
Suasana tegang dan mencekam di kediaman Hernandez karena perkataan ibu Keyzro Kim Mi-Rae sangat-sangatlah keterlaluan dan juga sangat kasar. Melihat Merry yang nampak tegar tanpa guratan kesedihan membuat hati Darrel meradang. Ia lantas memeluk bahu Merry enggan melepaskannya bangsa sedetik pun.
"Kamu bisa kan kalau ngomong tuh enggak kasar Mi-Rae?" Hernandez menatap tajam Kim Mi Rae yang menampilkan wajah angkuh.
"Kamu tuh sahabat aku Her, kok kamu membela dia?" Sentak Mi-Rae marah.
"Ibu...untuk apa memanggilku?" Keyzro berteriak begitu masuk ke dalam rumah Hernandez.
"Kau sudah datang?" Mi-Rae menghampiri Keyzro berlari kecil.
"Ibu...aku kira cukup dulu ibu sudah membuatku kehilangan dia..." kata Keyzro melirik Merry sekilas.
"Karena itu ibu datang nak...ibu mau menebus kesalahan ibu padamu" kata Mi-Rae memberikan jawaban yang tak jelas malah terkesan ambigu bagi siapapun yang mendengarnya.
"Maksud ibu?" Tanya Keyzro.
"Sayang...keluarlah..." panggil Mi-Rae pada seseorang entah itu siapa?
Seorang wanita muda cantik secantik aktris K-Pop berdiri di belakang Merry dan Darrel.
"Lee Yoo Na..." desis Keyzro sembari berjalan cepat melewati Merry begitu saja.
Bruggghhhh...
Keyzro memeluk wanita muda yang ia sebutkan namanya tadi tanpa mempedulikan Merry yang juga ada disana.
"Oppa...hiks...aku merindukanmu" wanita muda yang bernama Yoo-Na itu menangis dipelukan Keyzro.(menggunakan bahasa Korea)
"Kamu masih hidup...syukurlah..." Keyzro menitikan air mata masih memeluk Yoo-Na.
Merry berekspresi datar melihat adegan yang sering ia lihat DRAKOR.
"Rel...aku pulang dulu ya..." pamit Merry menepis lembut tangan kiri Darrel.
"Jangan pulang dulu dong Mer...baru juga nyampe..." kata Hernandez menggengam kedua tangan Merry.
Keyzro membulatkan kedua bola mata mendengar nama Merry. Ia pun tersadar menoleh ke sumber suara.
"Myzro..." desis Keyzro.
"Oppa..." panggil Yoo-Na menarik lembut bahu kiri Keyzro.
Keyzro menoleh sekilas lalu kembali memandang wajah Merry yang tanpa ekspresi.
"Maaf ibu Her...aku lelah banget hari ini, lain kali aku main lagi deh..." kata Merry tersenyum lembut mencium punggung tangan Hernandez.
"Ck...enggak mau! Pokoknya kamu harus makan malam dulu disini! Titik!!!" Kata Hernandez tegas.
"Rel..." Merry menoleh ke arah Darrel.
"Yuk! Makan malam sudah siap tuh!" Kata Darrel sembari meraih tangan kanan Merry lalu menggenggamnya dengan erat.
Merry terpaksa makan malam di rumah Hernandez walaupun suasana sangat tidak mengenakan bagi dirinya. Terlebih lagi sekarang ia harus terus membuka mulutnya karena Hernandez menyuapinya makan seperti anak kecil yang disuapi oleh ibu kandungnya.
"Nah...makan yang banyak Mer...biar cepet gede...hehehe" gurau Hernandez menyeka lembut sudut bibir Merry yang belepotan minyak.
"Ehmmm...udah kenyang bu..." Merry susah payah menelan makanannya.
"Mom...bisa meledak perut Merry..." tegur Darrel memperingati sang ibu yang masih mau menyuapi Merry.
"Ck...diem deh!" Hernandez melotot galak.
Brakkkk...
Mi-Rae ibu dari Keyzro sudah tidak tahan melihat perhatian Hernandez yang terkesan sangat berlebihan, menggebrak meja makan sembari beranjak berdiri.
"Her...aku tidak kelihatan ya di mata kamu?" Tegur Mi-Rae kesal.
"Huh...kamu kan sudah tua, makan bisa kan pakai tangan sendiri" sahut Hernandez santai.
"Ibu...cukup!" Kata Keyzro memperingati sang ibu untuk tidak membuat keributan.
__ADS_1
"Oppa...malam ini aku menginap di tempat oppa ya..." rengek Yoo-Na mengamit lengan kanan Keyzro.
"Ahh...itu..." Keyzro melirik Merry.
Merry tidak mempedulikan Keyzro sama sekali. Ia fokus pada Hernandez yang mengajak ia mengobrol.
Keyzro menunduk sedih."Ayo kita pulang!" Ajak Keyzro pada Yoo-Na.
Yoo-Na melompat kegirangan, ia dan Keyzro juga Mi-Rae berpamitan pada Hernandez.
"Kami pulang dulu!" Kata Keyzro dan Yoo-Na menggunakan bahasa Inggris.
"Hm..." Hernandez mengangguk tak peduli.
"Aku pamit ya...besok aku akan kembali ke Korea" pamit Mi-Rae cipika-cipiki dengan Hernandez.
"Hmm...syukurlah mereka semua pergi" gumam Hernandez sembari memandang keluar pintu rumahnya.
"Kalau gitu aku juga pamit ya..." kata Merry berdiri dari tempatnya.
"Jangan pulang kak..." pinta seorang gadis remaja pada Merry.
Gadis remaja itu adalah adik kandung Darrel, sedari tadi ia hanya diam saja menyaksikan pertengkaran yang tak berfaedah antara ibunya dan ibunya Keyzro Kim Mi Rae.
Gadis remaja itu berumur sekitar 16 tahun, ia nampak imut dengan wajah pipih disertai mata bulat yang dihiasi bulu mata nan lentik. Adik Darrel ini memang tidak banyak bicara sama seperti sang kakak Darrel akan tetapi ia jauh lebih sulit untuk menerima orang baru dalam ruang lingkup pergaulan sehari-hari.
"Eh...Emelly...dari tadi baru kedengeran suaranya...hehe" gurau Merry tertawa kecil.
"Hmm...aku mau kakak menginap disini...mau ya..." pinta Emelly malu-malu menarik-narik lengan kemeja Merry.
"Eh..." Merry mengkerutkan alis.
"Pak Hamif dan Eva juga anak-anak kamu kan lagi pergi ke Solo, kamu nginap aja disini sampai mereka pulang" kata Hernandez.
"Itu...aku..." Merry celingak-celinguk kebingungan.
"Yuk ke kamar aku kak!" Emelly menarik cepat tangan kanan Merry berlari kecil menaiki anak tangga.
Sekarang disinilah Merry berada, Emely berbaring di paha Merry sembari memainkan ponsel pintarnya. Merry termenung membelai-belai kepala Emelly.
"Kak..." panggil Emelly.
"Hahh...iya..." Merry tersentak lalu menurunkan pandangannya.
"Kakak tau enggak itu cewek siapa?" Tanya Emelly.
"Cewek? Yang mana?" Tanya balik Merry.
"Itu loh yang dibawa sama nenek lampir!" Jawab Emelly polos.
"Hehehe...nenek lampir...ada-ada aja kamu ya..." Merry mencubit gemas hidung mancung Emelly.
"Kak...kakak jangan sedih ya..." kata Emelly dengan mata berkaca-kaca.
"Loh...kenapa juga kakak harus sedih-sedihan sih Ly..." kata Merry tersenyum tipis.
"Kembalinya masa lalu Keyzro...mungkin akan menjadi hambatan untuk hubungan kakak sama kak Keyz" kata Emelly sudah basah wajahnya penuh air mata.
"Sttt...cup...cup...jangan nangis...kakak okay kok..." Merry kembali membelai kepala Emelly, sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak tumpah ruah.
"Kak...aku tuh dari dulu pengen deh punya kakak perempuan" kata Emelly tiba-tiba saja menghapus kasar air matanya.
"Kan ada Jessica, pacarnya kak Darrel, kamu bisa main sama dia Ly..." kata Merry masih membelai kepala Emelly.
"Huh...dia mah enggak seru kak, kalau main sama dia kalau enggak nge-mall pergi ke tempat dugem" gerutu Emelly lalu duduk berhadapan dengan Merry.
"Kak...aku lagi punya hoby jadi fotografer, kakak jadi model aku mau ya..." rengek Emelly manja.
"Eh...aku??? Jadi model?" Merry geleng-geleng kepala.
"Iya...mulai hari ini kakak adalah kakak ipar aku ya..." celoteh Emelly polos.
__ADS_1
"Aduh...kita tidur aja yuk! Kamu ngomong ngawur gitu..." keluh Merry sembari berbaring.
"Kakak enggak mau ya? Hiks..." Emelly kembali menangis.
"Aishhhh...ada-ada aja cobaan gue..." batin Merry lirih.
"Iya...kakak mau...sekarang kita tidur yuk!" Merry tersenyum menepuk-nepuk bantal di sisi kirinya.
"Yeaahhhh...asik...makasih kak..." Emelly kegirangan melompat ke pelukan Merry.
"Iya-in aja dulu deh..." batin Merry lalu menutup mata.
"Betul kan yang mommy bilang, dia tuh tegar banget! Mommy makin suka deh sama Merry..." bisik Hernandez memandangi wajah Merry yang tertidur pulas.
"Mom...hati dan perasaan itu sepenuhnya hak Merry, jadi...jangan memaksakan kehendak mommy ya..." kata Darrel beranjak pergi ke kamarnya.
"Terkadang hati manusia itu memang seperti lautan...kita tidak bisa memprediksi apa yang ada di dalamnya, entah itu badai atau ombak...kita enggak akan tahu...isinya..." gumam Hernandez dalam hati.
Kesokan harinya, kembali ke rutinitas sehari-hari sebagai seorang pembantu umum. Merry terlihat baik-baik saja, hanya nampak dari luar ia seperti tidak ada masalah, begitulah seorang Merry Reynata yang selalu enggan berbagi kesedihan bahkan pada sang putri tertua ia juga enggan menceritakan masalahnya.
Disini Merry harus berhadapan dengan Vero yang sudah sedikit melunak. Vero sudah menyadari satu hal...jika cinta tak harus memiliki dan jika perasaan tidak dapat dipaksakan. Vero menemui Merru sebagai seorang teman. Ia mengulurkan tangan kanan pada Merry yang sedang menyiapkan kopi untuk para kru.
"Kak...aku sadar...kalau cinta tidak bisa dipaksakan...jadi...kita berteman aja ya..." pinta Vero menatap nanar mata Merry yang memerah.
"Hmm...kita berteman..." Merry menyambut uluran tangan Vero tersenyum dalam tangis.
"Kak...jangan nangis dong...aku kan jadi sedih..." pinta Vero memeluk Merry.
"Hiks...maaf mas Vero...hiks...maaf..." Merry menangis lirih.
"Kakak enggak salah...kan aku bilang tadi...cinta enggak bisa dipaksakan...hmm..." Vero menyeka air mata Merry dengan ibu jarinya yang lentik.
"Hmm..." Merry mengangguk.
"Sesakit ini memulai hubungan yang baru...apakah keputusan aku untuk menerima oppa adalah keputusan yang salah...?" Batin Merry merontah-rontah.
"Snfff...aku kerja lagi ya..." pamit Merry tersenyum tipis.
"Ada yang enggak beres" gumam Vero.
"Peka juga lo!" Tegur Darrel menepuk bahu kanan Vero.
Vero menoleh ke belakang.
"Maksud lo?" Vero mendelik tajam pada Darrel.
"Merry bilang...jangan kasih tahu siapa-siapa masalah dia dan Keyzro hyung..." kata Darrel lalu meninggalkan Vero yang terdiam mematung.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Batin Vero.
***
**
*
Loh kok tiba-tiba ada pelakor sih?
Nah...ujian cinta Keyzro dan Merry baru dimulai...
Yuk
Like
Coment
Vote
Dan juga share...
See you...
__ADS_1
Next episode...