
Waktu cepat sekali berlalu tanpa terasa malam sudah berganti pagi, dimana seorang Merry Reynata tetap melaksanakan tugas-tugasnya sebagai PU dalam project film yang disutradarai oleh ayah angkatnya sendiri. PU cantik ini tengah beristirahat di dalam kamar setelah rutinitas selama beberapa jam yang lalu sudah mampu ia lewati dengan baik, selesai mandi dan memakai pakaian lengkap ia duduk di tepi King Bed memainkan ponsel miliknya.
Drrrttt Drtttt Drrrttt
Sempat terlonjak kaget, ia akhirnya mengangkat panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal.
"Hai Mer...aku kangen banget sama kamu..." sapa suara seorang pria dari balik layar telpon.
"Ba..aa..rrr...aa..." Merry tergagap langsung mematikan sambungan panggilan yang berlangsung kala itu.
"Kau masih saja wangi sayang..." kata Bara.
Merry membalikan badan mendengar suara pria yang tak asing bagi dirinya.
"Bara!!!" Pekik Merry membulatkan kedua bola matanya.
Grepppp
Bara tersenyum licik langsung mengungkung tubuh mungil Merry, menguncinya sehingga Merry tak mampu bergerak.
Bruggghhh
Bara membanting kasar tubuh Merry ke atas King Bed setelah itu menindihnya.
Plakkk
Satu tamparan lolos mengenai pipi kiri Merry hingga mengeluarkan darah segar.
"Itu untuk rasa malu ku karena kau menolakku!" Kata Bara Sarkas.
Plakkkk
"Itu untuk penolakan yang berulang kau lakukan!" Kata Bara lagi setelah melayangkan tamparan ke pipi kanan Merry.
Tak puas hanya menampar, Bara membuka kasar tali pinggang yang melingkar di pinggangnya, berulang kali dan secara bertubi-tubi ia melayangkan ikat pinggang tersebut hingga membuat sekujur badan juga wajah Merry lebam membiru.
Jebreettt Jebbreeettt Braakkkk
Terakhir kali ia mengangkat tubuh mungil yang tak berdaya itu lalu kembali membantingnya.
"Hiks...Ya Allah...tolong aku..." doa Merry dalam hati.
Di sisa tenaga yang ia miliki, ia meraih ponsel pintar miliknya tanpa sepengetahuan Bara, ia menekan acak panggilan masuk, entah ia memanggil siapa?
"Kali ini aku akan melakukan itu tanpa ada yang bisa menghentikan aku...paham kau!" Kata Bara tersenyum smirk langsung menindih tubuh Merry.
"Hiks...jangan...gue mohon Bara! Hiks...hiks..." Merry hanya bisa menangis memohon pada Bara yang sudah dirasuki setan nafs* bir*hi.
Tiba-tiba...
Brakkkkk
Pintu terbuka kala Bara hampir saja menodai Merry.
"Sialan!!!" Maki suara yang familiar bagi Merry.
Bughhh
Bughhh
Bughhh
Pria yang memaki Bara, menarik Bara lalu memukulinya dengan cara tak kalah sadis dari apa yang dilakukan Bara pada Merry.
"Cuihhh...kau mau dengan perempuan pelacur ini hahhh!!! Dia hanya seorang pelacur!!!" Bara meludah lalu kembali berkata kasar.
"Brengsek" pria itu kembali memaki lalu menendang Bara hingga terpelanting cukup jauh dari posisi semula dekat dengan King Bed tempat Merry masih meringkuk kesakitan.
Bruuugggghhhh
__ADS_1
Bara terperantuk ke dinding.
"Myzro...Myzro...sadar sayang..." kata pria itu yang tak lain adalah Keyzro.
Merry membuka perlahan kedua matanya lalu memeluk Keyzro sangat erat.
"Alhamdulillah...terima kasih oppa...hiks..." Merry menangis lirih.
"Mati kau!!!" Bara berteriak seraya melayangkan pisau ke arah Keyzro yang memunggungi dirinya.
Merry yang melihat hal itu langsung memutar posisi dan...
Jlebbbb
Pisau mendarat di punggung Merry tepat sekali di tengah Bara menancakap benda tumpul itu.
"Hukkkhhh...oppa..." Merry batuk mengeluarkan darah sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
"Myzroooo!!!" Keyzro berteriak kemudian ia menoleh ke arah Bara yang terlihat sangat terkejut.
"Seharusnya kau yang mati!" Kata Keyzro sarkas lalu mematahkan tulang iga Bara dengan cara menendangnya.
Kreteeeekkkk
Bara tersungkur ke lantai, ia pun tak sadarkan diri sama seperti Merry.
Setelah membuat Bara tak sadarkan diri, Keyzro kembali mengangkat tubuh Merry, ia menggendong Merry di punggungnya lalu berlari keluar dari kamar Hotel.
Ngiungg...Ngiuunggg...Ngiunggg....
Suara sirine ambulance bersahutan dengan suara sirine mobil polisi. Bara ditangkap dalam keadaan pingsan, ia juga dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Merry.
Keyzro mengantarkan Merry ke ruang operasi dengan berurai air mata, ia tidak menyangka jika hal buruk akan menimpah wanita yang sangat ia cintai.
"Snfff...hiks...hiks...jangan tinggalkan aku Myzro...kamu harus bangun...hiks...hiks..." Keyzro berkata menggunakan bahasa negaranya, membuat para medis terheran-heran dibuatnya.
"Gimana kondisi putri ayah Keyz?" Tanya Hamif cemas.
"Dokter sedang melakukan tindakan operasi yah...tapi...tusukan itu terlalu dalam yah...hampir mengenai jantung...hiks...maaf...maafkan aku yah..." Keyzro bersimpuh di kaki Hamif sembari menangis.
"Bangun nak...kita banyak-banyak berdoa saja ya..." kata Hamif membantu Keyzro berdiri.
Meski hati Hamif merasa sakit dan marah pada Keyzro akan tetapi ia tidak mungkin menyalahkan keadaan saat ini sepenuhnya pada Keyzro karena ia tahu jika Keyzro sangat mencintai putrinya.
"Keyz...gimana Merry?" Tanya Dian dengan nafas tersengal.
"Ian..." Keyzro memeluk Dian menumpahkan rasa cemasnya disana.
"Ini bukan salah lo Keyz...ini semua ulah Naila tapi..." Dian terdiam sejenak melepaskan pelukan Keyzro darinya.
"Tapi apa Ian?" Tanya Keyzro menghapus kasar air matanya.
"Tapi Naila dan Bara bebas Keyz, entah siapa yang sudah membantu mereka?" Jawab Dian menunduk sedih.
"Tidak heran jika Naila bisa bebas dari jeratan hukum, uang yang berbicara, hanya ada satu keluarga yang bisa melawan keluarga Naila, dia..." Keyzro memandang ke langit-langit.
Sementara di lain sisi pesawat yang ditumpangi Naila dan Bara mendarat mulus di Bandara Soekarno Hatta, dimana mereka berdua merasa lega karena sudah bebas dari penjara dengan uang jaminan.
"Jangan balik ke Indonesia sampai semuanya aman! Mengerti!" Kata Naila hendak masuk ke area penerbangan Internasional.
Grepppp
Tiba-tiba saja tangan Naila dan Bara sudah terpasang borgol membuat mereka berdua terperangah.
"Apa-apaan ini hahhh!!!" Teriak Naila murka pada pihak kepolisian yang memborgol tangannya.
"Saudari Naila, anda ditahan atas kasus penyerangan serta pembunuhan berencana atas nama Merry Reynata!" Kata polisi wanita sembari mengukung pergerakan Naila yang sempat berontak.
"Hishh...hahahaa...rasakan kau Naila, aku tidak apa dipenjara tapi kau? Putri dari salah satu pengusaha ternama dipenjara dan akan dipastikan kau dihukum mati bersamaku...hahahaa" Bara tertawa dengan perkataan yang berhasil membuat polisi pria yang memborgolnya itu terpaku.
__ADS_1
"Saya bersalah pak...tapi...dia otak dan dalang dari perbuatan keji yang saya lakukan pada Merry, tangkap saya pak...saya siap menerima hukuman karena sudah menyakiti wanita yang sangat saya cintai...hiks..." Bara menangis di akhir kalimat.
"Hm...ayo jalan!" Titah polisi pria sembari memapah Bara yang berjalan setengah pincang.
"Lepas! Lepasin gue! Gue enggak salah!!!" Teriak Naila terus merontah-rontah.
Di tempat yang berbeda Vero tersenyum penuh arti, ia menonton sebuah video yang dikirimkan anak buahnya.
"Aku mau mereka mati sebelum hukuman mati mereka diputus, mengerti!" Kata Vero menelpon seseorang dengan penuh penekanan di setiap perkataan.
"Baik bos!" Sahut suara pria dari seberang sana.
"Bagus!" Kata Vero lalu menutup panggilan sepihak.
"Kali ini...lo milih musuh yang salah Naila..." kata Vero dalam hati tersenyum smirk.
Kembali ke rumah sakit, dimana Keyzro dan yang lainnya masih menunggu kepastian perihal kondisi Merry Reynata, sudah lebih dari tiga jam Merry di dalam ruang operasi namun tak kunjung keluar dari sana, Hamif terlihat semakin cemas dengan kondisi sang putri.
Sekitar lima jam lebih dua puluh menit, akhirnya seorang Dokter keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan putri saya Dok?" Tanya Hamif mengguncang kuat kedua lengan sang Dokter.
"Tenang pak...putri bapak sudah melewati masa kritis...tapi..." Dokter menepuk pelan bahu kanan Hamif."Tapi...kami tidak bisa memastikan kapan putri bapak bisa siuman, dia kehilangan banyak darah pak dan lagi...pisau itu mengenai sedikit pembuluh darah di jantungnya walaupun hanya sebesar goresan tapi tetap saja itu sangat berbahaya bagi keselamatan putri bapak" lanjut sang Dokter menghelahkan nafas lelah.
"Aa...aa...ppp...aa...aa...???" Hamif tergagap hampir terjatuh.
"Ayah!" Desis Keyzro menangkap tubuh Hamif.
"Maafkan kami pak...kami pasti akan melakukan yang terbaik bagi putri bapak..." ucap Dokter pria lalu menunduk hormat."Saya permisi..." pamitnya lalu pergi.
Di ruang yang bertuliskan kamar VVIP, Merry terbaring sedikit miring ke kanan karena punggungnya masih terluka pasca operasi yang baru saja ia jalani.
Keyzro duduk di sisi kiri Bed Hospital masih termenung memandangi wajah Merry yang seperti mayat hidup, air mata tak berhenti mengalir dari mata hazeult milik Keyzro.
"Ya Allah...pantaskah seorang hamba yang tak pernah bersujud pada-Mu dan yang tak pernah menyebut nama-Mu meminta serta memohon kepada-Mu? Hiks...hiks...aku tahu...aku bukanlah hamba-Mu karena sampai saat ini pun aku tidak memegang kepercayaan agama manapun tapi...aku percaya pada Tuhan...ku ingin memilih-Mu sebagai Tuhan ku...jadi...ku mohon...hiks...hiks...sekali ini saja Ya Allah...tolong...kabulkan doa ku...ku mohon...selamatkan wanita yang sangat ku cintai ini..." kata Keyzro berdoa dengan berurai air mata.
"Keyz...istirahat dulu...gantian sama gue..." kata Dian menepuk lembut pundak Keyzro.
"Enggak...gue enggak akan kemana-mana sebelum Merry sadar Ian..." kata Keyzro terisak lirih.
"Keyz...istirahat dulu, kamu sudah hampir 10 jam diam disitu" kata Hamif.
"Ayah saja yang istirahat" sahut Keyzro.
"Ayah sudah cukup istirahat, giliran kamu..." kata Hamif.
Kejadian yang berlangsung di sore hari ini membuat Hamif juga sangat terpukul, ia tahu jika sang putri walaupun terlihat sangat sehat dak kuat akan tetapi Merry harus mengonsumsi vitamin tulang secara rutin akibat donor sumsum tulang belakang yang Merry lakukan untuk sang istri Eva. Hamif tidak memberitahu Eva karena ia tahu jika hal itu dapat mempengaruhi kondisi fisik istrinya.
"Hm...ayah minta kamu untuk istirahat Keyz! Jangan keras kepala, ini sudah tengah malam tapi kamu masih belum membersihkan diri, kamu kotor tidak baik bagi Merry jika berdekatan dengan kamu yang bertubuh kotor" kata Hamif tegas.
"Baik ayah..." sahut Keyzro berdiri dari duduknya lalu keluar dari ruangan.
"Jaga Keyzro!" Titah Hamif pada Dian.
"Okay pak...pasti!" Sahut Dian kemudian menyusul Keyzro.
To be continue...
Cinta bukanlah tolak ukur bagi kita untuk melakukan apa saja untuk mendapatkan seseorang...
Jika orang yang kita cintai bahagia tapi tidak bersama dengan kita itu lebih baik daripada memaksakan orang yang kita cintai untuk bersama kita tapi tidak bahagia...
Perasaan cinta dan obsesi itu tak berbeda jauh
Jika kita mencintai...maka cintai sewajarnya jangan memaksakan kehendak agar mendapatkan tapi mencintai dengan ikhlas dengan menerima keputusan orang yang kita cintai...entah itu baik bagi kita ataupun menyakitkan bagi kita...
Cinta tidak menyakiti...jika cinta sudah menyakiti itu bukan cinta namanya...
Cinta tidak akan menyakiti...
__ADS_1