Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 60


__ADS_3

"Aku masuk dulu hubby" ucap Emma saat mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan perusahaannya.


"Iya sayang, nanti sore aku jemput" ucap Max sambil mencium kening istrinya kemudian Emma mencium punggung tangan suaminya.


Emma turun dari mobil suaminya, dia melambaikan tangannya saat melihat mobil suaminya mulai melaju meninggalkan perusahaannya.


"Aku harus kembali ke apartemen sekarang juga, mumpung Max sedang bekerja" ucap Emma ketika mobil suaminya sudah tidak terlihat.


Emma menyetop taksi yang baru saja melintas di hadapannya.


"Bu Emma mau kemana?" tanya Tina saat melihat bosnya menghentikan taksi.


"Saya ada urusan sebentar Tina. Tolong kamu handle dulu pekerjaan saya" sahut Emma dan bergegas masuk kedalam taksi.


Taksi yang di tumpangi Emma meluncur menuju ke apartemennya. Ia masih ingin menyelidiki tentang ruangan rahasia yang ada di balik poster yang ada di dinding.


Sampai di apartemen Emma langsung masuk kedalam apartemennya.


Ceklek...


Pintu apartemen terbuka, Emma tengok kanan kiri memastikan kalau dirinya sedang tidak di ikuti, dia takut ada mata-mata yang di kirim suaminya untuk mengawasinya. setelah kejadian itu suaminya jadi lebih posesif.


Emma masuk dan langsung menuju ke ruang kerja suaminya.


Ceklek...


Pintu ruang kerja Max terbuka, ternyata suaminya tidak pernah mengunci ruangannya.


Emma menurunkan lukisan milik suaminya itu, setelah itu dia memencet tombol membuat dinding itu terbuka.


"Gelap sekali, sebenarnya untuk apa Max membuat ruangan seperti ini" ucap Emma.


Emma masuk kedalam ruangan itu yang terlihat gelap tanpa ada cahaya sedikit pun, Lantas Emma menyalakan senter ponselnya mencari saklar untuk menyalakan lampu tersebut.


CTEK..


Lampu ruangan menyala setelah Emma memencet saklar lampunya.


Mata Emma membulat sempurna melihat banyak jenis senjata yang berjajar rapih di ruangan tersebut.


Emma semakin yakin kalau suaminya bukan orang sembarangan, kalau cuma sekedar bodyguard buat apa suaminya itu menyimpan banyak jenis senjata, tidak mudah orang sipil biasa bisa mengoleksi senjata sebegitu banyaknya, lagian Juga untuk apa orang sipil mengoleksi senjata api seperti itu.


Emma mencoba mengumpulkan potongan puzzle yang ada di memori otaknya


"Sebenarnya siapa suamiku itu, apa mungkin dia seorang mafia?" gumam Emma

__ADS_1


Ia mencoba menggabungkan potongan puzzle tentang mansion Max yang ada di hutan. Mansion itu terlihat seperti sebuah Markas bukan seperti mansion pada umumnya.


Penjagaan di sana begitu ketat, banyak pria berbadan tinggi tegap lengkap dengan senjata riwa riwi di mansion itu dan selalu memanggil Max dengan sebutan tuan. Apa mungkin semuanya berkaitan dengan ini pikir Emma.


Emma menelusuri ruagan tersebut, sampai akhirnya Emma menemukan kotak seperti brangkas.


Ia mencoba mengamati brankas tersebut, di cobanya brangkas tersebut di buka oleh Emma, namun ternyata tidak bisa. Karena brangkas tersebut di lengkapi dengan sistem keamanan menggunakan sensor sidik jari. Hanya sidik jari yang sudah terdaftar di sistem yang bisa membukanya.


"Shitt... sebenarnya apa yang ada di dalam brangkas ini, kenapa sistem keamanannya begitu ketat. Aku yakin pasti di dalamnya ada banyak informasi tentang suamiku" bisik Emma lirih.


Tiba-tiba Emma mengingat suatu hal.


"Kenapa aku lupa. selama ini aku tidak pernah bertanya tentang keluarga Max," ucap Emma sambil menepuk keningnya.


Entah orang tua Max masih hidup atau tidak Max tidak tahu, karena suaminya itu tidak pernah bercerita tentang keluarganya.


Karena merasa tidak menemukan sesuatu yang penting lainnya, Emma akhirnya keluar dari ruangan tersebut.


Emma membuka kembali semua laci dan lemari yang ada di ruang kerja Max.


"Ini berkas apa?" gumam Emma mengambil sebuah dokumen dan membukanya.


"Joven Max Owen, seperti tak asing" gumam Zara saat melihat nama Max yang tertera di berkas tersebut.


Emma mencoba membuka lembar demi lembar halaman yang ada di dokumen tersebut, sampai akhirnya dia menemukan tulisan perusahaan J'MO.


Emma kembali membuka kembali halama berikutnya, dia membaca tiap halamanya dengan begitu teliti.


"Owen Company?, sepertinya tak asing"


"Haisss.... kenapa aku tak mengingatnya sih" kesal Emma sambil memukul mukul kepalanya.


Usai mengubek ngubek ruang kerja suaminya, Emma memutuskan menyudahi penyelidikannya.


Emma merapihkan kembali ruangan suaminya seperti semula, setelah rapih dia kembali ke perusahaannya, karena hari sudah mulai sore, Emma takut suaminya akan mencarinya.


Namun sebelum kembali ke perusahaannya di mampir ke cafe terlebih dahulu untuk membeli coffe dan kue, dia lapar karena tadi tidak sempat makan siang.


"Ada yang bisa kami bantu kak" sapa pelayan Cafe.


Tapi customernya yang menjawab, dia sedang menunduk dan entah nyari apa di dalam tas nya.


"Clarissa" ucap Emma sambil mengangkat wajahnya.


"Eh, kak Emma" ucap Clarissa terkejut.

__ADS_1


"Kamu kerja disini" tanya Emma sambil mengedarkan pandangannya menatap suasana cafe tersebut, cafe nya tidak cukup besar tapi lumayan ramai pengunjung.


"Iya kak, Rissa kerja di sini" jawab Clarissa tersenyum.


Emma menatap adiknya miris, dulu adiknya layaknya seorang sosialita yang suka pergi kesana kesini sama teman-temannya tanpa memiliki beban sama sekali.


Tapi dengan begitu Emma salut sama adiknya yang mau berubah, dan bahkan mau bekerja di cafe menjadi seorang pelayan, dia tidak malu ataupun gengsi sama sekali, dia terlihat nyaman dan bahagia dengan kehidupannya sekarang.


"Kak Emma mau pesan apa" tanya Clarissa.


"Coffe latte sama chesse cake" jawab Emma.


Lalu Emma membayar pesanan tersebut, tak lama coffe yang di pesan Emma pun jadi.


"Ini kak" ucap Clarissa sambil memberikan pesanan Kakaknya.


"Besok datanglah ke kantor kakak, kamu bisa bekerja disana" pinta Emma.


Clarissa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, dia menolak tawaran kakaknya, bukan tidak mau tapi dia merasa sudah cukup selama ini merepotkan kakaknya, dia ingin hidup sendiri dengan jerih payahnya sendiri tidak mau lagi bergantung dengan kakaknya seperti dulu lagi.


Emma menghela nafas pelan melihat penolakan adiknya, akan tetapi dia tidak mau memaksanya.


"Kalau nanti kamu berubah pikiran langsung saja temui kakak" ucap Emma.


"Terima kasih kak" sahut Clarissa.


"Kak" panggil Clarissa.


"Apa" tanya Emma.


"Emm... kakak sudah dapat kabar tentang mamah belum" tanya Clarissa.


"Belum, suamiku juga tidak mengetahuinya" jawab Emma.


Clarissa mengangguk mengerti, setelah itu tidak bertanya lagi dan membiarkan kakaknya pergi dari cafe.


Emma berdiri di pinggir jalan menyetop taksi dan naik menuju ke perusahaannya.


Sampai di perusahaan ternyata suaminya sudah menunggu di ruangannya.


"Kamu dari mana" tanya Max penuh selidik.


"Beli coffe sama kue tadi" jawab Emma, untung dia tadi sempat beli kopi dulu, dengan begitu suaminya tak akan curiga.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏


__ADS_2