Superstar In Love With Single Mom

Superstar In Love With Single Mom
Season 2 {bagian 28}


__ADS_3

Paris pukul 09:30 pagi


Georgio adalah seorang mantan mafia "The Blodd of Black", sudah lebih dari 30 tahun lamanya ia meninggalkan dunia hitam dikarenakan ia melanggar aturan, aturan yang dimaksud itu ialah Pernikahan sedarah, seharusnya ia menikah dengan Briana Vactorika putri dari pamannya, tapi...jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sang istri membuat ia menentang pernikahan yang sudah diatur oleh pimpinan Geng mafia Victor Vactorika.


Semula ia menggantikan Victor yang sudah pensiun karena usia Victor yang sudah tak muda lagi, akan tetapi kini ia mau tidak mau mendatangi markas mafia "The Blodd of Black" karena mendapat kabar jika mantan tunangannya itu yaitu Briana tengah sakit keras dan hidupnya dipastikan tidak akan bertahan lama lagi.


Didampingi oleh anak laki-lakinya Jhony, ia tiba di sebuah manssion mewah berhiasi pilar-pilar terbuat dari emas murni.


"Kau sudah datang Gi..." kata seorang wanita paruh baya tersenyum tipis menyambut kedatangan Georgio.


"Aku datang Bri..." sahut Georgio sembari melangkah menghampiri wanita paruh baya tadi.


"Bagaimana keadaanmu bibi Briana?" Tanya Jhony.


"Seperti yang kau lihat Jhon...aku lemah...hm..." jawab Briana wanita paruh baya yang hanya bisa terbaring di atas tempat tidur.


"Untuk apa kau memanggilku Bri?" Tanya Georgio langsung ke intinya.


Briana tersenyum lirih sembari meraih sebuah berkas yang ia letakkan di sampingnya lalu memberikan berkas itu pada Georgio.


Betapa terkejutnya Georgio kala ia melihat isi berkas tersebut.


"Apa ini Bri? Apa kau serius memberikan ini semua untuk putriku Keyra???"


"Hm...putrimu adalah putriku juga...tapi tentu aku memiliki syarat Gi..."


"Apa???" Tanya Georgio.


Briana berbisik ke telinga Georgio, bisikan dari Briana berhasil membuat lidah Georgio keluh.


"Ku mohon...hanya itu permintaan terakhir dariku..." ucap Briana.


"Tapi Bri...dia...putriku tidak tahu jika ia adalah..."


"Sampai kapan kau menyembunyikan kebenaran darinya Gi?" Cecar Briana geram.


"Bri...aku masih takut untuk memberitahu yang sebenarnya pada putriku..." aku Georgio.


"Gi...jika ia tahu siapa dirinya yang sebenarnya, belum terlambat melatihnya untuk menjadi wanita kuat, selagi ia masih muda, kau harus mempersiapkan segala kemungkinan, jika permintaanku kau kabulkan, maka ia akan selamat dari para pemburuh darah sialan itu!" Ungkap Briana.


"Akan aku pikirkan permintaanmu itu Briana...kau istirahatlah..." kata Georgio.


"Jhon...jaga adikmu...jangan sampai ia berada ditangan Abraham Veth...kau tahu maksud ucapanku kan???" Kata Briana menoleh pada Jhony.


"Aku mengerti bibi Bri..." sahut Jhony.


Georgio dan Jhony kembali ke manssion mereka, disana Georgio masih memikirkan permintaan tak masuk akal dari Briana. Ia merasa jika ia mengabulkan permintaan Briana, itu semua akan membuat Merry terbebani. Bagaimana bisa ia memberikan beban seberat itu untuk putrinya yang baru saja ia temukan.


"Dad...apa yang diminta oleh bibi Briana?" Tanya Jhony.


"Kita harus ke Indonesia sekarang, genk The Blodd of Devil sudah bertindak" kata Georgio.


"Sialan pria tua itu, ia menolak untuk tua hanya karena putranya yang sakit-sakitan itu"


"Kebodohannya yang percaya pada pendeta jadi-jadian itu-lah yang membuat ia menolak untuk tua, ia bahkan jauh lebih ingin awet muda daripada menyelamatkan putranya" ungkap Georgio.


"Dad...sudah berapa banyak gadis yang ia bunuh! Haruskah adikku menjadi korban berikutnya?" Keluh Jhony.


"Aku tidak akan membiarkan ia mendapatkan apa yang ia inginkan! Bahkan setetes darah putriku tak akan aku berikan padanya!"


"Aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku ini jika ia berani menyentuh adikku!!!" Kata Jhony menggebuh-gebuh.


Sementara di Indonesia, Merry sedang bekerja di Cafe miliknya, ia fokus pada layar laptop dihadapannya tanpa menoleh sama sekali. Sampai tiba saatnya Inez datang masuk ke dalam ruangannya.


"Masih kerja aja bu...enggak capek lo?!" Kata Inez tersenyum miring.


"Eh...lo Nez...apa kabar?" Merry menoleh sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


"Lo seriusan nih Mer mau nyuekin gue?" Rengek Inez.


"Ck...lo daripada ngerengek nggak jelas mending bantuin gue!" Sahut Merry datar.

__ADS_1


"Boleh...emang ada masalah apa Mer? Kok muke lo nggak enak banget diliatnya?"


"Ini loh Nez...gue bingung deh...kok bisa ada dua nota pembelian mesin kopi, seinget gue sih ibu pernah ijin ke gue buat beli mesin pembuat kopi yang baru sebulan yang lalu tapi kok bulan berikutnya ada nota pembelian lagi? Seharusnya kalau memang beli dua, mesin pembuat kopi ada empat dong, kok ini cuma ada tiga, lo liat kan di depan cuma ada tiga?" Terang Merry.


"Eh...iya juga ya Mer...kok bisa? Karyawan lo ada yang korup tuh!" Celetuk Inez.


"Masa sih?" Merry mengkerutkan alis.


"Mer...lo liat deh...ini laporan keuangan tiga bulan yang lalu juga rada aneh deh, padahal cafe lo rame bingitz kok bisa sih hasilnya cuma segini?" Inez memperhatikan berkas-berkas file yang ada di layar laptop.


"Oh ya...bener...gue baru nyadar" Merry berdiri dari duduknya segera beranjak menuju ruang keamanan.


Tok Tok Tok


"Maaf...Pak Boyke, saya minta rekaman CCTV dari tiga bulan yang lalu ya pak...tepatnya dari bulan Oktober sampai Desember...segera ya!!!" Titah Merry begitu masuk ke dalam ruang keamanan yang letaknya bersebelahan dengan ruang kerjanya.


"Siap bu!!!" Sahut Akbar Boy seorang petugas keamanan.


"Makasih ya..." ucap Merry lalu kembali ke ruangannya.


Beberapa jam kemudian...sekitar empat jam Merry mengamati CCTV, benar saja dugaan Inez, seorang karyawan Merry yang akrab di sapa Yanto membuang beberapa bon pembayaran setiap hari tanpa diketahui oleh ibu Eva yang selama ini turut andil mengawasi cafe milik Merry Reynata.


"Huff...bisa minta tolong Nez...suruh karyawan gue ngumpul disini dan tolong juga panggil Chacha dan kak Dian ya...bantu layanin pelanggan, sementara gue introgasi karyawan-karyawan gue" Merry menghembuskan nafas kesal.


"Okay!" Sahut Inez.


Tak lama menunggu, Chacha dan Dian asisten Keyzro datang ke cafe, dan...sekarang ini Merry dengan wajahnya yang sudah sangat gusar mengintrogasi ketujuh karyawannya.


"Dani...Lina...Chika...Yanto...Bilar...Lenda, kalian berlima itu lebih sering berada di dekat mesin kasir kan?" Kata Merry memandangi satu persatu wajah karyawan-karyawannya.


"Iya bu..." sahut kelima karyawan Merry.


"Nabila...Tika...kalian jarang berada di dekat mesin kasir tapi bukan berarti kalian aman!"


"Aman??? Emang ada apa sih bu?" Tanya Tika memucat wajahnya.


"Setiap kali clossing siapa yang membuat laporannya?" Tanya balik Merry.


"Tika...Yanto...maaf...saya tidak bisa mempekerjakan kalian lagi!" Kata Merry.


"Loh kenapa bu? Saya salah apa?" Protes Yanto.


"Karena kalian berdua sudah korupsi dicafe saya!!! Saya punya bukti kejahatan kalian! Dan ada saksinya!" Kata Merry sedikit menyentak.


"Nggak bu...saya nggak pernah korupsi" kata Tika.


"Ini...catatan penghasilan kita selama tiga bulan, cafe sedang ramai-ramainya pada bulan Oktober sampai bulan Desember yaitu bulan ini...dan camera CCTV yang sengaja saya pasang tersembunyi di balik mesin kasir itu merekam semua kelakuan buruk kalian!" Ungkap Merry.


"Gimana nih...sandra bisa ngambek kalau aku sampai dipecat" batin Yanto.


"Sialan! ****** goblok ini bisa-bisanya ngejebak gue!" batin Tika.


"Dan...Nabila...kamu maju..." titah Merry.


"Iya bu..." seorang gadis yang baru sja alulus Sekolah Menengah Akhir maju kehadapan Merry.


"Kamu jelaskan disini, kapan kamu melihat Yanto dan Tika bergantian membuang struk pembayaran" titah Merry lagi.


"Sudah lebih dari beberapa kali bu, saya tidak bisa menghitungnya, yang jelas saya melihat dengan mata kepala saya sendiri...mereka berdua sering membuang struk ke dalam tong sampah" ungkap Nabila si gadis cantik berwajah imut.


"Kurang ajar lo ya fitnah gue!" Teriak Tika marah.


"Cukup!!!" Bentak Merry semakin geram.


"Tapi bu...saya beneran nggak...-" Tika hendak meraih tangan Merry namun segera ditepis oleh Merry.


"Tika...saya kecewa sama kamu ya...kamu karyawan pertama saya, kok tega sekali kamu melakukan ini semua pada saya? Jika kamu butuh uang...katakan saja, saya bisa memberikannya tanpa kamu harus meminjamnya" kata Merry.


"Tapi bu.-"


"Sekarang...kemasi barang-barang kalian! Mulai hari ini...kalian saya pecat!" Kata Merry sembari duduk di kursi belakang meja kerjanya.

__ADS_1


Sepergian dua karyawan itu yaitu Yanto dan Tika, Merry masih di tempatnya, ia memijat keningnya beberapa kali kemudian ia berkata."Kalian berlima...kembali bekerja...dan ingat...mereka berdua jadi pembelajaran bagi kalian semua agar tidak melakukan apa yang sudah mereka lakukan, paham!"


"Paham!!!" Sahut kelima karyawan Merry.


"Oh ya...Dani...Bilar...kalian kesini...saya mau memberikan sesuatu" kata Merry pada dua pria yang berumur kepala tiga.


"Iya bu..." sahut Dani dan Bilar.


"Ini...uang buat biaya operasi cesar istri kamu Bilar...dan ini...untuk kamu Dani...selamat atas pernikahan kamu ya...maaf saya tidak bisa hadir..." kata Merry sembari memberikan masing-masing aplop berwarna putih pada Dani dan juga Bilar.


"Bu...ini kebanyakan, saya nikah loh bu...bukan mau buka usaha pecel lele!" Seru Dani tak percaya dengan ketebalan amplop yang ia pegang.


"Ambil saja...hitung-hitung aku bantuin kamu buat Dp rumah...kan ibu kamu bawel, kasihan istri kamu...lebih baik kamu tinggal terpisah dengan orang tua kamu...hehe" Merry bergurau di akhir kalimat.


"Eh...bu Merry tau aja istri sama ibu saya sering berantem...hehe...jadi malu saya" Dani menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Hmm...dah...kerja sana!" Merry tersenyum tipis menggibas-gibaskan tangan kanannya.


"Terima kasih bu!" Ucap Dani langsung keluar ruangan.


"Loh...Bil...ada apa? Uangnya kurang?" Tanya Merry bingung akan sikap Bilar karyawan yang terkenal ganteng di cafe miliknya.


"Bu..uuu...kan bu..." sahut Bilar tergagap.


"Terus?" Merry memiringkan kepala ke sisi kanan.


"Istri saya nggak jadi di cesar bu...lahiran normal..." Bilar menunduk sembari menaruh amplop putih di atas meja.


"Huf...ada-ada aja kamu ya..." Merry menghelahkan nafas sejenak."Anggap aja itu hadiah dari saya untuk anak kamu..."


"Hahhh...yang bener bu?" Bilar melotot terkejut.


"Hm..." Merry mengangguk.


"Terima kasih bu...terima kasih banyak!" Ucap Bilar kemudian berlari keluar ruangan.


"Ck...dasar..." Merry geleng-geleng kepala.


Keesokan harinya Merry masih bekerja di cafe miliknya, sementara mencari karyawan pengganti Yanto dan Tika, ia membantu para karyawannya melayani para pelanggan.


"Lenda...Bilar...cake stawberry sudah jadi apa belum?" Tanya Merry begitu masuk ke dalam dapur cafe.


"Sebentar lagi bu..." sahut Lenda koki cantik berparas ayu dengan menoleh sekilas.


"Okay...Bil...tolong kalau sudah di potong-potong cake-nya kamu pajang di luar ya..." titah Merry.


"Baik bu..." sahut Bilar.


Sementara kedua koki-nya membuat cake, Merry kembali melayani pelanggan cafe, ia bahkan tidak ragu turut ikut membersihkan meja bekas para pelanggan yang datang.


Sedang asik membersihkan meja sebuah tangan pucat menggenggam pergelangan tangan Merry membuat ia menoleh.


"Permisi...saya mau memesan sesuatu" kata seorang pria bule.


"Ini orang ya??? Kok bisa pucet amat kayak vampir?" Pikir Merry dalam hati.


"Silahkan ke kasir dulu pak...saya masih membersihkan meja" kata Merry.


"Saya mau...anda yang melayani saya" kata pria bule itu.


"Loh..." Merry melongo bingung.


*


*


*


Siapa ya kira-kira pria bule itu???


***see you next chapter😚

__ADS_1


__ADS_2