
Ken bukannya langsung menjalankan tugas untuk membunuh tiga keluarga yang berpengaruh di Arnesia tersebut, tapi dia langsung ke Mansion Sera, karena dia tahu kalau Milick adalah salah satu dari keluarga Clown, setelah Ken di beritahu oleh informannya.
Alasan Ken sangat jelas, dia melakukan itu karena mau bagaimanapun Sera adalah ibu kandung Alvin, dia yakin suatu saat nanti Alvin akan menerimanya, jadi sebelum Alvin menyesalinya, lebih baik Ken menyembunyikannya di Chinate bersama dengan Swan.
Sementara itu di Chinate, semua Eksekutor langsung bergerak, karena Pak tua Moor sudah menyerahkan tahtanya pada Alvin.
Swan, Sean dan Darla mereka tidak ikut terbang ke Arnesia, karena mereka bertiga sudah memiliki pengganti, Swan di gantikan Glard anaknya.
Sean di gantikan Jeremy yang sudah menjadi pemimpin Eksekutor dua, sementara Darla di gantikan oleh anaknya Molina, jadi mereka bertiga fokus menjaga Chinate dan Pak tua Moor.
Sementara itu di kediaman Keluarga Clown, Serdan yang sudah sakit parah, karena umurnya sudah uzur, dia sedang berbaring di bangsal VIP rumah sakit milik Keluarga Clown.
Murder Clown, kakak Milick sedang mondar - mandir di hadapan ayahnya itu karena bingung dengan bangkitnya keluarga Moor yang terlalu cepat.
" Murder kamu kenapa ?" tanya Serdan dengan suara paraunya.
Murder memaksakan sebuah senyum, dia mendekati Serdan " Ayah, kita harus cepat pergi dari Arnesia, tapi aku tidak tahu ingin pergi kemana ?"
Serdan mengernyitkan dahi tuanya yang sudah banyak kerutan " apa maksud kamu Murder ?" tanya masih dengan suara parau.
" Ayah, keluarga Moor sudah mulai bangkit lagi, bahkan 80% saham semua perusahaan di Arnesia sudah menjadi milik mereka, aku yakin mereka akan membalaskan dendam pada Kita " jawab Murder tidak berdaya.
" Apaa !" tekanan darah Serdan langsung naik, hingga mengakibatkan dia terkena serangan jantung dan tewas seketika di tempatnya.
" Ayah !, Ayah !.." Murder berteriak-teriak, tapi sayangnya Serdan telah tewas.
Serdan seumuran dengan Pak tua Moor, tapi karena gaya hidup bebasnya, dia cepat terkena penyakit, berbeda dengan Pak tua Moor yang menjalani gaya hidup sehat, dia masih sehat sampai sekarang, walaupun tubuhnya sudah ringkih.
Sementara itu di Bandara internasional Arnesia, Alvin disambut dengan puluhan Kloning System, mereka semua sangat menghormati Alvin dan Jeni.
__ADS_1
Jeni semakin ketakutan saja dengan Alvin, karena para pengawal Alvin yang sekarang seperti bukan para Manusia, mereka semua tidak berekspresi sama sekali, walaupun mereka terlihat sangat sopan.
Jeni tertegun saat keluar dari mobil, Alvin yang melihat itu menghampirinya " kenapa kamu sayang ?" tanya Alvin lembut.
Jeni menatap Alvin dengan bersedih " Sayang kenapa kamu jadi seperti ini ?, a..aku tidak suka melihat kamu yang seperti ini "
Jeni yang biasa bermanja - manja dengan Alvi, dia sekarang merasa enggan untuk melakukan itu, karena perubahan sifat Alvin sangat kerasa di matanya.
" Hahahaha... " Alvin tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
Jeni mengerutkan keningnya, dia merasa aneh saja kenapa Alvin tiba - tiba tertawa, padahal menurutnya tidak ada yang lucu sama sekali.
Alvin tersenyum ke arah Jeni dan memegang pipinya " Apa kamu takut dengan mereka yang tanpa ekspresi seperti itu ?" ucapnya lembut.
Jeni menganggukan kepalanya lirih " bukan hanya mereka, kamu juga terlihat aneh "
Jeni langsung blak-blakan saja, karena dia yakin kalau didepannya itu Alvin, pasti dia akan mengerti dengan ketakutan nya itu.
" Di mengerti tuan !" Seketika System memrogram kemauan Alvin dan terlihat wajah pengawal yang tadinya tanpa ekspresi sedikit terlihat ada senyum di sudut bibir mereka.
Jeni memeluk Alvin langsung " Sayang, aku tidak ingin kamu menjadi orang yang sangat kejam, aku lebih suka kamu yang dulu "
Alvin tersenyum dan mengusap - usap puncak kepalanya " Aku masih seperti yang dulu jika bersama kamu sayang, tapi aku juga tidak mau melunak di hadapan para musuhku, percayalah semua ini demi kebahagiaan kita nantinya " jawab Alvin lembut.
Jeni mendongak dalam pelukan Alvin " tapi jangan tunjukkan wajah serammu di depanku lagi, aku takut melihat wajahmu itu "
kepala Jeni di benamkan dalam dadanya, Alvin mengecup puncak kepalanya " Maaf membuat kamu takut, aku janji tidak akan seperti itu lagi, ayo kita berangkat " ajaknya dengan suara yang begitu lembut.
Jeni mulai menyunggingkan seulas senyum manis di wajahnya, dai mengangguk dan berjalan sambil merangkul lengan suaminya.
__ADS_1
Lagi dan lagi wajah Jeni langsung cemberut saat melihat pramugari yang cantiknya membahana ulalala..., melayani mereka di dalam pesawat pribadi suaminya itu.
" Sayang, lain kali yang melayani kita pria kek, jangan wanita terus " Jeni menggembungkan pipinya dan semakin erat merangkul Alvin.
" Kalau yang melayani Pria, jika mereka menatapmu, aku akan langsung mencongkel matanya di depan kamu, apa kamu mau ?" goda Alvin pada Jeni.
" Ih... sayang.." Jeni menghentak - hentakkan kakinya sambil mulutnya mengerucut kedepan.
" Masih mending pelayan kita wanita sayang, aku tidak melirik mereka sedikitpun, karena secantik apapun mereka, masih juga cantik istriku ini " rayuan Alvin sampai di lubuk hati Jeni, hingga darahnya berdesir, seperti ular Derik di Padang pasir.
Jeni mencoba menyetabilkan jantungnya yang berdetak dengan kencang, dia menghela napas panjang berkali - kali, membuat Alvin menatapnya aneh.
" Kamu kenapa sayang ?" tanya Alvin penasaran.
Jeni menggeleng cepat " tidak apa - apa, aku hanya berpikir kamu memang masih Alvin yang dulu, Alvin yang selalu mencintai Jeni Su dengan sepenuh hatinya " ucapnya tersenyum senang sambil menyenderkan kepalanya di bahu Alvin.
" Kamu ini yah.. " Alvin mencubit hidung Jeni dengan gemas.
Pasangan tersebut kembali seperti dulu lagi, walaupun Alvin berubah, nyatanya memang perubahannya itu untuk kebahagiaan dirinya, dan salah satu sumber kebahagiaan nya ya istrinya, jadi tidak ada alasan untuk Alvin mengabaikan istrinya.
Keduanya masuk ke kamar pesawat pribadi, dan setelah mendapatkan perintah pesawat pun langsung lepas landas meninggalkan Arnesia.
Di dalam pesawat, pasangan suami istri tersebut seperti biasa bermesraan terus menerus, hingga akhirnya terjadi pergulatan panas disana.
Sementara mereka sedang melakukan pergulatan Panas di ranjang.
Para Eksekutor yang ada di Arnesia sudah mulai bergerak, terutama Ken yang sudah menerbangkan Sera dan anaknya ke Chinate.
Di Mansion Milick Clown, terlihat sesosok mayat tanpa kepala disana, ya mayat tersebut adalah Milick, yang langsung di habisi oleh Ken tanpa perasaan.
__ADS_1
Walaupun Sera dan Arisa terkejut, terutama Arisa yang menangisi kematian Ayahnya dengan Histeris, Ken tidak peduli, yang dia pedulikan sekarang menyelamatkan Sera terlebih dahulu. Untungnya Arisa menurut dengan ajakan Sera, jika tidak kemungkinan Arisa juga akan di bunuh Ken tanpa belas kasihan seperti Milick.
Beberapa Jam berlalu, Para Eksekutor sudah sampai di Arnesia, Perburuan tiga keluarga yang berpengaruh di Arnesia pun di mulai.