
Sementara itu di kediaman Alvin, Pak tua Moor terlihat sangat cemas karena dia mendengar kalau para Eksekutor hampir saja kalah.
Sedangkan Alvin tidak merasa cemas sama sekali, dia baru kembali dari pantai bersama Jeni dan Arisa.
Alvin merangkul Jeni masuk ke dalam rumah sambil bercanda bersama, keduanya memang sekarang semakin terlihat lebih intim.
Pak tua Moor yang melihat Alvin sangat santai, dia tidak tahu harus berkata apa, padahal anak buahnya sedang dalam bahaya di tempat lain.
Pak tua Moor memberanikan diri untuk menegur Alvin " Alvin, apa kamu tidak khawatir dengan anak buahmu ?" tanyanya gelisah.
Alvin menoleh ke arah pak tua Moor, dia melepaskan rangkulannya pada Jeni " kenapa harus khawatir dengan mereka ? Aku percaya dengan mereka " jawabnya santai.
" Tapi Alvin ... Kakek dapat kabar kalau mereka hampir kalah " pak tua Moor masih cemas.
Alvin menghela napas " Kakek tenang saja, mereka tidak apa - apa kok "
Alvin menggandeng Jeni dan meninggalkan pak tua Moor yang diam terpaku disana tanpa bisa berkata-kata.
Arisa tersenyum ke arah pak tua Moor sambil mengangguk, dia juga kembali ke kamarnya.
Pak tua Moor menghela napas panjang " kenapa Alvin bilang mereka tidak apa - apa ? sementara Nomor empat bilang padaku kalau Ken dan yang lainnya sedang tersudut disana "
Ponsel pak Tua Moor tiba - tiba berdering, terlihat nama Ken yang terpampang di layarnya, Pak tua Moor bergegas mengangkat panggilan tersebut.
" Halo Ken ! Apa kalian tidak apa - apa disana ?" tanya Pak tua Moor langsung.
Dari seberang telepon Ken terdengar menghela napas " kami baik - baik saja tuan Moor, walaupun kami sedikit terluka "
" Terus bagaimana dengan kelompok bertopeng itu ?" tanya Pak tua Moor lagi.
" Semuanya sudah di bereskan anak buah tuan muda, tuan Besar sepertinya tuan muda memiliki organisasi tersembunyi, kekuatan anak buahnya di luar logika kita, para kelompok bertopeng saja tidak ada yang bisa melukai mereka " Ken yang takjub dengan kekuatan para Klon System dia menjelaskan pada Pak tua Moor.
" Apaa ! kamu serius Ken ?" pak tua Moor terlihat terkejut.
" Saya serius tuan Besar, jika mereka tidak datang kemungkinan kami sudah pergi ke alam baka, untung saja mereka datang tepat waktu " jawab Ken tidak berdaya.
Pak tua Moor menghela napas lagi " Tapi syukurlah kalian selamat, ya sudah kamu urus sisanya disana "
Pak tua Moor mematikan panggilannya " Alvin.. sebenarnya sudah berapa jauh kamu melampaui kakek ?" Pak tua Moor menatap ke arah kamar Alvin.
Pak tua Moor awalnya sedikit ragu dengan Alvin yang terlalu santai dan percaya dengan anak buahnya, tapi siapa yang menyangka kalau ternyata semua ucapan Alvin bukanlah sekedar omong kosong. Karena itulah pak tua Moor yakin kalau Alvin sudah jauh lebih kuat daripada dirinya.
...***...
Di kamar Alvin, dia sedang berbicara dengan System " Baguslah kalau semuanya sudah beres "
[ Tuan, ada seseorang yang bermarga Moor telah di tangkap oleh Klon saya, apakah saya perlu membawanya kemari ?]
Alvin mengerutkan keningnya " orang bermarga Moor ? " Alvin terlihat berpikir sebentar.
Dia kemudian buka suara lagi " baiklah bawa dia kemari !" perintahnya pada System.
[ Baik tuan Moor ! ]
Tak berselang lama, Jeni yang dari kamar mandi baru keluar " Kamu bicara dengan siapa sayang ?" tanya Jeni sambil menuju meja riasnya.
" Bukan siapa-siapa, hanya anak buah aku yang memberikan laporan " elak Alvin menutupi keberadaan System.
" Oh... " Jeni duduk di hadapan meja Riasnya.
Alvin mendekati Jeni dan merangkulnya dari belakang " semakin hari kamu semakin cantik saja sayang " rayu Alvin pada Jeni.
Jeni mengernyitkan dahi, sambil menatap Alvin dari cermin " Pasti ada maunya kalau merayu begini ?" ucapnya menyelidik.
" Ckk ' memang tidak boleh merayu istri sendiri ?" Alvin berdecak pura - pura kesal.
" Ih... bukannya tidak boleh, tapi kamu kalau ada maunya kelihatan banget tahu " Jeni mencubit gemas perut Alvin.
" Emang kelihatan banget yah ?" Alvin nyengir kuda.
" Iyalah.. aku sudah hapal semua tingkah kamu " jawabnya yakin.
Alvin memeluk Jeni dari belakang dan mengecup pipinya dengan lembut, dia merasa kalau Jeni sekarang benar - benar lebih cantik.
Mungkin karena Jeni yang sekarang lebih fokus merawat dirinya dan tidak bekerja lagi, jadi ke cantikannya semakin terpancar jelas.
" Sudah sana mandi dulu, nanti keburu malam loh " Jeni menegur suaminya.
" Iya, iya ratuku " Alvin mencubit hidung Jeni dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Jeni hanya bisa tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya, karena semakin hari Alvin terlihat semakin posesif saja dengannya, padahal dulu dia membebaskan dirinya mau kemanapun dia pergi.
...***...
Sementara itu di kamar Arisa, dia sedang ngobrol bersama Sera.
" Bu... kenapa ini semua harus terjadi padaku ? orang yang aku suka ternyata kakakku sendiri " Arisa memeluk Sera yang duduk di tempat tidurnya.
Sera tersenyum, sambil mengusap - usap puncak kepala Arisa dia menjawab " Sayang, mulailah menerima kenyataan ini, kamu harus sadar kalau Alvin bukanlah orang yang pantas kamu cintai, melainkan untuk kamu hormati "
" Tapi Bu.." Arisa semakin membenamkan kepalanya ke dalam pelukan Sera.
" Maaf yah sayang, ini semua juga gara - gara ibu yang tidak bisa menjaga kehormatan diri sendiri " Sera mengecup puncak kepala anaknya itu.
Sera sudah sangat sadar, jika saja dulu dia tidak menikah dengan Milick, mungkin dia masih bisa masuk keluarga Moor lagi tanpa harus mendapatkan begitu banyak masalah seperti sekarang.
Sekarang dia hanya bisa pasrah bagaimana takdir membawanya dalam kehidupan yang sekarang ini.
Ke esokan harinya, seperti biasa mereka berkumpul di meja makan.
Sera juga masih melayani Alvin seperti biasanya, walaupun Alvin masih ketus jika berbicara padanya, tapi setidaknya dia sekarang sudah menjawab kalau di tanya.
Saat mereka sedang khusyuk makan, Klon System datang dan berdiri di belakang Alvin, dia tidak memberi laporan dulu karena tidak mau mengganggu Alvin.
Pak tua Moor dan yang lainnya menatap Klon System yang berdiri bagaikan patung di belakang Alvin.
Jeni yang penasaran, dia akhirnya menegur Alvin " Sayang itu anak buahmu mau ngapain ?"
" Biarkan saja, lanjutkan saja makannya, hanya ada sedikit urusan " jawab Alvin santai.
Pak tua Moor semakin penasaran dengan Alvin, kenapa sifat Alvin sangat berbeda dengan dia dan Ayahnya, apalagi Sera mereka sangat berbeda, Alvin seolah-olah bukan terlahir dari keluarga Moor.
Jeni hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan, Alvin buka suara " Kakek ikut aku, ada yang mau aku tunjukkan pada kakek "
Alvin berdiri dan berpamitan pada Jeni yang belum selesai makan " Sayang, aku tinggal dulu yah, aku ada urusan sebentar "
Jeni mengangguk lirih, Karena Alvin sekarang Bos besar, dia tahu masalahnya akan semakin tambah banyak. Jadi tidak ada alasan baginya untuk melarang Alvin pergi kemanapun yang dia mau.
" Dimana dia ?" tanya Alvin datar sambil berjalan keluar.
Pak tua Moor yang mengikuti dari belakang, dia hanya mendengarkan mereka saja sambil menerka - nerka apa yang sedang mereka bicarakan.
Alvin dan Pak tua Moor di bawa ke sebuah gudang kosong yang terbengkalai.
Tapi walaupun sudah lama tidak di gunakan, gudang tersebut terlihat cukup bersih, tidak ada sarang laba - laba ataupun tikus, debu juga hanya sedikit saja.
Pintu gudang di buka, mereka bertiga masuk ke dalam gudang, terlihat dua Klon System yang sedang menjaga seorang pria dengan dua tangan yang buntung, dan kepalanya di tutupi sebuah karung Goni.
Pak tua Moor mengerutkan keningnya, dia semakin penasaran dengan apa yang akan di lakukan pada pria tersebut.
" Buka penutup wajahnya !" ucap Alvin memberikan perintah.
Salah satu Klon System membuka penutup Wajah pria tersebut, terlihat wajah yang tidak asing di mata Pak tua Moor.
Pak tua Moor mulai ingat, kalau pria tersebut adalah orang yang ada di dalam foto yang di berikan anak buahnya.
" Alvin dia...?" Pak tua Moor terkejutnya.
" Dia salah satu anggota keluarga Moor yang membelot " jawab Alvin tegas.
Tentu saja Pak tua Moor terkejut, dia tidak menyangka kalau orang itu adalah salah satu keluarga Moor " Apa maksudmu Alvin ?"
Gilian yang ada disana juga terkejut karena Alvin mengetahui identitasnya sebagai anggota keluarga Moor.
" Ya dia salah satu dalang di balik kehancuran keluarga Moor Kek, karena dia membelot keluarga kita hancur berantakan, bisa di bilang dialah yang memberi informasi pada musuh " jawab Alvin ketus.
Pak tua Moor menggertakkan giginya " Brengsek ! dari anggota keluarga mana kamu ?" tanya Pak tua Moor ketus.
" Hahahaha.... Miris sekali ketika seorang ayah tidak mengenali anaknya sendiri, ternyata aku tidak salah lebih memilih meninggalkan kalian Sorian Moor, ah... seharusnya aku memanggilmu Ayah " ucap Gilian sinis.
Sontak saja pak Tua Moor langsung tersentak, namanya hanya di kenali oleh anggota keluarga atas Moor saja, jika pria tersebut tahu namanya, berarti dia adalah anggota keluarga atas.
Keluarga Moor terbagi menjadi tiga Anggota, Atas, menengah dan bawah.
Anggota Atas tentu saja keluarga yang akan meneruskan tahta pemimpin keluarga Moor berikutnya.
Anggota menengah, mereka biasanya akan menempati posisi petinggi perusahaan dan sejenisnya.
__ADS_1
Sementara Anggota bawah mereka terdiri dari para karyawan, walaupun kadang ada anggota bawah yang bisa naik jabatan, karena System yang di buat keluarga Moor tidak memandang rendah anggota keluarga mereka, semuanya bisa bersaing asalkan punya kemampuan.
Pak tua Moor mendekati Gilian, dia menatapnya dengan serius untuk mencaritahu siapa pria yang wajahnya rusak itu.
Tiba - tiba sekelebat bayangan saat Gilian terjatuh dari perahu muncul.
Tubuh pak tua Moor bergetar, dia tentu saja tidak lupa dengan kembaran Garin, ya Gilian adalah kembaran Garin, anak yang di gadang - gadang akan menjadi pewaris keluarga Moor selanjutnya, karena pemikiran Gilian sama seperti pak Tua Moor.
" Bruugg
Pak tua Moor ambruk di hadapan Gilian, dia menggerakkan tangannya dan memegang wajah Gilian dengan kedua tangannya.
" Ka..kamu Gilian ?" ucapnya dengan terbata.
Gilian mengibaskan kepalanya, dia seolah tidak mau di sentuh oleh pak tua Moor.
" Cih ! Hapus air matamu itu ! Aku tidak butuh belas kasihan darimu !" bentak Gilian pada Pak tua Moor.
" Gilian, kenapa kamu jadi seperti ini ?" pak tua Moor tidak kuasa menahan tangisnya.
" Kenapa katamu ?! Berapa tahun aku menunggu kalian di pulau terpencil ! Aku bertahan hidup seorang diri disana, ratusan kali aku hampir mati oleh binatang buas ! Tapi untung saja aku terlahir dengan otak di atas rata-rata, tidak seperti anak bodohmu itu !" suara Gilian bagaikan petir yang menyambar lubuk Hati pak tua Moor.
" Gilian, kami sudah mencari kamu sebisa kami, tapi kami tidak menemukan jejak kamu sama sekali " Pak tua Moor menjelaskan.
Tapi mata hati Gilian sudah tertup oleh kebencian, Pak tua Moor memberikan penjelasan apapun padanya, dia tidak akan mempercayainya.
Alvin hanya melihat apa yang sedang Ayah dan anak itu bicarakan, dia ingin tahu semua tentang keluarga nya dulu.
" Hahahaha... Alasan macam apa itu Sorian ! Kalian tidak pernah berniat untuk mencariku, karena kalian memiliki Garin yang selalu kalian bela mati - Matian !" Mata Gilian terlihat memerah, entah karena marah atau ingin menangis.
Gilian berkata seperti itu karena Pak tua Moor dulu lebih sayang Garin, sebenarnya pak tua Moor melakukan itu karena dia tahu kalau Gilian bisa melakukan Papin sendiri dengan kecerdasannya, berbeda dengan Garin yang harus selalu di bantu, karena itulah awal munculnya dendam Gilian pada Garin dan puncaknya saat dia terseret ombak, dia pikir tidak ada lagi yang peduli dengannya.
Dendam Gilian tercipta karena kasih sayang yang di berikan orang tuanya menurut dia tidak adil, hingga dia berbuat sampai sejauh ini.
" Gilian Ayah tidak bermaksud seperti itu, Ayah menyayangi kalian ber..."
" Cukup ! Aku tidak mempunya Ayah ! Ayahku sudah mati !" pak tua Moor belum selesai bicara Gilian memotongnya.
Alvin sudah cukup melihat drama itu, dia mengangkat tangannya untuk membuat Gilian buka mulut siapa orang yang membantunya.
Klon System menjambak rambut Gilian, Pak tua Moor yang melihat itu membentak Klon System " Apa yang kalian lakukan ?! "
" Kakek diamlah, aku tidak suka melihat orang yang pura - pura baik !" jawab Alvin ketus.
Pak tua Moor menatap Alvin tidak berdaya " Alvin kita bisa bicarakan ini baik - baik "
Alvin mengerutkan keningnya " bicarakan ini baik - baik, jangan Naif kakek ! dia orang yang telah membunuh semua keluarga kita ! Untuk apa mengasihaninya !" Alvin meninggikan suaranya.
Pak tua Moor tersentak, dia tidak bisa berkata-kata, walaupun Gilian anaknya, tapi kenyataannya dialah bagaian dari pembantaian keluarga Moor dulu.
" Hahahaha... apakah kamu anak Garin ? Aku tidak menyangka jika orang bodoh sepertinya akan melahirkan orang seperti mu " Gilian masih sempat tertawa walau Klon System sudah menjambak rambutnya.
" Siapa yang membantumu !" tanya Alvin ketus.
" Kamu kira aku akan buka mulut ? jangan Mimpi !" Gilian berteriak pada Alvin.
" Bug
" Bug
Klon System langsung menendang perut Gilian dengan sangat kuat, hingga dia memuntahkan seteguk darah.
Pak tua Moor mau menolong, tapi dia di tahan Klon System yang memeganginya, dia hanya bisa menatap iba Gilian yang sedang di siksa Klon System.
Gilian terlihat terengah - engah masih dalam jambangan Klon System, dia menatap Alvin dengan sinis.
Tapi Alvin tidak bergeming " Katakanlah, maka aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit !" ucapnya dingin.
Gilian tersenyum " dalam mimpimu !"
" Bug
" Bug
Klon System menghajar Gilian lagi, karena berani membantah Alvin.
Alvin membalik badannya " Jangan biarkan dia mati dulu sebelum dia buka suara !"
Setelah mengatakan itu Alvin langsung pergi dari tempat itu, karena dia tahu kalau tekad Gilian sangat kuat dari sorot matanya, Alvin menebak akan butuh waktu lama membuat Gilian buka suara.
__ADS_1