
Tembakan mulai terjadi diantara anak buah Araster dan Max didalam sana.
Paul keluar dari mobil ikut menembaki anak buah Araster dengan senjata laras panjang yang dia bawa.
"Kita diserang" teriak anak buah Araster memenuhi gedung. Anak buah Araster nampak sibuk menembaki Max dan juga Paul.
Bodohnya Richard tidak memprediksi penyerangan ini akan terjadi begitu cepat. Sehingga dia dan pasukannya dibuat kocar kacir oleh pasukan Coda Nostra.
"Kita berpencar Paul, kau urus mereka semua, aku akan masuk kedalam mencari istriku" perintah Max dari sambungan Earphone.
"Aku akan ikut denganmu tuan" ucap Paul.
"Kau selesaikan dulu yang disini, setelah itu kau bisa menyusul ku kedalam" sahut Max.
Mau tak mau Paul pun menuruti perintah Max. Mereka berpencar di bangunan yang cukup luas itu.
Max mulai maju menembaki semua musuh yang semakin banyak berdatangan, Sesekali Max bersembunyi untuk menghindari peluru yang mengarah kepadanya.
Dor....
Dor.....
Dor....
Hujan peluru pun terjadi, perhatian musuh beralih mengarah ke Max, semua musuh menembakkan pelurunya kearah Max yang sedang bersembunyi.
Paul pun tak ingin kalah, dia menembaki semua anak buah Araster yang mencoba menembak Max dari belakang.
Dor....
Dor...
Dor..
Satu persatu anak buah Araster mulai tumbang, Max keluar dari persembunyiannya dan bergerak maju sambil menembaki musuh yang ada dihadapannya dengan menggunakan kedua senjata yang ada di tangannya, tak ada perasaan takut yang saat ini Max rasakan. Dia bak superhero yang ingin menyelamatkan istrinya.
Para anak buah Cosa Nostra mulai menguasai gedung, mereka memasang peledak di setiap sisi gedung.
Richard yang sedang berada didalam ruangan pun kaget ketika mendengar laporan langsung dari orang kepercayaannya.
"Markas kita diserang tuan" ucap tangan kanan Richard.
"****, ternyata dia datang secepat ini" umpat Richard.
"Kita harus bagaimana tuan, banyak anak buah kita yang mati karena di bunuh oleh mereka"
Richard mengepalkan tangannya, bertahun tahun dia merekrut orang untuk bergabung menjadi anggota Araster, kini dengan mudah Max menghabisi semua anak buahnya.
"Cepat lepas ikatan dia, kita harus segera pergi dari sini sekarang juga" titah Richard.
"Siap tuan"
Asisten Richard mendekati Emma, dua melepas tali yang mengikat tubuh Emma. ikatan di tubuh Emma pun terlepas, tapi meskipun begitu tangan Emma masih dalam keadaan terikat.
"Cih, kau sendiri yang menantangnya dan kini kau malah hendak melarikan diri" cibir Emma.
Plak...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Emma yang sudah membengkak.
"Diam kamu ja*ang, aku pasti akan membunuh suamimu itu" sentak Richard.
"Coba saja kalau bisa" tantang Emma.
__ADS_1
Frans Asisten Richard mendorong tubuh Ema dan memintanya untuk berjalan.
"Cepat jalan" sentak Frans.
Dengan berat hati Emma pun berjalan mengikuti langkah Richard yang sudah lebih dulu jalan didepannya.
Di tempat Paul.
"Tuan, cepat naik kelantai atas, mereka hendak membawa kabur nyonya" ucap Paul yang melihat posisi Emma bergerak dilayar ponselnya.
"Kau yakin Pau" tanya Max memastikan.
"Iya tuan, segeralah naik keatas biar sisanya aku yang urus" sahut Paul.
Dengan langkah cepat Max langsung naik keatas menuju kelantai tiga. Paul terus menembaki anak buah Araster yang mencoba membidik Max.
"Ck, ternyata hanya seorang pecundang" ucap Max membuat langkah Richard terhenti.
Kemudian Richard berbalik dan netranya menatap Max, sementara Frans langsung menahan Emma dan menempelkan belatinya di leher Emma.
"Sayang" lirih Emma.
Richard berdiri dengan angkuhnya di hadapan Max.
"Joven Max Owen, akhirnya kau datang juga" ucap Richard tersenyum smirk.
"Jangan banyak bicara, cepat lepaskan istriku, kita selesaikan masalah ini berdua tanpa melibatkan siapapun" sentak Max marah ketika melihat wajah istrinya kacau penuh dengan lebam.
"Tak semudah itu tuan Joven, aku akan melepaskan istrimu dalam keadaan sudah tak bernyawa, aku ingin kau merasakan juga apa yang aku rasakan" ucap Richard.
"Kau salah, aku sudah lebih dulu merasakan sebelum kau merasakannya, ayahmu yang lebih dulu membunuh kedua orang tuaku, dan membuat aku hidup sebatang kara di dunia ini" sahut Max.
"Tutup mulutmu, aku tak peduli siapa yang lebih dulu memulai, yang jelas saat ini aku akan menuntut balas atas kematian seluruh keluargaku" Richard tak terima, dia masih menganggap Max lah yang salah dalam masalah ini.
"Lalu apa yang kau inginkan" tanya Max.
Hiya.....
Richard maju dan langsung menyerang Max, terjadilah perkelahian antara merek berdua.
Richard terus melayangkan pukulan ke arah Max, tapi Max menghindarinya.
Bugh
Bugh
Dugh
Richard terpental dan mulutnya mengeluarkan darah akibat pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh Max.
"Tuan" pekik Frans, hendak menolong tuanya tapi langsung di tahan oleh Richard.
Richard kembali berdiri, kini dia mengeluarkan belati dari pinggangnya. Richard kembali menyerang Max menggunakan belatinya.
****
Diluar gedung Reva terus mendesak Reynand mengajaknya keluar dari dalam mobil, gadis kecil itu terlihat tidak sudah tidak sabar menunggu Max yang tak kunjung kembali.
"Cepat kita keluar Rey, kita harus membantu om Max menghabisi penjahat itu" seru Reva sambil mengguncang tubuh Reynand.
"Tapi di luar sangat bahaya Reva" sahut Reynand.
"Kau tak perlu takut, kita kan sudah sering latihan beladiri" paksa Reva.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
Tak lama terdengar suara kaca mobil yang di ketuk, mereka berdua spontan langsung menoleh melihat orang yang mengetuk kaca mobilnya.
"Buka pintunya cepat" teriak orang itu dari lur sambil memaksa membuka pintu mobilnya.
"Bagiamana ini Rey, sepertinya paman itu orang jahat" takut Reva, mendadak nyali gadis itu menciut, padahal tadi dia memaksa Reynand untuk menyusul Max.
"Tadi sok berani, giliran ada penjahatnya takut" cibir Reynand.
"Siapa yang takut, aku berani" seru Reva langsung menegakan tubuhnya.
Reynand merotasi bola matanya malas.
"Siapkan pistol mu, aku akan membuka pintunya" ucap Reynand dan diangguki oleh Reva.
perlahan Reynand membuka pintu mobilnya, kemudian dia turun dari dalam mobil.
"Ada apa paman" tanya Reynand polos.
"Siapa kalian, atau jangan-jangan kalian anak pria itu" terka anak buah Araster.
"Anak siapa paman" tanya Reynand lagi.
Tanpa sepengetahuan mereka Reva keluar dari dalam mobil lewat pintu yang satunya.
Dorrr......
Seketika anak buah Araster langsung meninggal di tempat, Reva diam-diam dari arah belakang langsung melesatkan pelurunya tepat di kepalanya.
"Terlalu banyak bicara, Reva tidak suka" ucap gadis kecil itu jumawa.
Reynand geleng-geleng kepalanya melihat yang tak sabaran.
"Tetaplah di belakangku, kita akan masuk kedalam mencari om Max" perintah Reynand.
"Siap bos" sahut Reva dengan mata berbinar.
Reva bukanya takut malah terlihat senang. sepertinya ajaran Max sudah melekat pada dirinya.
Reynand memimpin jalan masuk kedalam Markas Araster, Matanya melihat ke kanan dan ke kiri sambil mengarahkan pistol yang ada di tangannya.
Dugh...
Reva kaget ketika tak sengaja kakinya seperti menendang sesuatu, gadis kecil itu menghentikan langkahnya dan melihat kearah bawah.
Netra Reva langsung melotot sempurna, dia melihat kepala manusia dibawah kakinya.
Reva hendak teriak namun mulutnya langsung di bekap oleh Reynand.
"Emmm... " Reva meronta minta di lepaskan bekapannya.
"Diamlah, jangan teriak, nanti yang ada kita ketahuan" bisik Reynand.
"Kepala Rey" lirih Reva.
"Biarkan saja, sekarang kita harus mencari om Max masuk kedalam" sahut Reynand.
Reva mengangguk sambil menetralkan keterkejutannya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏