
Aneh tapi nyata melihat keadaan Merry di sarang mafia, ia terlihat baik-baik saja padahal jelas sekali ia sedang diculik saat ini. Setelah ikatan di tangan dan kakinya terlepas, ia justru mengobrol santai dengan Sean dan Leo karena hanya mereka berdua-lah yang mengerti bahasa Indonesia.
Smith memperhatikan wajah sumringah sang putra Sean, ia merasa sangat bahagia, sudah lama ia tidak melihat putranya itu terlihat begitu bahagia.
"Bahasa Indonesia yang kamu pelajari sangat bagus loh Sean...aku kaget banget kamu ngerti aku ngomong apa?" Kata Merry tersenyum tipis.
"Iya...aku belajar dari seorang kawan lama, dia bernama Keyra, dia putri Georgio Scott" timpal Sean turut mengulas senyum di bibirnya.
"Dan kamu Leo?" Tanya Merry menoleh pada Leo yang berdiri tegak di belakang kursi roda Sean.
"Saya pernah punya pacar wanita Indonesia" jawab Leo.
"Terus? Kemana pacar kamu? Kalian putus?"
"Tidak...dia meninggal dunia karena kanker usus" Leo menunduk sedih.
"Ya Allah...maaf ya..." ucap Merry.
"Tidak perlu minta maaf Marry, kamu hanya bertanya" sahut Leo.
"Kamu sungguh tidak keberatan mendonorkan darahmu?" Sean meraih tangan kanan Merry lalu menggenggamnya.
"Enggaklah...donor darah buat cowok ganteng kayak kamu aku ikhlas...beneran deh..."
"Hm...kamu memang sangat unik Marry" gumam Sean masih terdengar jelas oleh Merry dan Leo.
"Issshhh...aku bukan hanya unik tapi menarik...hehehe" Merry terkekeh geli.
"Iya..." Sean tanpa sadar menyibak anak rambut Merry ke belakang telinga."Eh...maaf..." ucapnya kemudian setelah tersadar.
"Hmm...dasar kamu ya..." Merry mencubit gemas kedua pipi Sean.
Sean memblushing malu.
"Semua sudah siap tuan Smith" kata seorang Dokter paruh baya pada Smith.
"Okay Derek" sahut Smith.
Smith memberikan kode pada pria berkulit hitam legam. Pria kulit hitam itu menarik lengan kanan Merry secara kasar.
"Hei!!! Sakit tau!!! Ishhh..." Merry berteriak meringis.
"Lepaskan!" Titah Sean marah.(menggunakan bahasa Prancis)
"Tapi tuan muda..." desis pria itu.
"Ku bilang lepaskan!!!" Teriak Sean semakin menggebu.
Pria itu langsung melepaskan lengan Merry.
"Gue kan mau donor darah nih buat lo! Enggak pake kekerasan bisa kan Sean? Bilang tuh ma bapak lo!" Kata Merry marah-marah.
"Iya..." sahut Sean."Ayah...dia bersedia mendonorkan darah untukku...bisakah kau tidak kasar pada Marry?" Sean melirik sang ayah.
"Hufff...baiklah..." sahut Smith menghembuskan nafas kasar seraya berjalan mendahului Derek, Dokter pribadinya.
"Yuk kita pergi sekarang!" Seru Merry sembari mendorong kursi roda Sean, ia berjalan mengikuti sang Dokter.
__ADS_1
Sesampainya mereka di sebuah ruangan yang banyak peralatan medis. Merry berjongkok di hadapan Sean. Ia berbisik di telinga kanan Sean.
"Bolehkah aku makan sesuatu? Aku belum makan apa-apa dari pagi"
"Pfffff...ada saja tingkahmu ya..." Sean menahan tawa geleng-geleng kepala.
"Please...i am really hungry...hiks..."
"Baiklah...apa yang kamu mau?"
"Aku mau ayam goreng, paha bawah dan pastikan itu halal untuk aku makan ya..."
"Itu mudah sekali..." Sean memanggil Leo dengan gibasan tangan.
"Baik tuan muda..." sahut Leo begitu selesai menerima perintah melalui bisikan dari Sean.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, Leo datang dengan diikuti oleh dua orang pria yang berprofesi sebagai seorang koki.
"Ini...silahkan menikmati..." ucap Leo.
Dua koki muda itu membungkuk hormat lalu pamit undur diri.
"Alhamdulillah...aku masih boleh makan..." ucap syukur Merry kemudian melahap ayam goreng yang ada di atas meja saji.
Sean tak henti-hentinya mengulum senyum melihat Merry makan dengan lahap, ia sungguh mengagumi keberanian Merry yang tak takut bahkan setelah diancam oleh sang ayah.
"Baru kali ini aku melihat ia tersenyum sesenang itu...bahkan saat bersama Keyra dulu ia tidak nampak seperti itu" batin Leo tersenyum lega.
"Kamu mau?" Merry menyodorkan potongan kecil ayam goreng ke mulut Sean.
"Ihhh...kamu kan juga pasien disini, makanlah sedikit ya..." pinta Merry memasukan potongan ayam goreng ke dalam mulut Sean.
"Enak..." ucap Sean tersipu malu.
"Ehmmm...enak kan???" Merry mesem-mesem menaik turunkan kedua alisnya.
"Hmmm..." Sean mengangguk.
Setelah merasa cukup kenyang Merry langsung rebahan di atas bed hospital.Tanpa keraguan ia berseru."Yuk mulai Dok!!!"
Sang Dokter mengangguk lalu menitahkan asistennya memasang jarum infus di lengan kanan Merry.
Dengan dibantu oleh Leo, Sean berbaring di bed hospital bersebelahan dengan Merry yang sedang berbaring menatap langit-langit.
"Bisakah kau katakan pada wanita ini, transfusi darah yang akan ia lakukan kini ber-efek negatif untuknya...yaitu ia akan tak sadarkan diri untuk 3 sampai 4 hari ke depan" kata sang Dokter.
Sean mengatakan hal yang sama dengan perkataan sang Dokter padanya.
Merry hanya mengangguk saja.
"Aku tidak ingin melakukan donor darah ini!" Kata Sean langsung terduduk di bed hospital.
"Apa-apaan kau ini hahhh!!!" Bentak Smith marah.
"Ayah...dia bisa saja kehilangan nyawa-nya" sahut Sean menatap sendu wajah Merry yang terlihat tidak ada rasa takut sama sekali.
"Aku tidak peduli yang terpenting bagiku hanyalah dirimu" kata Smith tegas.
__ADS_1
"Tapi ayah..." Sean meratap memohon.
"Sean..." panggil Merry lembut.
Sean menoleh ke arah Merry."Kau sungguh tidak takut mati???"
"Semua manusia ciptaan Tuhan pasti akan mati...jadi...kamu harus sembuh, aku tidak mengerti apa yang kau dan ayahmu bicarakan barusan tapi dari raut wajah ayahmu, ia terlihat sangat marah, semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya meskipun harus membunuh ribuan anak hanya demi menolong anaknya pasti ayahmu akan melakukannya karena ia sangat mencintaimu...paham kan Sean???" Merry berkata panjang lebar dengan senyum tak lepas ia lemparkan pada Sean yang semakin memucat wajahnya.
"Jika nanti aku memang bisa disembuhkan oleh darahmu...aku akan menjagamu seumur hidupku...aku berjanji..." Sean bersumpah dalam hati meloloskan bulir-bulir kristal dari pelupuk mata ia tersenyum lirih.
Proses transfusi darahpun berlangsung sekitar 2 jam berlalu, Merry meringis merasakan sakit di lengannya juga kepalanya terasa berdeyut tak menentu, sedangkan Sean tertidur pulas meski kini ia pun harus berjuang menahan dinginnya dadanya karena penyakit aneh yang ia derita.
Penyakit Sean memang bukan penyakit biasa, ia akan merasakan dingin di dadanya, setelah itu ia akan sesak nafas lalu batuk darah. Itulah mengapa Sean sampai tidak bisa berdiri dengan kakinya sendiri dikarenakan penyakit aneh ini.
"I'm sorry for making you suffer...but...I just want my son Sean to heal"(Maafkan aku karena membuatmu menderita...tapi...aku hanya ingin kesembuhan putraku Sean) ujar Smith pada Merry yang sudah setengah sadar.
Dengan suara melemah Merry berkata pada Smith."I also have four children, two boys and two girls…can you take care of them if you really want to kill me?"(Aku juga memiliki empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan...bisakah kau menjaga mereka jika memang kau ingin membunuhku?)
"I won't kill you like the others, instead you belong to my son Sean"(Aku tidak akan membunuhmu seperti yang lain, sebaliknya kamu milik anakku Sean) sahut Smith sepertiga detik sebelum ia menyahuti Merry ia termenung mencerna kata-kata yang keluar dari bibir mungil Merry Reynata.
Merry menggelengkan kepala lalu kepalanya terjatuh ke sisi kiri.
"Smith...keadaan wanita ini!" Pekik Derek sang Dokter mendapati keadaan Merry yang tidak seperti yang tadi ia perkirakan.
"Ada apa???" Tanya Smith panik.
"Aku harap ini hanya firasatku saja!" Gumam Derek mengeluarkan stetoskopnya lalu sebuah senter kecil dari saku jasnya."Smith...kita sudah cukup melakukan donor darah ini! Keadaan Sean sudah stabil tapi wanita ini sekarat!" Derek berteriak di akhir kalimat setelah melihat bola mata Merry yang sudah tidak berwarna lagi.
"Apa kau bilang!!!" Smith membentak sembari mencengkram ke atas jas Derek.
"Aku sudah peringatkan sebelumnya!" Derek menepis kasar kedua tangan Smith."Sudahi ini semua!!!" Titahnya lagi pada tiga asistennya.
Tiga Asisten Derek mengangguk dan melepaskan selang infus dari lengan kanan Merry.
Brakkkkk
"Sial kau Smith!!!" Umpat Jhony geram sembari berjalan cepat masuk setelah menendang pintu ruangan.
"Bukan waktunya untuk bertengkar! Kalian berdua keluar! Wanita ini sedang kristis!!!" Sentak Derek.
"Kau!!!" Jhony menunjuk Smith menatap tajam mata biru laut milik Smith.
"Kau...apakah kau keluarga wanita ini?" Tanya Derek.
"Iya..." jawab Jhony.
"Bagus! Segera berbaring disana, kita transfusi darah secara langsung!" Titah Derek menunjuk satu bed hospital di sisi kiri Merry.
"Lakukan apapun untuk menyelamatkan adikku...ku mohon...snff..." Jhony menangis menoleh pada Merry dengan berbaring sesuai perintah Derek tadi.
***
**
*
*bersambung*
__ADS_1