
"Habisi semuanyai!! Jangan biarkan satu orang pun kabur dari sini, aku tidak akan memaafkan mereka" teriak Max memberikan perintah kepada para mafioso.
"Pau, cari keberadaan James dan seret dia kehadapanku sekarang juga" lanjutnya memberikan perintah kepada Paul.
"Siap tuan"sahut Paul.
Mereka mulai berpencar dan mencari temoat untuk berlindung.
Dorrr....
Doorrrr...
Dorrr....
Mereka terlibat baku tembak antara dua kelompok.
Sementara Max naik kelantai atas, dia membuka satu persatu kamar yang ada di markas tersebut.
Saat dia ingin membuka satu pintu akmar, ternyata pintunya terkuci dari dalam, Max semakin yakin kalau di kamar tersebut ada orangnya.
Dugghhh....
Dughhhh...
Brakkk....
Dorongan ketika pintu itu terbuka karena di dobrak oleh Max.
Max menyisir satu persatu ruangan tersebut sambil mengacungkan pistolnya bersiaga.
Brakkk....
Max menendang pintu kamar mandi, dia masuk kedalam kamar mandi ternyata kosong tidak ada orang sama sekali.
Setelah itu dia mencoba masuk ke ruang ganti yang ada di kamar tersebut.
Brakkk....
Max kembali mendobrak pintu ruang ganti yang ada di kamar itu, di bukanya satu persatu pintu lemari yang ada di ruangan itu.
Max tersenyum tipis saat membuka lemari baju yang di gantung, dia melihat ada baju yang bergerak.
"Keluarlah, atau aku akan menembakmu saat ini juga" ancam Max.
"Tolong jangan bunuh saya tuan" ucap orang itu memohon.
Max menyeringai saat tahu suara orang itu yang tak lain adalah ibu tiri istrinya.
"KELUAR CEPAT!!" sentak Max.
Membuat Eva yang mendengarnya terlonjak kaget, tubuh dia bergetar hebat karena takut.
Dorr....
"Akhhhh..." teriak Eva saat Max menembakan peluru mengenai kaki Eva.
Mau tak mau akhirnya Eva keluar dari dalam lemari sambil menahan sakita yang teramat di bagian kakinya yang tertembak.
"Ampun tuan" Eva memohon sambil merintih duduk di lantai dalam keadaan kaki yang banyak mengeluarkan darah.
"KENAPA KAMU MELUKAI EMMA HAH" sentak Max melampiaskan amarah kepada Emma.
__ADS_1
Dorrr.....
Max kembali menembakkan pelurunya mengenai kaki Eva yang satunya.
"Akhhh....." jerit Eva.
"Ampun tuan ampun, bukan saya yang melukai Emma, tapi King Dargon yang sudah melukai Emma" ucap Eva terbata-bata.
"King Dargon atas perintah kalian bukan" sahut Max dengan nada keras.
"Sekarang nikmatilah saat-saat terakhir hidupumu, karena aku tak akan mengampunimu" imbuhnya.
Dorrr....
"Itu balasan untuk istriku" ucap Max sambil meneteskan air matanya menembak tangan Eva.
Dorrrr...
"Itu untuk calon bayiku yang kamu bunuh"
Dorrr.....
Terakhir Max menembak kepala Eva, hingga membuat Eva seketika mati di tempat.
Max berlutut sambil menundukkan kepalanya, ia menangis dalam diam.
Padahal ia sudah membunuh Eva, tapi belum juga membuat hatinya merasa puas, ia maish sakit karena kehilangan calon bayinya. Padahal sebelumnya ia sudah menantikan moment itu, tapi kini semuanya tinggal angan.
Tak lama Paul bersama anak buah nya masuk sambil membawa James dan juga Darso. Max berdiri sambil melihat kearah mereka.
"Kita harus apakan mereka tuan" tanya Paul sambil menendang kaki James dan juga Darso hingga membuat mereka terduduk.
"Ampuni saya tuan, saya hanya di suruh oleh dia" ucap James memohon sambil menunjuk ke arah mereka.
"Kita bawa mereka ke markas" sahut Max sambil menguatkan hatinya.
Jangan sampai dia terlihat menyedihkan di depan para anak buahnya.
"Apa anak buahmu sudah menghabisi semuanya" tanya Max memastikan.
"Sudah tuan, semua sudah tewas" sahut Paul.
Max menagngguk, setelah itu dia keluar dari ruangan tersebut dan di ikuti mereja di belakangnya.
Max melihat banyak mayat yang bergelimangan di markas tersebut. Dia dan semua anak buahnya keluar dari Markas king Dargon sambil membawa james dan Darso
"Selesaikan Pau" titah Max.
Tak lama terdengar suara ledakan dari markas King Dargon.
Blammm..
Dhuarrrr...
Paul menghancurkan seluruh bangunan markas King Dargon beserta semua mayat yang ada di dalam rumah tersebut.
🍁🍁🍁
Sebelum kembali ke rumah sakit, Max menyempatkan pulang ke apartemennya terlebih dahulu.
Max ingin membersihkan tubuhnya dari bau darah yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Usai mandi Max bawa beberapa baju ganti, setelah itu dia langsung pergi menggunakan mobilnya menuju ke rumah sakit.
🍁
Ceklek...
Max membuka pintu ruang rawat inap istrinya, terlihat Clarissa dan juga Emma sedang terlelap.
Max menaruh pakaiannya di atas nakas setelah itu duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
Di pandanginya wajah istrinya yang sedang tidur damai mengarungi alam mimpinya.
Ia mengelus rambut istrinya dan mengecup tangan istrinya dengan begitu lembut.
"Maaf" lirih Max seraya menjatuhkan meletakkan kepalanya di ranjang istrinya.
Tak lama Max pun ikut terlelap dengan posisi duduk dengan kepala yang ia rebahkan di atas ranjang sambil menggengam tangan istrinya.
Keesokan paginya, Clarissa bangun lebih dulu ia melihat Max dan juga Emma yang sedang terlelap.
"Syukurlah dia sudah datang" gumam Clarissa, lantas dia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai dia keluar kamar mandi dan mengambil tasnya, lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Clarissa pergi tanpa pamit karena dia harus berangkat kerja, dia tak berani membangunkan mereka berdua yang sedang tertidur dengan begitu pulasnya.
Setelah Clarissa pergi tak lama Emma membuka matanya, dia lihatnya ke samping karena merasakan ada yang menindih tangannya.
Emma tersenyum karena suaminya lah yang menggunakan tangannya untuk bantalan.
Di tariknya tangan Emma secara perlahan agar tak mengusik suaminya yang sedang tertidur.
Emma menggusap kepala suaminya lembut, Max yang merasakan ada yang mengusap kepalanya pun akhirnya dia membuka matanya.
"Good morning, Hubby" sapa Emma senyum.
"Morning sayang" Sahut Max dan mencium bibir istrinya.
"Bagaimana? Apa masih sakit" tanya Max perhatian sambil mengusap perut istrinya.
"Perutku masih terasa nyeri, hubby" jawab Emma sedikit meringis.
Max mengangguk, lalu membuka selimut yang di kenakan istrinya dan membuka baju Emma hingga memperlihatkan perut Emma.
Dia merasa lega ketika tidak ada memar di perut istrinya akibat tendangan kemarin.
"Terus aku harus apa sayang" tanya Max pura-pura. Padahal dia tahu penyebab aslinya, namun dia sengaja tak memberi tahu istrinya.
Pasca keguguran memang biasanya perut akan terasa nyeri selama beberapa minggu, seperti nyeri saat mau haid. Nyeri akan lebih terasa ketika keguguran terjadi pada usia kehamilan terlalu awal.
"Usapin perutnya" pinta Emma manja.
Dengan penuh perhatian Max pun mengusap usap perut istrinya.
"Bagaimana" tanya Max.
"Lumayan, sudah mendingan" jawab Emma.
Namun sebenarnya usapan tangan Max di perut Emma itu tidak terlalu pengaruh.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏