System Cek In Pikiran

System Cek In Pikiran
Sampai Di Arnesia


__ADS_3

" Sayang !" Jeni langsung memeluk Alvin.


" Apa yang kalian lihat ?, suamiku sudah bangun kembali bekerja !"


Para pramugari tersenyum getir melihat Jeni yang begitu posesif terhadap Alvin. Mereka langsung pamit undur diri.


" Sayang kamu kenapa sih ?" Jeni bertanya dengan khawatir.


Alvin menghela napas " Ada Guntur masuk dalam pesawat tadi saat aku bermain ponsel " sungguh alasan yang membagongkan.


Jeni mengernyitkan dahi, tapi ketika Jeni mau buka suara Alvin lebih dulu bicara " Sudahlah, yang penting aku tidak apa - apa, aku mau cuci muka dulu " Alvin beranjak dari ranjang dan langsung ke kamar mandi.


Jeni menatap aneh suaminya itu, karena dia pikir alasan Alvin tidak masuk akal " masa sih ada Guntur masuk dalam pesawat ?" gumamnya masih penasaran.


Sementara itu di kamar mandi Alvin menggerutu " System brengsek !, kenapa tidak bilang jika ada hukuman kalau gagal melakukan misi !"


[ Host tidak bertanya pada saya ]


Alvin menganga mendengar penjelasan System, dia sangat kesal tapi tidak tahu harus melampiaskannya pada siapa.


Alvin menarik napas dalam - dalam, dia kemudian bertanya pada System " Baiklah, sekarang jelaskan jenis hukuman jika aku gagal melakukan misi !"


[ Hukuman tergantung Kotak Hadiah


Bronze : 100 Volt


Silver : 200 Volt


Emas : 400 Volt


Diamond : 1000 Volt ]


Alvin terkejut saat melihat hukumannya semakin tinggi jika kotak hadiahnya semakin tinggi.


" Gila !, 1000 Volt kamu mau membunuhku System !"


[ Semakin tinggi Hadiahnya semakin tinggi juga Resikonya, bukankah itu sudah hukum Alam tuan ?]

__ADS_1


" Arghhh !


Alvin mengacak - acak rambutnya, dia merasa System kali ini sangat menjengkelkan, karena dia tidak diberitahu dari awal tentang hukuman yang akan diterimanya.


Alvin menghirup napas dan mengeluarkannya " tenang Alvin, tenang..., semua ini demi masa depan kamu, kamu harus lebih kuat dan bijak lagi menjalankan misi selanjutnya "


Alvin sadar kalau semua perbuatan pasti ada resikonya, begitupun System yang memberikannya kekayaan dalam sekejap mata, tentu saja ada resiko besar menantinya.


Alvin membersihkan wajah dan memperbaiki rambutnya yang acak - acakan, kemudian dia keluar dari kamar mandi.


Alvin langsung menerkam Jeni yang sedang memainkan ponselnya, dia langsung mengecup bibirnya dengan rakus.


Jeni terkejut dengan perlakuan Alvin, tapi dia mengikuti permainan Alvin, dia pikir jika Alvin sedang menginginkan bermain ditempat baru. Nyatanya Alvin hanya ingin menghilangkan kekesalannya pada System dan bersenang - senang bersama istrinya.


Alvin menggarap Jeni sampai Pesawat mendarat di bandara Arnesia, bahkan saat mendarat pun, dia masih menggarap istrinya itu satu ronde lagi. Membuat pramugari yang mau mengetuk pintu tidak jadi karena mendengar ******* manja Jeni.


Mereka berdua mandi bersama di kamar mandi " Kamu ini keterlaluan sayang ih... " Jeni memukul - mukul manja Alvin.


" Bukankah kamu menikmatinya " Alvin menyeringai sambil memainkan puncak gunung Jeni.


" Ya sudah kita keluar " Alvin mengajak istrinya keluar dari kamar mandi.


Mereka berdua memakai kembali pakaiannya dan keluar dari kamar, Pramugari yang menunggu memaksakan sebuah senyum, padahal dia sedang panas dingin menahan gairahnya akibat mendengar pertempuran tuannya itu.


Di luar pesawat wanita yang bersama Jeremy mengeluh " Sayang lama sekali mereka, kita bisa du... "


Wanita itu belum selesai bicara, Jeremy mencengkram mulutnya " Jika kamu masih mau disampingku, diam dan jangan banyak bicara !" ucapnya ketus.


Wanita itu ketakutan sambil menganggukkan kepala dengan patuh, dia sudah tahu walaupun Jeremy mencintainya tapi jika dihadapan tuannya Jeremy bagaikan anjing, dia mungkin bahkan menurut jika Alvin menyuruhnya untuk membunuh wanita itu.


Molina menggelengkan kepalanya " Wanita manja !" cibirnya ketus.


Kekasih Jeremy semakin ketakutan, pasalnya para Eksekutor yang di perkenalkan Jeremy padanya sangatlah kejam, mereka seperti tidak memiliki perasaan kalau sudah menjalankan tugas.


Alvin dan Jeni turun dari pesawat, Alvin terkejut saat melihat Puluhan orang berjas Hitam menyambutnya, mereka semua membungkuk Hormat ketika Alvin melewatinya.


" Tuan Moor, saya Molina Lu " Ucapnya sambil membungkuk Hormat.

__ADS_1


" Tuan Moor, saya Jeremy Hu " Ia juga melakukan hal yang sama seperti Molina.


Kekasih Jeremy membungkuk hormat tanpa berani melirik Alvin sedikitpun, karena dia takut Jeremy marah lagi padanya.


" Antar aku ke Mansion Grown Distrik Gangnam, aku akan tinggal disana !" Ucapnya penuh dengan wibawa.


Molina dan Jeremy saling menatap, mereka mau terkejut tapi yang di hadapannya adalah Tuan Moor, apapun bisa dia beli dengan mudah.


" Baik tuan Moor !" Molina dan Jeremy langsung mempersilahkan mereka ke sebuah Mobil yang sudah di siapkan.


Alvin dan Jeni masuk dalam Mobil yang sangat mewah itu, Jeni merasa jika kehidupannya menjadi Nona dari seorang Taipan sudah sangat sempurna. Dia tidak henti - hentinya merangkul Alvin.


Jeremy yang mengemudikan langsung mobil tersebut bersama Molina, sementara wanitanya dia biarkan ikut anak buahnya.


" Tuan Moor, ini data perusahaan, berikut cabangnya " Molina menyerahkan sebuah tab yang isinya data - data lengkap perusahaan Alvin.


Jeni juga ikut melihat data - data tersebut, ketika melihat data keuangan perusahaan mata Jeni langsung membelalak seperti mau keluar saja.


" 100 Milyar dolar perbulan, sayang ini..." Jeni menatap Alvin, tapi ekspresi Alvin biasa saja, padahal dalam hati dia juga bergetar.


" Kamu harus membiasakan melihat yang seperti ini, Molina apa kalian sudah menyiapkan pakaian ganti berikut dengan keperluanku dan istriku ?" ucap Alvin sambil mengembalikan tab pada Molina.


" Semuanya ada di bagasi tuan, kami sudah di beritahu tuan Swan semuanya, jadi kami sudah menyiapkan keperluan anda dan Nona Moor " ucapnya sangat sopan dan Lembut.


Jeremy hanya diam dan mendengarkan pembicaraan mereka saja sambil Fokus menyetir.


Iring - iringan Mobil Alvin sampai di distrik Gangnam, Alvin terkejut saat melihat barisan Vila dan Mansion yang sangat mewah disana. Dia bertanya - tanya dimana Mansion miliknya karena Mobil tak kunjung berhenti juga.


Dia kemudian melihat sebuah Mansion yang seperti istana, tempatnya di atas sebuah bukit, Mansion tersebut seolah menunjukkan ke agungannya, hingga Mansion dan Bila yang terletak di kaki Bukit bagaikan miniatur saja.


" Sayang lihatlah itu " Alvin menunjukkan Mansion besar itu.


" Astaga besar sekali " Jeni terkejut ketika melihat Mansion itu, yang ternyata milik suaminya, Alvin juga sebenarnya tidak tahu kalau Mansion itu miliknya.


Molina buka suara " Nyonya Moor, itu adalah Mansion Grown, anda akan tinggal disana, benarkan tuan Moor ?"


Alvin tercengang mendengar penjelasan dari Molina, karena dia tadi menunjukkan Mansion itu pada Jeni juga karena kagum dengan kebesaran dan keindahannya.

__ADS_1


__ADS_2