Superstar In Love With Single Mom

Superstar In Love With Single Mom
Season 2 {bagian 23}


__ADS_3

Drap Drap Drap


Suara hentakkan kaki dari kaki jenjang milik seorang pria bergemah di dalam Bandara Internasional Seokarno Hatta. Pria itu tersenyum tipis memandangi pemandangan sekitar hingga ekor matanya menangkap titik objek sebuah mobil sedan mewah berwarna silver, seketika wajahnya berubah datar sedatar jalan raya ibukota yang padat merayap.


Pria itu langsung menuju mobil silver yang terparkir anggun di halaman depan Bandara.


"Siap berangkat bos!" Seorang pria lain berbaju serba hitam memberi hormat pada pria yang memiliki paras tampan bak aktor Hollywood.


"El...kita langsung menemui dia..." sahut pria tampan itu seraya masuk ke dalam mobil.


Sekitar 4 jam perjalanan karena lalu lintas sedang padat-padatnya sehingga membutuhkan waktu yang sangat banyak agar mereka sampai di sebuah Rumah sakit terbesar bilangan Jakarta Selatan. Di sana sedang berlangsung syuting untuk film Horor dimana pengambilan gambar dilakukan di dalam area Rumah sakit, tepatnya di dekat kamar mayat.


Pria tampan yang terlihat seperti bos-bos mafia itu keluar dengan gaya elegannya, ia berjalan perlahan masuk ke dalam Rumah Sakit tersebut. Decak kagum dari banyak pasang mata mengiringi langkahnya sampai menuju tujuannya.


"Itu dia..." gumam pria tampan itu kemudian ia berteriak memanggil seseorang."Marry..."


"Kamu..." gumam seorang wanita sembari berlari kecil ia naik ke gendongan pria tampan itu.


Happ


"Oh my God...kamu bertambah berat!" Seru pria tampan itu menyatukan keningnya dengan kening sang wanita manis yang tak lain adalah Merry Reynata.


"Hm...kamu yang harus lebih banyak olahraga lagi Mr.Sean" sahut Merry sedikit bergurau.


"Dasar kamu ya..." pria tampan Sean Selovack tersenyum tipis menanggapi gurauan dari Merry.


"Merry!!!" Teriakan bariton datang dari bibir Darrel yang murka melihat Merry berada digendongan pria asing.


"Astagfirullah...kaget gue..." ucap Merry mengelus dadanya.


"Siapa dia?" Bisik Sean.


"Bos-ku...hiks..." sahut Merry yang juga berbisik.


"Turun!!!" Titah Darrel geram.


Merry menggeleng cepat."Enggak mau!"


"Aku bilang turun ya turun Merry!!!" Sentak Darrel.


"Hiks...gue enggak mau!" Merry merengek meminta bantuan pada Sean.


"Kamu ya...Mer...-"


"Aku tunangan Merry, apa hak-mu menyuruhnya?" Sean memotong perkataan Darrel berjalan maju tetap menggendong Merry.


"Tunangan???" Pekik Chacha dan Inez bersamaan sampai membuka penuh mulut menganga tak percaya.


"Sean...sejak kapan kita tunangan?" Bisik Merry dengan suara amat sangat pelan.


"Mulai hari ini..." sahut Sean menarik tengkuk Merry kemudian mencium lembut bibir tebal nan menggoda terlapisi lipstik pink peach.


Merry membulatkan kedua bola matanya.


"Ups..." Merry menutup mulutnya dengan sebelah tangan.


Darrel mengepalkan tangan menatap tajam Sean yang nampak biasa-biasa saja setelah mencium bibir Merry.


"Maaf...saya tidak akan mengganggu lagi..." ucap Darrel berlalu pergi.


"Sean...ih...kamu apa-apaan sih? Kok bisa-bisanya kamu berbohong kayak gitu? Kan jadi salah paham...Darrel...eummm...-"


Kembali Sean membungkam Merry dengan ciuman manis, tapi kali ini ada yang berbeda dari sekedar ciuman biasa, lebih bernaf$u dibandingkan yang pertama, ciuman kedua ini menghabiskan kadar oksigen Merry yang nampak tak bisa membalas ataupun mengimbangi permainan yang Sean mainkan kini.


"Hahh...hufff...kamu..." Merry menarik nafas panjang menghembuskan perlahan.


"Sekali lagi kamu protes...maka akan lebih dari ini yang akan terjadi nanti..." bisik Sean dengan nafas memburuh.


Glekkk

__ADS_1


"Mampus...bisa gila gue!!! Argghhhh..."


Tanpa Merry sadari sepasang mata memperhatikannya dengan tatapan sendu.


"Apa aku sudah sangat terlambat???"


Di lain tempat, Thomas yang juga datang ke Indonesia, ia kini sudah berkumpul dengan empat anak Merry Reynata, disana juga ada ayah dan ibunya Merry, nampak wajah gembira dari paras tampannya kala mendapatkan restu dari anak-anaknya Merry. Reynata, Rayni, Rasyid maupun Rasya memberi ia lampu hijau untuk mendekati ibu mereka.


"Jadi om kenal mama pas mama ada di Paris?" Tanya Reynata.


"Iya..." jawab Thomas singkat.


"Terus kapan om mau menikah sama mama?" Giliran Rasyid yang bertanya.


"Kapanpun mama kalian siap, om siap melamar mama kalian" jawab Thomas menyunggingkan senyum manis di bibirnya.


"Maaf sebelumnya bujang ganteng..." ucap Warsih ibunya Merry.


"Ada apa bu?" Tanya Thomas menoleh ke sisi kanan.


"Bujang ganteng ini bule kan? Kok bisa mau sama anak ibu?" Warsih menatap penuh tanda tanya.


"Apa ada yang salah bu? Putri ibu cantik, baik hati dan lagi...saya cinta dia apa adanya..." sahut Thomas yang mulai fasih berbahasa Indonesia.


"Om...mama mungkin pulang malam, om nginap saja ya...nanti biar di siapin kamar sama bibi" kata Reynata mengalihkan perhatian.


"Boleh...tapi om mau ketemu ibu kalian dulu ya..." Thomas beranjak berdiri lalu berjalan keluar dari pintu rumah.


"Hati-hati om..." kata Reynata.


"Hm..." Thomas mengangguk.


Kembali pada Merry yang sekarang ini menjadi bahan rebutan antara Darrel dan Sean, Darrel mengambil alih tubuh mungil Merry seperti seorang anak kecil saja ia menarik Merry ke gendongannya.


Tiba-tiba...


Greppp


"Eh...kamu..." Merry memekik terkejut.


"Ck...kamu selalu buat onar dimana-mana ya..." sahut pria tampan yang jauh lebih tinggi dari Sean apalagi Darrel.


"Thom...berikan Marry padaku!" Titah Sean menajamkan tatapannya.


"Ck...vous aimez toujours forcer votre volonté!!!"(Ck...kau masih suka memaksakan kehendak!) Tutur Thomas.


"Ne me mets pas en colère contre toi Thom, c'est mon fiancé !!!" (jangan buat aku marah padamu Thom, dia tunanganku!!!) sentak Sean.


"Depuis quand est-ce votre fiancé ? Tu fantasmes pas trop Sean !"(sejak kapan dia menjadi tunanganmu? Kau terlalu banyak berkhayal)


"C'est ma fiancée ! Vous le savez clairement car j'ai remporté le projet ! Oncle Georgio m'a donné sa bénédiction !"(Dia pengantinku, kau mengetahui hal ini dengan jelas karena aku yang memenangkan proyek itu, paman Georgio memberiku restunya)


"Vous pensez que vous êtes le seul à être béni ?" (Apa kau pikir hanya kau yang diberi berkatnya?)


Greppp...


Sedang ada perdebatan hebat kembali tubuh mungil Merry dirampas oleh seseorang.


"Oppa..." desis Merry melotot kaget.


"Kalian sudah cukup menyiksa dia, biar dia sendiri yang memutuskan ingin bersama siapa?" Kata Keyzro mengeratkan kedua tangannya di bawah bok*ng Merry.


"Baiklah...aku setuju denganmu Keyz!" Sahut Darrel yang sedari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan dengan bahasa yang tidak dimengerti olehnya.


"Kamu turun dulu ya..." tutur Keyzro lembut menurunkan Merry secara perlahan.


"Ishhh...gue mimpi apa semalam, empat pria ganteng berebutan mau sama gue! Ini berkat apa ujian Ya Allah..."


"Bagaimana Marry? Keputusan semua ada di tanganmu..." kata Thomas.

__ADS_1


"Oppa...bisa gendong aku lagi enggak?" Pinta Merry.


"Ehhh..." Keyzro menautkan alis kebingungan tapi tetap melakukan apa yang dipinta oleh Merry.


"Kalian berbaris!" Titah Merry.


Ketiga pria tampan itu berbaris rapih memanjang.


***Pletak...


Pletakkk


Pletaakkk***


Merry melayangkan pukulan di kepala ketiga pria itu secara berurutan.


"Kalian bertiga enggak waras! Hidupku, hatiku, cintaku, itu hak-ku sepenuhnya, jadi...stop mengganggu aku! Paham!!!" Kata Merry sembari melompat turun.


"Tapi Mar..." Sean dan Thomas bersamaan berdesis.


"Pfff..." Keyzro menahan tawa melihat ekspresi ketiga pria yang ada di hadapannya.


"Seneng banget lo hyung!" Sentak Darrel.


Keyzro hanya mengangkat kedua bahu sembari berlalu pergi.


Merry menatap Sean dan Thomas secara bergantian kemudian berkata."Hufff...Sean...Thomas...kalian adalah dua pria yang baik, aku hanya menganggap kalian teman tak lebih dari sekedar sahabat karib, aku anggap ciumanmu tadi sebagai tanda kita tidak bisa lagi berteman Sean..." tutur Merry dengan nada lembut kemudian ia pun berjalan cepat menarik tangan Inez dan Chacha."Yuk!!!" Ajaknya.


Sekitar 3 jam perjalana, ketiga wanita cantik ini tiba di sebuah Mall langsung bergegas masuk ke dalam Restoran Jepang. Disana Merry memesan minuman dingin semacam milk shake, ia meminum minuman yang ia pesan hingga tandas tak tersisa.


"Huff...argghhh...gue kenapa harus ngalamin kayak beginian sih???" Merry berteriak frustasi.


"Pfff..." Inez dan Chacha menahan tawa melihat wajah fustasi sahabat mereka itu.


"Kalian kok malah ketawa sih? Kasih gue solusi kek!" Merry menyentak kesal.


"Bwahahahahahahaha...sumpah...kita enggak kuat liat muke lo kayak gini Mer" Inez dan Chacha tertawa terbahak-bahak.


"Sial*n lu pada! Huh..."


"Ishh...jangan cemberut dong! Kan enak direbutin sama empat cowok sekaligus" Chacha mencubit gemas kedua pipi Merry.


"Apaan sih lo Cha! Boro gue keenakan yang ada mumet woy!" Merry menepis kasar tangan Chacha dengan wajah ditekuk seperti dompet tanggung bulan.


"Hmm...gue herman deh sama lo Mer, cantik kagak, jelek juga kagak tapi kok bisa ya lo ditaksir sama cowok-cowok ganteng, masih muda pula, lah lo mah udah mau nenek-nenek" kata Inez.


"Ishhh...si kampret kalau ngomong ya enggak disaring!" Omel Chacha gemas.


"Lah emang bener kan?" Tanya Inez polos.


"Hehehe...lo emang budak yang jujur" Merry terkekeh geli.


"Lah...emang gue salah ngomong ya???"


"Dah lah Nez...lama-lama naik gula darah gua!!!" Kata Chacha geleng-geleng kepala.


"Sejak kapan lo ada penyakit gula darah Cha?" Kembali Inez bertanya dengan polosnya.


Pukkkk


Merry bersama Chacha tepuk kening, tak habis pikir akan kebodohan sahabat mereka yang satu ini.


"Aku rasa apa yang dikatakan ibu benar adanya...aku tidak layak untukmu..." gumam Keyzro dari kejauhan sembari memandang langit.


***


**


*

__ADS_1


See you next Chapter...😘😘😘


__ADS_2