
Indonesia pukul 10:00 am.
Tepatnya di Solo,Surakarta adalah sebuah kota besar di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Nama lainnya adalah Solo atau Sala. Di Indonesia, Surakarta merupakan kota peringkat kesepuluh terbesar (setelah Yogyakarta). Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo.
Disana keempat anak-anak Merry tengah menghabiskan waktu libur panjang mereka bersama dengan Keluarga besar Hamif.
Hamif dan Eva membawa keempat cucu angkat mereka menikmati liburan akhir tahun dengan mengunjungi berbagai tempat bersejarah disana.
Nampak kegembiraan di wajah dua anak perempuan dan dua anak laki-laki yang sedang asik menikmati wisata kuliner di sebuah Restoran yang menyajikan makanan khas kota Solo.
"Enak sayang?" Eva tersenyum menatap wajah anak bungsu Merry yang bernama Rasya.
"Enak omah...hehe" sahut Rasya dengan mulut penuh ia membalas senyuman Eva.
"Rayni mau nambah lauk tidak?" Tanya Hamif menawarkan anak kedua Merry yang terlihat lebih kalem dari yang lain.
"Tidak opah...terima kasih..." jawab Rayni.
"Opah...mama pergi ke Paris berapa lama ya?" Tanya Reynata.
"Hmm...seminggu kayaknya deh...ini baru dua hari deh mama kalian ada disana" jawab Hamif.
"Aku kangen sama mama opah..." rengek Reynata.
"Telpon mama sekarang juga disana masih jam 4 pagi sayang...kasihan mama pasti masih tidur..." sahut Hamif memberi pengertian selembut mungkin pada Reynata.
"Gitu ya opah...huff...ya udah deh...nanti aja telpon mama-nya" kata Reynata menekuk wajah cemberut.
"Ih...udah gede masih aja nyariin mama-nya ya..." Eva mencubit gemas pipi kanan Reynata.
"Omah...ihhh..." Reynata merengek manja membuat adik-adiknya menertawakan dirinya.
"Hahaha...kakak kayak anak kecil" tawa Rasyid seketika pecah.
"Kamu ya..." geram Reynata.
"Udah...jangan berantem!" Kata Hamif melerai pertengkaran kakak beradik ini.
"Dia duluan opah..." Reynata menunjuk Rasyid kesal.
"Wleeehhhh...kakak kayak anak kecil...ye...ye...ye...ye..." ejek Rasyid.
"Rasyid berhenti meledek kak Rey!" Titah Rayni tegas.
"Ck..." Rasyid memutar bola mata malas.
__ADS_1
"Sebaiknya aku memang tidak usah menceritakan keadaan ibu mereka disana" batin Hamif lirih.
Flashback on
Hamif baru saja terbangun dari tidurnya sebuah pesan singkat dari Vero memaksa ia meraih ponsel pintar miliknya di atas nakas.
"Pak...ada insiden disini, jangan beritahu anak-anak ya pak...Merry masih dirawat di Rs" (begitulah kutipan pesan singkat dari Vero)
"Kenapa pak?" Tanya Eva sembari memberikan handuk bersih pada Hamif.
"Merry sakit disana bu...tapi jangan kasih tau anak-anak ya..." jawab Hamif menunduk sedih.
"Inalillah...Ya Allah...semoga Merry enggak sakit parah ya pak..." Eva menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Iya bu...semoga ya..." sahut Hamif.
Flashback off
Setelah mengisi perut Hamif dan Eva beserta keempat cucu mereka kembali ke kediaman Keluarga Hamif sebuah Manssion mewah di kota Solo.
"Bagaimana pak? Sudah ada kabar lagi tentang kondisi Merry?" Tanya Eva duduk di tepi King Bed.
"Belum bu...kita tunggu aja ya...ada Vero yang menemani Merry disana" jawab Hamif merangkul bahu kanan sang istri.
"Kamu mau kemana?" Tanya Vero tepat di depan pintu bangsal.
"Kerjalah...masa mau demo! Hehehe" gurau Merry.
***Grepppp
Happpp***
Vero menarik pergelangan tangan kanan Merry lalu menggendongnya ala bridal style berjalan perlahan masuk kembali ke dalam bangsal.
"Eh...kenapa mas?" Tanya Merry bingung.
"Kamu masih belum boleh keluar!" Jawab Vero sembari merebahkan tubuh mungil Merry ke atas bed hospital.
"Loh..." Merry melongo' semakin bingung.
"Merry...kamu masih belum sehat, jangan kecapean dulu ya..." kata Vero membelai sayang pucuk kepala Merry.
"Eh...emang aku sakit apa? Cuma kaget aja makanya aku pingsan" protes Merry.
"Jangan ngebantah ya! Kalau kamu enggak nurut sama aku...aku akan..." Vero memotong perkataannya sembari memajukan wajahnya mendekat dengan wajah Merry.
__ADS_1
"Apa???" Merry melotot galak.
Cup
Vero mencium bibir Merry sekilas lalu duduk santai di sisi kiri bed hospital.
"Main nyosor aja!" Gerutu Merry kesal.
"Mau aku cium lagi tuh bibir!" Ledek Vero gemas.
"Eh...enggaklah!!!" Merry menutup mulutnya dengan kedua tangan yang melingkar.
"Hahaha...aku makin enggak yakin umur kamu sudah 36 tahun Mer...aishhh...tingkah kamu seperti anak remaja saja" Vero tertawa lepas mencubit gemas kedua pipi Merry.
"Huhh!!! Enggak lucu! Dasar somplak!!!" Merry mendengus kesal.
"Aku tidak mau memanggilmu kak Merry lagi, aku memang sudah pernah katakan menyerah untuk mendapatkanmu tapi...restu dari seseorang membuat aku ingin berusaha sekali lagi untuk mendapatkan hatimu..." Vero membelai sayang pucuk kepala Merry.
"Restu??? Kamu kayak orang bener, ngomong enggak jelas!" Merry memalingkan wajah ke samping kanan.
"Aku cinta sama kamu Merry...kasih aku kesempatan ya...sekali aja...please..." Vero menggenggam tangan kanan Merry dengan penuh perasaan.
"Mas Vero...ini..." desis Merry.
***Greepppp...
Brugggghhhh***...
Kerah jas Vero ditarik oleh seseorang dari arah belakang sampai siempunya tersungkur ke lantai.
"Brengs*k lo Ver!!!" Umpat seorang pria pada Vero.
"Gue apa lo yang lebih brengs*k!!!" Sentak Vero sembari berdiri ia mengeraskan rahangnya menahan geram.
***
**
*
Tau enggak yang narik Vero siapa???
Yuk balas di Coment!!!
See you next episode...😘
__ADS_1