Superstar In Love With Single Mom

Superstar In Love With Single Mom
Countinue 9


__ADS_3

"Hiks hiks hiks hiks...sampai kapan rasa sakit ini Ya Allah...aku masih saja terbayang akan pengkhianatan yang dilakukan oleh suamiku...hiks..." Merry menangis dalam doanya ditengah malam yang sunyi di sebuah Hotel mewah.


Tristan yang tak sengaja mendengar doa wanita yang ia cintai turut merasakan kesedihan dari doa yang dipanjatkan oleh sang pujaan hati.


"Si br3ngs3k itu beruntung karena sudah dicintai oleh wanita sepertimu mom...snff..." Tristan menghapus kasar air matanya sembari berlalu masuk ke dalam biliknya.


"Aku sangat mencintainya...Engkau Maha Tahu Ya Allah...seberapa dalamnya cintaku pada suamiku...ku mohon...berilah aku petunjuk...apakah harus ku maafkan dia ataukah ku biarkan diriku kembali menyandang status janda...snf...Aamiin ya robbal'alamin..." Merry mengusap lembut wajahnya dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir deras.


Tiga jam setelah tiba di Bandara Juanda Internasional Airport Surabaya, Merry langsung kembali menggunakan transportasi darat, ia memilih naik kendaraan umum, menumpang sebuah bus ia hendak pergi ke salah satu Mall terbesar disana.


Sepanjang perjalanan menuju Mall, para penumpang bus banyak yang mengambil gambar Merry, hampir seluruh penumpang mengenal siapa ia? Seakan sudah terbiasa akan keadaannya, Merry hanya tersenyum mengangguk sopan pada seluruh penumpang bus.


"Permisi...apa boleh saya duduk cu? Kaki saya sakit..." pinta seorang nenek rentah pada Merry.


"Silahkan nek...hm..." Merry berdiri dari duduknya lalu membantu nenek rentah itu untuk duduk di kursi tempat ia duduk tadi.


"Cu...banyak-banyak sholat ya...semakin sukses kamu...akan membuatmu jauh dari Allah kalau kamu tidak memulainya dari sekarang..." kata nenek tua itu menepuk-nepuk punggung tangan Merry.


"Iya nek...terima kasih nasehatnya...hm..." ucap Merry tersenyum ramah.


"Kemarilah..." titah si nenek.


Merry berjongkok lalu nenek rentah itu memberikan sebuah usapan halus di pipi kanan Merry sembari berkata."Wajahmu mencerminkan hatimu cu...cantiknya wajahmu secantik hatimu...nenek yakin Allah akan memberikan jawaban atas kegundahan hatimu..."


Deg


Jantung Merry seakan berhenti sepertiga detik mendengar perkataan nenek rentah itu.


"Sebentar lagi sudah sampai mom..." kata Tristan.


"Hah??? Oh...iya...ayo..." Merry menongak lalu beranjak berdiri.


"Ingat ucapan nenek ya...hm..." kata si nenek rentah.


"Hm...terima kasih nek...aku pamit...Assalammu'alaikum..." ucap Merry lalu mencium punggung tangan nenek rentah itu kemudian turun dari bus.


"Wa'alaikumsalam cantik..." balas si nenek rentah dengan senyuman tipis menghiasi wajah keriputnya.


Merry membalas senyuman manis nenek rentah itu sebelum benar-benar turun dari bus.


"Tristan...kapan terakhir kamu lihat momi sholat?" Tanya Merry sembari berjalan santai memasuki kawasan Mall.


"Hm...mungkin sekitar satu bulan yang lalu, maaf mom...momi jarang ibadah sekitar enam bulan belakangan ini momi jarang sholat" jawab Tristan diselingi sentilan pedas.

__ADS_1


"Hm...yang dibilang nenek itu benar...semakin sukses...aku semakin jauh dari Allah..." kata Merry tersenyum miris.


Maka terjadilah curhatan di malam hari setelah disadarkan oleh orang yang tak dikenal, kini Merry mengadu kepada Sang Khaliq mengenai kehidupan pernikahannya yang tak jelas akan berakhir seperti apa?


Dalam mimpi Merry melihat Keyzro berdiri di ujung jurang terjal, dimana ada bebatuan yang siap menghantam kepala Keyzro jika ia terjatuh. Ketika Merry hendak menarik tangan Keyzro ada tangan mungil yang lebih dulu menarik tangan Keyzro. Tangan mungil itu menarik kuat Keyzro yang hampir saja terjatuh.


"Papa..." ucap tangan mungil itu.


"Anak papa...hiks hiks hiks" Keyzro menangis memeluk sosok tangan mungil itu.


"Mama...papa...aku sayang kalian..." ucap sosok anak kecil sembari membawa tangan kanan Merry kemudian menyatukan tangan itu dengan tangan Keyzro.


Seberkas cahaya terang menyilaukan mata lalu Merry pun membuka sedikit matanya.


"Isshh...Tristan...ini jam berapa? Kenapa menyalakan lampu?" Decak Merry sembari menarik selimut menutupi seluruh wajahnya.


"Sudah jam lima mom...momi nggak sholat?" Sahut Tristan.


"Hm...sudah lewat adzan subuh ya...okay...makasih ya sayang..." kata Merry lalu beranjak dari baringnya.


Setelah tuntas sholat subuh, ia kembali tidur dengan properti sholat yang masih melekat di tubuhnya. Tristan menyelimuti Merry lalu berbaring di sebelah kanan wanita pujaan hatinya. Ia pun ikut terlelap sembari terus memeluk wanitanya.


Ting


Ting


Ting


"Ini anak ya...he he" kekeh Merry sembari menepikan perlahan tangan Tristan yang melingkar di pinggangnya.


Merry membuka kunci layar ponsel miliknya, lalu keluarlah notifikasi pesan dari Keyzro.


"Aku sudah tidak sanggup lagi Myzro" tulis Keyzro dalam pesan singkat."Rasanya lebih baik aku membunuh diriku...daripada harus kehilanganmu..." lanjut pesan berikutnya.


Tertampang jelas foto Keyzro yang tersenyum miris berendam dalam bathtub.


"Loh...kok airnya warnanya merah???" Merry memekik terkejut langsung berlari keluar kamarnya.


Masih mengenakan mukena ia berusaha mencari keberadaan Keyzro.


"Hallo...Ian...dimana Keyzro?" Tanya Merry panik.


"Hm...di kamarnya lah...sebelah kamar gue kok" jawab Ian.

__ADS_1


"Kalian menginap di Hotel mana?" Tanya Merry lagi.


"Di Hotel XXX kamar nomor 320 itu nomor kamar Keyzro" jawab Ian.


"Okay...makasih..." ucap Merry memutuskan panggilan sepihak.


"Dia ada di Hotel ini berarti..." gumam Merry sembari berlari.


Sesampainya ia di lantai kamar tempat Keyzro menginap, sempat meminta kunci cadangan kamar Hotel oleh pihak keamanan, ia segera membuka pintu kamar 320 itu kemudian berlari menuju kamar mandi.


"Oppaaaaaaaa!!!" Teriak Merry begitu melihat wajah pucat Keyzro.


Suara tepukan tangan Merry yang menampar kedua pipi Keyzro secara bergantian bergemah dalam kamar mandi Hotel.


"Bangun oppa! Hiks hiks hiks...bangun...Gha-eun nungguin oppa...sudah sejak lama...bangun...demi Gha-eun...hiks" tangisan Merry menyayat hati petugas keamanan yang hadir setelah mendengar suara alrm tanda bahaya.


"Il-eonaoppa...hiks hiks hiks...Gha-eun bogo sip-eoyo..." (bangun oppa...Gha-eun merindukanmu)


"Eugghhh...Myzro...bogo sip-eoyo..." desis Keyzro dengan suara pelan.


"Nado...hiks..." sahut Merry."Pak...tolong bantu angkat suami saya" pinta Merry.


Dua petugas keamanan mengangkat tubuh Keyzro lalu membaringkannya.


"Tolong rahasiakan kejadian ini dan cepat panggilkan Dokter!" Titah Merry seraya mengikat pergelangan tangan Keyzro menggunakan mukenanya yang langsung saja ia sobek dengan sekuat tenaga.


Dua petugas itu mengangguk.


Tak berselang lama datang seorang Dokter, untung saja sayatan yang dibuat Keyzro tak begitu dalam dan ia tak terlalu banyak kehilangan darah. Infus dan juga satu kantong darah disiapkan untuk Keyzro.


Merry menghelahkan nafas lega begitu wajah Keyzro sudah tak lagi terlihat sepucat tadi.


"Terima kasih Ya Allah..." ucap syukur Merry.


"Saya pasti akan merahasiakan perihal tentang kejadian ini...sebagai seorang Dokter profesional, saya pastikan tidak ada yang mengetahui kejadian ini bu..." ujar sang Dokter.


"Terima kasih Dok...semoga Allah membalas kebaikan anda..." ucap Merry.


"Hm..." sang Dokter mengangguk lalu pergi.


Dua petugas keamanan yang tadi diberi uang sogokan agar tak membocorkan kejadian ini, jika saja seorang artis berusaha bunuh diri maka berita itu pasti akan menggemparkan jagatraya, Merry juga membayar lebih pada pihak Hotel agar bekerjasama memberi mereka uang tutup mulut. Iya...semua memang diperlukan tak mungkin orang akan tutup mulut jika tidak diberi uang tutup mulut bukan? Begitu cinta dan sayangnya ia sampai melakukan apa saja untuk melindungi reputasi sang suami.


"Cepatlah sadar...aku akan memarahimu sampai kamu kapok! Snfff..." Merry menghapus kasar air matanya lalu tertidur duduk di sisi kanan Keyzro.

__ADS_1


Matahari menjulang tinggi, tanpa terasa sudah tengah hari, Keyzro yang sudah sadarkan diri membiarkan istrinya tertidur, sesekali dengan lemah ia membelai pucuk kepala Merry. Ia tidak menyangka jika Merry masih mengkhawatirkan dirinya setelah apa yang ia lakukan dulu, kesalahan fatal dalam sebuah Pernikahan membuat ia merasa tak ada jalan lain selain kematian.


To be countinue


__ADS_2