
Alvin masih mengobrol ringan bersama Jeni di mansionnya, saat Jeni pamit untuk pergi mandi, Alvin pergi keluar ke halaman belakang.
Pemandangan Sore hari di halaman Belakang membuat Alvin merasa nyaman, apa lagi disana ada sebuah perkebunan kecil, tempat para pelayannya memetik sayuran dan Buah-buahan.
Alvin mengerutkan keningnya ketika melihat Gadis 14 tahunan memakai pakaian pelayan dan membantu pelayan lainnya yang sedang menyirami sayur - sayuran disana.
Alvin mendekat kesana untuk mencari tahu siapa gadis muda itu dan kenapa dia bekerja di Mansionnya.
Alvin sebelumnya tidak pernah memperhatikan para pelayan maupun orang - orang yang bekerja di Mansionnya, karena jumlah mereka terlalu banyak.
" Halo " Sapa Alvin ramah.
Sontak saja saat para pelayan menoleh, mereka semua terkejut karena kedatangan Alvin yang tiba - tiba ada disamping mereka.
" Tuan Moor !" Mereka semua langsung membungkuk Hormat.
" Jangan terlalu formal begitu, lanjutkan saja pekerjaan kalian, aku hanya ingin melihat - lihat saja disini " jawabnya lembut.
Walaupun Alvin sudah berkata seperti itu, tapi tetap saja mereka semua merasa gugup karena tidak biasanya tuan mereka akan melihat pekerjaannya.
" Ngomong - ngomong siapa nama kamu ?" Alvin langsung bertanya pada Gadis itu.
" Saya Lorena Tuan Moor " Gadis itu dengan sopan memperkenalkan diri.
Alvin mengangguk-anggukkan kepalanya " kamu tidak sekolah ?" tanyanya lagi.
" Saya sekolah Tuan Moor, tapi sehabis sekolah saya bekerja disini untuk membantu Ayah dan Ibu sekalian mencari uang jajan, kebetulan Tuan Rudi memperolehkan saya bekerja disini " Gadis itu terlihat tersipu malu saat menjawab pertanyaan Alvin.
Alvin tersenyum " Apa orang tuamu bekerja disini juga ?"
__ADS_1
" Saya orang tuanya Tuan Moor " Seorang wanita paruh baya dengan tubuh sedikit gemuk maju kedepan dan menjawab dengan sopan.
" Jadi kamu anaknya Wiliam ?" Alvin sempat mengobrol dengan Wiliam dan di tunjukkan foto istrinya yang kebetulan bekerja di Mansionnya juga.
" Benar sekali tuan Moor " Wanita itu masih menjawab dengan sopan.
Alvin mendekati anak Wiliam dan memegang kepalanya " Kamu fokus belajar saja dulu, untuk uang jajan nanti biar aku bicarakan dengan Rudi, biar sekolahmu tidak terganggu dengan pekerjaan oke "
" Tapi tuan Moor..."
Alvin menggelengkan kepalanya " Kalau kamu ingin bekerja nanti saja kalau sudah lulus sekolah, aku akan memberikan pekerjaan yang layak untukmu oke " ucapnya sambil tersenyum ramah.
Lorena menoleh ke arah Ibunya, Istri Wiliam tersenyum dan mengangguk menandakan jika ia setuju.
Lorena mengangguk kecil, Alvin tersenyum " anak pintar, sekolah yang benar agar kelak bisa menjadi orang yang sukses "
" Sayang... kamu sedang ngapain ?!" Jeni yang sudah membersihkan diri memanggil Alvin dari pintu belakang Mansion sambil sedikit berteriak.
" Aku pergi dulu, ingat baik - baik kata - kataku " Ucap Alvin sambil meninggalkan mereka.
Lorena menatap punggung Alvin yang sedang berjalan meninggalkannya, dia tidak menyangka kalau tuannya adalah orang yang sangat baik.
Ibunya memeluk Lorena dari samping dan berkata " Tuhkan, tuan Moor juga bilang seperti itu, bekerja nanti setelah selesai sekolah "
Lorena tersenyum sambil mengangguk " Iya bu, Lorena pasti akan menjadi orang sukses seperti tuan Moor !" ucapnya penuh keyakinan.
Setelah mendapat teguran dari Alvin, semangat Lorena jadi bertambah, pasalnya yang memberinya saran orang yang sudah sangat sukses menurut nya, jadi tentu saja dia langsung bersemangat.
Alvin menghampiri Jeni yang masih menunggunya di pintu belakang Mansion.
__ADS_1
" Kamu habis ngapain sayang dan anak kecil itu siapa ?" tanya Jeni penasaran sambil melihat Lorena yang sudah melanjutkan membantu ibunya.
" Aku melihat perkebunan kita saja, dia anak Wiliam dan bekerja disini, tapi aku menyuruhnya agar fokus saja kesekolah dulu " Ucapnya menjelaskan sambil merangkul dan membawa Istrinya masuk ke dalam Mansion.
Jeni tidak bertanya lagi, karena dia juga tidak begitu tahu yang mana Wiliam, pasalnya sopir di Mansion ada 5 orang.
Alvin dan Jeni duduk di sofa ruang keluarga, karena Alvin ingin membicarakan sesuatu dengannya.
" Sayang, besok kita ke Arnesia, aku mau mengecek perusahaan disana .."
Alvin belum selesai bicara, Jeni langsung memotongnya " Benarkah sayang, oke aku langsung bersiap - siap yah ?" Jeni dengan semangat berlari ke arah kamarnya, membuat Alvin hanya bisa menghela napas.
Alvin sadar jika dia tidak pernah membawa Jeni jalan - jalan jauh, jangankan keluar negeri, ke luar kota saja tidak pernah. Jadi wajar saja kalau Jeni sangat bersemangat saat di ajak ke Arnesia.
***
Sementara itu di kediaman Keluarga Su, mereka sedang melakukan rapat keluarga karena Danil sudah memutuskan untuk bekerja sama dengan Alvin.
" Karena kalian semua sudah berkumpul, aku akan memberi tahu jika Su Grup akan bekerja sama dengan Matrix Capital !" Ucapnya tegas.
Sontak saja anak cucu Danil langsung terkejut, pasalnya mereka yang disuruh untuk mengajukan kerja sama dengan Matrix Capital tidak berhasil sama sekali.
" Ayah memang yang terbaik !" ucap Jorah bersemangat.
" Itulah pendiri keluarga Su !" timpal Jordan juga memuji.
" Diamlah kalian !, aku belum selesai bicara !" Danil membentak kedua anaknya yang langsung menundukkan kepala karena takut.
" Aku memang sudah bekerja sama dengan Matrix Capita, tapi mereka Matrix Capital yang akan memegang kendali penuh atas Di grup, artinya kita hanya akan menjadi pembantu mereka saja dan aku peringatkan pada kalian agar tidak bertindak bodoh !" Setelah Danil mengatakan itu sontak saja semua anak dan Cucunya terkejut.
__ADS_1
Wajah mereka yang tadinya berbunga langsung berubah menjadi muram, karena mereka tahu jika Matrix Capital yang mengendalikan Su Grup, otomatis mereka tidak akan bisa mencuri uang perusahaan.