
Mereka mengelilingi seluruh distrik perbelanjaan tersebut.
Jeni sangat senang karena bisa jalan - jalan dengan suaminya, di tambah di meminta apapun akan langsung di kabulkan oleh Alvin.
Alvin yang sudah memiliki kekayaan tidak terbatas tentu saja dia sangat royal pada istrinya, bagi dia membahagiakan Jeni adalah yang utama, karena dia sudah merasakan pahitnya hidup bersama Jeni selama tiga tahun lamanya.
Yang ada dalam pikiran Alvin untuk saat ini ya hanya ada Jeni dan Jeni agar selalu tersenyum bahagia.
Tapi untungnya Jeni bukanlah tipikal wanita yang materialistis, dia hanya meminta kebutuhan sehari-hari saja pada Alvin, tanpa membeli barang-barang yang di anggapnya tidak berguna.
Jeni pikir tidak usah pamer kekayaan, toh tidak usah di pamerkan juga kalau mereka tahu siapa suaminya akan langsung malu sendiri.
Mereka berdua sedang beristirahat di kafe yang ada di distrik tersebut.
" Ah... aku senang sekali bisa melihat distrik ini sayang, kenapa kamu tidak bilang ada tempat seperti ini ?" tanyanya manja pada Alvin.
" Loh memangnya kemarin kalian tidak kesini ?" Elak Alvin yang sebenarnya juga tidak tahu ada distrik perbelanjaan di Nerika.
" Enggak, pengawal kamu mengantar kami ke Mega Mall yang dekat dengan rumah kita saja " jawab Jeni sambil menyedot minumannya.
" Lain kali kalau mau pergi bilang pada mereka kamu mau kemana, nanti mereka antar kamu kok " ucapnya lembut pada istrinya itu.
" Aku kan belum tahu semua tempat di Nerika " jawab Jeni sambil mengerucutkan bibir.
" Sajak kapan istriku ini menjadi bodoh ?" Alvin mencubit hidung Jeni dengan gemas.
" Ih... sayang " Jeni menggembungkan pipinya.
Alvin tersenyum, dia menunjukkan ponsel jadulnya " Ponsel kamu seharusnya ada Gugel bukan tidak seperti ponsel aku ?"
Seketika Jeni sadar, dia menepuk jidatnya " Astaga aku lupa " dia tersenyum kecut ke arah suaminya.
" Kamu ini " Alvin menyimpan kembali ponsel jadulnya di saku.
" Sayang, kenapa kamu tidak ganti ponsel sih ?" tanya Jeni penasaran.
" Kalau Ponsel aku bagus, akan ada ratusan bahkan ribuan email masuk ke dalam ponselku, yang ada aku gak bisa istirahat, mending pakai ini saja " jawab Alvin sekenanya.
Tapi Jawaban Alvin sangat masuk akal buat Jeni, karena orang seperti Alvin pasti memang akan mendapatkan banyak laporan dari perusahaannya, apalagi perusahaan Alvin tersebar di seluruh dunia, yang ada ponselnya nanti penuh dengan pemberitahuan tersebut.
Padahal alasan Alvin tidak menggunakan Ponsel baru, karena menurutnya ribet, ada Wa apalah dan yang lainnya, bagi Alvin ponsel sudah cukup untuk menelpon saja, jika ada dokumen yang perlu di tandatangani ya harus tatap muka dengannya.
Alvin tipikal orang yang tidak suka dengan yang ribed, ribed, lebih baik dia tidak memakainya daripada harus kesusahan sendiri.
__ADS_1
Saat keduanya sedang asyik ngobrol, seorang pemuda dengan rambut pirang klimis dan berwajah tampan mendatangi mereka berdua. dengan lima orang anak buahnya.
" Hai manis, maukah kamu jalan denganku " ucapnya sambil menyodorkan bunga mawar pada Jeni.
Pemuda tersebut seolah tidak peduli dengan kehadiran Alvin, apalagi dari kejauhan dia melihat ponsel Alvin yang jadul.
Pemuda tersebut menyangka kalau Alvin adalah pria yang mengejar kekayaan seorang wanita.
Tentu saja Alvin langsung merebut bunga mawar tersebut dan melemparkannya.
Pemuda itu seketika marah " Pecundang ! berani sekali kamu membuang bungaku !" bentaknya keras pada Alvin.
Jeni yang melihat itu langsung ketakutan, karena dia tidak melihat pengawal Alvin yang ada disana, Jeni takut Alvin kenapa - Napa oleh pemuda tersebut yang membawa lima orang pengawal dengan tubuh kekar.
Alvin yang di bentak pemuda itu dengan santainya menjawab " Pergilah kalau kamu tidak ingin kuberi pelajaran "
" Hah! Kamu pikir aku takut dengan pecundang seperti mu ? Hahahaha..... jangan bercanda !" Pemuda itu menatap sinis Alvin.
Jeni beranjak dari duduknya, dia mendekati Alvin " Sayang, kita pergi dari sini saja yah "
Jeni merasa situasinya sangat gawat jika terus berada di tempat tersebut, dia tidak ingin lagi melihat suaminya di pukuli seseorang.
" Hoi.. hoi... manis buat apa kamu peduli dengan pecundang sepertinya, lebih baik kamu denganku saja, apapun yang kamu mau akan aku belikan untukmu " pemuda itu menaik turunkan alisnya pada Jeni.
Jeni semakin risih dengan perkataan pemuda itu, dia ingin menamparnya karena berani mengolok-olok suaminya.
Pemuda tersebutlah mengerutkan keningnya, karena Alvin tidak merasa takut sama sekali dengannya yang membawa lima orang pengawal.
" Brengsek ! Berani sekali kamu sok keren di hadapanku ! Mari kita lihat apakah nanti kamu masih bisa seperti ini ?! Hajar dia !" Pemuda itu menyuruh pengawalnya untuk menghajar Alvin.
Jeni terlihat sangat Khawatir ketika kelima orang pria kekar itu mendekati Alvin, dia menarik baju Alvin untuk pergi, tapi Alvin malah menyuruhnya tetap tenang.
Alvin malah mengambil kopi yang dia pesan dan menyeruput nya, Pukulan pengawal pemuda tersebut sudah melayang ke arah Alvin.
Tapi Alvin dengan santainya menikmati hisapan kopi di gelasnya, jelas saja kejadian itu membuat orang yang akan memikul Alvin bingung. Tapi merek tetap menerjang.
" Pletaak
" Pletaak
" Pletaak
" Brak
__ADS_1
" Brak
Kelima tangan pengawal pemuda tersebut seketika patah, mereka juga di tendang hingga terlempar puluhan meter oleh Klon System yang tiba - tiba muncul disana.
Alvin meletakkan cangkir kopinya, dia memegang tangan Jeni yang ada di bahunya " duduklah sayang dan santai, mereka hanyalah hama kecil buatku "
Perkataan Alvin menyadarkan Jeni yang terkejut dengan kejadian yang tiba - tiba itu, dia langsung menoleh ke arah suaminya dengan tidak percaya.
Alvin tersenyum dan mengangguk " sudah aku bilang tidak perlu takut, ayo duduk dan nikmati istirahatnya, sebelum kita melanjutkan berkeliling lagi " ucapnya sangat lembut.
Jeni mengangguk lirih sambil terus menatap suaminya yang sangat tenang dan tidak terprovokasi sama sekali.
Pemuda tersebut juga tertegun di tempatnya saat anak buahnya terlempar puluhan meter ke belakang.
Terlihat lima orang Klon System yang datang, mereka semua langsung menghampiri para pengawal pemuda tersebut.
Para pengawal mencoba berdiri, tapi Klon System sudah ada di depan mereka semua.
" Krak
" Krak
" Arghh
" Arghh
Para pengawal berteriak histeris ketika Klon System mematahkan kaki mereka semua Hinga kelimanya ambruk kembali.
" Cukup !" perintah Alvin tiba - tiba.
Seketika Klon System langsung berhenti dan kembali ke belakang Alvin yang masih duduk dengan santai di tempatnya.
Alvin menatap pemuda tersebut yang masih berdiri mematung dengan seringai licik yang mengembang di sudut bibirnya.
Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, seolah mengejek pemuda tersebut, sebelum akhirnya buka suara " Apa nya yang bisa kamu dapatkan semua ? Kamu tahu semua ucapanmu bagaikan orang bodoh yang tidak tahu sama sekali luasnya dunia ini "
Perkataan Alvin bagaikan panah yang langsung menusuk jantungnya, pemuda itu baru menyadari kalau orang di depannya bukanlah orang sembarangan, karena walaupun di ejek dia tidak terprovokasi sama sekali.
Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, wajah pemuda itu memucat, dia sekarang benar - benar ketakutan, dia menelan ludah berkali - kali karena seking takutnya dengan sosok Alvin yang terlihat semakin misterius ketika di tatap dengan seksama.
" Brugg
Akhirnya saking ketakutannya, pemuda tersebut jatuh pingsan, Alvin yang melihat itu terkejut. Jeni juga sama terkejutnya, karena ternyata nyalinya tidak sebesar omongannya.
__ADS_1
Alvin menghela napas " Beri dia sedikit pelajaran dan bawa mereka ke rumah sakit, aku ingin di mengingat kejadian ini terus nantinya !"
" Baik tuan !" Lima Klon System langsung menjalankan perintah Alvin dengan sigap.