
Alvin terkapar dikamar mandi, dia baru bangun ketika mendengar Jeni yang yang menangis.
" Sayang kamu kenapa ?, sayang bangun hiks..hiks..., Sayang !" Jeni menggoyang - goyang tubuh Alvin yang terkapar di lantai.
Alvin mengerjapkan matanya, kemudian dia membuka mata, Ia melihat Jeni yang sedang menangis di dekatnya.
Alvin langsung duduk " Sayang kamu kenapa ?"
Alvin panik melihat Jeni yang menangis saat dia baru sadar.
Jeni langsung memeluk Alvin " Syukurlah kamu tidak apa - apa sayang, aku sangat mengkhawatirkanmu "
Alvin mengingat kembali kejadian sebelum dia pingsan, sekarang dia tahu kenapa Jeni menangisinya.
Alvin memeluk Erat istrinya " Aku tidak apa - apa, hanya sedikit lelah saja "
Alvin melepas pelukan Jeni dan menghapus air mata Jeni dengan dua ibu jarinya. Ia menatap Jeni yang begitu mengkhawatirkannya, hati Alvin terasa hangat. Karena istrinya begitu peduli padanya.
Alvin memapah Jeni untuk berdiri " sudah yah, aku tidak apa - apa kok "
Jeni menganggukkan kepalanya, dia mulai tersenyum " jangan bikin khawatir aku lagi " Jeni merajuk manja.
" Iya sayang, maaf yah, ya sudah aku mau mandi dulu, apa kamu mau ikut ?" Alvin menaik turunkan alisnya.
" Apaan sih sayang, yang ada bukan mandi air malah jadi mandi keringat " Jeni menolak secara lembut ajakan suaminya sambil meninggalkan kamar mandi.
Alvin tersenyum kecut, dia tidak menyangka jika istrinya sekarang sangat perhatian dengannya.
Alvin kemudian mandi, Jeni menunggu sambil duduk di sofa kamar sambil bermain Ponsel membalas pesan relasi bisnisnya.
Tak berselang lama, Alvin keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saja yang melilit tubuhnya.
Jeni yang melihat Alvin, dia langsung berdiri dan seperti biasa membantu Alvin memakai pakaiannya.
Jeni baru menyadari jika tubuh Alvin berbeda, apalagi perut kotak - kotaknya terpampang jelas di hadapannya.
__ADS_1
" Sayang, ini hanya perasaanku saja atau tubuhmu memang seperti ini ?" Jeni bertanya sambil mengelus perut Alvin.
Alvin mengambil tangan Jeni dan menciumnya " Kamu saja yang dari dulu tidak memperhatikan tubuhku, baru sekarang kamu sadar jika suamimu ini sangatlah **** bukan ?" Ia berpose seperti binaragawan saja.
Alvin sengaja berkilah agar Jeni tidak banyak bertanya, jika dia memberitahu yang sebenarnya, takutnya Jeni malah tidak percaya, jadi lebih baik diam saja, toh semuanya untuk Jeni juga.
Jeni sedikit tidak percaya " benarkah ?"
" Sudahlah jangan dibahas, toh tubuhku seperti ini untuk kamu juga, ngomong - ngomong apa kamu tidak ingin pergi kesuatu tempat ?, aku ingin berjalan berdua dengan kamu " Alvin mengalihkan pembicaraan.
Mata Jeni terlihat berbinar " benarkah kita mau jalan ?"
Alvin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum " tentu saja, aku ingin menyenangkan Ratuku " Alvin mengecup tangan Jeni.
" Ih..apaan sih sayang, mulai deh.. " Jeni pura - pura tidak suka padahal dia senang diperlakukan seperti itu.
Alvin tersenyum " Ya sudah, kamu mandi dulu, aku tunggu kamu dibawah oke !"
Jeni mengangguk, dia langsung bergegas ke kamar mandi, karena dia tidak pernah jalan berdua dengan Alvin.
Alsana kenapa Jeni selalu tunduk dengan Ucapan Ibunya selain dia tidak mau jadi anak durhaka, karena waktu itu dia bekerja di kantor Ibunya. Dia tidak bisa pergi dari kerjaan tersebut karena yang mencukupi kehidupan Alvin dirinya. Jadi dia hanya bisa menahan Emosi pada Ibunya.
Alvin turun dari kamar sambil membawa secangkir Kopi buatan Jeni. Dia duduk di ruang keluarga dan membuka Ponsel jadulnya.
Alvin mengirim pesan pada Sopir yang biasa membawanya, karena dia sudah meminta Nomor telepon si sopir.
Alvin mengatakan pada Sopir jika dia akan pergi dengan istrinya, agar Sopir menyiapkan Mobil.
Tiba - tiba seorang pelayan datang " Tuan Moor, ini ada paket katanya untuk anda " Pelayan tersebut menyerahkan paket.
Alvin mengambil paket tersebut " terimakasih "
Pelayan mengangguk kemudian langsung pergi dan kembali bekerja.
Alvin melihat paket tersebut, dia melihat nama Keysa disana, Alvin menebak jika isinya jam tangan Rolex untuk Jeni.
__ADS_1
" Enaknya jadi orang kaya, pengen apapun hanya tinggal minta saja, kenapa System tidak dari dulu saja menyatu dengan tubuhku "
Ketika Alvin sedang bergumam sendiri, System menjawab [ Jika dari dulu saya sudah ada ditangan Host, yang ada Host akan menjadi orang yang Congkak ! ]
Alvin terkejut, dia kemudian tersenyum getir " hehe... Aku cuma bercanda "
" Sayang !, kamu ngibrol dengan siapa ?" Jeni tiba - tiba sudah ada dibelakang Alvin.
" Astaga sayang !, kamu mengagetkan aku !" Alvin mengelus dadanya.
Jeni tersenyum kecut " Maaf sayang, terus tadi kamu ngobrol dengan siapa ?"
Alvin berkilah lagi, dia menunjukkan Ponselnya yang belum dimasukkan dalam saku " Ini..., oh iya, ini buat kamu "
Alvin menyerahkan paket dari Keysa pada Jeni, Jeni langsung menerimanya " Apa ini sayang ?"
" Bukalah " Ucap Alvin lembut.
Jeni membuka Paket tersebut, betapa terkejutnya Jeni ketika melihat Jam tangan Rolex edisi terbatas untuk Wanita.
Jeni menatap tidak percaya suamainya, karena dia benar - benar membelikan jam tangan tersebut.
" Terimakasih sayang " Jeni langsung memeluk Alvin dengan gembira.
" Sudah, itu hanya jam tangan, kita jadi berangkat tidak ?" goda Alvin pada Jeni.
" Jadilah, pakaikan dulu !" Jeni merajuk manja.
Alvin tersenyum, dia mengambil jam tangan tersebut dan memakaikannya pada Jeni. Mereka berdua kemudian langung keluar Mansion.
Terlihat Sopir sudah menyiapkan Mobil Roll's Royce. Ketika melihat Albin dan jeni Sopir langsung membukakan Pintu untuk mereka.
Alvin dan jeni langsung memasuki Mobil dengan senang hati, Setelah keduanya Masuk. Wiliam Si sopir bertanya " Kita mau kemana Tuan, Nyonya ?"
" Kafe Cake Rose !" Jeni langsung memberitahu tujuannya. Sementara Alvin hanya menuruti saja.
__ADS_1
" Baik Nyonya !" Wiliam langsung menginjak Pedal gas dan meninggalkan Mansion.