Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 96


__ADS_3

Meeting berlangsung selama hampir dua jam, selama meeting tidak ada kendala apapun, mereka menyukai konsep desain yang di tawarkan oleh Clarissa.


Selesai meeting Clarissa dan Paul keluar dari hotel, mereka hendak kembali ke kantornya, tapi sebelum itu Paul menahan tangan Clarissa yang mau membuka pintu mobilnya.


"Ada apa?" tanya Clarissa menoleh.


"Ayo kita makan dulu, aku tahu kamu belum sempat sarapan tadi" ajak Paul, tadi Emma sempat menghubunginya dan memberitahunya kalau Clarissa belum sarapan.


"Aku bisa sarapan di kantor" tolak Clarissa.


Paul menghela nafas.


"Kamu masih marah denganku" tanya Paul.


"Aku sedang tidak mau membahas itu" ujar Clarissa lalu masuk kedalam mobilnya.


Paul menatap mobil Clarissa yang mulai menjauh keluar dari area hotel.


"Wanita memang sulit di mengerti, dia yang memintaku untuk jujur, ketika sudah jujur dia justru marah denganku, sebenarnya apa yang dia inginkan" dumal Paul pusing.


Dia masuk kedalam mobilnya, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke kantornya, sebelum kekantor Paul menyempatkan diri untuk membeli makanan terlebih dahulu, dia membeli dua porsi makanan untuk dirinya dan juga Clarissa.


Ceklek...


Paul membuka pintu ruangan Clarissa, terlihat wanita itu tengah fokus menatap layar laptopnya.


"Ada apa lagi" tanya Clarissa tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


"Ini makanan untukmu, kau boleh marah padaku, tapi kamu harus tetap jaga kesehatanmu" ucap Paul seraya menaruh makanan di atas meja Clarissa.


"Aku tahu. Terima kasih" ucap Clarissa masih enggan menatap Paul.


Paul mengangguk, lantas beranjak ke meja kerjanya. Mau di makan atau tidak yang penting dia sudah mengingatkan wanita itu untuk makan.


Paul membuka laptopnya dan mulai fokus mengerjakan pekerjaannya.


Clarissa mendengus kesal ketika melihat Paul yang tak berusaha membujuknya.


"Dasar tidak peka, tidak bisakah dia membujukku" gerutu Clarissa dalam hati.


Begitulah wanita, mereka selalu menuntut pasangannya untuk mengetahui perasaanya.


Clarissa menelan Salivanya melihat makanan yang di berikan oleh Paul. Perutnya terasa lapar tapi dia gengsi untuk memakannya.

__ADS_1


"Makan saja tak usah malu" ucap Paul yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Clarissa.


"Tidak mau" ketus Clarissa menutupi rasa malunya.


Paul hanya mengendikkan bahunya acuh. "Dasar wanita, tinggal makan saja apa susahnya" Kesal Paul dalam hati.


Susana di ruangan itu terasa sunyi, yang ada hanya suara ketika keyboard yang saling bersahutan, tak ada yang mau mengalah untuk memulai obrolannya.


Paul diam karena merasa Clarissa terus menghindarinya, dia sudah beberapa kali mengajak wanita itu untuk mengobrol, tapi wanita itu justru menghindarinya dan selalu membalasnya dengan ketus. Akhirnya Paul menyerah dan memilih untuk diam.


Drrrtttt......


Ponsel Paul berdering, Paul langsung mengangkatnya.


"Katakan" perintah Paul.


".... "


"Baik saya akan segera kesana" ucap Paul, lalu mengakhiri panggilannya secara sepihak.


Paul beranjak dari tempat duduknya, kemudian meraih jas nya dan memakainya.


Dia keluar ruangan begitu saja tanpa pamit lebih dulu kepada Clarissa.


"Ada apa? kenapa dia terlihat buru-buru" tanya Clarissa penasaran.


Clarissa menatap kembali makanan yang ada di atas mejanya.


Kruuukk


Kruuukk


Perut Clarissa bunyi, cacing di perutnya sudah demo minta di kasih makan.


"Aku makan saja lah, persetan di tertawan olehnya" putus Clarissa, dia tak peduli Paul menertawakannya, perutnya sudah sangat lapar dia sudah tidak bisa menahannya lagi.


Clarissa membuka kotak makan itu dan langsung memakannya.


****


Mobil yang Paul tumpangi sudah sampai di Markas Cosa Nostra.


"Ada apa? bagaimana bisa dia tiba-tiba meninggal" tanya Paul sambil berjalan menuju ke penjara bawah tanah dimana Richard di sekap.

__ADS_1


"Saya tidak tahu tuan, dia sudah tidak bernafas saat saya mau memberikan makan tuan" jawab salah satu anggota Cosa Nostra yang menjaga Richard.


Sudah hampir enam bulan lebih Richard di tahan oleh Max, tiap hari dia selalu mendapat hukuman cambuk dari mereka, tapi Max selalu meminta anak buahnya untuk mengobatinya lalu setelah sembuh nanti Max akan menyuruh mereka menghukumnya lagi, begitu tersu secara berulang ulang.


Pagi tadi saat penjaga hendak memberinya makan tiba-tiba tubuh Richard sudah terbujur kaku di dalam ruang penyekapan.


Paul masuk dan berjongkok di hadapan mayat Richard, untuk memastikannya Paul memeriksa denyut nadi Richard, dan ternyata benar kalau Richard sudah tidak bernyawa lagi.


Entah mengalami komplikasi atau apa Paul tidak tahu, karena selama ini mereka tidak memeriksa keadaan Richard dengan intens.


Paul berdiri dari jongkoknya.


"Lalu kita apakan mayatnya tuan"


"Sebentar saya akan menghubungi tuan Max terlebih dahulu" jawab Paul, karena Richard tahanan milik Max, jadi Paul akan bertanya lebih dulu kepada beliau.


Paul merogoh ponselnya yang ada di saku celananya, kemudian dia menghubungi Max.


"Halo, ada apa Paul" tanya Max dari sebrang sana.


"Richard meninggal tuan" jawab Paul.


"Biarkan saja" jawab Max tanpa beban.


"Lalu harus kami apakan mayatnya tuan" tanya Paul.


"Seperti biasa, kau bisa membuangnya ke kolam buaya" sahut Max.


Panggilan berakhir, Paul kembali memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya.


"Buang mayatnya kedalam kolam Buaya sekarang juga" perintah Paul.


Mereka mengangguk patuh, tubuh Richard di angkat oleh tiga orang sekaligus, tubuhnya Richard di bawa keluar daru ruang penyekapan lalu di bawa ke kolam Buaya milik Max.


1


2


3


Byur...


Tubuh Richard langsung menjadi santapan semua Buaya milik Max.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏


__ADS_2