
Jelas saja Jeni terkejut, di Chinate ada Mansion, di Arnesia juga ada malah lebih sekarang, dan sekarang di Nerika ada lagi dan lebih besar juga mewah, bukannya senang Jeni malah cenderung tak bisa berkata-kata.
Berbeda dengan Jeni, Alvin sekarang sudah bisa menerima semua pemberian System, dia sudah santai dan tidak terkejut dengan itu semua.
Jeni langsung menatap Alvin, terlihat Alvin yang tersenyum kepadanya " Sayang, i..ini serius ?!" tanya Jeni dengan bersemangat.
" Tanya saja sama Velas, dia yang mengurus semua aset ku disini, aku juga tidak terlalu tahu semuanya " jawab Alvin santai.
" Velas !, apa benar itu ?" tanya Jeni langsung pada Velas karena saking penasarannya.
" Benar Nyonya, sebenarnya banyak tempat milik tuan Moor di Nerika, tapi menurut saya tempat inilah yang layak untuk di jadikan tempat tinggal tuan dan nyonya, mengingat tuan Moor bilang pada saya, kalau beliau ingin menetap di Nerika " jawab Velas yakin.
Jeni menatap Alvin dengan berkaca - kaca, sudah tidak ada kata lagi untuk mengutarakan kebahagiaannya.
Mobil pun masuk kedalam halaman rumah mewah tersebut, Jeni yang sangat bersemangat langsung keluar dari Mobil tanpa menunggu Velas membukakan pintu terlebih dahulu.
" Sayang, ayo cepat dong !" Jeni yang tadinya lemas, dia sekarang terlihat menggebu - gebu dan sangat bersemangat.
" Iya, iya .." Alvin baru melangkah menghampiri Jeni, Jeni sudah langsung menyambar tangannya dan menarik masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
Di lantai pertama terlihat ada sebuah Gym dan tempat untuk bersantai. Jeni tidak henti - hentinya berdecak kagum melihat rumah barunya itu.
Semua fasilitas di rumah tersebut sangatlah luar biasa, tidak ada desain murahan disana, di dekat dapur juga ada mini market kecil yang setiap minggunya akan selalu di ganti dengan baru.
Walaupun belum ada pelayan resmi yang akan melayani Alvin dan Jeni, tempat tersebut sudah ada petugas masing-masing yang selalu membersihkan rumah mewah tersebut.
Ketika keduanya sampai di lantai dua, disana terlihat beberapa kamar, ruang keluarga dan ada bioskop juga yang tersedia disana.
Jeni berlarian kesana kemari untuk melihat semua yang ada disana, seperti anak kecil yang sangat penasaran terhadap sesuatu.
__ADS_1
Alvin dan Velas hanya memperhatikan Jeni yang sangat senang dengan tempat barunya tersebut.
" Syukurlah kalau nyonya Moor menyukainya, apakah anda juga menyukainya tuan Moor ?" tanya Velas sopan dan lembut.
" Kalau istriku menyukainya aku tidak masalah sama sekali tinggal dimana pun juga, oh ..ya Velas, apa kamu sudah mencari pelayan untuk kami ?" tanya Alvin tanpa menoleh ke arah Velas.
" Sebentar lagi mereka datang tuan Moor, tapi hari ini baru dua puluh orang yang datang, sisanya akan datang besok lagi, maaf karena ini mendadak jadi saya tidak bisa langsung mencari orang banyak " ucap Velas merasa bersalah.
" Itu sudah cukup, kerja kamu bagus " ucap Alvin santai.
" Terimakasih tuan Moor !" Velas merasa senang karena di puji Alvin.
Tiba - tiba Klon System datang dan membungkuk Hormat pada Alvin " Tuan Moor, saya membawa sebuah pesan "
" Katakanlah !" jawab Alvin datar.
" Keluarga Turner, Clown dan Muse semuanya sudah di binasakan, Aset mereka juga sudah menjadi milik anda, sekarang para Eksekutor Keluarga Moor sedang menunggu perintah anda, apa yang harus mereka kerjakan sekarang ?" Klon System memberikan laporan mengenai pembantaian ketiga keluarga yang berjaya di Arnesia itu.
" Baik tuan Moor !" Klon System langsung pergi kembali.
Sementara itu Velas yang mendengarkan dari belakang, saat mendengar tiga keluarga yang terkenal di Arnesia itu sudah dibinasakan.
Wajah Velas langsung memucat, dia tidak tahu jika di balik kelembutan Alvin pada istrinya, ternyata dia orang yang sangat kejam.
Velas menelan ludah berkali - kali dia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah mengkhianati Alvin apapun yang terjadi.
" Sayang..., aku suka banget tempat ini, disini juga ada bioskop juga, dan kamarnya sangat besar dan nyaman, di tambah kamar utamanya langsung ke laut, kita bisa melihat matahari terbenam dari balkon " Jeni menggoyang - goyangkan tangan Alvin dengan manja.
Alvin tersenyum " syukurlah kalau kamu suka, Ayo lanjut ke lantai tiga !" ajak Alvin pada Jeni.
__ADS_1
Jeni pun langsung mengangguk dengan bersemangat dan merangkul lengan Alvin.
Saat mereka sampai lantai tiga, ada kolam renang disana yang letaknya ada di pinggiran lantai, dengan penghalang kaca.
Bar kecil juga ada disana, walaupun Bar itu kecil, tapi segala jenis minuman berkelas ada disana.
Lantai tersebut memang di desain sebagai tempat bersantai, ataupun untuk berpesta dengan keluarga.
Jeni membisikkan kata - kata nakal pada Alvin " Sepertinya maen di tempat terbuka seperti ini enak juga sayang " ucap Jeni genit.
Alvin langsung mengernyitkan dahinya sambil menatap Jeni, terlihat Jeni yang sedang menaik turunkan alisnya seolah menantang Alvin.
" Kamu ini yah " Alvin mencubit pipi istrinya dengan gemas.
Velas hanya bisa tersenyum kecut melihat kemesraan tuannya itu, biasanya dia melihat orang kaya itu banyak Wanita, tapi Alvin tampaknya berbeda, dia begitu menyayangi istrinya itu.
Setelah semua tempat sudah di lihat oleh Jeni, para pelayan datang.
Velas pun langsung memberikan arahan pada mereka semua, karena Velas ingin mereka semua melayani tuannya dengan sempurna tanpa kesalahan sedikitpun.
Karena semuanya sudah di atur, Velas akhirnya pamit undur diri, Alvin juga membiarkan dia pergi, karena dia tahu kalau Velas banyak pekerjaan.
...***...
Di Chinate, Swan sudah melihat perintah baru Alvin, dia langsung memberitahu para Eksekutor yang ada di Arnesia untuk melakukan pembersihan tersebut.
Sementara Pak tua Moor sedang bersama dengan Sera dan Arisa di sebuah ruangan, karena Pak tua Moor ingin mengobrol dengan Sera.
" Begitulah Tuan Moor, aku tahu aku salah, tapi aku juga tidak berniat menghianati Garin " Sera tidak berani memanggil Pak tua Moor Ayah, karena dia tahu statusnya sudah berubah.
__ADS_1
Pak tua Moor terlihat sangat santai " hanya karena alasan takut kamu menikahi keluarga yang telah menyakiti keluarga suamimu ?, bukankah itu berlebihan Sera ?, Garin rela mati untukmu dulu, apa kamu lupa itu ?"
Sontak saja Sera langsung ambruk dan bersujud di lantai, karena tentunya dosa dia sangatlah besar, Garin saja rela mati untuknya, sementara dia dengan santainya bilang dirinya takut pada keluarga Clown. Sera sadar Pak tua Moor berharap dia juga rela mati daripada harus menjadi bagian dari keluarga Clown.