
Masih flasback
"Ada apa malam-malam kalian datang kemari? mana Owen? kenapa kalian hanya berdua?" tanya Davidson beruntun. karena tak biasanya Joven datang sendiri kerumahnya, dia selalu datang bersama orang tuanya.
"Mansion tuan Owen di serang tuan, saya kesini untuk menitipkan tuan muda" jawab Dion.
"Lalu bagaimana keadaan Owen sama Elliana" tanya Davidson panik.
"Emmm... Saya tidak tahu tuan" jawab Dion bohong, ia tidak ingin tuan mudanya mendengar kabar buruk yang menimpa kedua orang tuanya.
"Saya permisi tuan, saya harus kembali kesana untuk memastikan keadaan" pamit Dion.
"Saya ikut, aku akan menyiapkan anak buahku untuk ikut dengan kita" seru Davidson.
Lantas dia membawa Joven kecil masuk kedalam rumahnya, ia mencari keberadaan istrinya.
"Sayang" panggil Davison memanggil Belinda istrinya.
"Ada apa? kenapa kau teriak-teriak?" tanya Belinda menghampiri suaminya.
"Titip Joven, rumah Owen diserang aku harus kesana saat ini juga" ucap Davidson buru-buru.
"Joven ikut uncle" pinta Joven.
"Tidak, kamu harus tetap disini" tolak Davidson.
"Tapi Joven khawatir dengan mommy dan juga daddy uncle" sahut Joven.
"Uncle akan berusaha semampu uncle untuk menyelamatkam mereka" ucap Davidson mencoba meyakinkan Joven.
"Jadilah anak yang patuh, karena uncle harus pergi sekarang bersama paman Dion" yegas Davidson.
Joven pun akhirnya menurut, ia hanya bisa berharap kepada mereka berdua.
Davidson pergi bersama Dion menuju ke mansion Owen dengan semua anak buah yang ia miliki, Davidson memang bukan seorang mafia tapi dia memiliki banyak anak buah yang sudah terlatih untuk menjaga keselamatan keluarganya.
Hanya butuh waktu lima belas menit mereka tiba di mansion Owen, Dion dan Davidson bersama anak buahnya langsung menghujani mereka dengan peluru.
"Shittt... siapa yang datang" umpat ketua Araster.
"Lebih baik kita kabur sekarang" sahut ketua Red blood.
Mereka berdua pun akhirnya sepakat untuk kabur dari Mansion Owen, namun sebelum mereka kabur mereka memastikan keadaan Owen dan istrinya dengan menembaknya.
Dorrr..
Dorrr..
Dorrr....
Tiga tembakan mengenai kepala, jantung, dan perut Owen.
"Cih, ternyata hanya segini kemampuanmu Owen. Aku puas karena kau mati di tanganku"
"Selamat tinggal Owen"
__ADS_1
Mereka berdua langsung lari lewat pintu samping setelah mengucapkan selamat tinggal kepada jenazah Owen.
Di depan masih terjadi baku tembak, Davidson di lindungi Dion masuk kedalam mansion untuk mencari keberadaan Owen dan juga istrinya.
"Dimana Owen dan Elliana Dion?" tanya Davidson.
"Mereka ada didekat tangga tuan" sahut Dion.
Mereka berdua berjalan menuju karah tangga, mereka banyak melewati mayat-mayat yang bergelimpangan di lantai.
"Itu tuan Owen dan Nyonya Elliana tuan" seru Dion ketika melihat tuan Owen yang sudah terbujur kaku di sebelah sang istri.
Davidson mengikuti arah tunjuk Dion, jantungnya langsung berdetak cepat melihat tubuh Owen yang sudah tergeletak dan bersimbah darah.
Mereka berdua pun langsung berlari menghampirinya.
"Owen, Elliana" panggil Davidson sambil mengecek denyut nadi mereka secara bergantian.
"Gimana tuan" tanya Dion cemas.
Davidson menunduk sambil menggelengkan kepalanya lemah.
"Kita telat menyelamatkannya Dion" lirih Davidson.
Tubuh Dion langsung luruh kelantai, ia sangat menyesal meninggalkan tuannya, tapi baginya perintah tuan Owen adalah titah yang tidak bisa di bantah, ia harus pergi menyelematkan tuan mudanya.
Tak terasa mereka berdua meneteskan air matanya.
"Kita harus segera menguburkan jenazahnya mereka Dion" ucap Davidson.
"Ini akan menjadi tugas kita selanjutkan Dion, kita harus kasih tahu dia kalau orang tuanya sudah meninggal" sahut Davidson.
Dion mengangguk lemah, lantas dia berdiri dan meminta anak buah Davidson membawa jenazah tuan dan Nyonya nya.
"Tolong kalian angkat jenazah mereka berdua, dan bawa ke mansion tuan Davidson untuk segera di makamkan" titah Dion.
Anaka buah Davidson mengangguk patuh, mereka mengangkat tubuh Owen dan juga Elliana dan membawanya pulang ke mansion Davidson.
Setelah itu Dion memerintahkan kepada anggota Cosa Nostra yang masih tersisa untuk membereskan semua kekacauan yang ada.
"Tolong kuburkan rekan kalian yang meninggal dengan layak dan obati yang luka-luka" titah Dion kepada anak buahnya.
"Baik tuan" sahut mereka patuh.
Dion dan Davidson pergi meninggalkan kediaman Owen.
Mobil mereka tiba di mansion Davidson, dengan langkah gontai mereka berdua masuk kedalam, Joven yang melihat mereka pulang pun langsung berlari kearahnya. Ternyata sejak tadi Jovem menunggunya bahkan anak kecil itu tidak tidur sama sekali.
"Dimana daddy uncle? kenapa kalian hanya berdua? " tanya Joven penuh selidik, ia tidak melihat keberadaan daddy nya bersama mereka.
Davidson menyamakan tingginya dengan Joven, dia memegang kedua bahu anak laki-laki itu dan dan menatapnya serius.
"Mommy dan daddy mu meninggal di tembak musuh, kamu sebagai anak laki-laki tidak boleh cengeng dan lemah, kamu harus menjadi kuat supaya bisa membalaskan kematian kedua orang tuamu yang telah di bunuh oleh mafia Araster dan Red blood" ucap Davidson tegas.
Raut wajah anak kecil itu langsung berubah, kedua matanya memerah memancarkan amarah dan kedua tangannya mengepal erat.
__ADS_1
"Dimana daddy dan mommy" tanya Joven, tak sedikit pun bocah kecil itu meneteskan air matanya.
"Jenazah mommy dan daddy mu ada di rumah duka" sahut Davidson.
"Aku ingin melihatnya" pinta Joven.
"Kita akan kesana" ucap Davidson sambil berdiri.
Mereka bersama-sama menuju ke rumah duka termasuk Belinda dan juga Arsen, mereka ingin mengantarkan jenazah sahabatnya hingga ketempat istirahatnya yang terakhir.
Sampai di rumah duka Joven langsung turun dari mobil dan berlari kedalam rumah duka, Dion ikut berlari menyusul tuan mudanya.
Didalam rumah duka Joven melihat dua peti mati yang berisi kedua orang tuanya.
"Tuan muda" ucap anggota Cosa Nostra.
Joven mengangguk, lantas mereka mundur dan memberi jalan untuk tuan mudanya mendekat ke jenazah tersebut.
Sejenak Joven terdiam menatap kedua jenazah itu secara bergantian, tidak ada raut kesedihan, yang ada hanya raut wajah penuh amarah dan kebencian.
"Selamat jalan Dad, mom, Joven janji akan membalaskan kematian kalian berdua" ucap Joven dan mencium kening kedua orang tuanya.
Setelah itu mereka langsung memakamkan kedua jenazah itu ke makam keluarga Owen.
Kedua perti jenazah itu di turunkan ke liang lahat lalu di timbun dengan tanah hingga membentuk gundukan.
Joven jongkok dan memeluk nisan orang tuanya.
"Tenanglah di sana mom, dad, Joven disini baik-baik saja" lirih Joven mencium nisan orang tuanya.
"Ayo kita pulang, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan" ajak Davidson.
"Iya uncle" sahut Joven dan berdiri.
Davdidson salut dengan keteguhan hati Joven, bocah kecil itu tak sedikit pun mengeluh atau terpuruk, sepertinya ucapan yang ia lontarkan kepadanya sangat mempengaruhi mentalnya.
Setelah sampai di mansion nya ia mengajak berbicara Joven dan juga Dion.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan Dion" tanya Davidson.
"Saya akan membawa tuan muda pergi dari negara ini tuan, saya takut mereka akan mencari keberadaan tuan muda" sahut Dion membuat Davison menghela nafas.
"Pergilah ke Indonesia, disana ada mansion yang sengaja di sembunyikan oleh daddy mu, mension tersebut letaknya ada di tengah hutan. Dan ubahlah nama panggilanmu menjadi Max agar mereka tidak bisa melacakmu" ucap Davidson kepada Joven dan juga Dion.
"Bawalah anggota Cosa Nostra yang selamat, latihlah Joven hingga menjadi pemuda yang kuat dan tangguh, agar dia mampu menumbangkan semua musuhnya" ucap Davidson.
"Baik tuan" sahut Dion.
Usai pamit Dion pun membawa Joven dari pergi dari kediaman Davidson, mereka menuju bandara bersama semua anak buah Cosa Nostra yang tersisa.
Darimana Davidson mengetahui mansion itu? tentu saja dari Owen, dia sudah meyiapkan segala sesuatu jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan seperti sekarang.
Davidson merupakan sahabat baik Owen, mereka berdua bertemu saat Davidson menyelamatkan Owen yang tertembak oleh musuh. Semenjak itu membuat hubungan keduanya menjadi dekat, dan saling membantu satu sama lain.
Flasback Off
__ADS_1
Bersambung