
"Kita ngga jadi kehutan dong om" tanya Reva sambil mempertahankan posisinya setengah rebahan.
"Lain kali sayang, om Max akan mengatarkanmu kerumah setelah itu om Max mau mengobati aunty cantikmu dulu sayang" sahut Max.
Dia harus membawa istrinya pulang, dia takut perut istrinya memar karena tendangan dari salah satu musuhnya.
"Yasudah lain kali saja om" kata Reva sambil menoleh ke belakang melihat Emma yang sedang duduk sambil memejamkan matanya dengan tangan yang memegangi perutnya.
*
Max memarkirkan mobilnya di depan rumah Arsen, ia meminta Reva untuk turun sendiri karena dia akan langsung jalan pulang.
"Turunlah pelan-pelan sayang, om tidak ikut masuk kedalam karena om akan langsung pulang kerumah" ucap Max sambil memicingkan matanya ketika melihat Reva seperti menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya yang tertutup kaos.
Hampir saja Reva menyentuh handle pintu dan ingin membukanya namun langsung di hentikan oleh Max .
"Kembalikan pistol om Max, sayang" tegas Max yang melihat punggung Reva sedikit berjenggol.
"Pistol apa om, Reva tidak mengambilnya kan" kilah Reva.
"Jangan berbohong sayang, om lihat kamu menyembunyikan sesuatu di balik kaosmu bagian belakang." ucap Max membuat Reva mencebikkan bibirnya sebal.
Niat hati ingin mengambil pistol Max malah ketahuan.
Reva mengeluarkan pistol tersebut dari balik punggung dan di kembalikan kepada Max.
"Ini pistolnya Reva kembalikan" ketus Reva sambil memberikan pistol jenis Glock17 kepada Max.
Max pun menerima pistol tersebut, ia hampir saja kecolongan tapi beruntung dia langsung mengetahuinya, kalau tidak habislah dia sama Arsen.
"Kamu bisa memilikinya namun tidak sekarang sayang, ini bukan pistol mainan ini sangat bahaya untuk anak seusiamu" ucap Max memberitahu Reva.
"Maaf om, Reva hanya ingin saja" ucap Reva menyesal.
"Tidak apa, lain kali jangan ulangi lagi" ucap Max sambil mengelus pipi mulus Reva.
Reva mengangguk setelah itu dia turun dari mobilnya dan masuk kedalam rumahnya.
Usai melihat Reva masuk barulah Max melajukan mobilnya pulang ke apartemennya.
Hingga sampai di apartemen mata istrinya masih tetap terpejam, sepertinya istrinya tertidur pikir Max.
Max keluar dari mobil lalu membuka pintu samping istrinya dan mengangkat tubuh istrinya ala bridal.
Dia membawa istrinya masuk kedalam apartemennya.
Klek...
Pinth terbuka setelah Max memencet sandinya.
__ADS_1
Di rebahkannya tubuh istrinya diatas sofa, dengan perlahan Max membuka sweater yang di kenakan Emma.
"Eughhh..." lenguh Emma yang merasa terusik.
"Kita dimana Max?" tanya Emma sambil menguap.
"Kita sudah di apartemen sayang, maaf membuat tidurmu terusik aku hanya ingin mengecek keadaan perutmu, takutnya ada yang memar" ucap Max sambil melepas celana jeans yang di pakai istrinya.
Jadilah Emma hanya memakai kain segitanya dan tangtop saja yang melekat di tubuhnya.
"Kan yang mau kamu periksa perutku Max , kenapa kamu membuka celana ku juga" protes Emma yang merasa aneh dengan kelakuan suaminya.
"Biar tidak menghalangiku mengobatimu sayang" sahut Max membuat Emma berdecih.
Dia tahu kalau itu hanya alasan suaminya saja.
Max menyingkap tangtop yang di kenakan istrinya sedikit keatas sehingga memperlihatkan perut rata istrinya yang telihat membiru.
"Perutmu memar sayang" ucap Max sambil meraba perut istrinya.
"Geli Max" kata Emma dengan nada manja. Dia merasakan gelanyar aneh dari tubuhnya karena usapan tangan suaminya yang ada di perutnya.
Namun sayang Max sama sekali tak terpengaruh mendengar suara manja istrinya, ia tak ingin menyerang istrinya di saat keadaan istrinya sedang tidak baik-baik saja.
Max bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke dapur mengambil air es untuk mengompres perut memar Emma.
"Buka saja bajunya, biar tidak basah karena air" pinta Max.
Emma hanya menurut saja kala tubuhnya di telanjangi oleh suaminya.
Kini dia hanya memakai dalaman saja.
Max juga membuka celana jeansnya untuk mempermudahkan ia bergerak, dia hanya memakai boxer ketatnya saja dan juga kaos polos yang menutupi perut kotak-kotaknya. Max duduk di bawah kaki istrinya sambil mengadapnya, di tariknya kaki istrinya dan di lebarkan lalu di letakkan ke atas pahanya di kedua sisi.
Membuat Max semakin jelas melihat inti milik istrinya yang terbuka lebar.
Tapi saat ini fokus dia bukan itu, tapi fokusnya saat ini untuk mengobati perut istrinya.
Di tempelkan handuk yang sudah ia celupkan ke kain es setelah di peras baru ia tempelkan ke perut istrinya untuk mengompresnya.
Sambil menunggu kompresannya tangan Max mulai iseng sabil mengajak istrinya ngobrol.
"Tadi apa yang kamu bicarakan dengan temanmu itu sayang" tanya Max sambil mengelus kaki istrinya dari betis hingga ke atas paha.
Emma pun menceritakan semuanya yang ia bahas dengan Tina kepada Max tanpa ia tutup-tutupi.
"Lalu apa kamu akan datang hmm" tanya Max sambil mengelus bagian inti milik Emma yang sedang tertutup kain segi tiga.
Emma menggigit bibir bawahnya, suaminya benar-benar mengujinya.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan datang, apa kamu akan menemaniku Max" sahut Emma dan bertanya kepada suaminya.
"Apa kamu mau aku temani hmm" ucap Max dengan nafas yang mulai berat.
"Tentu saja kau harus menemaniku, bukankah kau selalu menempel kepadaku" goda Emma.
"Tentu saja, apalagi untuk urusan yang satu ini, aku akan menempelimu terus hingga kau tak bisa melepaskannya" sahut Max.
Max membuka kain segi tiga yang di pakai istrinya, dan membuangnya ke sembarang arah.
Di perhatikannya bagian inti istrinya yang terlihat gundul tidak di tumbuhi bulu.
Max terus melihatnya hingga membuat Emma malu dan langsung menutupnya dengan menggunakan kedua tangannya.
"Singkirkan mata nakalmu itu dari milik ku Max, kau membuatku malu" kata Emma.
Max menyingkirkan tangan istrinya dari bagian inti istrinya.
"Jangan di tutup sayang, aku masih ingin melihatnya sepertinya akan lebih baik kalau di rumah kamu tidak usah memakia baju sayang, aku sangat suka melihat tubuh polosmu ini" ucap Max.
Emma merotasi matanya jengah.
"Dasar sinting, yang ada aku kedinginan kalau tidak memakai baju" .
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi sayang, karena akau akan selalu memelukmu agar tubuhmu selalu hangat."
"Ck, dasar perayu ulung" cibir Emma.
Max menarik tangan Emma hingga membuatnya terduduk di pangkuannya.
"Biarin saja, aku hanya ingin melihat karya ciptaan Tuhan yang begitu indah di mataku"
Ucap Max sambil melepaskan penutup terakhir yang di guanakan istrinya, dia melepas b*a milik Emma yang di gunakan untuk menutupi gunung kembarnya.
"Kamu jauh lebih seksi tidak memakai baju sayang" ucap Max terkekeh.
"Setelah berhasil membuat tubuhku polos lalu kamu mau apa Max" tanya Emma.
"Tidak mau aku apa-apakan, aku hanya ingin melihatmu yang selalu telanjang di hadapanku saja" ucap Max santai sambil memainkan gunung kembar Emma.
Emma menatap suaminya malas, bisa-bisanya dia di telanjangi tapi tidak di apa-apakan.
"Minggir ah, aku ingin membuat kopi dulu" ucap Emma sewot sambil menyingkirkan tangan Max dari atas dadanya.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏
Bersambung
__ADS_1