
Keesokan paginya Emma dan suaminya makan pagi bersama Clarissa juga. tidak ada obrolan apapun mereka fokus dengan makanannya.
"Kak Rissa berangkat dulu ya" pamit Clarissa setelah menyelesaikan makan paginya.
"Iya hati-hati" sahut Emma.
Setelah melihat Clarissa pergi kini Emma menatap suaminya dengan wajah serius, Max menghela nafas pelan melihat tatapan istrinya, ia bisa menebak kalau istrinya ingin membicarakan masalah yang tadi malam.
"Ceritakan" titah Emma dengan wajah datar.
"Apakah harus sekarang sayang? bukankah sebentar lagi kamu mau berangkat ke kantor" sahut Max mencoba mengulur waktu.
Max takut istrinya pergi setelah mengetahui masa lalu nya, meskipun Emma sudah mengetahui identitas aslinya tetap saja Max was-was, apalagi sejak bangun tidur istrinya terlihat dingin kepadanya.
"Itu perusahaanku jadi bebas aku mau masuk jam berapa" sahut Emma.
"Baiklah, kamu ingin aku memulainya darimana?" tanya Max pasrah.
"Ceritain semuanya dari awal kamu bisa menjadi seorang mafia" jawab Emma tak sedikitpun mengalihkan tatapanya dari wajah suaminya.
Max pun menceritakan dari awal kejadian saat ia masih kecil melihat rumahnya di serang yang mengakibatkan kedua orang tuanya meninggal.
Flasback On
Malam hari tiba-tiba terjadi penyerangan di rumah tuan Owen. Tuan Owen membawa masuk istri serta putranya masuk kedalam kamar.
"Tetaplah di sini jaga mommy, jangan buka pintu sampai daddy datang" ucap Owen memperingati putranya yang masih berusia sepuluh tahun.
Lantas tuan Owen memberikan sebuh pistol ke tangan putranya.
"Pegang ini, jika nanti ada yang menyakiti kalian kamu bisa langsung menembaknya" titah tuan Owen.
"Iya dad, Joven janji akan menjaga mommy untuk daddy" sahut Joven kecil.
Tuan Owen tersenyum bangga kepada putranya, dia mencium kening putranya lalu istrinya secara bergantian.
"Kamu yakin?" tanya Eliana sambil menatap kedua mata suaminya.
"Berdoalah sayang, semoga kita semua selamat" sahut Tuan Owen sambil mengelus sisi wajah istrinya.
Mata Eliana berkaca-kaca, ia tidak rela melepaskan suaminya melawan musuh, namun tuan Owen terus meyakinkan istrinya kalau semuanya akan baik-baik saja.
"I love you" ucap Tuan Owen mencium singkat bibir istrinya.
Setelah itu tuan Owen keluar dari kamar sambil membawa senjata api di tangan serta di pinggangnya.
"Tuan kenapa anda keluar, bersembunyilah biar saya dan yang lain yang melawan mereka" ucap Dion tangan kanan Owen.
__ADS_1
"Aku bukan pengecut Dion, aku tidak mungkin lari membiarkan anak buahku berjuang sendiri. aku akan ikut menyelesaikan pertarungan ini hingga akhir," tegas Tuan Owen.
"Tapi tuan, kita kalah jumlah lebih baik anda bawa lari Nyonya dan juga putra anda, karena saya tidak yakin kita bisa mengalahkan mereka" ucap Dion saat melihat anak buahnya sudah banyak yang tumbang.
Dorrr...
Dorrr..
Sebuah tembakan mengarah ke tuan Owen dan juga Dion yang sedang bersembunyi di balik dinding, beruntung mereka sigap dan peluru tidak mengenai tubuhnya.
Tuan Owen merupakan pemimpin sekaligus pendiri kelompok mafia Cosa Nostra, dia petarung yang hebat hingga membuat Cosa Nostra menjadi kelompok mafia terbesar di tanah Eropa.
Banyak kelompok mafia lain yang berbondong-bondong ingin menghancurkannya karena merasa iri dengan kekuasaan yang di miliki oleh Cosa Nostra.
Seperti saat ini, dua kelompok mafia Araster dan red blood bersekutu menyerang rumahnya, tuan Owen tak menyangka rumahnya akan di serang oleh musuh.
Karena tidak tahu akan di serang membuat ia tidak siap dan bahkan saat ini kelompoknya kalah jumlah dengan mereka.
Tuan Owen merupakan sosok pemimpin yang setia kepada kelompoknya, dia tidak akan meninggalkan kelompoknya dalam kondisi apapun, meskipun dia harus meninggal di tangan musuh dia pun rela, karena nanti dia akan di kenang sebagai seorang petarung bukan sebagai seorang pecundang.
Dorrr...
"Akhh... " desis Tuan Owen ketika peluru musuh mengenai lengannya.
"Tuan" panggil Dion panik.
Tuan Owen dan Dion kembali fokus menembaki semua musuh.
"Owen keluar kamu, rumahmu sudah kami kepung" teriak pemimpin Araster.
Sementara di dalam kamar, Eliana merasa gelisah karena suaminya tak kunjung kembali, ia khawatir terjadi sesuatu dengan suaminya itu.
"Joven tunggu di sini ya, mommy mau keluar sebentar melihat Daddy" ucap Elliana kepada sang putra.
"Tapi mom, daddy sudah melarang kita untuk keluar dari kamar ini sebelum daddy kembali" sahut Joven.
"Mommy takut terjadi sesuatu dengan daddy mu Joven" ucap Elliana.
"Baiklah, tapi hanya sebentar karena Joven takut nanti daddy marah" Joven akhirnya mengijinkan sang mommy untuk keluar sebentar melihat daddy nya.
Elliana keluar dari kamarnya mencari keberadaan suaminya, ia melihat saat musuh mengarahkan pistolnya kearah suaminya. Namun belum sempat dia berlari menghampiri suaminya peluru itu sudah lebih dulu mengenai perut suaminya.
Dorrr.....
"Dadddd..... " Teriak Elliana ketika melihat suaminya tertembak.
Tuan Owen dan Dion menoleh, ia melihat Elliana yang sedang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"Sayang" lirih Tuan Owen.
"Dion cepat bawa nyonya, jangan biar..... " ucapan Tuan Owen menggantung saat melihat istrinya di tembang oleh ketua Red blood.
Dorr.....
Tambakan tepat mengenai dada Elliana. Eliana langsung jatuh dan tak sadarkan diri.
Tuan Owen mematung melihat kejadian itu, dia meneteskan air matanya melihat istrinya meregang nyawa di hadapannya.
"Hahahahaha... kau sudah kalah Owen, bahkan kau tidak bisa menyelamatkan istrimu" ucap Ketua Araster dan juga ketua Red blood.
Tuan Oeen masih bersembunyi di balik dinding sambil melihat istrinya yang sudah tidak bernyawa.
"Dion, cepat bawa pergi Joven lewat pintu rahasia, dan mintalah pertolongan kepada tuan Davidson" titah Tuan Owen.
"Tapi bagaimana dengan anda tuan"
"Keselamatan Joven lebih penting Dion" tegas Tuan Owen tak ingin di bantah.
Dion pun mengangguk pasrah, dia mengendap endap pergi menuju ke kamar Joven.
"Tuan muda bukalah, ini paman Dion" ucap Dion lirih karena Joven mengunci pintunya.
Ceklek...
"Paman dimana mommy sama daddy" tanya Joven setelah membuka pintunya.
"Kita harus pergi sekarang juga" ajak Dion mengalihkan pertanyaan Joven.
"Tapi daddy sama mommy gimana paman? Joven tidak mau meninggalkan mereka"
"Tuan nanti akan menyusul, sekarang kamu harus ikut paman mencari bantuan"
Joven pun mengganguk setuju, Kemudian Dion mendorong pelan rak buku yang ada di ruangan itu, setelah rak di dorong terlihat ada sebuah lorong gelap di ruangan itu.
"Cepat tuan muda, waktu kita tidak banyak" ucap Dion.
Joven pun masuk dan Dion menutup kembali rak itu seperti semula supaya tidak ada yang mencurigainya.
Dion memimpin jalan menggunakan senter dari ponselnya, ia terus menyusuri lorong gelap itu hingga sampai di sebuah hutan.
"Kita dimana paman" tanya Joven ketika menatap sekitar yang di penuhi dengan banyak pohon.
"Kita sekarang ada di hutan, ayo ikut paman kita harus segera menemui tuan Davidson untuk meminta pertolongan" ucap Dion.
Dion pun menuntun Joven hingga menemukan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, di bangunan itu terdapat mobil yang sengaja tuan Owen siapkan untuk melakukan pelarian.
__ADS_1
Bersambung