
Flashback on
Jam istirahat tiba, Reynata bersama dengan dua sahabatnya Alya dan Salwa sedang menikmati makan siang mereka. Reynata seperti biasa ia sangat menyukai yang namanya mie instan, ia memesan satu porsi mie instan lengkap dengan berbagai macam toping.
Sedang asik makan dan bercengkrama ria, Helena and the genk datang menghampiri ketiga sahabat ini.
"Katanya orang kaya, kok makan di kantin pesannya mie teros!!!" Sindir Helena melirik sinis.
"Emang masalah buat lo hah!!!" Sentak Alya sahabat Reynata yang paling imut.
"Cih...kacung diem aja deh!" Kata Zahra anggota genk Helena.
"Hm...gue cuma mau makan dengan tenang ya! Jangan ganggu bisa kan?" Reynata beranjak berdiri.
"Kata kabar-kabari nyokap lo simpenan kakek-kakek tua ya? Pantes tiba-tiba aja lo jadi tajir melintir!" Helena bersedekap menantang.
"Lo boleh hina gue! Tapi jangan pernah lo hina nyokap gue!!!" Teriak Reynata marah.
"Cih...nyokap gue baru beli mobil baru harganya lebih dari satu milyar, tapi...itu semua uang bokap gue! Kalau nyokap lo simpenan kakek-kakek itu udah beliin apa?" Decih Helena.
"Pertama nyokap gue bukan simpenan kakek-kakek dan yang kedua, nyokap lo baru beli mobil milyaran aja bangga, nyokap gue punya pesawat pribadi aja B aja nggak sombong!" Kata Reynata mengangkat kedua bahu.
"Cih... pesawat pribadi! T#1!!!" Ujar Helena geram.
"Lo nggak percaya? Sebentar!" Reynata meraih ponsel pintar miliknya lalu menelpon seseorang.
"Hai honey...apa kabar sayang?" Sapa suara pria dari panggilan video.
"Baik grandpa...grandpa apa kabar?" Sahut Reynata.
"Granpda???" Pekik Helena dan kedua anggota genk nya.
"Bentar grandpa...ini ada orang sombong yang ngatain anak grandpa simpenan kakek-kakek, kalau aku sih kesel banget dengernya, kalau grandpa gimana perasaan grandpa?" Reynata melirik sinis Helena.
"Siapa orang itu? Apa mau grandpa buat hidup miskin keluarganya?" Georgio Scott dari seberang sana meradang.
"Nih..." Reynata mengalihkan ponsel pintarnya menghadap Helena and the genk.
"Kalian anak bau kencur! Berani sekali menghina putri ku! Hahh!!!" Sarkas Georgio.
"Nah...grandpa...bisa kan kirimkan pesawat pribadi milik grandpa untuk mama? Soalnya dia nggak percaya kalau mama punya pesawat pribadi" rengek Reynata manja.
"Tenang sayang...jangankan pesawat pribadi yang lama, grandpa bisa membelikan pesawat yang baru untuk mama kamu...tenang ya sayang..." sahut Georgio.
"Terima kasih grandpa...see you..." ucap Reynata.
Dan... panggilan video pun berakhir.
"Sudah dengar kan?" Reynata memberi tatapan mematikan untuk Helena and the genk.
"Huh!!!" Dengus Helena lalu pergi.
__ADS_1
"Seriusan itu kakek lo Rey?" Tanya Alya sahabat Reynata.
"Hm...jadi... kalian jangan berpikir sembarangan tentang nyokap gue! Paham!!!?" Jawab Reynata.
Alya dan Salwa mengangguk cepat.
Flashback off
Merry terduduk dengan posisi elegan ia menyeruput sedikit teh manis buatan OB sekolah SMA Bakti Mulia. Terlihat sangat ketegasan dari wajah Merry saat ini. Ia berhadapan langsung dengan orang tua dari Zahra dan Fatimah, dua gadis remaja yang membuly putrinya.
"Jadi...saya ingin permintaan maaf secara terbuka untuk putri saya Reynata, jika sampai putri anda-anda sekalian tidak meminta maaf secara terbuka maka saya akan membawa kasus pembullyan ini ke pihak berwajib!" Kata Merry.
"Anu...kayaknya ini nggak perlu sampai bertindak sejauh ini deh...namanya anak remaja biasa-lah saling main kata-kataan" kata seorang wanita berhijab.
"Oh ya...?" Merry melirik sinis.
"???" ibu-ibu berumur tiga puluhan itu termenung.
"Tristan..." panggil Merry.
"Ini mam..." Asisten pribadi Merry menyerahkan i-pad berwarna hitam.
"Ini...kalian lihat video ini...bukan hanya satu kali putri kalian menyakiti putri saya..." ungkap Merry.
"Astaga!!!" Pekik kedua orang tua murid yang duduk berbaris rapih selepas menonton sebuah video dari kamera pengawas.
"Bagaimana? Apa yang akan kalian lakukan jika kalian berada di posisi saya?" Merry memandangi satu persatu wajah yang nampak kebingungan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ajukan permintaan maaf tertulis, biar ibu Ani sebagai kepala sekolah ini menjadi saksinya dan...minta putri kalian berlutut di kaki putri saya dan meminta maaf di depan seluruh murid dan guru di sekolah ini!" Merry berkata sembari memainkan jari jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu yang terdapat di dalam ruangan kepala sekolah.
"Baik ibunya Reyna...kami akan pastikan putri-putri kami menyesali perbuatan mereka!" Seru kedua orang tua Zahra dan Fatimah berjamaah.
"Bagus...sampai disini saja..." Merry beranjak berdiri lalu berjalan elegan hendak keluar dari ruang kepala sekolah.
"Oh ya...kau hanya seorang HRD di Perusahaan milik Vero Jensen Dison bukan?" Merry berbalik menatap seorang pria yang merupakan ayah dari Zahra.
"Bagaimana ibu bisa tau?" Ayah Zahra membulatkan kedua bola matanya.
"Mencari tau identitas kalian itu sangat mudah bagiku...saya...Merry Reynata Scott...ingat nama belakang saya baik-baik sebelum kalian mencari gara-gara lain kali...hm..." terbit senyum smirk lalu Merry pun benar-benar keluar dari ruangan yang memuakan itu.
"Gimana nih ma...papa bisa-bisa dipecat! Papa ingat nama belakang ibunya Reynata itu, dia adalah pemegang saham terbesar ketiga di Perusahaan bos papa Vero!" Ayah Zahra berkeringat dingin ketakutan.
"Ada-ada saja sih Zahra itu ya...anak yang satu itu! Argghhh..." gerutu ibu dari Zahra kesal.
"Baru ingat saya...Mr.Scott itu adalah donatur tetap sekolah ini, gimana kalau dia berhenti jadi donatur gara-gara ini?" Batin ibu Ani.
"Saya nggak mau tau ya bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, kalau sampai kakeknya Reyna memberhentikan subsidi nya untuk sekolah ini gara-gara masalah ini, saya akan mengeluarkan putri-putri kalian dari sekolah SMA Bakti Mulia ini! Ingat itu!" Kata ibu Ani memberi ancaman di akhir kalimat.
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, sudah tepat sebulan sejak kejadian itu, semua sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Merry, ia tersenyum puas mendapati orang-orang yang dulu meremehkan dirinya, kini berada di bawah kakinya. Seperti sekarang ini ia menjadi pusat perhatian di Perusahaan kosmetik ternama milik Vero. Disana ia kembali berjumpa dengan ayah dari murid yang membully putri nya.
"Silahkan diminum bu Merry..." ucap ayahnya Zahra membungkuk hormat.
__ADS_1
"Terima kasih..." ucap Merry.
"Pak Suryono...mana OB kita? Kok bapak yang buatkan minuman ini?" Tanya Vero.
"Ada pak...hanya saya mau cari muka sama ibu Merry..." jawab ayahnya Zahra yang bernama lengkap Suryono Bramantyo.
"Cari muka macam begini tidak akan mempan pak Suryo..." kata Merry tersenyum kecut.
"Hehehe...gitu ya bu..." Suryono tertawa getir.
"Tingkatkan kinerja anda di Perusahaan ini...itu caranya mendapatkan muka di depan saya!" Kata Merry.
"Ini sebenarnya ada apa ya Mer? Kok bisa kalian terlihat bersitegang?" Vero menatap penuh tanda tanya.
"Putrinya membully keponakan kesayangan mu Reynata" ungkap Merry sarkasme.
"Apa benar begitu Suryo?" Vero mendelik geram.
"I...ttt...uu...maaf pak...saya juga baru tau sebulan yang lalu jika putri saya Zahra membully putri dari ibu Merry" jawab Suryono tergagap.
"Silahkan anda kosongkan ruangan anda, saya akan selalu melindungi keponakan saya Reynata, jadi...saya harap kalian camkan baik-baik! Saya akan mengambil jalan hukum jika ada yang menyakiti kakak dan keponakan saya" ujar Vero marah.
"Baik pak...saya mengerti! Tapi saya mohon pak...jangan pecat saya!" Sahut Suryono memohon.
"Ini tergantung kakak saya Merry, gimana kak?" Vero menoleh pada Merry.
"Sudah selesai kan rapatnya, aku pamit ya Ver...terima kasih atas sambutan hangat kalian semua dan...tidak perlu sampai memecat dia, cukup berikan peringatan saja" Merry berdiri kemudian ia membungkuk hormat lalu pergi.
Setelah menyandang gelar sebagai anak angkat Georgio Scott, kini Merry menjadi super sibuk, mengurus Perusahaan milik mendiang suaminya Charles dan juga Perusahaan milik ayahnya.
Selama satu bulan belakangan ini Merry sibuk bolak-balik Jakarta-Paris. Kesibukan luar biasa ini juga berpengaruh akan hubungan percintaan dirinya dengan Keyzro, ia jadi hampir tidak memiliki waktu luang untuk bertemu bahkan hanya untuk melihat wajah Keyzro saja dan bukan hanya itu, ia juga tidak punya waktu hanya untuk sekedar mengirim pesan singkat pada sang kekasih hati.
Seperti sekarang ini, ia kembali melakukan perjalanan bisnis ke Paris-Prancis, berpuluh-puluh kilometer ia lewati setiap ia ingin melapor pada sang ayah Georgio Scott.
Setelah puluhan kilo terlewati. Kini ia bersantai sejenak di sebuah kamar Hotel. Guna mempersiapkan banyak tenaga, karena jadwal rapat di Perusahaan milik ayahnya bukan hanya sekali tapi berkali-kali.
"Aku kangen..." ucap seorang yang memeluk Merry dari arah belakang.
"Oppa...kok bisa sih???" Merry memekik bingung.
"Bisa dong..." sahut Keyzro memutar badan Merry menghadap dirinya.
"Hm...aku juga kangen..." ucap Merry memeluk manja kekasihnya itu.
"Syukurlah...ku pikir hanya aku saja yang merasa rindu..." ucap Keyzro.
***
***
***
__ADS_1
bersambung...