System Cek In Pikiran

System Cek In Pikiran
Pengorbanan Seorang Anak ?


__ADS_3

Sementara itu di tempat Arisa, dia sedang bersama dengan Ayahnya, ketika mendengar putrinya mengenal Keluarga Moor dia langsung ke Mansion Putrinya.


" Sayang, Apa benar kalau kamu dan Ivan Muse bertemu dengan tuan Moor ?" tanya Milick Clown, Ayah Arisa penasaran.


" Ayah, apakah keluarga Moor semenakutkan itu, sampai - sampai Ayah juga mempertanyakan hal itu ?" Arisa masih tidak tahu apa - apa tentang masa lalu para Pebisnis.


" Sayang, dengarkan Ayah baik - baik, usahakan kamu harus menjalin hubungan dengannya sebaik mungkin, Ayah tidak bisa menceritakan detailnya, tapi yang pasti keluarga Moor bukanlah keluarga sembarangan !" jawabnya penuh dengan keyakinan.


Arisa menghela napas " Kalau begitu kita harus memutuskan hubungan dengan Keluarga Muse, karena Ivan berani mau menghajar Alvin, ya walaupun akhirnya para Bodyguard nya tidak bisa melawan pengawal pribadi Alvin yang cuma satu orang saja "


" Apaaa !!!" Jelas saja Milick langsung terkejut.


" Dasar anak bodoh !, kamu benar kita harus memutuskan hubungan dengan mereka, sayang apa kamu bisa membawa Ayah bertemu dengan tuan Moor ?" raut wajah Milick terlihat sangat cemas, membuat Arisa semakin yakin saja kalau Alvin bukanlah orang sembarangan.


Arisa menggelengkan kepalanya " Tidak bisa Ayah, aku saja baru mengenalnya tadi pagi "


Milick menghela napas berat, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, karena dia yakin cepat atau lambat keluarganya juga akan ikut terseret dalam masalah keluarga Muse, jika keluarga Moor tahu anaknya sudah bertunangan dengan anak Muse.


Tiba - tiba dering telepon Milick berbunyi, diapun tanpa rangi mengangkat panggilan tersebut " Ada apa ?!" tanyanya ketus.


" Tuan Clown gawat !, Turner grup akan hancur !, mereka sedang meminta bantuan pada kita, apakah kita harus menolong mereka ?" orang diseberang telepon terdengar sangat panik.


" Apaaa !" jelas saja Milick terkejut, awalnya dia mengira jika keluarga Muse yang sedang dalam bahaya, tapi siapa yang menyangka malah Turner grup yang diserang.


" Tuan bagaimana keputusan anda ? " tanya Asistennya lagi diseberang telepon.


" Jangan ikut campur, usahakan kalian jangan bergerak sedikitpun dan juga cepat putus hubungan dengan keluarga Muse secepatnya !" Keringat dingin mulai mengucur deras di dahi Milick.


" Baik tuan !" Asisten Milick menutup teleponnya.


" Ada apa Ayah ?!" tanya Arisa penasaran karena Ayahnya terlihat sangat kalut.

__ADS_1


" Brugg


Milick langsung bersujud dihadapan Arisa, tentu saja hal tersebut membuat Arisa terkejut.


" Ayah apa yang kamu lakukan ?!" Arisa mendekati Ayahnya sambil berusaha memapahnya agar bangun dari sujudnya.


Milick mendongak menatap putri kesayangannya itu, sambil menitihkan air matanya " Sayang selamatkan Ayah, tolong kamu bujuk tuan Moor agar memaafkan keluarga kita dengan cara apapun, Ayah rela jika kamu menjadi wanita simpanannya sekali pun, tolong selamatkan Ayah sayang !" Milick membentur - benturkan dahinya di lantai dengan sangat keras agar Arisa mau berkorban untuknya.


" Ayah apa maksudmu, apa Ayah berniat menjual aku ?!" Arisa merasa sedikit kesal dengan ucapan Ayahnya.


" Sayang, percaya sama Ayah, walaupun kamu menjadi simpanan tuan Moor, kamu akan lebih bahagia dari pada menjadi istri sah pengusaha lainnya, kalau kamu tidak bisa merayunya, hancur sudah keluarga Clown kita, sayang tolong untuk kali ini saja Ayah meminta bantuanmu !" darah di dahi Milick mengucur karena saking kerasnya dia membenturkan dahinya di lantai.


Arisa merasa jika Ayahnya benar - benar ketakutan, apalagi sampai memohon seperti itu, padahal dari dulu Ayahnya tidak pernah meminta apapun darinya.


Arisa menghela napas " Ayah aku mau saja, tapi tuan Moor tidak tertarik sama sekali denganku, bagaimana caranya aku harus merayunya ?"


" Telanjang saja di depannya, aku yakin tidak ada pria yang tidak tergoda dengan tubuh kamu " Milick sudah tidak punya harga diri lagi, sampai - sampai anaknya saja disuruh berbuat hal yang di luar nalar.


" Apa Ayah sudah gila !, mana mungkin aku melakukan hal itu !?, aku juga menyukai tuan Moor tapi tidak seperti itu caranya Ayah!" Arisa mendengus kesal.


" Sayang, tapi tidak ada waktu lagi, kita harus bergegas menyelamatkan keluarga kita " Milick menunjukan Ekspresi yang sangat iba, melebihi pengemis yang sedang meminta uang di jalanan.


Arisa menghela napas " Ayah pulang saja dulu, aku akan menemui tuan Moor dan jangan terlalu berharap banyak dariku !" walaupun masih kesal, tapi dia sadar harus berbuat sesuatu untuk keluarganya.


Arisa mau saja menunjukkan sikap agresif pada Alvin, toh dia juga sudah terlanjur terpincut dengannya.


Milick mengulas sebuah senyum " Terimakasih sayang, kamu memang putri kesayangan Ayah "


Mata Milick berbinar sangat cerah, membuat Arisa mengernyitkan dahinya, karena sedetik yang lalu dia terlihat sangat sedih.


Milick pun pergi dari Mansion Putrinya itu, dia berharap kalau putrinya bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.

__ADS_1


Sementara itu Arisa di kamarnya setelah kepergian Milick, dia sedang mengatur rencana agar Alvin mau menidurinya.


" Apa aku pakai obat perangsang saja yah ?,ah..tidak, tidak, itu sama saja aku tidak percaya dengan diriku sendiri !, Arisa kamu itu cantik tuan Moor pasti mau tidur denganmu !" Arisa menyemangati dirinya sendiri.


Di tempat Alvin, dia sedang merawat Jeni yang masih berbaring di ranjang, Alvin merawatnya dengan telaten tanpa mengeluh sedikitpun.


" Sayang, apa masih sakit ?" Tanya Alvin sambil mengusap pipi Jeni dengan lembut.


" Sudah agak baikan, Walaupun masih sedikit perih " Jawab Jeni sambil tersenyum kecut.


" Nanti malam bisa lagi dong " goda Alvin dengan wajah bodohnya.


" Ih... kamu mau merusak istrimu sendiri, kamu jahat hiks..hiks .." Jeni pura - pura menangis sambil mengucek matanya.


" Mana mungkin aku mau merusak sumber kebahagiaanku sayang, aku cuma bercanda saja " ucapnya lembut.


Jeni menjulurkan lidahnya " hihihi .. aku juga cuma bercanda sayang, kita libur beberapa hari dulu yah, tunggu aku pulih sepenuhnya "


Alvin tersenyum " tentu saja, satu bulan gak dikasih jatah pun aku masih sanggup "


" Kamu masih marah denganku dulu yang jarang memberi kamu jatah " Wajah Jeni berubah menjadi sendu.


Dulu memang Jeni jarang bergumul dengan Alvin, alasannya karena dia sibuk bekerja, jika mood dia sedang buruk dan kecapaian tentu saja dia tidak mau melayani Alvin.


Alvin juga sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu, hanya saja pria mana yang bisa tahan seperti Alvin, di kasih jatah ketika istrinya menginginkannya, sementara jika dia yang menginginkan dan Jeni menolak terpaksa harus sabar menghadapinya dengan gelisah.


" Aku tidak pernah marah denganmu sayang, aku sadar waktu itu semua kesalahanku yang tidak bisa menafkahi kamu, maafkan aku yang dulu sangat hina " Alvin memegang kedua tangan Jeni dan menciumnya.


" Aku juga salah sayang, seharusnya aku bersyukur di beri pria yang sangat perhatian dan setia tapi malah mengabaikannya, seharusnya aku malu pada diriku sendiri " Ucapnya sendu.


Pasangan suami istri tersebut saling menguatkan satu sama lain, mereka tidak ingin kejadian yang dulu menimpa mereka lagi dan harus memperbaiki hal itu.

__ADS_1


Jeni sangat sadar diri, dialah yang harus sebisa mungkin memanjakan Alvin, karena Alvin yang sekarang adalah orang yang berbeda, jika dia tidak bisa memanjakannya, Jeni yakin kalau bukan tidak mungkin akan ada wanita Lain yang masuk dalam rumah tangganya.


__ADS_2