Superstar In Love With Single Mom

Superstar In Love With Single Mom
Season 2 {bagian 25}


__ADS_3

Derasnya hujan yang mengguyur tak menyulutkan tekad Keyzro untuk mendapatkan kembali hati wanita yang sudah terlalu ia sakiti. Ia masih menunggu dan terus menunggu di kejauhan dengan sorot mata sendu mengarah pada wanita manis yang sedang berdebat hebat dengan seorang pria.


Tak berselang lama ia memperhatikan, wanita manis itu tanpa tahu kapan pastinya wanita itu mengambil langkah, kini ia sudah berada tepat di hadapannya.


"Pulanglah...maafku untukmu sudah ku berikan...mari bertemu sebagai seorang teman...paham..." ujar wanita yang akrab dipanggil Merry.


"Hmm...kalau itu mau kamu...aku terima..." sahut Keyzro.


Sang mentari menyeruak masuk melalui celah-celah jendela kamar Merry Reynata. Lagi dan lagi...ia seakan enggan bangun dari tidurnya karena bukan hanya badannya yang merasa kelelahan, begitu juga hatinya.


"Hey girl!!! Bangunlah..." seru suara berat dari pria bule yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Euhmmm...kamu..." Merry menyipitkan sebelah mata lalu kembali menutup rapat kedua matanya.


"Ck...apa kamu masih marah karena ciuman itu? Come on...Merry...i am really sorry...please wake up...i want to go for a walk...come on...get up lazy girl!" Rajuk pria bule dengan logat bulenya.


"Huhhh...kamu ini ya Sean...bikin kesal saja!!!" Gerutu Merry kesal.


"Hehehe...aku memang begini adanya..." kekeh Sean tanpa rasa bersalah.


"Hmm...thanks ya Sean...kamu menghargai keputusan aku" Merry tersenyum tipis sembari beranjak keluar dari dalam selimut hangat.


"Bukan cuma aku yang begitu Mer, ada Thomas dan juga Darrel pria kecil itu juga menghargai keputusanmu" sahut Sean.


"Makasih ya kalian semua...aku mau mandi, kamu turun duluan aja ya" ucap Merry.


Sean pun turun lebih dulu menemui keempat anak-anaknya Merry yang sudah sangat siap bermain di taman bermain.


"Mama mana uncle?" Tanya Rasya.


"Oh...sedang mandi boy!" Jawab Sean.


"Aku masih enggak ngerti deh mama pakai pelet apa ya kak...kok bisa ini semua naksir sama mama? Hehehe" Bisik Rayni terkekeh.


"Ada-ada aja kamu Ay..." sahut Reynata geleng-geleng kepala.


"Nenek sama kakek beneran enggak mau ikut?" Tanya Rasyid pada Warsih dan Akmal.


Nenek dan kakek itu pun kompak menggelengkan kepala.


"Oh...ya udah..." kata Rasyid.


Menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka tiba di Taman Bermain yang berada di bilangan Ancol. Dunia Fantasi tempat taman bermain yang memiliki fasilitas permainan memacu adrenalin ini sangat bagus untuk melepas kepenatan karena disana baik yang muda maupun yang tua bisa dengan leluasa berteriak mengeluarkan segala rasa sesak di dada.


Reynata berjalan cepat menarik tangan Rayni karena terlalu senang bisa datang ke taman bermain yang dulu sangat sulit bagi mereka mendatangi taman bermain tersebut dikarenakan gaji Merry dulu sebagai seorang pengasuh bayi tidak memungkinkan untuk mereka datang kesana.

__ADS_1


"Kamu bahagia sekali ya..." ujar Thomas meremas gemas pucuk kepala Reynata.


"Iyalah om...om enggak tau sih! Dulu tuh...jangankan buat datang kesini, buat makan dan jajan sekolah aja mama mikir keras, bagaimana caranya uang bulanan yang mama dapatkan cukup untuk sekedar makan dan jajan sekolah kami...ups..." Reynata merasa sudah keceplosan langsung menutup mulutnya.


"Paman...bagaimana kehidupan putrimu selama ini tanpa dirimu..." kata Thomas dalam hati.


"Uncle Sean kok diam aja? Kenapa?" Rasya menongak menoleh pada Sean yang menundukan kepala.


"Tidak apa-apa...uncle okay saja..." sahut Sean tersenyum tipis.


"Pantas saja hatimu sekeras batu Marry...rupanya hidupmu disini amat sangat miris untuk seorang wanita cantik seperti dirimu..." batin Sean.


"Yuk masuk!" Seru Merry sembari menggandeng tangan kanan Rasya kemudian masuk ke dalam taman bermain.


Di dalam taman bermain mereka benar-benar bersenang-senang, tidak ada raut wajah kesedihan di wajah Merry dan keempat anaknya, memperhatikan kegembiraan di wajah keluarga kecil ini membuat hati Sean dan Thomas terenyuh, bagaimana bisa seorang wanita yang sedang patah hati bisa terlihat begitu bahagianya tanpa ada celah kesedihan yang tersisa di wajah manis milik Merry.


Selesai bermain di taman bermain, rombongan yang terdiri dari Sean, Thomas, Merry beserta keempat anaknya memutuskan kembali masuk ke area berbeda masih di daerah Ancol. Tempat yang memiliki Aquarium bawah laut ini juga bisa menjadi alternatif melepas penat, disana bisa melihat segala atraksi binatang laut, seperti lumba-lumba, singa laut dan masih banyak yang lainnya.


"Wah...Rasya mau dong dicium lumba-lumba mah..." kata Rasya sangat antusias.


"Sebentar..." Sean berlalu masuk ke dalam area atraksi lalu berbisik ke pawang lumba-lumba yang seorang pria tampan.


Pria tampan itu hanya mengangguk beberapa kali dan tak berselang lama ia memanggil Rasya masuk ke dalam area.


Rasya nampak senang bisa merasakan moncong licin seekor lumba-lumba betina.


"Nona...apa nona baik-baik saja?" Tanya Bright supir bule itu sembari melirik kaca spion depan.


"Hm..." Merry mengangguk.


"Mar..." panggil Sean lembut meraih tangan kanan Merry.


"Ada apa?" Tanya Merry mengulum senyum di bibirnya.


"Aku tidak tahu apa saja yang sudah kamu lalui selama ini, tapi...mari buat janji denganku, jangan memendam apapun sendirian lagi mulai hari ini, kamu bisa menghubungi Thomas dan juga aku, kapan pun kamu kesulitan, jangan ragu meminta bantuan kami"


"Iya...kalian memang sahabat yang baik"


"Bukan sekedar sahabat yang baik Mar...kami keluargamu mulai hari ini dan seterusnya, kami adalah keluargamu..." timpal Thomas bangun dari tidurnya.


"Cih...hehe...kalian berdua memang dua adik yang baik...hehe" decih Merry diiringi dengan kekehan.


"Hahahahahaa..." ketiganya tertawa begitu juga Bright.


Sinar rembulan malam di kota Jakarta nampak indah jika sinar itu terpantul oleh lampu-lampu gedung bertingkat disana. Merry kini berada di atas atap rumahnya, yang sengaja dibangun sebuah taman kecil disana. Bersama Thomas dan Sean juga Bright, mereka berempat menghabiskan malam minggu dengan makan malam bersama.

__ADS_1


"Yang itu jangan sampai gosong" kata Sean pada Bright yang tengah membakar daging sapi.


"Ck...sejak kapan kau jadi bawel seperti ibu-ibu rumah tangga...hehe" sahut Bright menggunakan bahasa Inggris.


"Dasar kau!!!" Sean memiting kepala Bright.


"Hahahahaa..." tawa Bright.


"Kalian kenapa tidak jadian saja? Kalian cocok banget tau! Hehehe" Merry terkikik geli.


"Ih...No!!!" Sean dan Bright langsung bercerai diri.


"Hahahaha...dasar idiot!" Tawa Thomas.


"Sial kau!!!" Gerutu Sean.


"Sttt...sudah...kita makan yuk!" Ajak Merry.


Mereka pun makan malam dengan iringan musik klasik dari ponsel pintar milik Sean.


"Aku mau tanya Mar, sebenarnya kamu kenapa tidak mau kembali pada Keyz?" Tanya Thomas.


"Huff...kalian pernah main aplikasi Tektok enggak sih?" Merry membuang nafas kasar.


"Eh...apa hubungannya?" Sean tersentak bingung.


"Kan ada di Tektok, masa lalu bukan untuk diulang tapi untuk dikenang..."


"Astaga!!!" Pekik ketiga pria tampan sembari menepuk kening masing-masing.


"Dih...aneh lu pada!"


"Hey...kami enggak ngerti kamu ngomong apa? Aneh lu??? Apa artinya?" Tanya Sean bengong.


"Otak udang dasar!!! Hahahaha..." tawa Merry seketika pecah melihat wajah polos Sean.


Bright dan Thomas hanya saling memandang karena memang bukan hanya Sean yang tidak mengerti, mereka berdua juga tidak mengerti perkataan Merry.


"Hahaha...dasar kalian bule...hahahaha..." kembali Merry tertawa lepas.


"Aku tidak akan menyerah Myzro..." gumam Keyzro.


***


**

__ADS_1


*


****See you next chapter****


__ADS_2