
Citttt.....
Tiba-tiba ada mobil hitam yang turun di depan Emma, dan tiga orang laki-laki bertubuh tegap keluar dari dalam mobil tersebut dan langsung menyergap Emma.
Bugh...
Emma langsung memutar tubuhnya dan membanting pria asing tersebut yang memegangi tangannya.
"Siapa kalian hah" sentak Emma sambil pasang kuda-kuda siap menyerang.
"Ikutlah dengan cara baik-baik, atau kami akan memakai cara kekerasan untuk menangkapmu"
"Aku tak sudi ikut dengan kalia" sinis Emma sambil meludah kesamping.
"Kalai begitu jangan salahkan kami jika kami memakai cara kasar"
Ciyatttt......
Mereka bertiga maju menyerang Emma dengan cara bersamaan, Emma mundur beberapa langkah dan langsung melayangkan tendangan ke mereka semua.
Bugh
Bugh
Bugh
"Shittt...ternyata wanita ini barbar juga" umpat salah satu musuh sambil memegangi perutnya.
Mereka bertiga kembali menyerang Emma, hingga
Bugh..
"Akhhh...." teriak Emma ketika perutnya terkena tendangan salah satu dari mereka.
Emma meringis sambil memegangi perutnya, ia merasakan perutnya begitu sakit tak seperti biasanya.
Saat berlatih dulu terkadang dia terkena pukulan atau tendangan di perutnya namun tidak sesakit ini.
Salah satu dari mereka maju ingin kembali memukul Emma, namun beruntung Emma langsung menghindar sehingga dia meninju angin.
Emma mencoba berdiri tegak dan melupakan sedikit rasa sakitnya, dia kembali melawan mereka bertiga.
Emma berlari dan menendang perutnya mengenai kedua musuh hingga membuat mereka jatuh.
Bughh...
Bughh...
Emma salto dan kembali menendang wajah satu musuh yang tersisa.
Bugh...
Salah satu musuh bangun dan menendang punggung Emma.
Bughhh...
Emma lengah dan membuat dirinya jatuh karena terkena pukulan dari belakang.
Emma meringkuk memegangi perutnya yang semakin sakit.
"Akhhh...tolong" lirih Emma meminta tolong.
Ketiga musuh mendekati Emma dan ingin menyeret Emma namun niatnya terhenti karena teriakan dari seseorang.
"BERHENTI!! LEPASKAN DIA" teriak salah satu petugas keamanan yang melihat atasannya sedang ingin di seret oleh tiga orang yang tak di kenalnya.
__ADS_1
Mereka menoleh dan melihat siapa yang meneriakinya.
Dorrrr....
"Akhhhh...." teriak sang petugas keamanan tersebut karena kakinya terkena tembakan.
Salah satu musuh melayang tembakan kearah kaki petugas keamanan di perusahaan Emma.
Membuat siapapun yang melihatnya takut untuk menolong Emma.
"Jangan ikut campur, atau kita akan membunuh kalian semua" ancamnya kepada semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut.
Semua orang yang ada di situ bergidik ngeri mendengar ancaman tersebut.
"Cepat bawa wanita itu" titah salah satu musuh yang kemungkinan besar itu bosnya.
Dua orang musuh kembali menyeret Emma yang sedang menahan sakit yang teramat sangat di perutnya.
Dorrr
Dorrr
Tiba-tiba ada segerombolan orang yang turun dari mobil menembaki musuh yang sedang ingin membawa Emma yang sudah tak sadarkan diri.
sepertinya yang baru datang itu orang-orang suruhan Max.
Terjadilah aksi serang antara dua kubu, dari kelompok King Dragon dan Cosa Nostra milik Max.
Salah satu anak buah Max mengamankan tubuh Emma agar tidak terkena imbas dari perkelahian tersebut.
"Hai, kalian siapa? Lepasin kakak saya" teriak Clarissa yang tak sengaja lewat didepan perusahaan Emma.
Dia melihat tubuh kakaknya yang di gendong oleh seseorang yang tak di kenal.
"Tolong jaga dia" titah orang tersebut yang tak lain Paul orang kepercayaan Max.
Clarissa mengangguk patuh, semua orang masuk kedalam perusahaan Emma untuk berlindung, karen semakin lama semakin banyak mobil musuh yang berdatangan, begitu juga dari kubu Max.
Peperangan antar dua kubu itu semakin tak terkendali.
Sementara di dalam perusahaan Emma, Clarissa mencoba membangunkan kakaknya.
"Kak Emma bangun kak" panggil Gadis itu sambil menepuk nepuk pipi Emma yang sudah tak sadarkan diri.
Clarissa terus membangunkan Emma namun tak kunjung sadar, dia melihat ke arah bawah bagian tubuh Emma.
"Darah" gumam Clarissa.
Dia langsung panik melihat kakaknya mengeluarkan darah.
"Tolong panggil ambulan cepat" perintah Clarissa kepada orang-orang yang ada di situ.
Salah satu dari mereka pun langsung menghubungi ambulan.
"Sayang..." panggil Max yang baru saja tiba, dia langsung mencari keberadaan istrinya.
Max menyingkirkan orang-orang yang mengalangi jalannya.
"Kamu siapa" tanya Clarissa penuh curiga.
"Saya suaminya" jawab Max singkat.
Clarissa hanya mengangguk, dia akan menanyakanya nanti.
"Cepat bawa kerumah sakit, kakak ku mengalami pendarahan" ucap Clarissa panik.
__ADS_1
Max langsung mengangkat tubuh istrinya yang masih belum sadarkan diri.
"Aku ikut" teriak Clarissa, dia takut Max berniat jahat kepada kakaknya.
Max pun mengijinkan Clarissa ikut denganya, mereka menerobos perkelahian untuk menuju ke mobil Max.
Tiba di mobil Max menyuruh Clarissa masuk kemobilnya, dan menyuru Clarissa untuk menjaga istrinya.
Max melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit Max langsung turun dan menggendong istrinya masuk kedalam rumah sakit, Max meninggalkan mobilnya begitu saja di lobby rumah sakit.
"Dokter...." teriak Max manggil-manggil dokter.
"Ada apa tuan" tanya perawat yang menghampiri Max.
"Cepat tolong istri saya!!" ucap Max panik.
Perawat langsung mengambil brankar, lalu Max merebahkan tubuh Emma di atas brankar tersebut.
Perawat di bantu Max mendorong brankar tersebut menuju ke ruang IGD. Clarissa mengikuti mereka dari belakang.
"Anda tidak boleh masuk tuan" ucap perawat saat Max ingin menerobos masuk kedalam ruang IGD.
"Tapi saya ingin menemani istri saya sus" ucap Max bersikeras untuk masuk kedalam ruangan itu.
"Tolong kerjasamanya tuan, biarkan kami fokus menangani istri anda" ucap perawat.
Clarissa maju mencoba memberi pengertian kepada Max.
"Sudahlah tuan, biarkan dokter menangani kak Emma, kalau tuan seperti ini malah menghambt kinerja mereka" ucap Clarissa.
Max pun akhirnya mengerti, suster langsung menutup pintu ruangan tersebut.
Max meremat rambutnya dan tubuhnya luruh kelantai.
"Yatuhan...selamatkan istri saya" ucap Max berdoa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ia merasa bersalah karena lalai memberikan pengawalan kepada istrinya.
Max dan Clarissa menunggu di luar ruangan, mereka berdua tidak terlibat obrolan sama sekali, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dokter yang menangani Emma keluar.
Ceklek...
Pintu IGD terbuka, seorang wanita paruh baya dengan baju snelli keluar dari ruang IGD.
Max dan Clarissa langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan istri saya dok" tanya Max membuka suara.
Dokter menghela nafas berat, dan menatap wajah Max dengan tatapan yang rumit.
"Cepat jawab pertanyaan saya dok, kenapa anda hanya diam saja" desak Max ketika melihat sang dokter tak kunjung membuka suara.
"Istri anda baik-baik saja, tapi janin yang ada di perut istri anda tidak dapat kami selamatkan" ucap Dokter.
DHUARR.....
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏
Happy reading guys🙏
__ADS_1