
Ke esokan Harinya, Alvin terbangun ketika matahari mulai membumbung tinggi, Karena terlalubersemangat ketika berolahraga malam.
Jeni sengaja tidak membangunkan suaminya, dia lebih memilih untuk membiarkan suaminya beristirahat lebih lama lagi. Walaupun Alvin jarang ke kantor, tapi Jeni merasa kalau sebenarnya pekerjaan Alvin sangatlah berat, buktinya dia selalu mendapatkan laporan dari anak buahnya.
Jeni berpikir kalau Alvin adalah tipikal Bos yang bekerja di balik layar, dia akan keluar jika masalah perusahaannya benar-benar sedang pelik saja.
Alvin mengerjapkan matanya, dia perlahan membuka matanya sebelum sepenuhnya bangun dari tidurnya.
Alvin duduk di ranjang setelah bangun sepenuhnya, dia menoleh ke arah Jendela kamar yang menunjukan hari sudah mulai siang.
" Pagi sayang " Jeni masuk sambil membawa segelas susu dan sepotong roti untuk sarapan suami tercintanya.
Alvin menoleh ke arah Jeni, dia mengulas sebuah senyum " pagi juga sayang "
Jeni menaruh susu dan Roti di atas laci kecil yang dekat dengan ranjang, dia kemudian duduk di pinggir ranjang.
" Mandi dulu gih! " perintah Jeni pada suaminya.
" Maunya di mandiin kamu " rengek Kabin manja menggoda istrinya.
" Ih... apaan sih sayang, masa bos besar seperti itu? " ejek Jeni pada Alvin.
" Bos besar apanya? Aku kalau dirumah sama saja hanya orang biasa " jawab Alvin santai.
" Kamu ini ya! " Jeni mencubit gemas perut Alvin.
Awww
Pekik Alvin pura-pura kesakitan saat Jeni mencubit perutnya.
Jeni yang melihat tingkah suaminya seperti itu, dia semakin gemas saja. Padahal dulu Alvin tidak manja seperti sekarang.
" Sana mandi dulu gih! " tegur Jeni lagi.
" Iya, iya istriku tercinta " Alvin mengecup bibir Jeni dan langsung ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.
Jeni terkikik geli ketika melihat belalai Alvin yang gombal-gambil kesana kemari karena tidak tertutupi sehelai benangpun.
" Dasar! " Jeni menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya yang semakin absurd saja.
__ADS_1
Jeni masih teringat jelas bagaimana suaminya dulu sangat menjaga wibawanya ketika sedang bersamanya. Tau sekarang semuanya itu sudah berbeda. Alvin sekarang lebih blak-blakan malah cenderung tidak peduli sama sekali dengan wibawanya ketika bersama dengan dirinya.
Berbeda saat bersama dengan anak buahnya yang selalu tetap sigap dan sangat berkarisma. Jeni menduga Alvin melakukan hal tersebut untuk membuat para bawahannya tetap segan terhadap dirinya.
Sambil menunggu Alvin mandi, Jeni membaca Novel online, dia membaca Novel karya Author Alveandra yang kemarin sudah merilis Novel baru dengan judul " JAVA SYSTEM ".
Jeni suka membaca karyanya karena semua karya dia mengisahkan seseorang yang miskin menjadi kaya. Apa lagi di selipkan beberapa adegan romantis yang membuatnya tambah betah membaca karya Author tersebut.
Tak berselang lama Alvin keluar dari kamar mandi. Jeni yang mendengar itu langsung menutup ponselnya dan langsung menyiapkan pakaian untuk suaminya, karena dia keasyikan baca Novel Online jadi lupa menyiapkannya tadi.
Sambil menunggu Jeni menyiapkan pakaian, Alvin meminum Susu dan memakan Roti yang tadi dibawakan Jeni, dia langsung menghabiskan semuanya tanpa sisa.
" Hari ini kamu mau kemana sayang? " tanya Jeni sambil memakaikan Jas yang tadi dia ambil.
" Mungkin mau lihat-lihat perusahaan baruku. Aku juga sekalian mau membawa kakek jalan-jalan " jawabnya lembut.
Jeni mengangguk mengerti, dia paham kalau suaminya harus mengecek perusahaan-perusahaa nya.
" Kalau kamu? Hari ini rencana mau kemana?" tanya Alvin ingin tahu keseharian istrinya.
" Rencananya hari ini ada instruktur senam yang akan datang. Saria yang mengatur semuanya, bahkan semua kegiatanku sudah di jadwalkan nya " ucap Jeni tidak berdaya.
Melihat istrinya yang merasa tidak senang, Alvin mengerutkan keningnya " kalau kamu tidak suka jadwalnya bilang saja, kamu bosnya bukan dia "
" Terus... apa masalahnya? " tanya Alvin yang sudah selesai memakai pakaiannya.
Jeni menghela napas " kamu kan tahu akhir-akhir ini aku sudah tidak beraktivitas, jadi penyakit malas ku mulai tumbuh mengakar"
" Kamu ini ya! " Alvin mencubit hidung istrinya dengan gemas.
Jeni memeletkan lidahnya, dia seperti anak kecil yang sedang bermanja-manja dengan orang tuanya.
" Ya sudah aku berangkat dulu yah sayang, oh iya kamu lihat kakek gak?" tanya Alvin lagi sebelum pergi.
" Kakek ada dihalaman sedang bersama Sean dan Darla, hati-hati di jalan sayang" jawab Jeni sigap.
Alvin mengangguk, dia mengecup kening istrinya kemudian langsung keluar dari kamarnya.
Saat baru keluar dari kamar, lagi-lagi Arisa sudah ada didepan pintu dengan mengenakan pakaian senam.
__ADS_1
Alvin yang melihatnya mengerutkan kening, tapi Arisa tetap tersenyum semanis mungkin di hadapan Alvin.
" Pagi kak " sapa Arisa lembut.
" Pagi juga " jawab Alvin ketus sambil melangkahkan tanpa bertanya apa-apa lagi pada Arisa.
Arisa menggembungkan pipinya, padahal dia ingin berbasa-basi sebentar dengan Alvin, tapi Alvin malah tidak peduli dengan.
" Arisa! Kamu sudah bersiap-siap?" Jeni yang baru keluar menegur Arisa.
" Eh..iya kak, kata Saria sebentar lagi instrukturnya datang "jawabnya sedikit kaget, karena dia daritadi memperhatikan Alvin.
" Oh gitu, ya sudah aku siap-siap dulu "Jeni kembali masuk ke kamarnya.
Sementara itu Alvin sudah sampai di teras rumahnya, terlihat Saria dengan membawa seorang laki-laki. Saria buru-buru memberikan salam.
" Selamat pagi tuan Moor! " Saria membungkuk Hormat di ikuti oleh pria yang bersamanya.
Alvin menatap menyelidik pria tersebut, dia melihatnya dari atas sampai ke bawah sambil mengerutkan keningnya.
Saria yang melihat tuannya menatap dengan tajam membuatnya ketakutan, keringat dingin membasahi punggungnya.
Saria buru-buru memperkenalkan instruktur senam tersebut " Tu..an Moor, dia Mis Leona "
Alvin merasa dibodohi Saria, kenapa seorang pria di panggil Mis? Dia masih tidak tahu maksud dari Saria.
Saria menyikut Mis Leona. Pria kekar tersebut langsung memperkenalkan diri " Halo... tuan Moor, eke Mis Leona instruktur senam Nyonya Moor " dia berbicara khas pria bertulang lunak.
Sontak saja Alvin terkejut, dia hampir saja tertawa terbahak-bahak karena ternyata pria kekar tersebut seorang pria dengan kepribadian wanita.
Alvin merasa seperti orang bodoh
karena hampir saja dia cemburu dengan seseorang dengan kepribadian ganda tersebut.
' Ekhem! ' Alvin mencoba untuk tetap berwibawa, tanpa berkata-kata dia langsung meninggalkan mereka berdua.
Saria menghela napas lega, Karena dia tahu kalau tuannya itu hampir saja memarahinya karena membawa instruktur pria.
" Tuan Moor kenapa Mis Saria?" tanya Leona yang nama aslinya Leonardo.
__ADS_1
" Sudah, jangan urusin tuan Moor dan inget Mis, kamu jangan bertingkah macam-macam disini! " jawabnya sambil masuk kedalam.
Leona mengikuti dari belakang sambil bersungut-sungut, seperti anak perawan yang sedang kesal saja.