
Vero bersama dengan puluhan anak buah Scott mengepung manssion Smith. Dalam hitungan waktu satu jam seluruh anak buah Smith dilumpuhkan oleh anak buah Scott.
Selesai ikut bergulat dan baku tembak, Vero berlari masuk ke dalam manssion menuju sebuah ruangan gelap di ruang bawah tanah.
Mata Vero memerah padam mendapati tubuh Merry yang terkulai lemah disana, wajah pucat Merry membangkitkan gelombang kemarahan Vero menjadi semakin meningkat.
Vero menodongkan pistol tepat di kening Smith.
"Kalau sampai dia mati, akan ku kirim kau untuk menemaninya mati!!!" Ancam Vero.
Smith diam kehilangan kata-kata karena ia sebenarnya tidak menginginkan kejadian seperti sekarang ini. Lain dengan Smith, Derek nampak begitu gusar. Padahal ini bukan kali pertama Derek melakukan perbuatan keji semacam ini namun entah mengapa ada dorongan kuat dari dalam hatinya untuk menyelamatkan nyawa Merry.
"Ambilkan Detektor! Sekarang!!!" Titah Derek.
Salah satu asisten Derek memberikan apa yang diminta olehnya.
"Ku mohon...bertahanlah...ehmmm..." ucap Derek mulai menggunakan alat Detektor jantung pada bagian dada atas Merry.
***Brugghhh
Bruggghh
Brugghhh***
Berulang kali tubuh Merry berguncang hebat sampai bunyi alat medis membuat Derek sedikit bernafas lega.
tttt...tttt...tttt...
"Jantung pasien kembali normal Dok" kata asisten Derek, yang seorang Dokter cantik.
"Bagus...sudahi tranfusinya!" Titah Derek lagi.
"Bagaimana?" Tanya Smith menoleh pada Derek yang sudah basah kuyup karena begitu banyak mengeluarkan energi.
"Euuggghhh..." Merry melenguh menoleh ke sekitarnya.
"Merry..." desis Vero mendorong dada Smith, ia berjalan cepat langsung memeluk tubuh lemah Merry dengan sedikit mengangkatnya.
"Vero...kepala aku pusing...pusing banget..." keluh Merry dengan suara lemah.
"Maaf..." ucap Vero sembari membaringkan Merry ia menoleh sekilas pada Smith yang terlihat memucat.
"Aku akan membunuhmu!" Kecam Vero hendak menembak kepala Smith namun dihalangi oleh Jhony.
"Jangan ada pertumpahan darah lagi...kasihan adikku..." kata Jhony yang sudah berdiri tegak meski masih lemah tubuhnya ia berusaha melerai Vero berbuat kesalahan fatal.
Keesokan harinya masih di mansion Smith. Sean tersadar di kamarnya langsung beranjak dari atas king bed ia berlari jontay keluar dari kamarnya.
Sesampainya ia di ruang tamu sudah banyak antek-antek Georgio mengelilingi sang ayah yang duduk di tengah ruangan.
__ADS_1
"Ayah..." panggil Sean lemah.
"Sean!!!" Smith memekik bahagia.
"Kau sudah sembuh Sean?" Tanya Georgio tersenyum pahit pada Sean yang berjalan ke arahnya.
"Paman...maafkan keegoisan ayahku...seperti yang dikatakan oleh Marry jika ayah melakukan itu semua untukku, Marry sendiri yang mau melakukan hal itu demi kesembuhanku...snfff..." ungkap Sean menangis lirih.
"Hufff..." Georgio menghembuskan nafas secara kasar. Ya...memang nasi sudah menjadi bubur ia tidak bisa berbuat apa-apa terlebih lagi ia juga sudah lama menutuskan untuk keluar dari jaringan hitam yang selama ini membelengguh kehidupannya.
"Sean...jaga dirimu...bangun Perusahaan milik ayahmu dengan sebaik mungkin sampai meningkat pesat setara dengan Perusahaan milikku...maka aku akan memaafkan perbuatan ayahmu pada putriku..." kata Georgio sembari berdiri dari duduknya.
"Putri??? Ku kira dia hanya..." ucapan Sean menggantung.
"Dia bukan sekedar tamu istimewahku...dia adalah putri kandungku!" Ungkap Georgio berjalan memunggungi Sean dan Smith.
Sepergian Georgio, Sean amat sangat marah pada sang ayah karena ia tidak mengetahui kebenaran jika Merry adalah putri kandung Georgio, setahu dirinya putri Georgio adalah Keyra yang baru lima bulan yang lalu meninggal dunia.
"Ayah...apa kau sudah mengetahui kebenaran ini?" Tanya Sean dengan mata memerah berkaca-kaca menatap tajam mata biru sang ayah.
"Hm..."
Anggukan Smith membuat Sean meradang, ia membanting sebuah Vas yang harganya sebanding dengan satu buah mobil mewah.
"Sial kau! Kau buat aku kehilangan Keyra sekarang kau ingin membuatku lebih merasa bersalah lagi hah!!!" Sean berteriak marah.
"Sean...tenanglah nak...kau baru saja pulih..." bujuk Smith hendak meraih tangan kanan Sean.
Di lain tempat, tepatnya di Rumah Sakit tempat Derek bekerja sebagai Dokter selama puluhan tahun. Merry masih tak sadarkan diri sejak dilarikan dari mansion Smith sampai sekarang ini, ia masih enggan membuka mata.
"Bagaimana keadaan adikku?" Tanya Jhony menatap iba wajah pucat pasih Merry Reynata.
"Aku akan memberikan kabar buruk terlebih dahulu..." Derek mengambil nafas panjang kemudian melanjutkan perkataannya."Kabar buruknya adalah Marry lumpuh...dan kabar baiknya sebentar lagi kemungkinan besar ia akan segera sadar"
"Tidak...tidak mungkin...bagaimana bisa kepahitan ini dialami oleh adikku...tidak...hiks...hiks..." Jhony mengenggam erat tangan kanan Merry.
"Eugghhh...hahhh..." Merry perlahan tapi pasti membuka penuh kedua matanya.
"Marry..." Jhony membelai sayang pucuk kepala Merry.
"Kak...apa kaki ku masih berada di tempatnya? Mengapa aku tidak bisa menggerakannya?" Tanya Merry.
"Marry...kau harus kuat..." kata Jhony.
"Kak...mengapa kau menangis? Lalu...bisakah kau memberitahu aku tanpa harus berbohong?" Merry mengangkat tangan kanannya menyeka air mata yang membasahi wajah tampan Jhony.
"Marry...hiks...maafkan aku...hiks...sekarang kau lumpuh adikku..." sesak nafas di dada Jhony memberitahu kebenaran yang menyakitkan ini pada Merry.
"Hm...sudahlah kak...mungkin ini sudah jalan dari Tuhan ku...Allah sangat menyayangiku..." sahut Merry.
__ADS_1
Derek hanya bisa memandangi kakak beradik ini dengan perasaan yang kacau balau, dimana lebih kepada rasa bersalah. Tanpa berpamitan ia keluar dari bangsal Merry, sesekali tubuhnya terguncang menangisi keadaan Merry.
"Derek..." panggil suara lemah dari arah belakang.
"Sean...???" Pekik Derek terkejut karena melihat kaki Sean yang menampaki tanah tanpa kursi roda maupun tongkat penyanggah.
"Bagaimana keadaan Marry?" Tanya Sean tanpa basa-basi.
"Sean...dia...dia..." Derek terdiam sepertiga detik.
"Cepat katakan!!!" Sean menyentak Derek geram.
"Dia lumpuh..." jawab Derek menunduk sedih.
"Apaaaaaa????" Sean memekik lirih.
Flashback on
34 tahun yang lalu...
Tepat tahun 1992 dimana ada satu keluarga yang menikmati liburan akhir tahun di sebuah pasar tradisional di bilangan Jakarta Selatan. Dia adalah Chintya dan sang suami yaitu Georgio beserta putri satu-satunya mereka yaitu Keyra.
Tiba-tiba saja ada kerusuhan di pasar tersebut. Georgio sempat terpisah dari putrinya Keyra.
"Itu Keyra...honey..." tunjuk Chintya sembari berlari ke arah anak perempuan yang menangis ditengah-tengah kerusuhan.
Georgio menggendong anak perempuan itu kemudian berlari bersama Chintya keluar dari kerumunan masa.
*Flashba**ck off*...
"Maafkan aku Marry...ini semua salahku..." gumam Sean dalam hati.
Sean masuk ke dalam bangsal, meski awalnya ia ragu akan tetapi rasa bersalah yang kini mengepung hatinya menyadarkan ia bahwasannya bukan saatnya untuk ia meragu dan berpaku tangan.
"Marry..." panggilan lembut keluar dari bibir Sean yang tipis.
"Kau!!!" Jhony membulatkan kedua matanya berjalan cepat mengangkat kerah jas Sean."Kau sudah puas hah!!! Dasar sampah!" Umpatnya kemudian mendorong Sean.
"Maaf..." ucap Sean tulus.
"Alhamdulillah kamu sudah sembuh Sean..." Merry berucap syukur seraya tersenyum menoleh pada Sean yang tertunduk malu.
"Kau tidak membenciku?" Tanya Sean.
Merry menggelengkan kepalanya lalu berkata."Kau tidak tahu indahnya agamaku dan bagaimana besar-Nya Tuhan ku..."
****
Next episode masih harus menyiksa kisah cinta Myzro dan Kymy...
__ADS_1
See you next episode...😊