
Matahari terbenam tanda hari sudah menjelang tengah malam, Merry berjalan tertatih masuk ke dalam rumahnya. Di dalam rumah super megah itu ternyata tengah kedatangan tamu, tamu yang datang adalah ayah dan ibunya Merry, mereka datang jauh-jauh dari kota hujan Bogor Jawa Barat.
"Assalammu'alaikum...ayah...ibu...kok dateng enggak kasih kabar?" Merry mencium punggung tangan ayah dan ibunya.
"Wa'alaikumsalam Mer...kamu baru pulang?" Sahut sang ibu.
"Ayah...ibu pada sehat? Tumben dateng kesini?" Merry mendaratkan bokongnya di sofa empuk.
"Sehat Mer...kamu gimana? Sehat kan nak?" Sahut sang ayah seraya bertanya.
"Sehat yah..." jawab Merry.
"Mer...ibu sama ayah boleh enggak numpang tinggal disini?" Pinta sang ibu.
"Eh...kok ngomong begitu sih bu...mau tinggal disini ya...silahkan aja...enggak perlu minta ijin begitu" sahut Merry tersenyum tipis menatap mata sang ibu yang berkaca-kaca.
"Makasih ya nak..." ucap sang ayah.
"Mah...sini deh...Rey mau ngomong" panggil Reynata.
"Ke kamar mama aja ya nak...mama capek banget" Merry bangkit dari duduknya berjalan menaiki anak tangga."Oh ya...Rayni antar kakek sama nenek ke kamar tamu dekat kamar kamu ya nak..." titahnya kemudian pada putri keduanya.
"Iya mah...yuk nek...kek..." sahut Rayni sembari mengajak nenek dan kakeknya menuju kamar tamu.
Di sisi lain kamar Merry, Reynata mengajukan protes keras atas kedatangan nenek dan kakeknya, ia merasa ibunya itu terlalu baik karena bahwasannya selama ini, nenek dan kakeknya itu kurang perhatian pada sang ibu.
"Mah...kok mama main kasih aja nenek sama kakek tinggal disini?" Reynata menekuk wajahnya.
"Loh...memangnya kenapa nak?" Tanya Merry tak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh putrinya.
"Mah...selama ini mama berjuang sendirian, kemana keluarga mama pas mama lagi susah, nenek Wanti...kakek Akmal, om Johan, om Ikmal, tante Jihan, tante Mitha, semua enggak ada pas mama lagi susah!"
"Ya Allah nak...berulang kali mama bilang ke kamu...jangan suka menaruh dendam atau kekecewaan pada keadaan, dan jangan berpikir negatif begitu kak..." Merry mengelus sayang lengan kanan Reynata.
"Mah..." Reynata hendak melayangkan protesnya kembali.
"Kak...selagi kita bisa membantu orang lain, jangan pernah memikirkan apa yang akan kita dapat dengan membantu orang lain tapi pikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk membantu orang lain, keikhlasan hati memang sulit nak...tapi jika hati kita tidak ikhlas maka bagaimana mungkin ridho Allah akan kita dapat...ngerti kan nak...?" Merry memeluk lengan kanan sang putri.
"Huff...memang kakak enggak bisa deh ngerti jalan pikiran mama, entah mama terlalu baik atau memang kakak yang terlalu egois" Reynata mendesah kesal.
"Kak...mama pernah bilang ke kamu kan? Apa yang sudah berlalu jangan diingat-ingat lagi, jadikan itu semangat hidup kamu agar kamu bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain bukan justru menjadi orang yang memanfaatkan orang lain...paham sayang?" Sahut Merry lembut membelai pucuk kepala Reynata.
"Hmm...kakak paham mah...maafin kakak ya mah..." Reynata mengulum senyum memeluk ibunya.
"Mama capek banget kak...mama mau istirahat dulu ya nak..." kata Merry mengakhiri pelukkannya.
"Ya sudah mama istirahat aja, biar nenek sama kakek, kakak yang siapin makan" sahut Reynata.
"Ada Bibi Ismi, kamu minta bi ismi siapin makan malam, nanti mama pesan lewat aplikasi, jadi enggak perlu masak" kata Merry sembari mengambil ponsel miliknya dari saku celana.
"Sebaiknya aku kembalikan saja ponsel ini...semakin aku melihat ponsel ini...semakin sulit untuk aku melupakan dia..." batin Merry lirih menatap layar ponsel.
"Mah...mama enggak apa-apa kan? Kok bengong???" Reynata menepuk pelan bahu kanan Merry.
__ADS_1
"Eh...oh...iya kak...mama okay kok...hehe" Merry tersentak tertawa hambar.
"Mama kenapa ya???" Pikir Reynata dalam hati.
Keesokan harinya Merry kembali beraktifitas, selesai memoles sedikit make up di wajahnya yang mungil, ia lantas bergegas keluar dari kamarnya, setelah sampai di halaman depan rumahnya yang mewah. Seseorang yang amat tidak ingin ia temui sudah menunggunya disana.
"Pagi Myzro..." sapa Keyzro.
"Pagi..." sahut Merry datar.
"Kamu mau ke rumah momy Hernandez kan? Yuk aku antar!" Keyzro meraih pergelangan tangan kiri Merry menuntunnya masuk ke dalam mobilnya.
"Nona!!!" Teriak seorang pria bule tinggi sekitar 187 cm, ia berlari kecil menghampiri Merry.
"Bright...ada apa?" Tanya Merry sembari melepaskan tangan Keyzro secara kasar.
"Nona apa sudah mau berangkat bekerja?" Tanya pria bule bernama Bright Twilight.
"Iya...apa kamu memerlukan sesuatu?" Sahut Merry kemudian bertanya.
"Tidak Nona...saya hanya ingin mengantar kamu saja..." jawab Bright malu-malu.
"Sial...ini bule siapa lagi sih???" Gumam Keyzro dalam hati.
"Dia biar saya yang antar!" Celetuk Keyzro menahan kesal.
"Oh...baiklah...hati-hati di jalan Nona..." Bright membungkuk hormat.
"Cantiknya..." puji Bright dalam hati.
"Sial!!!" Umpat Keyzro dalam hati.
Keyzro melajukan kendaraannya sedikit lebih kencang dari biasanya, ia sungguh kesal mendapati bukan hanya Vero dan Darrel yang menjadi saingannya, masih banyak lagi ternyata laki-laki yang akan menjadi rivalnya dalam mendapatkan hati Merry.
Terlebih lagi melihat wajah Bright sangat tampan, membuat ia sedikit merendahkan diri sendiri, Bright, Thomas serta Sean adalah saingan terberat untuknya, kini itulah yang ada di pikiran Keyzro, ia harus lebih ekstra kerja keras jika ingin memenangkan hati Merry sang mantan terindah.
"Mas Keyz...jangan terlalu ngebut!" Tegur Merry ketakutan.
"Hmm..." sahut Keyzro tanpa menoleh.
"Oppa!!!" Sentak Merry melihat Keyzro tidak berhenti padahal lampu lalulintas sudah berubah warna.
Ckkktttttt...
Keyzro sontak saja langsung menginjak rem begitu menyadarinya.
"Hufff...kalau mau mati jangan ngajak-ngajak dong! Huh!!!" Kata Merry marah.
"Maaf Myzro...aku enggak sengaja" ucap Keyzro.
bughhh bughhh bughhh bughhh bughhh
"Dasar nyebelin! Hiks...hiks...hiks..." sembari menangis Merry memukul-mukul lengan kiri Keyzro."Dasar enggak punya perasaan, udah lama ngilang sekarang tau-tau nongol...hiks...bikin aku nyesek terus kamu...hiks...hiks...kamu jahat! Jahat! Jahat! Hiks...hiks...hu...hu..."
__ADS_1
"Maaf..." ucap Keyzro menunduk.
"Aku benci kamu! Hiks...hiks...kamu jahat...hiks..."
Grepppp
Keyzro menahan kedua pergelangan tangan Merry yang masih ingin memukulinya.
"Myzro...sungguh...aku kangen banget sama kamu..." ungkap Keyzro lirih.
"Lepasin!!!" Sentak Merry.
"Enggak! Aku enggak akan pernah melepaskan tangan kamu! Setelah memutuskan kembali aku berjanji tidak akan melepaskan tangan kamu lagi!"
"Terserah!!!" Merry menarik kuat kedua tangannya lalu keluar dari dalam mobil Keyzro.
Untung saja lalulintas tidak terlalu padat, membuat Keyzro masih sempat membujuk Merry agar kembali masuk ke dalam mobil.
Setibanya mereka berdua di kediaman Hernandez, ada lagi sosok yang sangat amat Merry ingin hindari, ya...siapa lagi kalau bukan Kim Mi Rae.
"Minhyuk, ibu mau bicara!" Kata MiRae menarik tangan kanan Keyzro berjalan cepat menuju ruang Perpustakaan.
"Lepas!" Sentak Keyzro marah.
"Ibu sudah melarangmu untuk menemui dia, kenapa kau susah sekali diatur Minhyuk!" Bentak Mi-Rae.
"Bu...ini hidupku! Aku tidak ingin diatur lagi olehmu...lagi pula...siapa kau ibu? Sehingga kau selalu merendahkan dia???"
"Jadi kau pikir aku melarangmu karena aku merendahkan dia???"
"Lantas???" Keyzro memicingkan mata.
"Bukan dia yang tak pantas untukmu, sekarang keadaannya berbalik, kau-lah yang tak pantas untuknya!!!"
"Ma..kkk...ss...uuuddd ibu...???"
"Karena dia...-"
"Dia kenapa??? Kenapa ibu tidak menjawab dengan benar? Mengapa ibu selalu ada saja alasan agar aku tidak dapat bersamanya??? Mengapa ibu begitu meren...-"
"Karena dia anak kandung Georgio Scott!!!" Mi-Rae berteriak frustasi.
"Apaa???" Pekik Keyzro tak percaya.
***
**
*
Gimana? Penasaran enggak???
Stay here ya guys...see you next chapter...😘
__ADS_1