
Selepas kepergian Alvin dan Jeni. Vilan menatap Leo dan teman - temannya dengan tajam.
" Idiot saja yang tidak pernah berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, dia tahu jika Harimau bisa membunuhnya !. Tapi kalian yang diberi akal malah tidak bisa melihat Harimau didepan mata kalian !. Jangan salahkan aku jika kehidupan kalian semua akan ku buat menderita !" Ucap Vilan tegas.
Leo dan yang lainnya terkesiap. Mereka ingin membela diri tapi mereka sadar jika ucapan mereka bagaikan angin lalu saja di depan Vilan. Mereka semua hanya bisa menundukkan kepala karena malu dan takut.
Vilan menghampiri Keysa " Nona Velias, maafkan atas ketidak becusan saya. Saya berjanji akan memperbaiki semuanya "
Keysa menatap tajam Leo dan yang lainnya " Tuan Rox !, beruntung Tuan Moor mau memaafkanmu !, tapi jika sampai anda membuat keputusan yang tidak membuat senang Tuan Moor, maka bersiaplah menerima resikonya !"
Setelah mengatakan itu pada Vilan. Keysa langsung meninggalkan Kafe Cake Rose. Karena dia sudah tidak ada lagi urusan disana.
Vilan mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buahnya agar membereskan Leo dan teman - temannya.
Sementara itu Alvin dan Jeni sudah ada di dalam Mobil Roll's Royce mereka.
" Sayang, kita mau kemana lagi ?" Alvin bertanya pada istrinya.
Jeni menghela napas " Aku juga hilang Mood. Kita beli seuatu dulu ke supermarket, terus langsung pulang sajalah sayang "
Alvin tersenyum " Baiklah sesuai permintaanmu Ratuku "
Jeni tersenyum senang, karena sekarang Alvin begitu perhatian padanya. Apalagi sekarang suaminya itu bisa di bilang orang terkaya di Kota Andalas.
Jeni selalu berpikir kalau keputusannya dulu sangat mempengaruhi nasibnya sekarang. Untung saja waktu itu dia menerima Alvin, jika tidak mungkin dia akan bernasib sama seperti Protagonis Wanita dalam Novel yang dibacanya karya Author Alveandra yang berjudul ' System Harem '.
Jeni sangat berterimaksih dengan keberuntungannya telah memilih Alvin. Walaupun setelah tiga tahun menikah, dia baru melihat sosok Alvin yang sebenarnya.
Jeni terus menatap suaminya sepanjang perjalan. Dia baru tersadar ketika Alvin menegurnya.
" Sayang, hei...!, kita sudah sampai !" Alvin melambai - lambaikan tangannya di depan wajah Jeni.
__ADS_1
" Eh... Iya " Jeni tersenyum kecut, melihat suaminya yang menggeleng - gelengkan kepalanya.
Mereka berdua keluar dari Mobil setelah Wiliam si sopir membukakan pintu.
Jeni langsung merangkul Alvin ketika mau masuk ke dalam super market. Mereka berdua berbelanja kebutuhan sehari - hari. Padahal para Pelayan yang biasanya berbelanja, bisa di bilang aktivitas mereka hanya untuk iseng - iseng saja.
" Sayang, nanti siang kamu mau makan apa ?" tanya Jeni penuh perhatian.
Alvin terlihat berpikir sambil memegang dagunya " Emm.... Apa yah ?, apa sajalah, asalkan masakkan kamu aku pasti menyukainya "
Jeni tersenyum " ih... Kamu ini, ya sudah masak ini saja yah ?" Jeni menunjukkan daging ikan Tuna yang merupakan makanan kesukaan Alvin.
" Kamu memang istri yang pintar !" Alvin memencet hidung Jeni dengan gemas.
" Ih...sayang " Jeni merajuk manja.
Interaksi pasangan suami istri tersebut membuat orang - orang yang melihatnya jadi iri. Karena Alvin dan Jeni terlihat sangat mesra. Mereka berpikir jika keduanya merupakan pasangan Suami istri baru.
Ketika keduanya sedang asyik bercengkrama saat mengantri di kasir. Seorang wanita menegur Alvin.
" Alvin !, kamu Alvin kan ?"
Sontak saja Alvin dan Jeni menoleh, terlihat seorang Wanita memakai kacamata dengan pakaian kerja dan dia sedang mendekap Map di depan dadanya.
Alvin terkejut " Latisa !, Astaga ..., lama tidak bertemu !"
Jeni mengerutkan keningnya " Sayang, kamu mengenalnya ?"
Alvin tanpa ragu menganggukkan kepalanya " sayang, orang yang sering aku ceritakan dulu selalu membantuku, dia orangnya "
" Salam kenal Nona, Saya Latisa Dune " Ia menngulurkan tangannya.
__ADS_1
Jeni menyambut uluran tangannya " Jeni Su, istri Alvin !"
Jeni memberikan penekanan jika dia istri Alvin, karena Latisa tergolong wanita yang cantik. Jika dibandingkan dengannya mungkin 11 - 12. Perbedaan mereka hanya di gunung kembarnya saja yang sangat kontras, milik Latisa lebih besar 3x lipat dari punya Jeni.
Alvin bertanya dengan semangat " Sekarang kamu kerja dimana Latisa ?, ah.. Mungkin kamu sekarang sudah jadi seorang CEO !"
Sebelum bertemu dengan Jeni sebenarnya Latisa punya hubungan baik dengan Alvin. Ditambah Latisa sering membantu Alvin jika dia kekurangan uang. Tentu saja Alvin sangat senang bertemu kembali dengannya.
Jeni mengernyitkan dahinya. Ia tidak senang Alvin begitu bersemangat ketika bertanya pada Latisa, dia sedang menebak - nebak bagaimana dulu hubungan Alvin dengan Latisa.
" Selanjutnya !" Kasir memanggil Jeni dan Alvin untuk membayar di kasir.
" Kita bicara lagi nanti setelah keluar dari sini, Sayang ayo kita bayar dulu " Alvin bergegas ke Kasir.
Latisa hanya menganggukkan kepalanya lirih, Ia juga mendekat ke Kasir untuk membayar belanjaannya.
Ketika Kasir sedang menghitung, Alvin merebut belanjaan Latisa " Sekalian ini juga di hitung Nona, tapi pisah yah !"
" Baik Tuan !" Jawab Kasir sopan.
Latisa buka suara dengan lembut " Alvin, aku bisa membayarnya sendiri "
Alvin tersenyum " Sudahlah, sesekali aku ingin mentraktir kamu, benarkan Sayang ?"
Jeni hanya tersenyum getir dan mengangguk, dia tidak ingin menunjukkan wajah cemburunya. Tapi Alvin terlihat terlalu dekat dengan Latisa.
Latisa melirik Jeni dengan ragu. Karena dia seorang wanita, ia sadar jika Jeni pasti berpikir negatif tentangnya.
Latisa begitu tertekan karena pandangan Jeni padanya seolah ingin menelannya hidup - hidup. Jadi dia tidak berani menatap balik Jeni.
Alvin langsung membayar semua belanjaan mereka. Kemudian dia mengajak Latisa untuk ikut dengannya.
__ADS_1
Jeni hanya bisa mengiyakan saja, pasalnya dia sudah pernah mendengar cerita Latisa dari Alvin, jika ia dulu sangat membantunya. Jadi mau tidak mau Jeni harus bersabar untuk tidak berpikiran buruk pada Latisa.