sekarang sudah berhasil merebut kembali perusahaannya" ucap Eva tanpa basa basi.
"Apa kamu pikir mudah menangkap dia hah? Bahkan sudah beberapa anak buah saya yang di habisinya, apa kamu tahu siapa pria yang selalu melindungi Emma? Aku rasa dia bukan orang sembarangan, sebagian anak buahku mati karena tertembak" ucap Darso.
"Saya juga tidak tahu, sepertinya pria itu yang ada di belakang Emma selama ini" sahut Eva.
"Tentu saja, anak buahku selalu gagal karena ada pria itu di sampingnya," ucap Darso.
Yang terakhir anak buah Darso semuanya meninggal, dan mayatnya di kirim semua oleh anak buah Max ke rumah Darso.
"Lantas apaa rencanamu kali ini" tanya Eva.
"Sepertiny aku harus meminta bantuan pada kelompok mafia king Dragon, selama ini anak buahku selalu gagal menghabisi pria itu" ucap Darso.
"Apa kamu yakin, apa dengan meminta bantuan kepadanya tidak akan membahayakan diri kita sendiri" tanya Eva yang memang tidak mengetahui tentang dunia mafia.
"Tidak apa-apa, aku sudah sering menyewa mereka" sahut Darso.
Berkecimpung di dunia perjudian tentu membuat Darso mengenal beberapa mafia yang selama ini bekerjasama dengannya.
Tidak ada cara lain yang bisa Darso lakukan kecuali meminta bantuan kepada kelompok mafia, pasalnya Darso sudah mencari identitas asli Max namun dia tidak menemukan apa-apa.
Dia berhasil mengetahui nama panjang Max namun dia tidak tahu siapa sebenarnya Max ,yang dia tahu Max hanya seorang warga sipil biasa.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏
Happy reading guys🙏
__ADS_1