
Myura benar - benar terkejut dengan kedatangan Sera, orang yang selama ini di anggap menghilang dan sudah mati karena meninggalkan rumah waktu Depresi, ternyata masih hidup.
Walaupun wajahnya sudah ada kerutan dia sangat yakin kalau orang di depannya nyonya mudanya yang dulu.
Nyonya muda yang melahirkan tuannya sekarang, Myura melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sera.
Air matanya tiba - tiba menetes dari pelupuk matanya dengan sangat deras, rasa senang dan sedih bercampur jadi satu.
" Bruggg
Lutut Myura jatuh ketanah sambil wajahnya mendongak menatap Sera " Nyonya Moor, aku sedang tidak bermimpi kan ?" ucapnya dengan nada sendu.
Sera mengerutkan keningnya, karena dia sudah sedikit lupa dengan Myura, tapi sedetik kemudian terlintas ingatan tentang Myura yang selalu berjaga di dekatnya ketika dia masih muda.
" Akasi Myura, kamu Myura ?" Sera juga sama sedang mengingat kepingan masa lalunya.
" Iya Nonya Moor, ini orang yang selalu Nyonya panggil si Bodoh, hiks..hiks..." Myura tidak bisa membendung Isak tangisnya, walaupun dia sudah tua, tapi tetap saja dia masih sama seperti yang dulu jika bertemu dengan tuannya.
Sera tersenyum, ternyata benar jika orang di depannya adalah pria yang dulunya sangat muda dan polos saat memasuki kelompok Eksekutor.
Sera memapah Myura berdiri " Apa aku boleh bertemu dengan Alvin Myura ?" tanyanya setelah Myura berdiri.
" Te..tentu saja Nyonya Moor, tuan Muda juga pasti ingin bertemu dengan anda !" jawabnya tegas sambil mengusap air matanya.
' Glek ' Milick yang melihat itu langsung menelan ludah, karena Sera benar - benar istri Garin Moor.
Perasaan Milick campur aduk tentunya antara senang Sera akan bertemu anak pertamanya, tapi dia juga takut jika sampai para Eksekutor keluarga Moor tahu jika Keluarga nya ikut dalam invasi dulu.
" Silahkan Nyonya !" Myura menunjukkan jalan, tapi dia juga mengernyitkan dahi saat melihat pria yang menempel terus dengan Sera.
Para penjaga gerbang yang tadinya tidak menaruh hormat sama sekali dengan Sera, sekarang mereka semua membungkuk hormat ketika Sera akan memasuki gerbang.
Beberapa saat kemudian saat sudah hampir sampai di depan Mansion, Myura yang melihat Ken langsung berlari ke arahnya dengan bersemangat.
" Ada apa Myura ?!, kamu sudah tua jangan bertingkah seperti anak kecil lagi !" ucapnya tegas.
__ADS_1
Ken mengatakan hal itu karena Myura memang sering seperti anak kecil yang meminta bermain, melompat - lompat tidak jelas sambil menyunggingkan senyum.
" Lihatlah tuan Ken, siapa yang datang " Myura menunujuk ke arah Sera.
Ken langsung menoleh, dia pun disambut senyuman khas nyonya mudanya dulu " Lama tidak bertemu Ken, aku tidak menyangka kalau kamu masih memimpin salah satu Eksekutor keluarga Moor "
Bukannya Ken bersedih, tapi dia menatap Sinis orang yang berani menyentuh Sera, yang tidak lain adalah Milick.
Sebenarnya Ken juga sama seperti Myura yang tidak bisa berkata-kata, tapi dia tetap menjaga wibawanya.
Ken membungkuk hormat pada Sera " Lama tidak bertemu nyonya Moor !" suaranya sedikit bergetar walau dia terlihat sangat tegar.
Ken menegaskan tubuhnya, dia melepaskan pedang dari sarungnya dan berkata dengan sinis " Siapapun kamu, lepaskan tanganmu dari Nyonya Moor atau aku akan menebasnya !" ucapnya sangat tegas.
Sontak saja Milick langsung melepaskan tangannya dan bersembunyi di belakang istrinya karena ketakutan.
" Ken turunkan pedangmu, dia suamiku yang telah menyelamatkan aku " ucapnya lembut.
" Suami ?, apa maksud anda nyonya ?" tanya Ken yang masih tidak bisa menerima akan hal itu, bagi dia hanya Garin suami dari Sera.
Sera sadar posisinya di keluarga Moor harusnya sudah tidak berpengaruh, karena Garin sudah meninggal, di tambah walaupun Alvin anaknya tapi dia tidak mengasuhnya sejak kecil.
Sera belum tahu kalau Alvin sempat hilang selama dua puluh tahun lamanya.
Ken menatap Sinis Milick sambil memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya " Silahkan Masuk Nyonya !"
Sera tersenyum dia menaiki tangga, dan di antar masuk kedalam Mansion tersebut.
Sementara itu di ruang keluarga, Alvin dan Jeni sedang menonton tv sambil bercanda.
" Sayang ih... sudah " Jeni menggelinjang kegelian karena Alvin menggelitikinya.
" Hehehehe .. kamu kan yang mulai duluan, tapi kenapa menyerah " Alvin masih menggelitiki Jeni.
" Hihihi.., sudah sayang, sudah, aku menyerah " Jeni sudah tidak sanggup lagi bercanda dengan suaminya itu.
__ADS_1
" Tuan Moor, ada yang ingin bertemu dengan anda " Ken tiba - tiba buka suara.
Sontak saja Alvin menghentikan candaannya dengan Jeni dan menoleh, sementara Jeni yang terbaring di sofa menjumbulkan kepalanya dan mengintip siapa yang datang.
" Siapa Ken ?" tanya Alvin penasaran.
Ken kemudian memperlihatkan wanita paruh baya yang wajahnya mirip dengan Arisa, Alvin langsung mengernyitkan dahinya.
Alvin menebak kalau orang tersebut adalah orang tua Arisa, karena mereka sangat mirip sekali, dia yakin kalau wanita paruh baya itu muda mungkin secantik Arisa.
Alvin berdiri dan merapikan pakaiannya " Silahkan duduk Tuan, Nyonya "
Jeni juga langsung duduk dengan benar sambil merapikan pakaiannya, yang acak - acakan gara - gara bercanda dengan Alvin.
Bukannya langsung duduk tapi Sera langsung menghambur dengan memeluk Alvin dengan Erat.
Sontak saja Alvin terkejut, begitu juga dengan Jeni, mereka tidak siapa wanita itu dan tiba - tiba saja memeluk Alvin.
" Hiks..hiks... maafkan ibu sayang, ibu memang tidak pantas untuk menemui kamu " Pelukan Sera semakin erat saja, membuat Alvin menatap Ken dengan tidak berdaya.
Alvin adalah orang yang tidak bisa berbuat kasar dengan Wanita, jadi walaupun dia belum tahu apa maksud dari perkataan Sera, dia tetap membiarkan memeluknya terlebih dahulu.
Sera menangis tersedu-sedu dalam pelukan Alvin, dia melepaskan segala kegelisahan nya selama ini, karena telah meninggalkan dan menelantarkan anaknya.
Bahu Alvin basah oleh air mata Sera, Alvin masih berdiam diri disana tanpa berkata sepatah katapun.
Setelah beberapa saat dan Sera mulai tenang, Alvin melepaskan pelukan Sera " duduklah Nyonya, kita bicara baik - baik "
Sera mengangguk, dia duduk diseberang Alvin duduk, di ikuti Milick yang dengan patuh berada di samping Sera.
Sera menghapus air matanya dan melihat Jeni " Apa dia istrimu Nak ?"
Alvin mengangguk " Benar Nyonya, dia Jeni Su istriku, jadi apa maksud Nyonya datang kemari ?" tanya Alvin langsung ke intinya.
" Wanita yang sangat cantik, kamu memang pemilih seperti Ayah kamu dulu Alvin " Sera sangat yakin jika Alvin adalah anaknya, karena wajah Alvin mirip dengan Garin, di tambah tubuh Petarung Alvin menjadikan tubuhnya juga seperti Garin yang memang suka melatih otot - ototnya.
__ADS_1
Alvin semakin bingung dengan Ucapan Sera, karena dia dari tadi bukannya membahas masalah Arisa, tapi malah membicarakan dirinya.