
Tiga hari sudah berlalu, meski sudah berstatus suami istri, Charles dan Merry belum melakukan hubungan suami-istri pada umumnya, ya...karena tepat di malam pengantin Charles harus menelan pil pahit karena sang istri sedang datang bulan.
Lain Charles yang tengah putus asa karena tak dapat jatah, Merry justru terlihat sangat bahagia. Seperti saat ini, ia bersenandung sembari menyiapkan sarapan pagi untuk keempat anak-anaknya dan juga untuk sang suami baru.
"Happy banget mah..." ejek Reynata putri pertama Merry sembari mengambil buah Cherry lalu memakannya.
"Syirik aja kamu kak...hehe" kekeh Merry.
"Huh...dasar mama...papa Charles mana mah?" Tanya Reynata.
"Masih tidur kali kak..." jawab Merry singkat.
"Mah...kok bisa mama tau-tau udah nikah aja sama papa Charles?"
"Namanya juga jodoh kak...nggak ada yang tau kan?" Sahut Merry sembari menata masakan yang tadi ia masak.
"Mah...om Keyz gimana? Kasihan tau om Keyz..."
"Kak... sekarang suami mama itu papa Charles jadi...jangan bahas om Keyz lagi ya...nggak enak sama papa Charles..." kata Merry menasehati.
"Hm...iya mah..." sahut Reynata.
"Mama mau panggil papa dulu ya...panggil papa Charles dengan sebutan yang benar ya kak...papa nggak usah pakai Charles...ngerti?!" Kata Merry lalu berlalu pergi.
Di dalam kamar pengantin baru, Charles sudah terbangun dari tidurnya, ia duduk di balkon dengan mata menatap langit biru nan cerah tanpa awan mendung.
Merry berjalan perlahan menghampiri Charles, seketika lidah Merry keluh melihat darah mengalir dari lubang hidung Charles.
"Ada apa?" Tanya Charles tak menyadari jika ada darah yang mengalir dari hidungnya.
Merry terperanjat langsung berlari kecil mengambil kotak tissu, dengan derai air mata ia menyeka darah kental yang mengalir tanpa henti.
"Kok nggak berhenti-henti sih! Hiks... hiks...snff...hiks...hiks..." Merry terus menyeka hidung mancung milik Charles semakin histeris kala Charles tersenyum miris.
"Jangan menangis...ini sudah biasa terjadi...hm..." Charles memiringkan kepala ke sisi kanan tersenyum miris.
"Snfff...hiks...hiks...cgkk...hiks...kamu..." Merry langsung memeluk Charles yang masih diam terduduk di atas ayunan rotan.
"Terima kasih karena sudah menjadi istri ku...Queen...i love you..." Charles membalas pelukan Merry, terpejam kedua matanya menikmati sensasi kehangatan dalam pelukan Merry.
"Hiks...maaf...hiks..." ucap Merry sesegukan.
"Biar hanya ragamu yang ku miliki...aku sudah cukup bahagia Queen..."
"Ya Allah...panjangkanlah umur suamiku...hiks...hiks...meski aku tidak mencintainya...tapi dia sangat mencintaiku...aku tau itu...hiks..."
Brughhhh...
Tangan Charles terkulai jatuh dari punggung Merry, Merry membulatkan bola mata, ia lantas melepaskan pelukannya.
"Charles...bangun...hiks...bangun...hiks..." Merry mengguncang hebat tubuh kekar milik Charles yang kini terkulai lemah.
Suara sirene dari mobil Ambulans mengiringi tangisan Merry, yang terus menggenggam tangan kanan Charles, bercucuran air mata dan keringat, ia terus berdoa demi keselamatan sang suami.
Sekitar satu jam kemudian mobil Ambulans tiba di Rumah Sakit, Merry masih setia menggenggam tangan Charles, menyusuri lorong demi lorong sampai tiba di ruang UGD, ia masih enggan melepaskan tangan pria yang kini sudah menjadi suaminya.
"Silahkan tunggu disini bu..." kata suster menghadang Merry yang hendak turut masuk ke dalam ruang UGD.
__ADS_1
"Hm...tolong...tolong suami saya sus...hiks...hiks..." pinta Merry lirih.
"Hm...kami akan berusaha..." sahut sang suster.
"Ya Allah...selamatkan suamiku...hamba mohon... panjangkanlah umurnya...hiks" Merry berdoa mengangkat kedua telapak tangan menatap langit-langit.
"Myzro..." panggil Keyzro.
"Oppa...snff..." Merry mendesis terduduk di bawah dinginnya lantai rumah sakit.
Keyzro berlari cepat menghampiri Merry, mendekap erat tubuh mungil yang tengah bergetar hebat.
"Sstt...ada aku disini..." ucap Keyzro mengelus lembut punggung Merry.
"Hiks...hiks...oppa...hiks...hu...hu...hiks..."
"Sttt...sttt...sttt..." Keyzro terus mengelus punggung Merry sembari sesekali menyeka kasar air matanya.
"Sakit rasanya melihatmu menangisi pria lain...tapi...aku yakin...suatu hari nanti kita akan bersama...Myzro And Kymy akan segera bersatu...hiks..."
"Hu...hu...hu...belum sampai tiga bulan, dia bilang bisa bertahan tiga bulan oppa...hiks...hiks...belum tiga bulan...hiks...dia bohong...hiks..."
"Sstt...Myzro...aku yakin dia akan bertahan lebih lama untuk bisa bersamamu...sabar Myzro...snff..." Keyzro membantu Merry berdiri lalu duduk di ruang tunggu.
Merry menatap lurus ke depan, tatapan kosong karena pikirannya kini melayang tak tentu arah. Tak habis air mata Merry terus mengalir tanpa permisi. Meski tatapannya kosong tapi terselip kedukaan di dalamnya.
"Hufff...aku harus kuat..." gumam Keyzro dalam hati.
"Minum dulu Myzro..." Keyzro menyondorkan air mineral.
Merry tak bergeming masih terdiam mematung.
"Hm..." Merry menunduk menatap Keyzro yang berlutut di hadapannya.
"Ada aku...hm..." Keyzro memberi isyarat anggukan tersenyum tipis.
"Snff...hm...hiks...hiks..." Merry mengangguk cepat.
"Mama!!!"
Suara teriakan datang dari bibir mungil Rasya putra bungsu Merry.
Merry merentangkan kedua tangan tersenyum dalam tangis.
"Papa kenapa mah?" Tanya Rasya begitu dalam pelukan sang ibu.
"Papa sakit nak..." jawab Merry dengan suara bergetar menahan tangis.
"Mama jangan nangis...papa pasti sembuh mah..." Rasya mengusap lembut air mata sang ibu.
"Hm..." Merry kembali mengangguk.
"Gimana papa mah?" Pertanyaan selanjutnya datang dari Reynata.
Reynata, Rasyid dan Rayni turut datang memberi kekuatan untuk sang ibu. Mereka bertiga juga membawa Eva dan juga Hamif.
"Ibu...bapak..." desis Merry beralih memeluk Eva.
__ADS_1
"Sttt...sabar nak...snff..." Eva mengusap lembut lengan kanan Merry.
"Sabar ya nak...doa yang terbaik untuk kesembuhan Charles..." kata Hamif menepuk-nepuk pucuk kepala Merry.
"Ayah...ibu..." sapa Keyzro menyalami Eva dan Hamif secara bergantian.
"Terima kasih nak...sudah menemani Merry..." ucap Hamif menepuk pundak kanan Keyzro.
"Sama-sama yah..." sahut Keyzro.
Setelah menunggu sekitar tiga jam, akhirnya seorang Dokter keluar dari ruang UGD.
"Keluarga pasien?" Dokter menoleh ke arah kerumunan Merry beserta keluarga.
"Saya istrinya Dok..." sahut Merry.
"Pasien dalam keadaan kritis...kami hanya bisa mengucapkan kata maaf...karena kanker yang diderita pasien sudah menyebar luas, sangat terlambat kalaupun kita melakukan tindakan operasi, itu tak akan menjamin keselamatan pasien..." kata sang Dokter menunduk hormat.
"Snff...hiks...hiks...apa saya boleh melihat suami saya Dok?" Pinta Merry.
"Hm...silahkan..." sang Dokter mengangguk.
Tertatih-tatih Merry berjalan masuk ke dalam ruang UGD, sesampainya ia di hadapan Charles ia kembali menangis pilu, bagaimana tidak sedih dan teriris hatinya, melihat tubuh suaminya dipenuhi oleh peralatan medis yang menempel disana.
Charles menyadari kedatangan Merry, dengan lemah ia merentangkan kedua tangan tersenyum tipis ke arah sang istri tercinta.
"Dasar pembohong! Hiks..." gumam Merry.
Rasa takut akan kehilangan sosok pria baik seperti Charles membuat Merry amat sangat bersedih, ia memeluk tubuh Charles yang terbaring lemah.
"Hiks...kamu bilang tiga bulan kan? Ini baru tiga hari kita menikah...kamu sudah mau pergi meninggalkan aku...hiks...kamu jahat Char...hiks..."
"Tiga hari terasa seperti tiga bulan bagi ku...Queen..." ucap Charles.
"Jangan pergi! Ku mohon bertahanlah...untuk aku ya...hm..." pinta Merry.
Charles menggeleng lemah."Tidak ada waktu lagi Queen..."
"Charles..." desis Merry.
"Queen...aku ingin mencium bibir mu..." ujar Charles.
Merry terdiam sejenak kemudian menangkup wajah Charles, sedikit memiringkan kepala, ia mencium sekilas bibir Charles.
Charles tersenyum tipis sesaat ciuman sekilas berakhir, ia menarik tengkuk leher Merry, memberi ****** lembut, gerakan tangan namun itu semua ia nikmati untuk kali terakhir sebelum akhirnya ia menyudahi ****** itu.
"Jaga dirimu..." ucap Charles.
Merry mencium kening Charles setelah itu...Charles pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman manis menghiasi bibirnya yang pucat.
"Charleesssss!!!! Arrgggghhhh!!!" Merry berteriak histeris memeluk kembali tubuh Charles yang hanya tinggal raganya saja.
"Hu...hu...hu...hiks...hiks...hiks..."
***
**
__ADS_1
*
See you chapter guys...ðŸ˜