Superstar In Love With Single Mom

Superstar In Love With Single Mom
Season 2 {bagian 18}


__ADS_3

Sebulan yang lalu...


Seoul Korea Selatan...


Di sebuah kamar super luas, duduklah seorang pria yang tengah sibuk dengan laptopnya, sesekali ia memijat keningnya merasakan pusing mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk.


Tok Tok Tok


"Masuk!" Titah pria itu tanpa menoleh.


"Kau masih bekerja? Tidakkah kau lelah MinHyuk?" Seorang pria masuk melemparkan pertanyaan pada pria yang masih sibuk mengetik.


"Oh...Minjun hyung..."


"MinHyuk...apa setelah bercerai kau akan menemuinya?" Tanya Minjun.


"Entahlah..."


"Hufff...temuilah ia...mengenai ibu...biar aku dan ayah yang membujuknya nanti"


"Hyung..." MinHyuk yang tak lain adalah Keyzro berdiri dari duduknya berjalan menghampiri Minjun."Aku terlalu takut juga malu untuk bertemu dengannya..."


"Hmm...MinHyuk...kau yang membuat perkara, maka kau juga yang harus menyelesaikan perkara itu, soal HyeJi...dia akan jadi tanggung jawabku, sudahi rasa bersalahmu pada YooNa, dia juga pasti akan merasa sedih jika kau tidak bahagia"


"Snfff...hiks...sakit hyung...rasanya sangat sakit disini...hiks...hiks..." Keyzro menangis mencengkram dadanya.


"HyeJi sudah tahu semuanya, jadi...dia tidak akan memaksamu lagi, karena itu ia menggugat cerai dirimu..."


"Hiks...sesak...hiks...sesak rasanya hyung...sehari saja aku memalui hari disini tanpa dirinya, rasanya sesak hyung...benar-benar sesak...hiks...hiks...aku sangat merindukannya...hiks...hiks..."


"Huff...temuilah ia MinHyuk..." Minjun menepuk-nepuk pundak sang adik.


"Tapi..."


"Ini...tiket untukmu dan Apartemen yang kau beli disana, ada Dian Asistenmu yang menjaganya untukmu! Kau beruntung dia masih menunggumu..." Minjun memberikan selembar tiket pesawat pada tangan kanan Keyzro kemudia ia berlenggang pergi.


"Merry...Myzro...너무 보고 싶어 (Neomu Bogosipeo)..." desis Keyzro lirih.


Flashback off...


Keesokan harinya...


Sinar matahari masuk dari celah-celah jendela kamar megah milik Merry Reynata, ia menyipitkan sebelah matanya kala seseorang membuka tirai jendela kamarnya.


"Kak...mama masih ngantuk ih..." Merry membalikan badan menarik selimutnya hendak kembali tidur.


"Kebiasaan mama tuh...selesai sholat molor sampai siang...hadeuhhh..." omel Rayni anak kedua Merry.


"Kak...mama ngantuk banget nih...hiks..."


"Ishh...mama kayak anak kecil aja! Dah ah...Rayni mau siap-siap sekolah sama oma baik...bye...muach..." Rayni pamit mencium kening Merry lalu pergi.


"Ck...anak ini ya..." Merry menggerutu gemas tersenyum tipis memandangi punggung sang putri sampai menghilang dari balik pintu.


Selepas kepergian sang putri, Merry memutuskan untuk membersihkan diri, usai mandi dan berganti pakaian olahraga. Merry menuruni anak tangga kemudian keluar dari rumahnya.


"Mau joging bu..." sapa pak satpam pada Merry.


"Iya pak Dodo...jagain rumahnya...takut ada yang bopong...hehe" sahut Merry bergurau renyah.


"Siap 86 bu..." pak Dodo satpam yang bekerja di rumahnya.


Rumah dan fasilitas yang ada, itu semua Merry dapatkan dari Georgio sebagai uang kompensasi atas kejadian yang menimpahnya sewaktu ia berada di Paris. Meski itu semua hanya alasan yang dibuat-buat olehnya untuk memastikan kenyaman sang putri dari kejauhan.

__ADS_1


Georgio sampai detik ini tidak mengungkapkan kebenaran siapa Merry sebenarnya karena ia ingin sang putri jauh dari marabahaya. Kehidupan yang dijalani oleh Georgio disana penuh dengan lingkaran gelap, sudah sejak lama ia keluar dari jaringan hitam tapi masih saja ada beberapa kelompok yang selalu mencari gara-gara dengannya.


Itu sebabnya alih-alih ia mengungkapkan kebenaran ia lebih memilih membungkam semuanya untuk kebaikan sang putri.


Kembali pada Merry yang berlari mengitari sebuah taman yang sangat luas yang menjadi fasilitas dari Perumahan Mewah tempat kini ia tinggal. Perumahan Mewah tersebut rata-rata berharga puluhan milyar, maka dari itu Merry sempat menolak pemberian Georgio akan tetapi ia tak kuasa menolak kala Georgio menangis memohon agar ia menerima semua pemberiannya. Bukan hanya Rumah, Georgio juga memberikan mobil beserta supir pribadi yang tampan, supir itu ia datangkan langsung dari negaranya, seorang pria bule tampan masih muda pula.


Selain mobil, ada juga motor dan sebuah kafe itu semua Georgio berikan pada Merry dengan alasan yang sama.


"Hoshhh...hoshhh...hoshhh..." deruh nafas hangat Merry hembuskan perlahan.


Sekitar satu jam berlalu Merry beristirahat di bangku panjang yang tersedia di taman tersebut. Ia memandang ke langit yang cerah tanpa celah, matahari terik disertai langit dan dihiasi awan putih nampak sangat indah pemandangan pagi ini.


"Hufff...haruskah masa lalu terulang kembali??? Jujur saja...aku kangen banget...sampai aku ingin rasanya memeluk dia tapi..."


Tes Tes Tes


Air mata tanpa diminta menyeruak keluar dari pelupuk mata Merry, ia menangis tanpa suara masih memandang ke atas langit.


"Myzro..."


"Oppa!!!" Pekik Merry melotot kaget lalu membalikan badan hendak pergi.


Greppp


Keyzro menahan pergelangan tangan kanan Merry."Aku kangen..."


"Hm...aku harus pulang mas Keyz..." kata Merry menghapus kasar air matanya."Aku duluan mas..." Merry melepaskan tangan kiri Keyzro dari tangannya.


Grepppp


Keyzro mendekap Merry dari arah belakang.


"Maaf...maaf Myzro...hiks...aku juga tersiksa disana...hiks...aku menyesal telah menyakiti hati kamu...maaf..."


Merry meloloskan diri dari dekapan Keyzro berlari sekencang mungkin meninggalkan Keyzro yang berdiri mematung.


Merry terus berlari tanpa menoleh.


Tiba-tiba...


Ckkiittttt...


Sebuah motor sport berhenti tepat di depan Merry. Merry terjatuh duduk ditengah jalan.


"Merry...kamu enggak apa-apa???" Tanya suara pria terdengar sangat panik.


"Darrel..." desis Merry menongak."Hiks...hiks...Darrel...hiks..."


"Kenapa?" Darrel berlutut satu kaki.


Merry langsung memeluk Darrel dengan sangat erat sembari terus menangis.


"Sttt...ssttt...sttt..." Darrel mengelus punggung Merry.


"Hiks...hiks...hiks...hiks...hiks..."


"Ssttt...sekarang kita pulang ya..." Darrel menggendong Merry ala koala.


Sekitar 10 menit mereka tiba di rumah mewah dengan pagar hitam menjulang tinggi. Darrel memarkirkan motornya setelah itu ia kembali menggendong Merry masuk ke dalam rumah. Eva yang melihat kedatangan Darrel dan Merry langsung menghampiri mereka dengan tatapan penuh kecemasan.


"Kenapa Merry...Rel???"


"Aku juga enggak tahu tante..."

__ADS_1


"Udah...langsung ke kamarnya aja ya...tante buatin minum dulu...kamu mau minum apa Rel?"


"Apa aja tante..." jawab Darrel sembari menaiki anak tangga.


Di dalam kamarnya Merry belum juga turun dari gendongan Darrel, saat Darrel hendak mendudukan Merry, ia justru tak mampu melawan tenaga Merry yang jauh lebih kuat memeluk ceruk lehernya.


"Kamu segitu betahnya ya...digendongan aku..." ujar Darrel menahan tawa.


"Eh..." Merry langsung melompat dari gendongan Darrel.


Greppp


Darrel menahan pinggang ramping Merry yang hampir saja terjatuh.


"Kamu ini ya..." Darrel menyentuh ujung hidung mungil Merry dengan jari telunjuknya.


"Maaf..." ucap Merry.


"Sudah...kamu istirahat deh...aku mau turun dulu...kasihan tante Eva nanti keberatan bawain kita minum" kata Darrel.


"Eh...tadi ada ibu ya???" Merry melongo kebingungan.


"Ampun deh Merry...kamu tuh ya...bikin aku pengen cium kamu aja" Darrel gemas menangkup wajah Merry tanpa sadar menghujani ciuman di seluruh wajah Merry.


"Ups...sorry..." ucap Eva menutup matanya dengan sebelah tangan."Ini...minuman kalian...ibu enggak akan ganggu...silahkan lanjutkan...nak Darrel...jangan sungkan ya..."


Glekkkk


Merry dan Darrel berbarengan menelan slavina menoleh ke arah pintu.


Batssss...


Mereka berdua memisahkan diri begitu Eva sudah tak terlihat.


"*Ishhh...ngapa gue oon banget sih...!"


"Duh...ketahuan tante Eva...bisa ribut nih sampaai rumah...ck...momy*!!!"


"Itu...tadi...maaf Mer...aku..."


"Enggak apa-apa...cuma gitu aja...santai aja Rel..." sahut Merry pura-pura tenang.


"Eh...memangnya kamu mau lebih dari itu?" Darrel menarik pinggang ramping milik Merry membawa tubuh mungil itu mendekat.


"Ih...apaan sih lo Rel!" Merry mendelik kesal.


"Apaan???" Darrel mengkerucutkan bibirnya sesaat sebelum akhirnya ia menarik tengkuk Merry memiringkan setengah kepalanya agak menunduk karena tinggi badan mereka lumayan cukup jauh.


"Gue mau mandi!" Merry menutup bibir Darrel kemudian ia melepaskan diri berlari terbirit-birit masuk ke dalam kamar mandi.


Brakkkk...


"Hehehe...padahal...hampir aja..." Darrel terkekeh melihat tingkah menggemaskan janda empat anak itu.


***


**


*


See you next episode...😘😘😘


Like and coment paling sayang kalau vote sekalian...hehe...bye bye...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2