Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 75


__ADS_3

Emma baru selesai membersihkan tubuhnya, dia keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe.


"Ganti baju dulu setelah itu baru makan biar kamu ngga kedinginan" titah Max kepada sang istri.


"Tapi aku sudah sangat lapar, hubby" rengek Emma.


"Tidak, kamu harus pakai baju dulu atau aku akan kembali memakanmu" tegas Max sambil memberi sedikit ancaman.


Emma mencebikkan bibirnya kesal, padahal perutnya sudah sangat lapar akibat terlalu banyak mengeluarkan energi saat melayani suaminya.


Ia memakai pakaiannya dengan cepat, setelah selesai memakai baju Emma menghampiri suaminya.


"Sini" pinta Max menyuruh istrinya duduk di sampingnya, Emma pun menurut.


Mereka berdua makan dengan tenang, sesekali Max menyuapi Emma begitu juga sebaliknya.


"Kapan kita kembali" tanya Emma habis selesai makan sambil mengelap mulutnya dengan menggunakan tissu.


"Terserah kamu aja sayang" sahut Max.


"Lusa aja bagaimana? aku harus segera memberi tahu Clarissa tentang keadaan mamahnya yang sebenarnya, agar dia tidak terus mencari ibunya dan tidak terlalu banyak berharap" ucap Emma.


"Baiklah" ucap Max setuju.


Pulang sekarang atau nanti bagi Max sama saja, yang penting dia sudah mendapatkan maaf dari istrinya itu. Selebihnya ia akan berusaha menjadi yang terbaik supaya tidak mengecewakan istrinya.


Setelah mengobrol Max meminta Emma kembali untuk tidur, Max benar-benar menjaga waktu istirahat istrinya agar cepat hamil.


Pagi hari Max di bangunkan oleh suara dering ponselnya, ia melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini dan ternyata Paul orang kepercayaannya yang menghubunginya.


"Iya, ada apa" tanya Max setelah panggilannya terhubung.


"........"


"Bagiamana bisa? kamu cari tahu siapa yang meretas data perusahaan"

__ADS_1


"......"


"Baik, siapkan pesawat aku akan pulang sekarang juga" jawab Max.


"......"


Max turun dari atas ranjang dan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selang lima belas menit Max keluar, dia memakai pakaianya lalu membereskan semua barang bawaanya tanpa membangunkan sang istri.


Emma Membuka matanya karena merasa terusik dengan aktifitas yang di lakukan suaminya.


Emma menoleh kesamping dan melihat suaminya sedang memasukkan semua barangnya kedalam koper.


"Apa yang sedang kamu lakukan, hubby" tanya Emma sambil mengerutkan dahinya.


Max menoleh melihat kearah sang istri.


"Maaf aku membangunkan mu sayang, aku sedang berkemas, kita harus pulang sekarang juga karena ada suatu hal yang harus aku urus" sahut Max serius.


Rencananya mereka berdua akan pulang besok, tapi pagi ini tiba-tiba Max mengajaknya pulang, melihat dari raut wajah suaminya sepertinya ada hal yang serius.


"Nanti aku ceritakan, lebih baik sekarang kamu bersihkan tubuhmu terlebih dahulu, karena sebentar lagi kita akan ke Bandara" sahut Max.


Emma mengangguk patuh, tanpa banyak bicara Emma beranjak dari ranjangnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


Pukul sembilan pagi waktu Negara Maladewa pesawat milik Max tak off menuju ke Indonesia, ia harus segera menyelesaikan permasalahannya yang ada di Indonesia.


"Sebenarnya apa yang terjadi" tanya Emma ingin tahu.


"Sedang terjadi masalah di perusahaan" sahut Max.


"Apa Lucas tidak bisa meyelesaikannya?" tanya Emma, yang Emma tahu perusahaan JMO di pimpin oleh Lucas karena dialah yang selalu muncul ke publik


"Mereka sedang berusaha, tapi tetap saja kehadiranku di butuhkan olehnya" sahut Max.

__ADS_1


Emma mengangguk mengerti karena dia sendiri merupakan pemimpin di perusahaannya.


"Istirahatlah sejenak, agar pikiranmu tenang" bujuk Emma.


Max mengangguk dan mencoba memejamkan matanya. ia yakin yang meretas data perusahaannya pasti salah satu dari musuhnya dulu. Tapi bagaimana bisa mereka tahu kalau perusahaan JMO itu miliknya, Max masih meminta Paul untuk menyelidikinya.


Max tidak ingin kejadian dulu istrinya keguguran terjadi lagi, ia harus segera menyelesaikan masalahnya, jangan sampai nanti istrinya yang akan menjadi korban.


*****


"Kenapa setelah menerima telpon wajahmu tegang sekali" tanya Clarissa kepada Paul.


"Aku tidak bisa mengantarmu, ada sesuatu yang mesti saya urus" ucap Paul.


Paul beranjak dari ruang makan, dia berjalan keluar rumah dan menuju ke mobil sambil mencoba menghubungi Max.


"....." suara Max terdengar ketika panggilannya sudah terhubung.


"Perusahaan di retas tuan, kita harus segera menanganinya atau kita akan mengalami kerugian besar" ucap Paul.


"......"


"Baik tuan saya akan segera menyelidikinya" sahut Paul.


"...."


"Baik tuan" sahut Paul patuh dan mengakhiri panggilannya, ia segera menyiapkan pesawat untuk kepulangan tuannya.


Paul segera masuk kedalam mobil dan langsung melesak menuju markas, ia butuh laptopnya untuk memastikan kalau anak buahnya tidak ada yang menghianatinya.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2